Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 9


__ADS_3

Sudah jam setengah sepuluh malam saat Camila memasuki pintu rumah yang ia tinggali bersama Je dan Dirga. Dengan tubuh lelah Camila bergegas menuju kamarnya. Dia harus membersihkan diri dulu sebelum menemui putranya. Ini sudah menjadi kebiasaan Camila sejak dulu. Terlebih semenjak dirinya bekerja di Rumah Sakit, yang bisa jadi, di tempat kerjanya itu banyak sekali virus dan bakteri, oleh karena nya sebisa mungkin Camila harus mensterilkan diri sebelum berdekatan dengan putranya.


Pintu kamar terbuka, tampak Dirga yang sudah terlelap bersama Je di dalam dekapan suaminya. Camila hanya tersenyum tak berniat membangunkan keduanya. Setelah meletak kan tas kerja pada tempatnya, Camila segera menuju kamar mandi.


Hampir satu jam lamanya Camila berada di dalam kamar mandi. Memang seperti itulah ritual mandi malamnya yang cukup lama. Selain membersihkan tubuhnya, juga Camila terbiasa mencuci rambut panjang nya. Satu hari penuh rambut Camila terbungkus hijab dan itu selalu membuat rambutnya lepek dan Camila akan merasa tak nyaman. Oleh sebab itulah semalam apapun dia pulang, ritual mencuci rambut tak akan ketinggalan. Selain itu, kebiasaan mencuci baju kotor nya juga selalu dia lakukan sekalipun di malam seperti ini dia baru bisa membersihkan diri.


Saat keluar dari dalam kamar mandi, jam yang tergantung di dinding kamar tidur sudah hampir jam sebelas malam. Untung saja tadi Camila sempat makan malam saat berada di kampus. Jadi sekarang dia tak perlu lagi mengisi perutnya.


Hari ini Camila sangat lelah karena padat nya jadwal. Mulai dari pasien yang membludak, operasi dadakan serta perkuliahan yang sampai malam baru selesai.


Setelah meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku, Camila merangkak naik ke atas ranjang. Sebenarnya dia masih ada tugas yang harus dikerjakan, tapi rasanya dia tak mampu lagi mengerjakan nya. Biarlah besok saja dia kerjakan.


Menatap Je yang tertidur lelap, kembali perasaan bersalah menyergap nya. Haruskah Je kehilangan sosok dirinya sebagai seorang ibu. Disaat Je membutuhkan kasih sayang, apalagi anak seusia nya pastilah akan merasa nyaman jika tidur malam bersama Ibunya. Tapi Je, balita itu harus puas hanya bersama Papa nya.


Diusapnya kening Je, lalu Camila membungkuk agar bisa mencium kening Je. Ciuman yang sangat dalam Camila berikan untuk Je.


Pergerakan tubuh Dirga membuat Camila melepas ciuman nya pada kening putranya. Tatapan Camila jatuh pada wajah tampa suaminya. Wajah lelah yang begitu kentara.


Perlahan mata itu mengerjab dan kini sudah mulai terbuka.


" Sayang...." suara serak Dirga.


Lelaki itu melepaskan tangan nya yang melingkar di tubuh mungil anak nya.


" Sayang sudah pulang. Maaf aku ketiduran."


" Sudah, papa tidur saja."


Camila tak enak hati telah membangunkan Dirga meskipun hal itu tidak ia sengaja.

__ADS_1


Bukan nya melanjutkan tidur seperti yang Camila minta, Dirga justru mengucek matanya sambil beringsut bangun.


" Sayang kapan datang? Kenapa aku bisa tak tahu. " tanya Dirga untuk kedua kali.


" Satu jam yang lalu mungkin. Papa kenapa bangun. Sudah papa tidur lagi saja."


Camila sudah mendorong dada Dirga agar suaminya kembali tertidur. Tapi tangan Camila justru ditangkap oleh Dirga, digenggam dan dikecup sekilas.


" Sayang sudah makan?"


Bukan nya menjawab pertanyaan Dirga, Camila justru sudah berkaca kaca. Kenapa suaminya ini baik sekali. Memperhatikan juga tentang makan nya. Padahal Camila sendiri tidak terpikir hingga sejauh itu dan mengisi perut nya tanpa ingat Dirga atau Je.


