
Camila Pov
Kota kelahiranku ini merupakan surganya pantai. Banyak pantai yang indah terdapat di kota ini. Salah satu nya pantai yang sedang kukunjungi ini terletak di jalur lintas selatan. Pantai yang masih tergolong baru dan masih alami belum banyak tercemar.
Aku begitu menikmati keindahan alam nya, sudah lama rasanya aku tak pernah berkunjung di tempat nan asri seperti ini. Sejak tinggal di Surabaya aku dan Bunda hanya setahun sekali pulang ke kota kelahiranku ini.
Om Dirga sesaat setelah sampai di tempat ini sudah terkagum-kagum dengan pesona alam yang disuguhkan. Dan lelaki itu masih begitu sibuk dengan kamera ditangan nya. Entah sudah berapa banyak momen yang berhasil diabadikan nya.
" Mil....!!!!" aku menoleh, dan satu jepretan berhasil di dapatkan nya.
" Ommmmm......!!!!!!" teriak ku kesal.
Tapi lelaki itu tak menghirakanku justru sibuk mengamati hasil jepretan nya barusan. Untuk sesaat aku terpesona dengan wajah seriusnya .
Tak dapat kupungkiri jika lelaki itu sebenarnya memiliki wajah yang tampan dan rupawan. Ditambah dengan kumis serta jambang tipis di sekitar pipi dan rahangnya semakin menambah kesan sensual. Meski usianya yang jika kutebak sudah kepala tiga tapi tak mengurangi kadar ketampanan yang dimiliki. Seandainya aku bertemu dengan nya saat dia masih muda, mungkin saja aku tak akan menolak jika diminta untuk menjadi kekasihnya. Tapi yang ada sekarang kita bertemu disaat perbedaan usia yang begitu kentara. Bukan nya aku tak tau jika om Dirga
menyukaiku dan berusaha mendekatiku. Hanya saja aku merasa jika om Dirga itu lebih pantas menjadi pamanku ketimbang kekasihku.
" cantik." om Dirga berkata dengan masih menatap kamera nya.
" apanya" tanyaku mendekat dan berdiri di samping nya.
" kamu." om Dirga menoleh ke arah ku.
Blush pipiku pasti sudah merona mendapat pujian meski secara tidak langsung.
" pulang yuk om. Sudah siang."
" bentar. Kita naik perahu dulu baru pulang." aku ditarik nya sambil berlari kecil menuju ke arah beberapa perahu yang berada di bibir pantai.
Dengan sigap om Dirga membantuku naik ke atas perahu. Untuk sejenak aku melupakan tentang siapa om Dirga sesungguhnya. Dan aku berusaha menikmati momen kebersamaan kami berdua.
--------
Malam harinya kami sampai di Surabaya. Meski seharian ini kami telah menghabiskan banyak waktu di pantai ditambah perjalanan yang kita lalui hingga tiba di Surabaya, tapi tak menunjuk kan raut lelah di wajah om Dirga.
Berbeda dengan saat kami berangkat dulu. Terlihat sekali jika om Dirga begitu tampak kelelahan. Kali ini om Dirga masih tampak segar padahal aku saja sudah merasa sangat mengantuk.
" Nak Dirga ga mau mampir dulu." tawar bunda padanya.
" Terimakasih. Sekarang sudah malam tante. Lain waktu pasti Dirga akan mampir."
" Bener ya, sering-sering main kesini jika tidak sibuk. Tante berterimakasih karena nak Dirga mau meluangkan waktu untuk membantu tante. "
" sama-sama tante. Kalau begitu saya langsung pamit ya tante. Selamat malam. "
__ADS_1
Om Dirga menatapku dan mengerlingkan sebelah matanya sebelum berlalu meninggalkan pelataran rumah Bunda.
-------
Dua minggu berlalu dan selama itu aku belum bertemu lagi dengan om Dirga. Kemana lelaki itu kenapa tidak ada lagi kabar darinya. Padahal dia bilang telah menyimpan nomor handphone ku. Kenapa sekalipun dia tak pernah menelponku.
Aku duduk di atas kasur. Kuraih Ponsel yang ada diatas nakas disamping ranjang. kubuka aplikasi WhatsApp. Mulai mencari kontak telpon nya dan ternyata memang nomor telpon nya sudah tersimpan disitu. Mataku membelalak melihat nama yang tertera disitu. "calon suami" astaga rasanya aku hampir tak percaya jika om Dirga lah yang menulis seperti itu.
Kulihat om Dirga sedang online. Menimbang-nimbang apa aku perlu menanyakan kabarnya.
Aku mulai mengetik sebuah kata. Tapi kuurungkan. Ingin menghapusnya dan sialnya aku malah salah pencet. Bukan nya menekan tombol delete tapi justru tombol send.
