
Dirga selesai bertemu dengan klien saat jam makan siang. Sebenarnya dia sudah ditawari untuk makan siang bersama klien nya. Tapi Dirga menolaknya secara halus. Dia harus menjemput Je pulang sekolah.
" Fer, langsung ke sekolah Je ya," perintah nya pada Ferdy yang sedang mengemudikan mobil.
" Asiap, Bos." jawab Ferdy antusias.
Mereka berdua terdiam. Dirga sibuk dengan ponsel nya. Mengabarkan pada Hana agar menunggu nya. Sebentar lagi mereka akan sampai di sekolah Je.
"Bos."
panggilan Ferdy mmebuat Dirga menatap asisten nya itu.
" Ya."
" Bagaimana? Benarkah dek Mila sedang hamil?"
Dirga menggeleng . " Aku belum tahu."
" Kok belum tahu. Bos ini bagaimana?"
"Karena aku belum ada kesempatan untuk berbicara pada Mila."
" Begitu ya, bos."
" Setiap pagi Mila masih tertidur. Aku pulang Mila masih kuliah terkadang malah sudah tertidur."
" Susah ya bos. Punya istri hobi tidur." Ferdy berdecak.
" Asalkan masih bisa ditiduri nggak masalah. " celetuk Dirga membuat Ferdy sudah tergelak.
Bos nya ini terkadang sekali ngomong bahasa nya sangat absurd sekali.
Hingga tak terasa mereka sampai juga di sekolah Je. Dirga turun dari dalam mobil, sementara Ferdy lebih memilih untuk menunggu di dalam mobil saja.
Dirga melambaikan tangan nya pada Hana dan Je. Lalu mereka berdua pun keluar.
" Maaf ya papa telat jemput. Tadi papa harus bertemu dengan klien papa. Jadi nya telat."
" nggak apa, papa. Tadi Je main dulu sama mbak Hana." jawab Je.
Dirga mengangkat tubuh Je lalu mencium kedua pipi nya.
Mereka masuk ke dalam mobil.
" Om erdy." celetuk Je begitu mobil Dirga buka.
" Hai Boy, apa kabarmu hari ini? "
" Aku baik. "
" good. "
Dan terlibatlah perbincangan seru di dalam mobil antara Je, Ferdy juga Dirga. Je yang terus saja berceloteh bercerita mengenai teman teman nya di sekolah.
" Bu Guru Je ada yang cantik nggak. Kenalin ke om Ferdy dong....! "
" Fer! Jangan mengajari Je yang aneh - aneh." Dirga mendelik menatap Ferdy.
Ferdy justru tertawa. Dia hanya bercanda dan menggoda Je. Tapi siapa tahu juga memang ada Ibu Guru Je yang cantik dan masih single. Jadi bisa dia dekati. Memang gila pemikiran si Ferdy ini.
Mobil melaju membelah padat nya jalanan dan pada akhirnya sampailah mereka di rumah Dirga.
" Kita makan siang dulu. Baru nanti balik kantor," kata Dirga yang ditujukan pada Ferdy.
"Baiklah bos. Aku juga sudah sangat lapar. Padahal aku tadi berharap bos mau menerima tawaran makan siang."
" Iya, dan Je akan menunggu kita lebih lama lagi. Apa kau tak kasihan padanya?"
Ferdy hanya nyengir. Benar juga kan, kasihan Je jika harus menunggu mereka terlalu lama.
" Ayo masuk. "
" Siap Bos. "
Je sudah berlarian masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Dia mencari dimana keberadaan mamanya yang ternyata sudah berada di dapur.
Ferdy mengikuti Dirga masuk ke dalam rumah.
Bangun tidur tadi tiba-tiba saja Camila ingin sekali memasak ayam saos Inggris. Oleh karena itulah sekarang dia sedang berkutat di dalam dapur.
Dirga yang mengikuti Je sampai dibuat terkejut. Tumben sekali dia bisa mendapati sang istri yang berada di dapur. Biasanya jam segini Camila baru saja bangun tidur dan selesai mandi.
Dirga masuk ke dalam dapur sementara Ferdy memilih duduk di ruang keluarga, menunggu tuan rumah mempersilahkan nya untuk makan.
Dirga melingkar kan kedua lengan nya di pinggang sang istri. Mila terjengit kaget dibuatnya.
