
" Selamat pagi, Papa...." satu buah kecupan diberikan Camila untuk Dirga.
Lelaki itu dengan perlahan membuka mata, senyum terbit di bibirnya. Ditarik lembut tengkuk istrinya. Kebiasaan yang tak pernah terlewat kan di setiap pagi mereka. Morning kiss.
Dirga mengucek matanya, lalu memicing menatap sang istri tercinta.
"Pagi sekali sudah rapi?" tanya nya.
Camila yang duduk di pinggiran ranjang, menghela nafas.
"Maaf, karena harus pergi pagi-pagi sekali. Aku ada seminar jam tujuh pagi. Akan kedatangan dinas kesehatan, jadi sebagai panitia, aku harus datang pagi." Camila berkata dengan penuh penyesalan.
Ini bukan kali pertama dia berlaku seperti ini. Sudah sangat sering malah. Sebagai seorang dokter umum di salah satu rumah sakit yang bisa dibilang cukup besar, tugas Camila lumayan banyak. Belum lagi jika dia mendapat tugas shift malam, dengan berat hati Camila tidak pulang dan otomatis tidak dapat menemani anak beserta suaminya.
Dirga tersenyum, tangan nya terulur menyentuh pipi Camila. Dirga tahu jika ini bukanlah yang istrinya mau. Ditambah mengenai pembicaraan mereka tadi malam. Dimana Camila yang selalu merasa bersalah kepada nya. Juga kepada anak semata wayang mereka. Tapi, Dirga sadar. Ini sudah menjadi tugas Camila. Dan dia sebagai seorang suami tidak boleh egois.
Bukan kah dulu dia juga yang selalu memberikan motivasi pada istrinya untuk menggapai semua cita cita yang sudah diimpikan Camila sejak dulu. Bahkan dia juga yang meminta pada Camila agar istrinya itu mengambil spesialis.
Dan ditengah kesibukan nya di rumah sakit, Camila akhirnya menyetujui saran suaminya. Kuliah lagi mengambil gelar spesialis anak. Hingga dengan begitu, kesibukan nya semakin bertambah. Tak jarang pulang ke rumah sudah sangat malam.
Masih beruntung jika Camila pulang mendapati Je yang belum terlelap. Seringnya, saat dia pulang, putra nya telah tertidur dengan pulas nya.
Diperlakukan seromantis ini oleh Dirga semakin membuat Camila merasa bersalah. Di genggangam nya jemari Dirga. Di kecup dalam oleh Camila.
"Pa, maaf tidak bisa menemamimu sarapan. Aku harus berangkat sekarang. Titip je ya.... Pastikan je memakan sarapan nya pagi ini."
" iya. Masalah je serahkan padaku. Maaf aku tak bisa mengantarmu."
"Kenapa giliran papa yang meminta maaf?" protes Camila.
Dirga terkekeh, pasalnya dia hampir tidak pernah mengawal istrinya kemanapun istrinya itu pergi. Camila terlalu mandiri hingga kemana mana selalu bisa sendiri.
" Ayo cepat bangun. Lalu mandi." perintah Camila pada sang suami.
Dirga Bagun dari tidurnya, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Camila bangkit dan mencium punggung tangan suaminya.
"Hati hati di jalan."
" Iya."
Setelah nya Camila mengambil tas kerjanya. Menoleh sekilas ke belakang, bibirnya meelnyunggingkan senyum untuk sang suami tercinta sebelum dia benar benar keluar dari dalam kamar.
Sepeninggalan Camila, Dirga menarik nafas dalam. Kesibukan Camila ynag terkadang tak sempat mengurus semua keperluan nya, harus selalu ia maklumi. Tapi tak bisa dipungkiri juga, terkadang Dirga sempat berpikir akan sampai kapan keadaan seperti ini. Dia dan Camila sama sama sibuk bekerja. Sementara Je, kurangnya kebersamaan dengan ny la juga Camila hingga membuat Dirga berpikir mungkin lebih baik membawa Je untik pergi ke tempat play group agar Je memiliki banyak teman disana.
