Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 70 - Pregnant


__ADS_3

Dirga pov


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berlalu begitu cepat. Camila sudah memasuki semester delapan kuliahnya. Berbagai macam tugas membuatnya selalu sibuk. Apalagi semester ini dia sudah mulai mengerjakan skripsi. Bahkan yang kulihat sekarang ini tubuhnya semakin kurus. Mungkin saja berat badan nya turun beberapa kilo.


" Sayang.... Kapan kita ke Rumah Sakit. " tanya ku tanpa mengalihkan perhatian ku dari dirinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Camila menatapku sekilas sebelum akhirnya melepas handuk kecil yang melilit kepalanya. Rambutnya yang masih basah tergerai yang panjang nya melewati bahu. Aroma shampo membuatku mengendus hingga tak terasa mataku terpejam menikmati sensasi yang menggelenyar di tubuhku.


Kudekati dirinya yang berdiri membelakangiku. Baru juga tanganku terulur meraih pinggangnya, tapi tangan Mila sudah menepis tanganku.


" Sudah deh, Om...jangan deket-deket bisa?" ucapnya sarkatis.


Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal. Bingung bagaimana menghadapi sikap labil yang sudah hampir satu bulan ini ditunjukkan nya padaku.


" Oke. Sayang siap-siap. Aku mandi dulu. Habis itu kita ke dokter. "


Mila tak menanggapi ucapanku. Kuputuskan untuk berlalu meninggalkan nya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Aku harus banyak bersabar untuk saat ini. Aku tau Mila marah padaku karena sudah hampir sebulan dia mengabaikanku bahkan terkesan mendiamkanku. Bicara hanya seperlunya dan menjawab pertanyaan ku pun juga ala kadarnya. Terkadang justru disertai nada ketusnya.


Sejak dokter memberitahukan jika dia positif hamil empat minggu, Mila tampak shock. Bahkan satu minggu dia habiskan untuk mengurung diri dan menyendiri. Yang lebih parahnya lagi dia marah padaku. Padahal jika boleh berkata jujur, aku sangat senang dengan kehamilan istriku. Usiaku juga sudah tak muda lagi dan mempunyai anak merupakan kebahagiaan tersendiri buatku.


Terlebih setelah melihat anak saudara iparku yang baru beberapa bulan lalu lahir ke dunia. Melihat betapa lucu nya bayi pasangan Ken-Da membuatku gemas sendiri. Kenzo adalah bayi lelaki yang sangat tampan dan lucu anak dari Ken dan Danisha. Pernah beberapa kali menggendongnya, dan menurut mereka aku sudah pantas untuk memiliki bayi sendiri.


Dan sekarang keinginan ku terkabul. Tak lama lagi aku juga akan memiliki bayi seperti pasangan Ken-Da. Tapi sayangnya Camila belum siap akan kehadiran calon buah hati kami. Tak dapat menyalahkan nya juga. Karena semua plan nya harus berubah haluan karena kehadiran bayi kami.


------


Aku keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggang. Dan betapa terkejutnya melihat Mila sedang muntah di wastafel depan kamar mandi. Segera kuhampiri dan memijit tengkuknya.


" Sayang... Sayang baik-baik saja kan." jujur aku sangat khawatir melihat nya yang selalu muntah-muntah seperti ini. Tidak hanya di pagi hari tapi hampir setiap waktu. Apalagi saat dia makan, akan lebih sering dimuntahkan kembali.

__ADS_1


" Kita ke dokter ya? " bujuk ku lagi saat Mila sudah selesai muntah dan mengelap mulutnya.


Kurengkuh tubuhnya dan tanpa kata Mila melingkarkan tangan nya di pinggangku dengan kepala bersandar di dada ku yang belum tertutup baju.


" Are you okay." ucapku sekali lagi memastikan.


Dan aku dapat merasakan kepala Mila yang mengangguk. Aku menunduk menatap wajahnya yang tampak pucat. Matanya terpejam.


Segera kuangkat tubuhnya dan membopongnya menuju ranjang. Kubaringkan tubuh istriku yang tampak lemah, mengambil minyak kayu putih yang selalu kusimpan diatas nakas. Membalurkan minyak tersebut ke perut, tengkuk juga di kaki. Mungkin dengan merasakan hangat nya minyak kayu putih serta aroma nya mampu mengurangi rasa mual yang dirasakan Mila.


