
Dirga Pov
Kutatap wanita cantik yang sudah sebulan ini sangat kurindukan. Mendengar ceritanya mengenai Danu bukan nya membuatku cemburu, melainkan justru membuatku tersenyum penuh kemenangan. Jangan ada yang mengataiku jika aku jahat karena tega pada keponakan sendiri. Tapi aku senang dan bahagia karena ternyata Camila lebih memilihku. Tidak sia-sia perjuangan merebut hatinya selama ini jika pada akhirnya istriku juga balas mencintaiku.
" Om, kenapa melihatku seperti itu."
" Aku merindukanmu. Sangat rindu. I love you." ucapku yang membuat Camila tersipu.
" Di Rumah Sakit juga masih sempat ngegombal."
Aku terkekeh mendengar cibiran nya.
" Tak sabar aku ingin pulang."
" Kata dokter dua hari lagi kan boleh pulang."
" Tapi dua hari itu lama sayang. "
" Seminggu disini aja engga ngeluh, masak tinggal nunggu dua hari saja nggak sabar. "
" He eh. Sudah nggak sabar ingin peluk dan cium sayang. Auw.. Aduh sakit sayang " Kuusap lenganku yang dicubit olehnya.
" Habisnya di Rumah Sakit juga mesum. "
" Mesum sama istri sendiri kan, " aku mengerling tapi justru mendapat pelototan tajam darinya.
Istriku ini memang galak. Tapi meskipun begitu aku benar-benar mencintainya.
" Malam ini tidur disini ya nemenin aku." rayuku.
" Biasanya kan ada Ferdy."
" Iya, aku kan bosen ditungguin Ferdy terus."
" Aku nggak bawa baju ganti, Om."
" Tidak perlu ganti."
" Eh mana bisa begitu. Baju dari pagi sudah lengket begini." Camila menarik ujung bajunya.
Aku tersenyum." Oke lah kalau begitu. Eum besok saja gimana."
" Semoga besok Om Dirga sudah boleh pulang."
" Amin. Sayang boleh tolong ambilkan ponsel ku. " Sepertinya ponsel yang sedang aku charge di atas nakas bergetar.
" Sebentar." Camila melepas charger dan menyerahkan ponsel kepadaku. Kulihat id caller nya adalah mama. Setiap hari memang mama akan rajin menelponku. Tapi beliau tidak tahu jika aku sudah berada di Surabaya dan terbaring di Rumah Sakit. Yang mama tau aku masih di Jakarta.
Sedari awal aku masuk Rumah Sakit, Ferdy sudah berkali-kali menawariku untuk menghubungi mama. Tapi selalu aku larang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mama jika tau kondisi ku yang seperti ini.
" Hello, Ma ."
" Dirga lagi apa?"
" Lagi... Ehm... Lagi apa ya..."
" Ish kamu ini. Jangan buat mama khawatir kenapa."
" Mana ada Dirga buat mama khawatir."
" Habisnya perasaan mama akhir-akhir ini tidak enak."
" Ma.... Dirga kan bilang sama mama. Jangan terlalu banyak fikiran. Dirga disini baik-baik saja. Mama tidak perlu khawatir. "
" Lalu... Kapan Dirga pulang? Mama sudah rindu sama anak mama. "
" Dalam satu dua hari ini Dirga pulang. "
" Benar begitu ? "
" Iya, Ma. Lagipula Dirga juga sudah sangat merindukan mama. "
" Apalagi mama. Sudah sangat rindu sama Dirga. Sebulan lebih Dirga tidak pulang. Coba saja kondisi mama ini kuat pasti mama susul Dirga ke Jakarta. "
__ADS_1
" Mama ini. Ada-ada saja. Doakan agar kerjaan Dirga disini lancar, biar Dirga bisa segera pulang."