Tapi ternyata Camila tidak menyetujui rencana nya. Menurut istrinya, Je masih terlalu kecil untuk dibawa ke tempat seperti itu. Baiklah, jika itu keinginan Camila Dirga tak akan bisa menolaknya.
Setelah dirasa nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya, Dirga bangkit dari atas ranjang berjalan gontai menuju kamar mandi.
Tak membutuhkan waktu lama untuknya mandi pagi, dan betapa takjub nya dia. Camila, meskipun istrinya harus meninggalkan nya pagi pagi buta, akan tetapi istri nya tak pernah lupa menyiapkan satu stel baju kerja nya.
Senyum mereka di bibir Dirga. Dipakainya baju yang telah disiapkan Camila. Lalu mulai merapikan nya, menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Seharusnya ada Camila yang bisa membantunya memasangkan dasi untuk nya tapi nyatanya dia harus melakukan nya sendiri. Oke baiklah, tak mengapa. Hanya masalah kecil. Tak perlu terbawa perasaan.
Dirga keluar dari dalam kamar, rumah tampak lengang. Ditolehkan kepalanya keseluruh penjuru ruangan. Salah dia sendiri kenapa membeli rumah sebesar ini. Seharusnya untuk keluarga kecilnya ini, Dirga tak perlu membeli rumah mewah dan megah seperti ini. Karena di dalam rumah sebesar ini hanya dihuni oleh dia, Mila, Je, babysitter, satu orang asisten rumah tangga dan tukang kebun.
Tapi tak apalah karena yang menjadi pertimbangan Dirga saat membeli rumah dulu, dia ingin rumah yang luas agar anak anak nya kelak bisa bermain dengan bebas.
Dirga melangkahkan kaki nya menuju teras belakang. Biasanya ada Je yang sedang bermain dengan pengasuhnya. Senyum Dirga mengembang karena mendapati Je yang sedang bermain bola .
Je adalah anak yang aktif. Bahkan sepagi ini anak lelaki nya itu sudah bermain.
" Papa ...! Panggil balita tampan kala melihat sang papa yang kini mendekat.
__ADS_1
Dirga mengangkat tubuh mungil Je dan mencium nya gemas.
" Wangi nya ... Je sudah mandi rupanya ."
"Sudah. "
"Sarapan yuk ...."
Dirga membawa Je dalam gendongan nya.
"Mbak , biar Je makan sama saya saja." Ucap Dirga pada pengasuh Je.
Wanita berusia tiga puluh tahun itu mengangguk dan menjawab, " Baik, Pak."
Dirga memang sengaja mengambil pengasuh Je adalah wanita yang berpengalaman mengurus balita. Bagaimanapun juga Dirga ingin yang terbaik untuk anak nya. Dan berublntungnya mereka, saat pertama kali Dirga mendapat seorang pengasuh dari sebuah agen babysitter , saat itu juga baik Dirga maupun Camila langsung cocok . Selain karena wanita itu sudah punya banyak pengalaman juga karena wanita itu telah menikah dan sudah memiliki anak.
Hana, itulah nama babysitter Je. Satu satu nya babysitter yang sudah bekerja sejak Je berumur satu bulan. Itu artinya sudah hampir empat tahun Hana bekerja menjadi pengasuh Je.
Dirga membawa Je ke ruang makan. mendudukan balita itu di baby chair.
Dengan telaten dan terampil Dirga mulai mengambil roti selai untuk menu sarapan Je. Disuapi anak nya dengan penuh kasih sayang. Terbiasa tanpa Camila , membuat Je juga Dirga menjadi mandiri untuk segala nya. Bahkan Je juga tak akan sibuk bertanya mengenai keberadaan mama nya . Asalkan sebelum berangakat, Camila harus memastikan pamit pada balita nya. Dan setelahnya Je akan paham jika mama nya sedang bekerja. Je tidak akan rewel , meskipun hanya bersama Hana. Ada kalanya balita itu menanyakan keberadaan sang mama. Hana akan menelpon Camila untuk Je , setelah melihat dan berceloteh dengan sang mama melelaui video call, selanjutnya Je tak akan lagi rewel. Balita yang pintar dan pengertian.
