
Dua hari lamanya berada di Jakarta, menghabiskan waktu bersama hanya untuk sekedar berjalan - jalan di sekitar hotel. Melepas rindu setelah dua minggu tak bertemu. Je pun tak kalah bahagia nya bisa bersama dengan mama dan papa nya.
Dan hari ini mereka sudah harus kembali ke rumah. Ah, Camila merasa lega bisa menghirup kembali oksigen di dalam rumah yang telah dua minggu tidak ia singgahi.
" Rindu nya aku sama rumah." gumam Cnaila begitu kakinya menginjak lantai rumah mereka.
Camila tersenyum bahagia. Dirga merangkul pundak istrinya. Mendekatkan kepala dan berbisik ke telinga istri nya.
" Sayang, rindu juga tidak sama kamar kita?"
Camila mencubit perut Dirga.
" Papa mesum...." pipi nya sudah merona mendapat candaan dari suami nya.
Je, balita itu kini sudah berlari masuk mencari keberadaan baby sitter nya. Banyak bercerita pada baby sitter yang setiap hari mengasuh nya. Tentang pengalaman nya selama berada di Jakarta. Sesekali mbak Hana tertawa mendengar gaya bicara Je. Dengan bahasa yang masih cadel, sangat lucu kala Je mendiskripsikan sesuatu.
" Lalu, oleh - oleh untuk mbak Hana mana?" tangan suster itu menengadah, bermaksud menggoda Je.
" Ada. Je beli banyak oleh - oleh untuk mbak Hana. Dibawa mama."
" Benarkah?"
" Iya.... Mama... Mama.....!" Teriak Je sambil berlari kecil mencari mama nya yang ternyata masih berada di ruang tamu bersama Papa Dirga.
" Kenapa sayang...."
Camila berjongkok, mensejajarkan diri dengan Je.
" Mana oleh - oleh yang Je beli buat mbak Hana. " tanya Balita kecil itu.
Camila tersenyum mengelus kepala Je dengan sayang. " Ada, masih di dalam mobil. Nanti kita bongkar ya. Sekarang Je minum susu dan istirahat. Pasti capek kan."
Je mengangguk.
Mbak Hana muncul diambang ruang tamu. Camila menatap baby sitter nya Je lalu tersenyum.
" Mbak Hana...." Camila menghampiri baby sitter Je, lalu memeluk nya. Mereka berdua memang sudah sangat akrab karena mbak hana sudah bekerja dengan mereka sejak Je masih kecil.
" Mbak, Je rewel tidak selama kutinggal?"
Mbak Hana menggeleng, " Terkadang rewel kalau pas mau tidur."
Memang Je terbiasa tidur dengan Papa dan mama nya sehingga saat tidak ada mama di sampingnya, balita itu pasti rewel.
__ADS_1
" Terimakasih ya Mbak sudah menjaga Je dengan baik. "
" Sama - sama. Je, ayo ikut mbak. Kita minum susu. Lalu tidur siang. "
Je menurut saja saat Mbak Hana menggendong nya dan membawa nya ke kamar tidur Je. Sebenarnya Dirga sudah menyediakan kamar khusus untuk Je. Hanya saja setiap malam Je pasti tidur di dalam kamar kedua orang tuanya atas permintaan Camila. Akan tetapi jika tidur siang, Je akan berada di dalam kamarnya sendiri dengan ditemani Mbak Hana.
Setelah kepergian Je juga Mbak Hana, Dirga menarik lengan istri nya. Membawa ke dalam kamar mereka.
Pintu kamar terbuka, dan Camila begitu saja masuk ke dalam nya. Menjatuhkan tubuh nya di atas ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai.
Dirga pun masuk setelah menutup dan mengunci pintu kamar mereka. Ikut menjatuhkan dirinya di samping Camila.
" Bunda kenapa pulang tak mau menunggu ku?" tanya Camila.
Iya, Mila pikir Bunda masih berada di rumahnya. Tetapi ternyata dugaan nya salah. Karena saat Dirga pergi ke Jakarta bersama Je, Bunda pun pamit ingin pulang. Kangen rumah katanya.
" Bunda itu sudah kangen sama rumah. Dan mungkin dipikir nya, kita akan lama berada di Jakarta."