" Lagian kamu ini, Jakarta-Surabaya kan dekat. Kenapa nggak mau pulang sebentar saja lihat mama. "
" Iya ma... Dirga minta maaf. Disini Dirga sibuk sekali tidak bisa meninggalkan proyek begitu saja. Kalau Dirga pulang ke Surabaya pasti Dirga bakal enggan balik ke Jakarta lagi. Maka dari itu Dirga bela-belain agar pekerjaan cepet selesai dan Dirga bisa segera pulang. "
" Dirga... Mama juga kangen banget sama Camila. Mama harap saat Dirga pulang ke surabaya nanti, baik baik ya sama Camila. Mama bener bener tidak suka Dirga mengucap kata cerai untuk Mila. Kasian Mila, mama sampai tidak berani menelepon nya. "
" Dirga minta maaf ya, Ma. Dirga janji akan bawa Mila pada mama. "
" Mama tunggu ya... Take care. "
" Bye, Ma. "
Aku meletakkan kembali ponsel di atas nakas. Mila menatapku.
" Mama kah yang telpon? "
" Iya. Mama kangen sama Mila katanya. "
" Maaf.... "
" Maaf untuk? "
" Karena aku tak pernah mengunjungi mama. "
" Nggak papa. Setelah pulang dari Rumah Sakit, kita ketemu mama. Oke."
" Iya. Sebenarnya Mila pun ingin ketemu mama. Tapi Mila enggan jika ingin berkunjung ke rumah. Oleh sebab itu Mila tak pernah datang. Mau telpon mama pun juga Mila merasa tak enak "
" Jangan merasa bersalah begitu. Kalau tidak karena aku mungkin semua tak akan jadi seperti ini. "
Kami berdua saling berpandangan. Aku merasa sangat bersalah. Karena aku semua jadi berantakan. Untung saja semua belum terlambat. Jika tidak, mungkin aku akan menyesal seumur hidupku karena telah menyianyiakan Camila.
-----
Aku dapat bernafas lega akhirnya hari ini dokter mengijinkanku pulang. Camila sudah ada disini bersama Bunda, Ken dan Danisha. Aku sudah minta maaf tadi pada mereka karena sempat membuat Camila kecewa. Dan dengan lapang dada Bunda serta Ken telah memaafkanku. Lega rasa nya karena aku sudah tidak ada beban pikiran lagi.
Selain mereka, Ferdy juga ada disini. Aku harus berterima kasih banyak padanya. Karena Ferdy lah yang selama aku sakit selalu setia bersamaku.
Aku ikut satu mobil bersama Ferdy juga Camila. Sementara Bunda satu mobil bersama Ken dan Danisha mengikuti ku dari arah belakang.
" Siang Pak, bisa minta tolong dibukain pagar nya." sapaku pada security rumah, begitu mobil Ferdy berhenti di depan gerbang tinggi rumah keluargaku.
" Mas Dirga.....! Sebentar Mas, saya buka dulu."
" Terimakasih."
Ferdy melajukan mobil nya masuk menuju garasi begitu pintu pagar terbuka. Aku masih berdoa semoga mama bisa menerima kedatanganku dalam kondisi seperti ini.
" Bos Dirga okay? " Tanya Ferdy.
" I'm okay. " Jawabku.
Dengan tertatih aku turun dari mobil dibantu Ferdy. Camila mengikuti dibelakang ku bersama keluarganya. Aku masih kesulitan menyesuaikan diri, berjalan menggunakan kruk.
Mbak Lastri membukakan pintu untuk kami.
" Loh Mas Dirga kenapa? "
" Tidak apa-apa mbak. Hanya cidera sedikit. Mama sama papa ada dirumah kan?" tanyaku.
" Ada mas. Mereka baru saja pulang sejam yang lalu."
" Sekarang mereka dimana? Bisa panggilkan."
" Baik mas."
Mbak Lastri berlalu masuk ke dalam.
" Ayo silahkan masuk. " aku mempersilahkan mereka semua agar masuk ke dalam ruang tamu.