" Pa.... Bikin kaget saja," celetuk Mila.
" Tumben masak." sindir Dirga.
" Papa menyindirku."
Dirga terkekeh lalu mengecup pipi Mila.
" Masak apa?"
" Ayam saos Inggris. Nggak tahu kenapa bangun tidur aku kepingin makan ayam saos Inggris."
" Sayang mengidam?"
Pertanyaan Dirga membuat Mila menghentikan aktifitas nya yang sedang mengaduk masakan nya. Lalu dia menelengkan kepala agar bisa melihat wajah suaminya.
" Jangan - jangan aku beneran hamil, Pa. "
" Aku pikir juga begitu. Perilaku sayang akhir - akhir ini sangat aneh. Diluar kebiasaan.".
Camila terdiam mencerna perkataan suaminya.
" Aku sudah telat menstruasi sebulan lebih." ucap Camila lagi.
" Benarkah itu?"
Camila mengangguk.
" Kita periksa ke dokter , aku yakin sayang sedang hamil. "
__ADS_1
" Iya, kapan - kapan kita ke dokter. Pa, Je mana ?"
" Mungkin sedang ganti baju sama Hana. "
Dirga melepaskan pelukan nya pada sang istri.
Masakan Camila sudah matang lalu ia pindahkan ke dalam mangkok.
" Ada Ferdy di depan. Kita makan siang bareng ya."
" Ya sudah panggil Ferdy nya. Aku siapkan dulu makanan nya."
Dirga keluar dari dapur untuk mencari Ferdy.
Camila dengan dibantu Asisten Rumah Tangga nya menyiapkan makan siang.
Ferdy dan Dirga masuk ke dalam ruang makan. Mata Ferdy sudah berbinar melihat aneka makanan yang sudah terhidang di atas meja.
Camila pergi ke kamar Je mendapati anak nya justru bermain dengan Hana.
" Je , ayo makan dulu. "
Je mendongak menatap kehadiran sang mama. lalu balita itu berdiri menghampiri mama nya.
" Tadi sudah saya ajak keluar. Adek nya minta main dulu. "
" Iya mbak Hana nggak papa. Ayo mbak Hana ikut makan sekalian."
" Saya nanti saja , Bu. Mau membereskan mainan adik dulu. "
" Baiklah kalau begitu. "
Camila menggendong Je membawanya ke meja makan.
" Papa... Om erdy ...." teriak lantang Je kala mendapati papa nya bersama Ferdy ada di ruang makan.
Camila mendudukkan Je di kursinya. Lalu mengambilkan makanan untuk Je.
Sementara Dirga dan Ferdy , mengisi piring mereka masing - masing dengan aneka masakan yang berada di atas meja makan.
" Ini dek Mila semua yang masak ?" tanya Ferdy.
" Bukan, " jawab Mila singkat.
" dek Mila tumben sudah bangun "
" Jangan meledekku, Fer !"
Camila sudah melotot , Ferdy hanya menunduk dan memilih menekuri makanan nya.
Sementara Camila menyuapi Je makan.
Selesai makan Dirga pamit kembali ke kantor.
" Sayang, aku ke kantor dulu ya. "
" Hati - hati di jalan."
Dirga mencium pipi Camila lalu beralih mencium pipi Je.
" Dek Mila , terimakasih makan siang nya. besok lagi ya ....." Ferdy terkekeh.
***
Malam hari nya Dirga yang memang sedang banyak pekerjaan , lebih memilih membuka laptopnya setelah makan malam. Padahal Je belum tertidur. Ada Hana yang menemani Je. Camila belum pulang dan biasanya sekitar satu jam lagi istri nya itu akan pulang. Hari ini Mila membawa mobil sendiri , jadi Dirga tak perlu menjemputnya.
Benar dugaan Dirga, setelah satu jam berlalu Camila membuka pintu kamarnya.
" Malam , Pa. "
" Sayang...! sudah pulang ?"
" Hmm...."
Setelah menyimpan tas nya Mila segera melangkah menuju kamar mandi. Dia sudah merasa sangat mengantuk sekali. Itulah kenapa sebenarnya dia enggan membawa mobil sendiri. Tapi jika ia naik grabcar maka saat pulang pasti papa Dirga akan menjemputnya. Dan Mila kasihan karena suaminya itu pasti sebenarnya sudah capek dan masih harus menjemputnya.