" Papa Dirga sudah makan atau belum?" Camila balik bertanya.


" Tadi aku bawa Je ke Mall. Dan kita berdua makan disana. Kalau sayang belum makan, ayo aku temani makan. Maaf karena tadi aku dan Je makan malam duluan tidak nungguin sayang."


" Pa... Jangan khawatir seperti itu padaku. Tadi aku juga sudah makan."


" Astaga Pa, aku beneran sudah makan. "


" Ya sudah kalau memang sudah makan, sekarang Sayang istirahat saja. Tidurlah. Besok harus bangun pagi kan? "


Camila mengangguk. Dirga justru sudah membantunya untuk berbaring di sebelah Je lalu menyelimuti nya. Setelahnya Dirga pun ikut berbaring juga. Di sisi satu nya hingga kini Je sudah berada di tengah tengah mereka.


Camila mulai memejamkan mata, tapi hanya sebentar karena mata dengan bulu lentik itu terbuka kembali. Menatap sang suami yang belum tertidur kembali.


" Pa...." Panggil Camila lirih.


" Hmm...." jawab Dirga dengan gumaman.

__ADS_1


Camila masih terdiam. Dia ingin bercerita sesuatu pada suaminya. Tapi masih menimbang nimbang apakah perlu diutarakan sekarang atau tidak, karena memang berita yang ia dengar juga belum pasti kebenaran nya.


" Tadi di Rumah Sakit aku dengar selentingan kabar. Ada tiga orang dokter yang akan ditugaskan ke Jakarta selama satu minggu lamanya, dalam rangka pertukaran dokter antar Rumah Sakit swasta. Dan masalahnya, seperti nya namaku ada di daftar tiga dokter itu. Tapi aku masih belum yakin juga. Karena keputusan Pak Hendrawan bisa saja berubah. "


" Lalu....? " dengan santai nya Dirga menanggapi, membuat Camila sedikit kesal di buatnya.


" Ya kalau memang benar aku yang diminta berangkat, bagaimana dengan Papa dan Je. Aku tak terbiasa berada jauh dari kalian dalam waktu yang lama. "


" Sayang bilang tadi hanya satu minggu."


" Ya itu kan kabar nya masih simpang siur, Pa. Bisa jadi akan lebih lama. Dan aku takut jika benar aku yang diminta berangkat. "


" sudah sayang tenang saja. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang lebih baik sayang tidur. Istirahat. Nanti kita pikirkan lagi jika memang sayang yang pasti akan berangkat. Oke. "


Camila mengangguk. Dirga tersenyum dan mulai memejamkan kembali matanya.


" Pa.... "


Lagi lagi Camila memanggil nama suaminya. Dirga membuka kembali matanya menatao penuh tanya pada Camila.


" Kenapa lagi, sayang. "


Camila tersenyum," Papa belum menciumku malam ini. Mana aku bisa tidur nyenyak."


Mendengar nada manja istrinya Dirga tertawa, lalu dengan semangat kembali bangun dan merangkak melewati Je agar bisa mendekat pada Camila.


Tubuhnya membungkuk di atas Camila, kedua tangan Camila terulir menangkap pipi Dirga yang ditumbuhi jambang. Camila sangat suka membeli pipi suaminya yang terasa kasar di tangan nya.


Dirga mencondongkan wajahnya dan mempertemukan bibir mereka. Sebuah ciuman Dirga berikan pada sang istri tercinta. Camila pun menyambut dengan suka cita apa yang sedang dilakukan oleh suaminya.

__ADS_1


Mereka berdua terlarut semakin dalam. Intensitas ciuman Dirga yang begitu lembut berubah menuntut. Ciuman yang menjadi bagi keduanya.


Melupakan sejenak kehadiran Je diantara mereka. Menyalurkan kerinduan dimana satu hari ini mereka tidak berjumpa. Tanpa banyak kata, dan hanya diselingi dengan senyum manis keduanya, Dirga dan Camila melalui malam mereka dengan suka cita sebelum akhirnya mereka terlelap saling berpelukan penuh cinta dan kasih sayang.


__ADS_2