" Kita ke dokter ya." rayuku sekali lagi.


Sebenarnya hari ini adalah jadwal nya Camila untuk kontrol kehamilan. Oleh sebab itu sedari tadi aku sibuk merayunya agar mau pergi ke dokter. Aku ingin sekali melihat perkembangan baby yang ada di dalam perut Camila.


" Kepalaku pusing, Om." jawabnya masih dengan mata terpejam.


" Ya, sudah kalau begitu sayang istirahat dulu. Aku ambilkan teh hangat. Kalau sudah reda pusingnya kita segera ke dokter."


-----


" Mbak Lastri, bisa minta tolong dibuatkan teh hangat. " pintaku pada Mbak Lastri yang sedang berada di dapur.


" Tunggu sebentar saya buatkan."


" Terimakasih mbak. "


Sambil menunggu aku duduk di meja mini bar. Bahuku ditepuk dari belakang.


" Mila muntah-muntah lagi? "


Mama sudah ada di sampingku dan menatapku dengan mimik serius. Aku mengangguk menjawab pertanyaan mama.

__ADS_1


Sejak Danisha melahirkan tiga bulan lalu, aku memang mengajak Camila untuk tinggal menetap di rumah mama. Selain untuk menemani mama juga karena aku ingin memberi privasi kepada KenDa. Secara mereka sekarang sudah ada anak. Tidak mungkin jika kita akan terus tinggal beramai ramai di rumah Bunda. Meskipun sebenarnya baik Bunda atau Ken tak keberatan sedikitpun jika kita berdua tinggal disana. Kamar yang dulu ditempati Danisha sudah disulap menjadi kamar bayi. Dan karena Camila pun saat ini sedang hamil aku ingin memberinya ketenangan. Bukan nya aku tak suka jika Mila atau aku sering mendengar suara tangisan bayi. Tapi seperti yang tadi kukatakan mungkin baik aku dan Mila maupun Ken Danisha membutuhkan privasi bagi rumah tangga kami masing-masing.


" Ini teh hangat nya." Mbak Lastri meletak kan teh hangat di atas meja.


" Dirga ke atas dulu ya ma."


" Iya. Jaga Mila baik-baik. Orang hamil muda memang wajar seperti itu. Muntah-muntah, mual pusing. Nanti juga hilang sendiri seiring bertambahnya usia janin."


Aku mengangguk mendengar penjelasan mama. Tapi rasanya tak tega melihat Mila menderita seperti itu.


Kubawa teh hangat ke dalam kamar. Mila masih terbaring di atas ranjang.


" Sayang.... Diminum dulu teh hangat nya. Mungkin bisa mengurangi rasa mual. "


Mila membuka mata, dan perlahan bangun dari berbaring nya. Menyesap sedikit teh yang kusodorkan didepan mulutnya.


" Masih pusing?" tanya ku.


" Sedikit."


" Kita ke dokter ya. Nanti kita bisa konsultasi agar kondisi sayang tak semakin memburuk. Oke."


Mila mengangguk. Kuletak kan teh di atas nakas disamping ranjang. Aku berdiri menuju lemari memilihkan baju untuk Mila pakai.


" Ayo kubantu mengganti bajumu."


Mila hanya menurut saat aku melepas baju nya dan berniat menukar nya dengan baju yang biasa digunakan jika bepergian.


Aku menelan ludah susah payah. Naluri lelaki ku selalu saja muncul disaat situasi yang tidak tepat. Usia kehamilan Mila kurang lebih baru tujuh atau mengkin delapan minggu. Tapi hormon kehamilan rupanya sudah mulai tampak di tubuh Mila. Jika kuperhatikan beberapa bagian tubuhnya mulai berisi. Lebih montok dan seksi. Apa karena tubuh Mila yang sekarang ini lebih kurus hingga bagian-bagian tubuh tertentu jadi terlihat menonjol.


" Om... Jadi ganti bajuku tidak. Aku kedinginan ini."

__ADS_1


Aku nyengir. Ternyata sedari tadi aku hanya sibuk mengamati tubuh istriku hingga terlupakan niatku yang ingin menggantikan baju untuk nya.


__ADS_2