Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 12


__ADS_3

"Yakin tak ada lagi yang tertinggal? " tanya Dirga yang sedang membantu Camila menyiapkan baju juga perlengkapan pribadi istrinya yang akan dibawa ke Jakarta.


" Sepertinya nggak ada lagi." sekali lagi Camila meneliti barang barangnya dan memang benar tak ada lagi yang tertinggal.


Camila menyeka peluh di dahinya, hanya begini saja ternyata juga menguras tenaga nya. Besok sore dia beserta dokter Allan juga dokter Rasya akan berangkat ke Jakarta dan dua minggu lamanya mereka akan berada disana.


Sebenarnya Camila merasa kurang nyaman dengan keberadaan dokter Rasya. Entahlah, melihat dari luarnya saja Camila sudah tidak suka.


Bagaimana tidak, jika hampir setiap hari dokter Rasya akan bertingkah absurd di hadapan nya. Salah satu contohnya, saat tak sengaja mereka berdua bertemu di kantin, maka tanpa segan Rasya akan memesan makanan yang sama dengan apa yang dimakan Camila. Lalu selanjutnya Rasya akan memaksa membayar makanan Camila. Itu hanya salah satu contohnya dan masih banyak lagi tingkah  Rasya yang membuat Camila harus memijit kepala karena pusing menghadapi teman dokter Allan itu.


Dari gosip yang beredar, dokter Rasya itu adalah keponakan dokter Hendrawan. Oleh sebab itulah kenapa Camila juga tak mau berurusan semakin dalam dengan dokter baru itu. Lebih banyak Camila menghindar daripada harus menanggapi perilaku Rasya.


" Sayang.... Kemarilah."


Dirga yang sudah duduk di pinggir ranjang memanggil istrinya dan meminta agar duduk di sebelah nya.


Camila menurut, duduk di samping suaminya.


" Aku pasti akan merindukanmu."


" aku juga pa. Pasti akan sangat merindukanmu juga je. "


Dirga menarik tubuh Camila dibawa ke dalam pelukan nya.


" Dua minggu itu tidak lama. Percaya padaku." helaan nafas Dirga terasa hangat dipucuk kepala Camila.


Mereka berdua melepaskan pelukan. Dirga teringat sesuatu. Lalu dia beranjak berdiri dan mengambil sesuatu di dalam laci. Sebuah kotak yang entah Camila sendiri tak tahu apa isinya. Karena kotak itu dibungkus sangat rapi.


" Sayang, ini untukmu. " Dirga mengulurkan kotak tersebut dan diterima Camila dengan muka sedikit bingung.


" Ini apa, Pa."


" Hadiah untuk sayang."


" Hadiah? Aku sedang tidak ulang tahun Pa."


" Apakah harus ulang tahun dulu baru dapat hadiah?"


" Ya nggak juga sih. "


" Bukalah," pinta Dirga.


Camila menatap Dirga sekali lagi lalu beralih menatap kotak di tangan nya. Perlahan dan dengan hati berdebar Camila mulai mencoba membuka kotak hadiah dari Dirga.


Kertas pembungkus sudah berhasil Camila lepaskan, pandangan mata Camila berbinar melihat yang ada di tangan nya adalah sebuah kotak ponsel.


" Pa, ini untuk ku?" sekali lagi Camila memastikan.


Dirga mengangguk.


" Iya, buat ganti ponsel sayang yang rusak tempo hari."


" Bukan nya aku sudah dapat ganti."


" Tapi kan ponsel itu bekas aku."


" Pa, asalkan masih bisa dipakai tidak masalah buat ku. Tapi... Terimakasih atas hadiahnya."


Hampir saja Camila lupa caranya berterimakasih pada Dirga. Bagaimanapun juga Dirga sudah susah payah membelikan nya ponsel. Tapi dia justru membantah nya. Dengan menerima ponsel pemberian Dirga setidak nya dia menghargai usaha Dirga yang ingin membahagiakan nya.


" Sayang pakai ponsel nya dan jangan lupa sering sering menghubungi kami selama berada di Jakarta."

__ADS_1


" Itu pasti Pa. Sekali lagi terimakasih ya Pa."


Dirga mengangguk lalu tersenyum pada istrinya.


" Sayang,"


" Ya "


" Di Jakarta nanti, sayang jangan lupa menghubungi Daffi. Siapa tahu jika Daffi ada waktu kalian bisa bertemu. "


" Ah ya, bicara soal Daffi kenapa aku baru kepikiran ya. "


" Kalau semisal sayang ada waktu, sayang bisa menemui Daffi disana. Sudah lama juga kita tidak bertemu dengan nya. Rasanya rindu juga."


Camila tersenyum mengingat Daffi. Ya, Daffi juliandra, sahabat Dirga juga saudara jauh Camila. Bahkan baik Dirga juga Camila tidak pernah menganggap Daffi orang lain. Mereka sudah seperti keluarga.