Hanya satu kata " om " sebenarnya tapi entah kenapa aku jadi deg deg an. Benar saja centang dua berwarna biru tampak di layar ponsel ku. Sedetik kemudian ponsel ku bergetar.
" aduh gimana ini. Om Dirga ngajakin video call." aku berbicara sendiri sambil menggaruk-garuk rambutku.
" angkat ga ya.... Aduh....." aku masih bingung antara mengangkat panggilan nya atau tidak.
Oke akhirnya kuputuskan untuk mengangkat telpon nya. Wajah om Dirga terpampang jelas di layar ponsel ku, dia tersenyum.
" Hai Mila sayang.... Kenapa? Kangen ya. "
Aku melotot mendengar ucapan nya. Tuh kan bener dia jadi mikir yang enggak-enggak.
" Eh.... Engg... Enggak kok. Siapa juga yang kangen"
Tiba-tiba kulihat datang seorang perempuan dari arah belakangnya dan mencium pipi om Dirga. Aku melihat dengan sangat jelas jika perempuan itu bergelayut manja di lengan om Dirga kemudian duduk di sebalahnya.
" lagi telpon sama siapa." tanya perempuan itu pada om Dirga.
Aku panik. " om udah dulu ya. Kututup telpon nya. Bye."
Segera kuakhiri panggilan video call dari om Dirga.
Pikiranku berputar pada kejadian barusan. Om Dirga sedang berada dimana?
Dan siapa perempuan yang bersamanya tadi. Sampai cium pipi segala.
Kugelengkan kepalaku menghalau semua pikiran tentang om Dirga.
Ponsel ku kembali bergetar. Aku sampai tak berani melihat siapa gerangan yang menelpon. Kalau om Dirga lagi yang telpon bagaimana. Apa yang harus kukatakan padanya.
" ish... Ini kenapa telpon ga mau diem sih." gerutuku.
Dengan kesal kuraih Ponsel yang masih tergeletak di atas kasur. Kulihat kembali siapa yang menelpon. Ah ternyata bukan om Dirga. Senyum tersungging di bibirku.
__ADS_1
" Kak Daffi...!!!!"
Terdengar suara kekehan diujung telpon.
" Tuan putri turunlah. Kutunggu di bawah."
" Ehm mak... Maksud kak Daffi.?"
" Buruan turun. Keburu jamuran entar aku nungguin kamu."
" Kak Daffi ada disini." tanyaku bersemangat
Kudengar lagi kak Daffi terkekeh.
" Iya.... Iya... Mila turun sekarang. Tunggu sebentar."
Astaga, aku baru tersadar jika sedari tadi aku tak memakai hijabku. Padahal tadi aku sempat video call dengan om Dirga. Aduh gimana ini om Dirga pasti melihatku yang tak berhijab.
Ya sudahlah, sudah terlanjur juga. Segera kusambar kerudung yang tergeletak di atas kasur. Aku masih menggunakan piyama tidurku tanpa berniat mengganti baju, karena rencananya aku tadi sudah mau pergi tidur tapi tiba-tiba teringat om Dirga.
Saat turun dari tangga menuju lantai satu, rumah tampak sepi. Aku hanya sendirian karena Bunda belum pulang. Tadi Bunda pamit pergi mengaji di masjid kompleks dan akan mampir ke resto sekalian. Kak Danisha sedang pulang kerumah orang tuanya di Jakarta. Sementara Kak Ken semalam juga ikut-ikutan ke Jakarta
menyusul istrinya itu.
Keluar dari dalam rumah menuju pintu pagar, aku bisa melihat kak Daffi yang bersandar pada motor besarnya. Dulu setiap melihat kak Daffi hatiku rasanya berbunga-bunga, jantung berdegub kencang. Tapi sekarang rasanya sudah berbeda. Aku senang melihat kak Daffi berada di sini. Apalagi dengan senyum nya yang semanis gula jawa itu. Tapi...............
Kenapa jantungku tidak lagi berdegub kencang seperti dulu?
Ada apa dengan hatiku. Padahal ini adalah hal yang selalu kuinginkan dan kuimpikan sejak dulu. Bahkan sejak aku masih SMP, kak Daffi lah lelaki pertama yang mampu membuatku tertarik pada lawan jenis.
" Hai....." Kak Daffi menyapaku.
" Kak Daffi kapan balik ke Surabaya. Kenapa ga kasih kabar." aku berdiri di depan nya.
" kenapa? Kangen?"
" apaan sih....." aku tersipu malu. Pasti pipiku sudah merona sekarang.
Kak Daffi tersenyum dan mengusap kepalaku.
Aku terdiam, teringat kembali akan perlakuan om Dirga yang juga pernah melakukan hal yang sama. Mengusap kepalaku dengan lembut.
__ADS_1
Tuh kan jadi teringat lagi sama si om padahal jelas-jelas aku lagi bersama kak Daffi.