
" dokter Camila....!" seru Rasya.
Camila yang sedang berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit, menghentikan langkah nya lalu menoleh ke belakang. Dia sudah hafal dengan suara khas seorang Rasya. Dan satu lagi, lelaki itu kembali memanggil nya dengan embel embel dokter setelah kemarin sempat memanggilnya dengan sebutan nama saja.
Pria itu dengan nafas tidak teratur karena sedikit berlari kecil mengejar Camila, berdiri di samping Camila. Menyodorkan sesuatu pada wanita tersebut.
" Apa ini?" tanya Camila bingung.
" Untuk mu." Rasya tersenyum manis.
Camila masih tak bergeming menatap Rasya lalu menatap sesuatu yang masih berada di genggaman tangan pria itu.
" Ambil lah." ucap Rasya kemudian.
Dengan ragu Camila menerima, " Coklat. " gumam nya.
Rasya mengangguk. " Ya, itu coklat."
" Darimana dokter Rasya dapat coklat? Dan kenapa anda berikan pada saya."
Mereka berdua kini berjalan bersisihan di sepanjang koridor Rumah Sakit.
"Tadi, ada keluarga pasien yang memberikan nya untuk ku," Jawab Rasya.
Pria itu teringat akan pasien yang ia rawat. Seorang gadis remaja yang mungkin baru saja kelas Sepuluh atau sebelas. Dan yang Rasya tahu, kemungkinan besar adalah sepupu atau entahlah saudara mungkin, karena Rasya selalu melihat nya setiap hari menunggu pasien tersebut. Dan hari ini tiba tiba saja gadis itu memberikan nya sebatang coklat. Dipikirnya mungkin Rasya ini masih remaja.
Mengingat hal itu Rasya terkekeh.
" Lalu kenapa dokter berikan kepada saya?" tanya Camila.
" Karena saya tidak suka coklat. Dan biasanya coklat itu makanan kegemaran kaum perempuan
Seperti mu."
__ADS_1
Camila hanya tersenyum tipis.
" Kamu suka coklat?" tanya Rasya.
" Saya... Doyan sih sebenarnya sama coklat. Hanya saja, anak saya yang lebih suka sekali dengan yang nama nya coklat. "
Rasya terhenyak, dia tidak kaget karena sudah pernah diberitahu oleh Allan mengenai hal ini. Hanya saja dia tidak menyangka jika Camila sendiri mengakui tentang keberadaan anak nya.
" Jadi, dokter Camila sudah punya anak. " tanya Rasya. Camila mengangguk mantap.
" Saya kira dokter Camila ini belum punya anak. Saya tahu sih yang dokter sudah menikah."
" Oh ya, anda sudah tahu jika saya sudah menikah."
" Ya, Allan yang memberitahu saya. "
" dokter Allan itu mantan dosen saya. Sempat kaget saat tahu ternyata dokter Allan dan dokter Rasya itu bersahabat. "
" Kamu sudah kenal lama dong dengan Allan."
" Aku juga sudah pernah bertemu dengan suamimu saat kita berangkat ke Jakarta. Lebih tepatnya sewaktu di Bandara. "
Tentu saja Camila kaget. Selama Rasay seolah olah mengejar ngejar dirinya padahal Rasya tahu betul jika dia sudah menikah.
Camila menoleh kesamping menatap Rasya," Dokter, bagaimana anda tahu jika itu suami saya. "
" Allan yang mengenalkan nya padaku."
Dalam hati Camila membatin kenapa suaminya tidak memberitahu nya jika sempat bertemu dengan dokter Allan dan dokter Rasya saat mengantar nya ke Bandara.
" Okelah dokter Rasya. Terimakasih coklat nya. Saya harus bertugas sekarang. Selamat siang. "
Camila meninggalkan Rasya. Pria itu masih berdiri mematung menatap kepergian Camila.
__ADS_1
Entahlah, ada rasa yang tak biasa mengingat wanita itu telah bersumai. Bagaimana bisa dia mengagumi istri orang. Tidak Rasya pungkiri jika dia lebih menyukai wanita yang keibuan. Bahkan calon istri kriteria nya adalah wanita yang seperti ibunya. Sangat beruntung ayahnya dulu bisa me olah ibunya. Wanita yang sangat baik dan penuh kasih sayang.
