
Rasya tersenyum penuh kemenangan. Camila pada akhirnya memilih masuk ke dalam mobil nya. Setelah menutup pintu mobil untuk wanita cantik itu, Rasya mengitari mobil nya, masuk dan duduk di balik kemudi. Berada sedekat ini dengan wanita pujaan hati membuat jantung Rasya berdebar - debar tak karuan. Bukan tanpa kesengajaan bagaimana Rasya yang tiba - tiba menjadi dewa penolong untuk Camila. Ya, itu semua sudah terencana dengan sebaik - baiknya.
Ulasan senyum tercetak jelas di bibirnya. Bagaimana hatinya yang membuncah karena berhasil menjadi pahlawan untuk Camila. Rasya melirik melalui ekor matanya, karena sejak dia menjalankan mobil, tak sepatah katapun keluar dari mulut Camila. Wanita itu justru sedang fokus menatap jalanan yang mereka lalui. Apa - apaan ini, jalanan lebih menarik daripada dirinya. Ini penghinaan secara halus.
" Dokter Mila...."
Merasa nama nya di panggil, Mila menoleh menatap Rasya.
" Ya dokter"
" Dimana rumah dokter Mila."
Ah ya benar dia belum bilang pada Rasya ingin diturunkan dimana.
" Dokter Rasya, eum ... bolehkah anda menurunkan saya di pangkalan taxi saja."
Rasya mengernyit, " Kenapa seperti itu? Tak kan lah saya menurunkan wanita di jalanan malam - malam seperti ini."
" Tapi sungguh, saya tidak masalah dokter Rasya."
" Tapi saya yang tidak mau. Saya tetap akan mengantarkan dokter Camila sampai rumah. Memastikan dokter Camila selamat tanpa kurang satu apapun. "
" Tapi... "
" Kenapa? Apa anda takut dengan suami? Takut jika suami cemburu? Astaga dokter Camila. Bahkan kita tidak ngapa - ngapain loh. Tak kan lah suami anda cemburu. "
Camila terdiam, berpikir sejenak dengan apa yang disampaikan Rasya. Semua benar adanya. Toh dokter Rasya hanya mengantarkan dia pulang. Tak ada apapun juga yang ia lakukan dengan dokter Rasya. Dan papa Dirga pasti juga bisa mengerti. Masak iya Papa Dirga cemburu. Ah tidak tidak. Papa Dirga orang yang baik, yang tidak akan menjudge orang sembarangan.
Baiklah. Tidak masalah seperti nya memberikan alamat rumah nya pada dokter Rasya.
" Dokter Mila...."
" Ya dokter, eum alamat rumah saya....." Camila menyebutkan alamat rumahnya pada Rasya.
Rasya manggut - manggut. Dia tahu dimana alamat rumah itu. Salah satu kawasan elit di daerah Surabaya. Seperti nya memang dokter Mila ini berasal dari keluarga kaya. Atau mungkin suaminya yang kaya, seorang pengusaha mungkin. Ah, Rasya sempat merutuki diri sendiri, karena terlalu fokus mengejar Camila, hingga dia tak memperhatikan keberadaan suami wanita itu. Seharusnya Rasya pun mencari tahu tentang siapa suami dokter Camila untuk mempermudah misinya mendekati wanita disebelah nya ini.
Gila, iya dia memang gila. Menggilai istri orang lebih tepat nya. Tapi apalah daya. Dia hanyalah manusia biasa yang tak bisa mengelak ataupun menolak pesona wanita cantik di samping nya ini.
Karena hari yang beranjak malam, jalanan juga tak seramai saat menjelang orang - orang pulang kerja. Tidak banyak kemacetan juga.
Selama perjalanan pun tidak banyak yang mereka obrolkan. Camila hanya menjawab seperlunya apa saja yang Rasya tanyakan. Dan beruntung nya, setiap pertanyaan Rasya lebih banyak seputar perkenalan nya dengan dokter Allan yang tak lain adalah sahabat dokter Rasya.