Setelah melakukan ritual malam nya dan mengganti bajunya dengan piyama, Camila keluar kamar mandi langsung menuju ranjang. Menarik selimut dan langsung memejamkan mata. Tanpa harus repot-repot memperhatikan suaminya juga anak nya. Matanya tak mampu lagi ia buka. Rasanya sungguh sangat mengantuk.
Dirga yang melihat tingkah istrinya hanya menggelengkan kepala tanpa berniat untuk menegur atau bertanya. Bahkan sekarang istri nya sudah tertidur dengan pulasnya. Dirga teringat akan Je. Tadi dia meminta Hana untuk menemani Je bermain.
Dirga melepas kacamata nya lalu menyimpan semua pekerjaan nya.
Keluar kamar mencari Je di ruang keluarga. Tapi tak ada putra nya disana. Suasana rumah tampak sepi dan lengang. Kemana pergi nya Je. pikir Dirga dalam hati.
Lalu Dirga menuju kamar Je. Mungkin saja Je ada di dalam kamarnya. Perlahan ia buka kamar Je, dan benar saja anak nya sudah tertidur. Hana sedang membereskan mainan Je.
Dirga masuk ke dalam kamar mengagetkan Hana.
" Pak Dirga. Maaf Pak Adek sudah tidur. "
" Iya nggak papa. "
Dirga mencium kening Je. Dirga sudah berniat ingin memindahkan Je ke dalam kamarnya. Tapi ditahan oleh Hana.
" Biarkan saja adik tidur disini Pak Dirga. Nanti saya yang akan menemani disini. "
Dirga terdiam menatap Je yang sudah tertidur pulas. Membiarkan Je tidur disini tak ada salahnya daripada dia hars memindahkan ke kamarnya lalu Je terbangun.
" Apa kamu tidak masalah menemani Je disini ?"
" Ya tidak lah Pak. Biar saya temani nanti. "
" Baiklah kalau seperti itu, Terimakasih Hana. "
" Sama - sama Pak. "
Dirga keluar dari dalam kamar Je dan kembali menuju kamarnya.
Direngangkan otot tubuhnya yang serasa kaku. Pekerjaan nya masih banyak yang harus ia selesaikan.
Lalu kembali menghadap laptop dan Dirga mulai menekuri pekerjaan nya.
****
Entah sudah jam berapa saat Mila terbangun dari tidurnya. Tenggorokan nya terasa kering. Dia butuh minum sepertinya. Dengan malas dibuka matanya . Sambil mengucek matanya Mila beranjak bangun. Lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
__ADS_1
Mila memicingkan matanya melihat sang suami masih belum tidur. Suaminya masih menekuri laptop dan tampak serius mengerjakan sesuatu. Mila melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Hampir tengah malam rupanya.
" Pa ....!" panggil Mila dengan suara serak nya.
Dirga mendongak menatap sang istri.
"Sayang , kenapa bangun ?"
" Aku haus. "
Mila sudah akan turun dari atas ranjang tapi Dirga sudah menahan nya.
" Biar aku saja yang ambilkan minum. "
" Tidak usah, Pa. Aku ambil sendiri saja."
Mila sudah berjalan menuju pintu lalu ia menolehkan kepala menatap suaminya.
" Papa mau coklat hangat ?" tawarnya.
Dirga tersenyum. " Boleh ,"
Mila keluar dari dalam kamar menuju dapur. Mengambil gelas dan mengambil air putih dari dispenser. Diteguk nya hingga tandas. Dia sungguh merasa sangat haus.
Setelah dirasa cukup membasahi tenggorokan nya , lalu camila membuka lemari pantry. mengambil coklat sachet yang biasa ia minum.
Diseduhnya di dalam cangkir dengan air hangat . Lalu diaduk perlahan. Asap panas masih mengepul mengeluarkan aroma yang khas.
Dibawanya menuju kamar lalu di letakkan di meja kerja Dirga.
" Ayo pa. diminum dulu. Selagi masih hangat. Kalau sudah dingin nggak enak."
" Terimakasih sayang. "
Dirga menghirup dalam aroma coklat yang menguar dari dalam cangkir baru setelahnya dirga menyesap isinya.