Tak berselang lama, mama keluar bersama papa. Dan sesuai dugaanku. Mama langsung terkejut melihatku.
__ADS_1
" Dirga....! Kamu kenapa?"
Aku berdiri dari duduk ku. Mama langsung menghampiri ku dan memeluk ku.
" Ma... Dirga tidak apa-apa"
" Tapi ini...." mama meneliti ku dari atas ke bawah.
Luka lebam masih ada di wajah, tangan dan kakiku.
" Mama duduk dulu. Biar Dirga ceritakan semua."
Seolah baru tersadar jika di dalam ruangan ini ada banyak orang. Mama menunjuk satu persatu.
" Loh Mbakyu Anye ada disini juga. Aduh maaf saya sampe tak melihat."
Dan kedua ibu-ibu itu saling berpelukan.
Papa kulihat tampak lebih tenang meski aku tahu jika beliau juga bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada diriku.
Setelah mama duduk tenang, aku mulai bercerita seluruh kejadian yang kualami. Mulai kepulanganku ke Surabaya hingga taxi yang kutumpangi mengalami kecelakaan beruntun. Mama sudah menangis dan papa dengan setia menenangkan.
" Sudah lah ma... Yang penting anak kita selamat dan tidak kekurangan suatu apapun. Kita tetap harus bersyukur." ucap papa menenangkan mama yang masih terisak.
Aku tahu mama yang sangat menyayangiku. Jadi tidak heran jika beliau sesedih ini.
------
Keluarga Camila sudah pulang sejam yang lalu, begitu pun dengan Ferdy. Sebenarnya Mila tadi sudah mau ikut pulang bersama Bunda, tapi kutahan. Mana mungkin aku membiarkan Mila meninggalkanku setelah sebulan lama nya aku tak bertemu. ingin rasanya aku menghabiskan waktu berdua dengan nya.
" Tinggal lah disini. Tidak perlu ikut Bunda pulang." bujuk ku.
" Mila tidak bawa baju ganti, Om."
" Alasanmu selalu sama. Tak bawa baju ganti." aku mencibir
" Habis nya mau alasan apalagi, memang aku tak bawa baju ganti ."
" Ada bajuku. Biasanya juga pakai baju ku kan ? Lagipula kalau kita cuma berdua, tidur berdua, tak perlu baju ganti kurasa. "
" Maksudnya...... Aish dasar mesum. "
Aku terkekeh.
Aku mengerjab tersadar dari lamunan saat kudengar Mila yang memanggilku.
" Om.... Dipanggil juga malah senyum-senyum sendiri. "
" Ada apa? " tanya ku.
" Kan, beneran ngelamun. Aku tanya itu kaos nya Om aku pinjam satu ya. "
" Tadi kan sudah kubilang. Kalau kita berduaan di kamar tak perlu ganti baju. Polosan itu lebih indah... "
" Apa nya yang indah... Dasar Om-Om mesum."
" Sini... " aku menepuk kasur di sebelahku.
" Ada apa. "
" Duduk sini sebentar saja. "
Mila mendengus, tak ayal juga dia berjalan mendekat dan duduk di samping ku.
Kugenggam tangan nya." Aku sangat merindukanmu. "
Mila menatapku dalam diam. Aku tak dapat lagi menahan rindu yang sudah lama kupendam. Perlahan kudekatkan wajahku, pandangan mataku hanya tertuju pada bibirnya yang selalu kuimpikan.
Bibir kami bertemu, untuk beberapa saat aku hanya menempelkan bibirku dengan bibirnya yang terasa hangat. Camila memejamkan matanya dan aku mulai petualanganku.
Entah berapa lama kami berdua berciuman saling meluapkan rasa rindu yang terpendam. Kulepaskan tautan bibir kami masih dengan nafas tersengal.
" I love you."
__ADS_1
" I love you too."