
Dirga Pov
" Pak Dirga, sudah siap? Kita akan melakukan CT scan karena sepertinya benturan di kepala Pak Dirga lumayan keras. Terlihat dari memar dan luka sobek di dahi yang cukup dalam." ucap dokter yang pagi ini menyapaku. Dokter yang bername tag Allan Toh inilah yang membantu dan mengobati sejak aku kecelakaan dua hari lalu.
Bisa dibilang tidak parah tapi tidak juga ringan. Tubuhku serasa remuk redam. Beberapa bagian tubuhku banyak yang lebam. Dan terutama kaki ku yang mengalami retak atau entahlah mungkin patah tulang ringan.
Dua hari lalu sebelum kecelakaan yang menimpaku, aku sudah berencana akan pulang ke rumah mama untuk meminta doa restu pada beliau karena aku berencana ingin menemui istriku. Aku ingin meminta maaf padanya atas ucapanku yang pasti sangat menyakiti hatinya.
Satu bulan ini aku tak bertemu dengan Camila, tak mendengar suaranya sungguh membuatku sangat tersiksa. Salah ku juga yang terlalu takut hanya untuk sekedar menelepon nya. Rasa bersalah ku telah membuatku menjadi seorang pengecut.
Sudah sepantasnya aku bersikap gentle seperti yang Danu lakukan. Tapi ternyata aku tak setegar Danu dalam menghadapi pelik nya masalah rumah tangga. Padahal aku ini bisa dibilang sudah tua seharusnya bisa bersikap dewasa.
------
Seusai CT scan yang tadi kulakukan, suster kembali mendorong kursi rodaku untuk kembali ke kamar perawatan yang sudah dua malam ini kutempati. Dokter Allan berjalan disamping ku. Dokter muda yang kutaksir usianya mungkin dua atau tiga tahun dibawahku. Dan baru satu bulan ini pindah ke Rumah Sakit ini karena sebelumnya bekerja di Rumah Sakit yang ada di Singapore.
Selama dua hari pula mengenal dokter Allan aku banyak sharing mengenai luka yang kuderita ini. Semoga hasil dari CT scan juga baik agar aku bisa segera pulang. Kondisi ku juga sudah lebih baik kecuali lebam lebam dan luka robek atau lecet yang memang belum kering dan masih butuh perawatan. Selebihnya tinggal kaki ku saja yang sedikit membutuhkan waktu lama untuk pemulihan. Info dari dokter Allan mungkin butuh waktu sekitar satu bulan untuk ku bisa berjalan normal kembali seperti sedia kala.
Meski begitu aku tetap harus bersyukur setidaknya akibat kecelakaan itu yang tidak terlalu parah. Kecelakaan beruntun yang melibatkan sekitar sepuluh mobil di area jalan tol bandara. Sopir taxi yang membawaku pun juga tidak terluka parah. Hampir sama denganku yang mengalami luka ringan.
Beberapa mobil yang terlibat dalam kecelakaan tersebut kudengar hingga menewaskan satu korban jiwa. Dan banyak diantara korban yang mengalami luka serius. Aku sendiripun tak seberapa tau bagaimana kronologinya . Hanya saja menurut informasi dari polisi yang kapan hari menemuiku, awal mula kecelakaan tersebut karena ada sebuah mobil yang ban nya meletus sementara driver tidak mampu menguasai laju mobil yang dikendarainya. Jadilah kecelakaan beruntun itu terjadi.
Kutajamkan penglihatanku. Aku sangat yakin jika aku tidak sedang bermimpi apalagi berhalusinasi. Dia, wanita yang masih berstatus sebagai istriku berdiri tak jauh dari posisiku saat ini .
" Camila..... !!! "
Tentu saja aku terkejut, dokter Allan lah yang baru saja memanggil Camila. Aku mendongak mendapati dokter Allan sedang tersenyum. Hei....apakah senyum itu ditujukan pada istriku ?
Suster mendorong kursi rodaku semakin mendekat pada dua orang perempuan yang berdiri tak jauh dariku. Mungkin satu diantara mereka adalah teman Camila.
Aku tak bisa mengalihkan tatapanku. Terlalu merindukan nya membuatku tak mampu berbuat apa-apa. Jangankan memeluk tubuhnya, memanggilnya pun aku tak mampu. Lidahku terasa kelu.
"Camila....." kembali kudengar dokter Allan berucap.
" iya dokter.." sahut Camila.
Akhirnya aku bisa mendengar kembali suaranya. Meskipun itu tidak dia tujukan kepadaku.
" tunggu saya di ruangan. Sebentar saya antarkan pasien saya ke kamar." Dokter Allan berkata pada Camila lagi.
__ADS_1
" baik dokter."