" Sepertinya aku pun juga merindukan Daffi. Baiklah, jika aku sudah sampai jakarta pasti aku akan menghubungi Daffi."


" Sayang...."


" Kenapa, Pa."


" Apa Nath tak pernah lagi menghubungimu."


Camila menggeleng. Pasalnya memang benar, sekitar enam bulan ini Camila lost contact dengan Nathalie.


Tiba tiba Dirga terdiam. Pikiran nya menerawang. Membayangkan kisah rumit antara Daffi dan Nath.


Dulu Daffi pernah bercerita padanya juga pada Camila jika antara Daffi dengan Nathalie telah terjadi sesuatu. Sesuatu yang sangat disesali oleh Daffi. Hingga membuat Nathalie pergi meningglakn Daffi. Padahal Daffi telah jujur jika sangat mencintai  Nathalie dan berniat untuk menikahi Nathalie. Tapi sayang nya Nathalie yang tidak mau menerima Daffi. Bahkan Nathalie justru pergi menjauh dari Daffi. Tidak mau lagi bertemu Daffi dan Nathalie benar benar memutus kontak dengan Daffi.


Bertahun tahun Daffi seperti orang gila yang hanya mengharapkan kehadiran Nathalie meskipun kenyataan nya hanya sia sia belaka. Dan ini sudah tujuh tahun berlalu, tapi Daffi tetap tak bisa move on dari Nathalie. Bahkan lelaki itu masih berharap jika suatu saat dia bisa menemui Nathali dan mengajak wanita itu menikah. Yang Dirga tahu, sempat beberapa kali Daffi mencoba menjalin kasih dengan perempuan lain, tapi selalu gagal. Dan akhirnya Daffi memilih menyerah.


Hingga akhirnya Daffi memutuskan untuk pindah dan menetap di Jakarta. Sekarang sudah tahun ke lima Daffi tinggal di Jakarta.


" Sayang, jujur aku takut."


" takut apa, pa."


" takut jika Daffi akan melajang sampai tua."


" Hush, tidak baik bicara seperti itu."


" habisnya sampai sekarang dia masih saja betah menyendiri. Masih mengharap hadirnya Nathalie. Padahal Daffi tau sendiri jika Nathalie tak akan pernah mau ia temui. "


" aku juga merasa kasihan dengan Daffi. "


Mereka berdua saling pandang dengan pikiran masing masing tentang Daffi dan Nathalie. Di satu sisi Daffi adalah sahabat mereka. Dan di sisi lain Nathalie adalah saudara perempuan Camila. Serba salah dan mereka berdua tak tahu harus berpihak pada siapa. Meskipun sejatinya baik Dirga juga Camila akan lebih senang jika Nathalie menerima Daffi menjadi suaminya.


Tapi mereka juga tidak bisa memaksa Nathali. Entah kenapa hati Nathalie sudah tertutup rapat untuk Daffi. Bahkan tak jarang Camila membujuk Nathalie agar mau menerima Daffi, tapi yang ada malah Nathalie akan menutup telinga nya dan tidak mau mendengar apapun yang berhubungan dengan Daffi. Sebenarnya Nathalie tidak marah dengan Daffi, dan Camila sangat tahu itu. Camila sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran Nathalie.


Camila pun tahu jika Daffi mempunyai kesalahan yang besar pada Nathalie, akan tetapi Daffi dengan gentelnya mau bertanggung jawab. Dan sekali lagi, Nath tetap keukeh untuk tidak mau menerima pertanggung jawaban yang Daffi berikan.


" Sayang ... Kalau kamu jadi ketemu Daffi, nasihati Daffi. Tidak perlu lagi menunggu atau berharap pada Nathalie. Daffi harus move on. Lama lama kok aku jadi kasihan pada Daffi, " ucapan Dirga dibenarkan oleh Camila.


" iya. Akupun sama. Kasihan sama kak Daffi. akan aku usahain deh buat ngomong ke kak Daffi. Semoga kak Daffi mau mendengarkan kita kali ini. "


Ya, sebelum ini Dirga dan Camila juga sudah sering sekali menasihati Daffi. Tapi tak membuahkan hasil.


" Ya sudah sebaiknya kita tidur sekarang .Sayang harus istirahat."


Camila mengangguk. Sebelum tidur seperti biasanya Camila akan melakukan ritual malam nya sebelum tidur. Dan Dirga dengan setia masih menunggu istrinya sembari duduk di atas ranjang , mengelus rambut Je yang sudah tertidur pulas.

__ADS_1


****


Pagi pagi sekali Bunda Anyelir sudah datang di rumah Dirga. Sampai sampai Camila terkejut dibuatnya


" Bunda....!" begitu kangen nya Camila pada sang bunda hingga saat melihat bunda anyelir berada di ambang pintu, Camila langsung menghambur ke pelukan Bunda. Pelukan Camila yang begitu erat. Mengabaikan keberadaan oranga lain di sekelilingnya.


