
Begitu melihat Je yang belum tertidur dan menyambut kedatangan nya, Mila seolah sudah melupakan tentang kelakuan buruk Rasya.
" Sayang, Mama dan Papa mandi dulu ya," pamit Mila yang diangguki kepala oleh Je.
Balita itu kembali bermain bersama baby sitternya. Menurut info mbak hana, Je sengaja menunggu papa dan mama nya pulang, hingga balita itu tidak mau pergi tidur meskipun sudah hampir jam sembilan malam.
Tangan Dirga merangkul pinggang istri nya dan mereka berdua masuk ke dalam kamar.
Camila melihat wajah lelah suaminya. Dengan kasar Dirga mulai melepas kancing kemeja nya. Camila segera mengambil alih dengan melepas kancing kemeja suaminya satu persatu.
" Capek ya Pa..."
" Hmm...."
" Mandi air hangat biar badan seger."
" Boleh juga. Mandi bareng ya."
" Papa... Ish..."
Tanpa banyak kata Dirga sudah mengangkat tubuh istri nya dan di bawanya ke dalam kamar mandi.
Ada tiga puluh menit mereka habiskan untuk mandi. Sampai - sampai mereka melupakan Je yang sedang menunggu mereka.
" Pa, kasihan Je pasti sudah mengantuk."
" Ya sudah aku ambil Je dulu di luar."
Tak berselang lama Dirga kembali masuk dengan Je berada dalam gendongan papa nya. Satu botol susu sudah berada di genggaman tangan Je.
Lalu Dirga naik ke atas ranjang diikuti oleh Camila. Je berada di tengah mereka. Sambil mengajak Je sedikit bercanda tapi nyata nya balita itu sudah sangat mengantuk hingga tak berselang lama Je pun tertidur.
" Pa...."
" Ada apa?"
" Kalau aku resign saja dari rumah sakit bagaimana?"
" Sayang yakin?"
__ADS_1
" Habis nya lihat Je kok aku jadi kasihan ya...."
" Kalau sayang yakin dan tekat sudah bulat, aku hanya bisa mendukungnya."
" Termasuk kalau aku ingin buka usaha sendiri, papa mau memodaliku."
" Apapun yang sayang mau, pasti akan aku berikan. Aku justru senang jika sayang mau usaha sendiri. Sekalian bisa nge jagain Je kan? "
" Ya, papa benar. Ada baik nya aku resign saja. "
" Pikirkan dulu baik baik. Jangan sampai sayang menyesal kemudian. "
" Iya, Pa. Aku juga tidak akan terburu buru dalam mengambil keputusan. "
" Sayang, tadi belum makan kan? Aku lapar. Boleh masakin untuk ku? "
Camila tersenyum pasalnya dia sendiri juga lapar. Gara gara tadi diikuti oleh dokter Rasya hingga kedua nya tak lagi memikirkan pasal makan. Dan mereka Buru buru untuk pulang.
Camila mencium pipi Je sebelum turun dari atas ranjang. Keluar dari dalam kamar diikuti oleh Dirga di belakang nya. Rambut panjang Mila hanya ia gulung asal.
" Mau makan apa Pa?"
Dibuka lemari pendingin, diambil telur dan beberapa sayuran.
" Aku masakin orak arik telur sama sayur aja ya Pa. Yang cepet."
" Boleh."
Dengan sigap Mila mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan. Lalu dia cuci sebelum di potong potong. Dirga hanya memperhatikan aktifitas istri nya dari belakang.
Dulu saat Dirga menikahi Camila, bahkan istrinya itu tidak bisa apa-apa. Untuk urusan memasak ada bunda Anyelir yang bisa diandalkan. Hanya satu yang bisa Mila lakukan yaitu membuatkan nya coklat hangat. Bahkan hingga sekarang pun masih sering istri nya lakukan. Seiring berjalan nya waktu, Camila sedikit demi sedikit mulai belajar untuk menjadi istri yang sesungguh nya. Belajar memasak, mengurus rumah juga mengurus diri nya. Hingga sekarang disaat kesibukan istri nya yang semakin menumpuk, sedikit banyak Camila mulai melupakan beberapa kewajiban sebagai seorang istri seperti sudah jarang memasak untuk nya. Lebih banyak menyerahkan semua urusan rumah tangga pada Asisten Rumah Tangga mereka. Dan saat Mila berencana untuk resign jujur Dirga merasa senang, setidak nya dengan Mila resign maka istri nya akan memiliki lebih banyak waktu lagi untuk nya juga untuk Je. Dia akan sangat mendukung seandainya Camila memang harus resign.