" oh ya ruangan saya ada di sebelah sana belok kanan. Saya tinggal dulu ya." Dokter Allan memberi instruksi pada Camila.
" oke baiklah dokter."
Suster kembali mendorong kursi rodaku meninggalkan Camila.
Aku masih terdiam dengan berbagai macam pikiran berkecamuk.
Bagaimana mungkin dokter Allan bisa mengenal Camila ?
Apakah mereka berdua ada hubungan ?
Camila ke Rumah Sakit ini untuk menemui dokter Allan, buat apa ?
Dan tadi, kenapa Camila hanya diam saja melihatku. Tak mungkin dia lupa padaku. Atau ...apakah dia masih marah kepadaku.
Astaga....Camila Wijaya ... I miss You
Ingin aku berteriak tapi tak mampu kulakukan. Aku hanya bisa berteriak memanggil namanya dalam hati saja.
" Pak Dirga... are you okay. "
Ucapan dokter Allan membuatku tersadar.
" I'm fine dokter. "
" saya lihat Pak Dirga hanya diam saja sedari tadi. Apakah ada yang sedang mengganggu pikiran anda atau mungkin ada sesuatu yang sedang Pak Dirga rasakan."
" tidak ada dokter. Saya baik-baik saja."
" okelah kalau seperti itu. Jika nanti hasilnya keluar, kami akan segera menghubungi anda. Pak Dirga harus yakin jika semua pasti baik-baik saja dan semoga Pak Dirga segera pulih kembali. "
" terimakasih dokter. "
" baiklah jika seperti itu saya pamit dulu. Apabila memerlukan bantuan jangan segan menghubungi suster. Selamat sore. "
Aku hanya mengangguk. Dokter Allan dan suster sudah meninggalkanku keluar dari kamar perawatan. Aku kembali termenung seorang diri . Tidak sabar rasanya ingin segera sembuh dan secepat mungkin menemui Camila.
__ADS_1
Tok....tok...
Pintu ruangan diketuk dari luar, aku menoleh dan mendapati Ferdy yang sedang membuka pintu, masuk ke dalam ruang perawatanku lalu menutup kembali pintunya dari dalam.
" selamat sore bos. Apa kabar bos hari ini. "
" aku baru saja melakukan CT scan. "
" CT scan ? Semoga hasil nya bagus ya bos. Dan bos segera pulih. Ehm....bos yakin aku tidak perlu memberitahu om dan tante tentang keberadaan bos disini . "
Aku menggeleng. " tidak perlu. Aku tidak ingin membuat mereka cemas. Lagipula aku sudah tidak kenapa kenapa kan. "
Pada saat kecelakaan itu aku memang tidak memberitahu papa dan mama. Justru ferdy lah yang aku hubungi. Dan Ferdy juga yang dengan setia selalu datang kesini menemaniku. Jika aku butuh apapun Ferdy juga yang akan membantuku. Sengaja aku tak memberitahu mama dan papa. Kondisi mama yang tidak stabil membuatku takut jika sampai terjadi sesuatu pada beliau seandainya tahu aku yang sedang dirawat di Rumah Sakit.
" oh ya bos. Tadi aku ketemu dek Mila. " ucapan Ferdy membuatku terhenyak.
" ketemu Camila ? Dimana kamu ketemu. ?" Tanyaku antusias.
" loh dek Mila bukan nya darisini. ?" Ferdy justru kembali bertanya padaku dan aku hanya menggeleng .
" tadi aku lihat dek Mila di ruangan nya dokter yang merawat bos. Maka dari itu aku pikir ada hubungan nya sama kondisi bos. "
Kembali aku menggeleng lemah.
" Ferdy. Tolong bantu aku. " pintaku memelas.
" bukankah selama ini aku selalu membantumu bos. "
" aku tahu dan memang hanya kamu yang bisa kuandalkan "
" bos mau minta bantuan apa . Selagi bisa pasti aku akan membantu bos semampu yang kudapat lakukan. "
" bantu aku bawa Camila kesini. "
Kini justru Ferdy mengernyit. " bos ... jadi beneran yang dek Mila itu tak tau apapun jika bos dirawat disini. ? Atau jangan-jangan memang benar dugaanku yang..... bos memang tengah bermasalah dengan istri bos. "
" Ferdy, aku pasti akan menceritakan semua nya padamu. Yang pasti, untuk sekarang ini aku ingin bertemu Mila. Plisss.... bawa Mila kesini . Okay.... "
" baiklah bos . Kurasa dek Mila pun masih berada disekitar sini. Saya akan cari . Sebentar ya bos....."
__ADS_1
Aku mengangguk. Ferdy beranjak keluar dari ruang perawatanku. Semoga Ferdy berhasil menemui Camila dan membawanya kemari.