Je yang berada di dalam gendongan Dirga, hanya menatap heran pada mamanya. Sementara di belakang Bunda ada Danisha, Kenatria, Kenzo dan juga kenzi.


Kenatria adalah kakak pertama Camila yang menikah dengan seorang perempuan yang usianya juga tak jauh beda dari Camila. Danisha Revaldy namanya. Adik perempuan dari Malvino Revaldy. Malvino Revaldy adalah kakak ipar Daffi. Jadi kakak perempuan Daffi itu menikah dengan Malvin. Ah sungguh rumit memang silsilah keluarga mereka. Seperti lingkaran setan yang hanya berputar di sekitar itu itu saja.


" ehem..." deheman Kenatria lah yang membuat Camila melepas pelukan nya dari sang bunda.


Camila adalah anak perempuan satu satunya bunda anyelir. Wajar jika sifat Camila sangat manja karena memang sedari kecil dia suka dimanja manja oleh seluruh anggota keluarga.


" Kak Ken... Aku rindu padamu." Camila ganti memeluk kakak lelakinya yang sudah lama tidak ia jumpai. Mereka ada sebulan lebih tidak bertemu. Sejak Camila disibukkan dengan kuliah S2 nya, sudah jarang sekali ia mengunjungi bunda nya. Padahal jika dulu biasanya seminggu sekali Camila akan berkunjung atau bahkan menginap di rumah Bunda.


Setelah Camila melepas rindu dengan semua anggota keluarganya, kini giliran anak anak yang sudah saling kegirangan. Dapat bertemu dengan saudara. Je, balita itu sudah merangsek turun dari gendongan Dirga berlari menghampiri Kenzo dan kenzi.


Kenzo anak pertama Kenatria, seorang anak laki laki berusia enam tahun. Selisih usia dua tahun dari Je. Sementara kenzi adalah anak kedua Kenatria yang baru berusia tiga tahun. Balita cantik itu besarnya hampir sama dengan Je karena selisih usia mereka yang hanya terpaut satu tahun.


Sunguh Camila begitu merindukan momen momen kebersamaan nya bersama keluarga besar.


Kemarin Dirga lah yang menelpon Bunda Anyelir dan meminta pada mertuanya untuk tinggal sementara di rumahnya. Menemani Je selagi Camila tidak ada.


Ken juga tidak keberata jika Bunda akan tinggal sementara di rumah adiknya. Dan dengan senang hati, Ken bersama Danisha mengantar Bunda pergi ke rumah Dirga dan Camila .


Mulai hari ini Bunda Anyelir akan tinggal sementara waktu di rumah ini membantu Dirga menjaga Je, hingga nanti Camila pulang lagi ke rumah ini.


Bunda tentu saja senang bisa membantu anak dan menantunya.


" Mil ...." Panggil Ken.


" Hati hati dan jaga diri baik baik selama jauh dari keluarga. Maaf kakak tak bisa antar kamu ke Bandara. "


" Aku pasti akan jaga diri baik baik. Nggak papa kak, nanti om Dirga yang akan antar aku ke Bandara. "


" Ya sudah kakak pulang dulu ya."


" Kenapa terburu buru. Bukan kah mereka juga baru saja bermain. "


Camila menunjuk Je, Kenzo dan Kenzi yang sedang bermain dengan ditemani Mbak Hana.


Ken melirik jam tangan nya, hari ini dia ada janji dengan supplier yang akan memasok bahan makanan yang ada di resto nya.


" Kak, apa aku disini saja dulu. Nanti sore kakak jemput kami disini." Usul Danisha, istri Ken.


" Baiklah kalau begitu. Kalian aku tinggal disini. Aku harus menemui supplier satu jam lagi. Nanti sore aku kembali lagi kesini."


Ken pamit pada keluarganya. Baik Kenzo juga Kenzi tak menghiraukan papa nya yang kini pamit pulang. Mereka bertiga masih saja sibuk bermain.


Dirga mengantar Ken sampai halaman depan disusul oleh Camila.


" Pa, kamu nggak kerja hari ini" tanya Camila karena melihat suaminya yang masih santai .


Dirga menggeleng lalu memeluk bahu Camila , membawanya kembali masuk ke dalam rumah.


"Aku akan menemanimu hari ini. "


"Memang sudah izin sama Ferdy."


"Sudah. Selagi ada Ferdy semua aman."

__ADS_1


Ya, Ferdy memang selalu bisa Dirga andalkan. Seperti hari ini , selagi ingin menghabiskan hari bersama sang istri , maka Ferdy akan siap sedia untuk menggantikan semua semua tugas Dirga di kantor.


__ADS_2