Dirga beranjak dari duduk nya, menghampiri istri nya dan berdiri di belakang tubuh istri nya. Kedua tangan Dirga berada di sisi kanan dan kiri Camila. Mengurung tubuh Camila.
Helaan nafas Dirga menerpa leher jenjang Camila. Satu kecupan mendarat di leher putih Camila.
" Pa, jangan mengangguku. Nggak cepet selesai nanti."
" Mau aku bantu?"
__ADS_1
" Papa bantu doa saja. Lagian papa jangan nempel mulu. Aku geli Pa...."
Seputar rahang Dirga yang ditumbuhi jenggot diusap usapkan ke pipi sang istri membuat Mila kegelian.
" Bukan nya sayang suka.... "
" Pa, aku ngga jadi masak nih, keburu malem kalau papa gangguin mulu. "
" Baiklah tuan putri, aku tunggu di meja makan."
Setelah Dirga benar benar meninggalkan nya, Mila sungguh merasa lega. Pasalnya setiap berada di dekat sang suami tercinta, jantungnya serasa berdetak extra. Ah, jatuh cinta itu tak pandang berapa lama usia pernikahan mereka. Yang terpenting memang quality time yang harus mereka habiskan untuk berdua.
Camila tersenyum, hatinya berbunga bunga hingga tak terasa masakan ala kadar nya selesai dia buat. Dirga itu bukan tipe pria yang pilih pilih makanan. Apapun yang ada pasti dia makan. Kalau enak ya bilang enak, kalau nggak enak pun ya dia tetap akan bilang jika masakan nya enak. Memang ada ada saja.
Dan satu hal lagi yang tidak berubah dari diri papa Dirga. Bucin nya dari dulu hingga sekarang masih saja tak berubah justru bertambah parah.
Mila pastilah suka dan bahagia karena merasa dicintai oleh suaminya. Cinta suaminya yang begitu besar hingga Camila pun tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa.
Pria yang selalu mengerti akan diri nya, mengerti dengan semua kesibukan nya. Tidak pernah protes atau bahkan Dirga itu lelaki yang jarang sekali marah pada nya.
Tiap dia melakukan kesalahan, Dirga hanya akan mengatakan jangan diulangi lagi. Bukan nya memarahinya habis habisan atau memakinya. Tidak pernah. Itu tidak pernah Dirga lakukan. Selama delapan tahun menikah hanya kasih sayang yang Dirga berikan untuk nya.
Sungguh dia merasa menjadi wanita paling beruntung sedunia.
" Sayang..... Sudah belum."
Teriakan Dirga menyadarkan Camila. Segera dia membawa makanan hasil olahan tangan nya ke meja makan.
" Maaf ya Pa, hanya ini yang aku buat. Cah sayur dengan orak arik telor."
" apapun yang sayang masak tetap aku makan karena aku lapar. "
Camila tertawa melihat tingkah lucu suaminya. Diambil nya nasi lalu di tambah dengan hasil masakan nya. Diserahkan pada Suaminya.
Lalu Camila sendiri pun juga mengambil untuk diri nya sendiri .
" Pa, kalau keasinan jangan protes ya..."
" Sekalipun keasinan aku akan tetap bilang enak. Seperti biasa."
__ADS_1
Dan mereka berdua tertawa bersama. Serasa di rumah ini hanya ada mereka saja. Padahal di belakang masih ada asisten rumah tangga juga mbak hana yang mendengar canda tawa majikan nya. Hal yang jarang sekali mereka dengarkan karena kesibukan keduanya.