Kebiasaan meminum coklat hangat ditularkan oleh Camila yang memang penggemar berat minuman coklat hazelnut.
Mila berdiri di belakang tubuh dirga. melingkarkan tangan nya di leher sang suami.
" Pa ! sudah malam kenapa nggak istirahat. "
" Nanggung sayang. Tinggal sedikit lagi. "
Mila seolah baru tersadar jika tidak ada je di dalam kamar mereka.
" Pa, Je kemana ? Kenapa aku baru menyadari jika anak itu tidak ada disini."
" Je tidur di kamarnya sendiri. Lagi pula Je sudah besar. Biarkan dia belajar mandiri dengan tidur sendiri."
" Je tidur sendiri di kamarnya ?"
" Ditemani hana. '
" Owh ... aku pikir sendirian. Kan kasihan , pa. "
" Lagipula sebentar lagi kan je mau punya adik. Jadi dia harus terbiasa mandiri dengan tidur di dalam kamarnya sendiri. "
" tapi kan belum tentu positif , Pa. Kita belum periksa ke dokter. "
" Besok kita ke dokter ya ,"
" Iya. "
Dirga kembali melanjutkan aktifitas nya. camila hanya melihat saja apa yang dikerjakan suaminya. lama -lama mila bosan juga terus dicuekin suaminya.
" Pa, tidur yuk . Ini sudah lewat tengah malam. "
" Sayang tidur lagi saja, Aku masih harus menyelesaikan laporan ini. "
" Nggak bisa dikerjakan besok saja ?"
" Besok ada lagi kerjaan baru. Takutnya justru nggak kehandel. makanya aku berusaha menyelesaikan hari ini. "
" Tapi aku sudah mengantuk Pa. Nggak enak tidur sendirian. Nggak ada yang dipeluk."
Dirga terkekeh mendengar rayuan istrinya.
" Bilang saja jika ingin papa hangatin. "
" Lah itu Papa tahu. Kenapa masih saja nyuekin aku. "
Lagi - lagi Dirga harus terkekeh. Istrinya ini kembali lagi sifat manja nya. Sebenarnya Dirga suka jika istrinya sudah bermanja manja seperti ini dengan nya.
Baiklah , memang sudah seharusnya dia tidur sekarang.
Disimpan nya semua pekerjaan yang telah selesai ia kerjakan.
" Tunggu sebentar. Aku bereskan ini dulu. "
Mila sudah mengangguk antusias.
Setelah semua beres. Dirga menarik lengan istrinya menuju ranjang .
" Ayo sekarang kita tidur. "
Mila membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dirga berbaring di sebelah istrinya. Menarik lembut tubuh Camila agar merapat kepadanya. Dipeluknya tubuh sang istri.
Wajah camila sudah menyeruak di leher Dirga. Mengendus - endus leher suaminya. Lalu mulai lah dia yang memberi kecupan kecupan kecil di leher sang suami.
Mila selalu saja berhasil membangkitkan gairah Dirga. Sekalipun ia capek, matanya enggan terpejam. Desiran halus dia rasakan saat bibir Mila menempel di kulit lehernya.
Dirga tak tahan lagi, dia berguling hingga tubuhnya berada di atas tubuh istrinya.
" Sayang , kau ini selalu saja berhasil menggodaku. "
Camila hanya terkikik karena dia berhasil membuat suaminya kelabakan.
Dirga hanya bisa menikmati ke agresifan sang isri. Dia senang istrinya berlaku seperti ini. Tapi jika tidak karena pengaruh hormon, mungkin Camila tak akan seberani ini menggodanya.
Jadi selagi ia bisa menikmati perubahan sang istri, maka Dirga tak akan protes. Lebih memilih menerima dan menikmati apa saja yang istrinya berikan kepadanya.
Dan malam ini kembali mereka menghabiskan malam berdua. Melupakan Je dan melupakan rasa capek yang mendera. Yang ada hanya lah menuruti hawa nafsu demi mencapai kepuasan yang mereka inginkan.
Mereka berdua sama- sama menikmati, sama - sama mengagumi. Hingga rasa lelah itu datang, kedua nya saling berpelukan. Dengan mata terpejam mengarungi mimpi berdua.
__ADS_1