" Padahal aku kan juga kangen sama Bunda."
" Besok kita mengunjungi Bunda ke rumah. Sekalian mengantar oleh - oleh buat mereka."
Camila mengangguk.
" Sayang.... "
" Tanpa mu, dunia serasa hampa," ucapan Dirga justru membuat Mila tertawa.
Kedua nya saling pandang. Dirga susah mendekatkan wajahnya, satu kecupan ia berikan di bibir istrinya.
" I Love you."
****
Hari ini Camila kembali memulai aktifitas seperti biasa. Kembali harus bertugas ke Rumah Sakit. Hiruk pikuk dan banyak nya orang yang berlalu lalang membuat Camila sangat merindukan momen - momen seperti ini.
" Dokter Camila....!"
Mila menoleh mendapati seorang perawat yang sedang menghampiri nya.
" Suster eni... Apa kabar?"
Mereka berdua saling berpelukan.
__ADS_1
" Alhamdulillah baik dokter. Kangen sekali lama tak bertemu dokter."
" aku juga."
" eum... Dokter Mila sudah tau belum?"
" Tahu apa?"
" Hari ini ada peresmian pergantian pimpinan Rumah Sakit. "
Camila mengernyit. Dia memang tidak tahu kabar apa - apa karena dua hari lamanya dia ijin untuk tidak masuk.
" Dokter belum tahu? " tanya suster Eni
Camila tentu saja menggeleng." Aku dua hari kemarin ijin tidak masuk, sus. Jadi ya tidak tahu apa - apa."
" Hari ini, dokter Hendra akan secara resmi menyerahkan kepemimpinan Rumah Sakit ini pada dokter Rasya."
" Oh ya!? " Camila terhenyak.
" Iya. Dan jangan bilang jika dokter Mila juga tidak tahu menahu tentang hubungan dokter Hendra dengan dokter Rasya."
Camila belum sempat menjawab tapi suster eni sudah berkata lagi.
" Jadi dokter Rasya itu adalah keponakan dokter Hendra."
" Owh..." Camila manggut - manggut.
" Aduh dokter, senengnya jika Rumah Sakit ini dipimpin oleh dokter Rasya. "
" Memang nya kenapa?"
" Dokter Rasya itu masih muda, ganteng dan belum punya pasangan. " suster eni terkikik.
Camila hanya menanggapinya dengan senyum. Jadi desas desus yang selama ini ia dengar benar adanya. Dokter Rasya adalah keponakan dokter Hendra. Dan Rumah Sakit ini mulai hari ini berada di bawah kepemimpinan dokter Rasya.
Camila hanya bisa berharap dalam hati, semoga saja dengan pergantian pimpinan, Rumah Sakit semakin maju. Tapi mengingat kembali bagaimana perilaku dokter Rasya, Camila jadi tak yakin. Apakah dokter Rasya akan lebih baik dari dokter Hendra.
Dokter Rasya yang slengekan, sementara dokter Hendra pembawaan nya begitu berwibawa. Dokter Rasya yang suka semaunya sendiri , sementara dokter Hendra penuh kedisiplinan.
Camila menggelengkan kepalanya, buat apa juga dia berpikir sejauh itu. Dia disini hanyalah bekerja sebagai tenaga medis. Siapapun yang akan menjadi atasan nya nanti, Camila hanya bisa menerima karena keputusan ada di pihak managemen.
Sekalipun Camila tak yakin dengan kemampuan Rasya, toh lelaki itu lah yang sudah dipilih oleh dokter Hendra.
__ADS_1
Semoga saja begitu dokter Rasya memimpin Rumah Sakit ini, lelaki itu tidak lagi mengganggu nya. Jujur Camila merasa risih dengan semua perlakuan dokter Rasya kepadanya. Dan hingga detik ini, Camila sama sekali belum pernah bercerita mengenai Rasya pada Dirga, suaminya.
Mila pikir apa yang Rasya lakukan belum terlalu berlebihan. Tapi meskipun begitu, Camila tetap berencana untuk menceritakan mengenai Rasya pada Dirga agaar suatu hari nanti suaminya tidak salah persepsi atau salah paham padanya.