Rasya menggelengkan kepalanya kuat kuat berusaha mensugesti dirinya sendiri bahwa dia hanya mengagumi sosok Camila.
Mengingat akan pembicaraan nya dengan Allan, sahabatnya itu tak henti henti mengingatkan nya agar dia tak selalu merecoki Camila. Hingga terbesit di benak nya, mungkin lebih baik dia berteman baik saja dengan dokter Camila. Karena selama ini Rasya terus saja merecoki Camila dan wanita itu justru semakin menjauh dari nya. Puncaknya saat ia merasa kecewa pada waktu Camila meninggalkan nya di kantin.
Sekali lagi Rasya menghela Nafasnya dan kembali melangkah menuju dimana ruangan nya berada. Mungkin dia harus mulai berdamai dengan hatinya. Bukaan salahnya jika ia mengagumi sosok Camila.
Sementara itu, Camila masih menatap coklat pemberian Rasya. Tumben sekali Rasya berbaik hati dan bersikapain dari biasanya. Bahkan julukan pria tengil sempat Camila sematkan pada pria itu karena hobi Rasya yang suka menhikuti nya atau bahkan merecoki nya.
Ah, biarkan saja lelaki itu bertinglah sesuka hatinya. Disimpan nya coklat pemberian Rasya ke dalam laci meja. Tak berniat untuk memakan nya.
****
Sore hari di rumah Dirga,
Lelaki itu sudah terlihat segar hanya dengan kaos dan celana pendek selutut. Satu minggu berlalu tanpa hadirnya Camila di rumah ini. Je, tumben sekali anak nya itu terus saja bertanya padanya dimana mama nya berada. Bahkan tak jarang Je akan rewel setiap kali akan tidur. Bahkan di tengah malam pun Je akan sering terbangun dan berakhir dengan mencari mamanya. Itulah kenapa akhir akhir ini kondisi Dirga tidak bisa dibilang baik baik saja. Karena hampir setiap hari laki laki itu akan kurang tidur demi menjaga sang buah hati.
Bunda Anyelir masih ada di rumah nya, membantu menjaga Je. Sebenarnya Dirga masih bisa mengurus Je hanya dengan bantuan mbak hana. Akan tetapi dengan kehadiran Bunda Anyelir sedikit banyak bisa membantu nya menenangkan Je disaat balita itu rewel mencari mama nya.
Seperti sekarang ini, sejak Dirga pulanh dari kantor, anak nya terus terusan mencari dimana mama.
" Baiklah, papa akan video call mama. Semoga diangkat ya...."
Dirga tak yakin jika Camila akan mengangkat panggilan telpon nya. Pasalnya yang Dirga tahu, hari ini istri nya mendapat shift siang hari sampai malam. Dan jam istirahatnya biasa nya saat magrib menjelang. Tetapi ini masih jam lima sore. Itu artinya Camila pasti sedang menangani pasien. Dan ponsel nya bisa dipastikan akan Camila telantarkan.
Benar dugaan Dirga, berkali kalo panggilan nya tidak terjawab.
" Je sayang, seperti nya mama sedang sibuk. Nanti malam saja ya kita telpon mama nya." bujuk Dirga pada putra nya.
Tapi putra nya itu tidak mau tahu dan justru menangis meraung raung. Jika sudah seperti itu akan sangat sulit memdiamkan nya. Hancur hati Dirga melihat Je yang menangis histeris seperti itu hanya karena mencari keberadaan mama nya.
Andai saja Jakarta itu dekat, pasti Dirga sudah membawa Je untuk menyusul mama nya.
__ADS_1
Diangkat nya tubuh kecil Je. Diayun ayunkan lirih oleh Dirga sembari lelaki itu berusaha memdiamkan putranya.
Bunda Anyelir yang melihatnya sungguh trenyuh hatinya. Betapa berharga nya lelaki seperti Dirga. Dan Camila adalah wanita beruntung yanh bisa diperistri oleh Dirga. Semua janji Dirga padanya benar benar ditepati. Dirga memang lelaki terbaik untuk putri tunggal nya. Selain penyayang dan juga penyabar. Dirga juga sangat menyayangi Jaghad dan juga Camila. Kasih sayang yang begitu besar untuk anak istrinya.