Mobil dokter Rasya mulai berbelok di kawasan perumahan tempat tinggal Camila. Dan entah kenapa, tiba - tiba saja jantung Camila berdetak begitu cepat. Entahlah, apa iya terlalu cemas atau takut jika papa Dirga melihatnya pulang dengan dokter Rasya.
__ADS_1
Rasya menjalankan mobil nya pelan - pelan.
" Di depan itu ya dokter Rasya," ucap Mila memberi instruksi.
Perlahan Rasya mulai membelokan mobil nya dan berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah mewah. Rumah dua lantai yang tampak kokoh dengan halaman yang cukup luas.
Deg
Seolah jantung Camila berhenti berdetak saat itu juga, dia melihat papa Dirga berdiri di teras rumahnya.
Buru - buru di buka seat belt nya.
" Dokter Rasya, terimakasih banyak karena sudah mengantarkan saya."
" Sama - sama dokter Camila."
" Dan saya mohon maaf tidak bisa menawari anda untuk mampir karena hari sudah malam."
" its okay tidak masalah. Mungkin lain waktu jika saya pas lewat daerah sini, saya akan mampir. "
Camila memaksakan senyum. Lalu turun dari dalam mobil.
" Selamat malam dokter Mila. "
" Selamat malam dokter Rasya. "
" Malam, Pak. "
" Mobil nya kemana non?" tanya security.
" Mogok Pak. Ya sudah saya masuk dulu."
" Iya silahkan. Pak Dirga Sedari tadi cemas menunggu. "
Astaga, Camila merasa sangat bersalah pada suami nya.
Jarak kedua nya semakin dekat. Dirga hanya menatap Camila dengan tangan bersadekap di dada.
" Pa, maaf aku pulang kemalaman. "
" Kenapa ponsel mu mati. "
Camila jadi takut jika melihat wajah Dirga yang datar - datar saja seperti ini. Terkesan menyeramkan saja jika lelaki itu marah.
__ADS_1
" Maaf, aku lu ngecas tadi."
Dirga menghela nafas lalu meraup wajahnya.
Didekati istri nya lalu dirangkul bahu nya. Dibawa nya masuk ke dalam rumah. Tidak mungkin juga Dirga ribut - ribut dengan istri nya di teras. Tidak enak dilihat pak satpam.
Dirga berusaha mengontrol diri untuk tidak marah - marah pada istrinya.
" Je sudah tidur, Pa?"
" Sudah."
" Maafkan aku ya, Pa."
" Maaf untuk apa?"
Dari pertanyaan Dirga saja Camila sudah tahu jika suinya itu marah.
" Untuk semua nya."
" Lain kali, jangan diulangi lagi."
Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Camila tersenyum menatap putra nya yang susah tertidur pulas.
" Apa Je tadi rewel? "
" Tidak."
" Anak pintar."
" Lebih baik sekarang Sayang mandi saja."
Camila mengamgguk. Menyimpan tas nya dan beberapa file yang tadi sempat dia ambil dari dalam mobilnya.
Mengingat tentang mobil nya, Camilaemoleh menatap Dirga ya g kini sudah berbaring di samping Je dengan ponsel di tangan lelaki itu.
Tentu saja Camila heran, kenapa suaminya tidak bertanya perihal mobil nya?
Baiklah, aku akan menceritakan nya setelah mandi.
Dibuka lemari pakaian, mengambil satu stel piyama tidur lalu melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Dirga hanya menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Kembali diraup wajahnya kasar. Sungguh harusenahan emosi rasanya susah sekali. Banyak hal yang harus ia tanyakan pada istri nya. Temasuk kenapa dia bisa pulang ke rumah dengan diantar Rasya.
__ADS_1
Dirga memang tahu jika lelaki yang mengantar istrinya tadi adalah Rasya. Halaman rumahnya yang terang, serta penglihatan nya yang tajam langsung bisa mengenali sosok dokter tidak tahu diri yang suka sekali mengejar - ngejar istrinya.
Sial, kenapa juga ia harus melihat pemandangan yang menyebalkan seperti tadi. Ya, dia cemburu. Sangat cemburu. Bahkan yang membuat Dirga tak habis pikir, kemana mobil istrinya itu sehingga harus pulang bersama dengan Rasya.