****
Angakasa Dirgantara, pengusaha yang mapan , tampan dan rupawan. Siapa yang tak kenal dengan lelaki itu. Bahkan di kantornya , Dirga merupakan idola bagi para karyawan nya. Kecintaan nya pada keluarga membuat iri beberapa pasang mata yang sering melihatnya. Tak heran jika banyak sekali perempuan diluar sana yang begitu memuja sosok lelaki yang tampak begitu sempurna. Bahkan beberapa karyawan perempuan di perusahaan nya, dengan terang terangan
menunjukkan ketertarikan kepada nya. Hanya saja, Dirga tak terlalu ambil pusing. Baginya, hanya Camila wanita satu satu nya yang dia cintai selain mamanya. Camila sosok ibu dan isteri terbaik untuk nya.
Mengingat Camila, Dirga kembali memikirkan tentang Jaghad, putra tunggalnya. Balita empat tahun itu selalu membuat Dirga merasa enggan untuk meninggalkan meski hanya untuk pergi bekerja.
Dirga menghela nafas sembari berjalan menuju lift agar bisa sampai ke ruang kerjanya. Pagi tadi, Je begitu lengket kepadanya seolah tidak ingin berpisah darinya. Dirga tahu jika seharusnya, anak seusia Je masih membutuhkan banyak perhatian dari kedua orangtuanya. Akan tetapi pada kenyataan nya baik dirinya juga Camila sama sama sibuk dengan aktifitas mereka
Camila ?
Entahlah , Dirga sendiripun sebenarnya juga tidak ingin seperti ini. Di lain sisi dia ingin Je mendapat kasih sayang yang sepenuhnya
dari kedua orang tuanya. Jangan sampai apa yang dialami Danu, keponakan nya juga terjadi pada Je. Akan tetapi, dirinya sendiri juga yang telah memberikan ijin bahkan memotivasi Camila agar mengambil S2 nya. Sehingga membuat aktifitas istrinya semakin padat. Semua karena rasa sayang dan juga cintanya pada Camila hingga Dirga ingin semua yang terbaik untuk istrinya. Termasuk ingin mewujudkan cita cita serta impian Camila.
Ting
Pintu lift terbuka, Dirga yang memang berada seorang diri di dalam lift khusus direksi, melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift.
“ Pagi Pak....”
“ Selamat Pagi Pak Dirga....”
Sapaan dari beberapa orang yang sedang berpapasan dengan nya hanya dijawab Dirga dengan anggukan kepala. Bukan nya dia Bos yang sombong, hanya saja pagi ini suasana hati Dirga tidak begitu baik. Semua karena perasaan bersalahnya pada Je. Andai saja hari ini dia tidak ada meeting penting dengan
klien dari luar pulau, mungkin saja Dirga lebih memilih untuk dirumah menemani Je bermain atau jika tidak, dia akan membawa Je ke kantor sepeti yang sering dia lakukan .
“ Pagi Bos, “ Sapa Ferdy kala Dirga sudah berniat masuk ke dalam ruang kerjanya.
“ Pagi Ferdy, Apa bahan meeting kita pagi ini sudah kamu sipakan semua, “ tanya Dirga , lelaki itu berjalan masuk ke dalam ruang kerja
dengan diikuti Ferdy, Asisten Pribadi yang merangkap sebagai sekretarisnya.
Ferdy, lelaki itu sudah lama sekali bekerja dengan Dirga. Bahkan Dirga sudah mempercayakan semua pada Ferdy apabila Dirga sedang tidak ada di kantor atau sedang bertugas ke luar kota. Dirga merasa cocok bekerjasama dengan Ferdy. Selain cekatan Ferdy juga sudah sangat paham dengan semua pekerjaan Dirga. Tak heran jika Dirga lebih memilih Ferdy yang menjadi sekretarisnya dan mengurus semua kebutuhan nya. Dirga tidak membutuhkan sekretaris cantik dan seksi. Hanya Ferdy yang bisa Dirga andalkan.
“ Bos, sedang tidak enak badan ? " tanya Ferdy membuat Dirga mendongak menatap Asisten nya itu.
“ Enggak, aku sehat. Memangnya kenapa ?”
__ADS_1
“ Wajah Bos enggak enak dilihat. Kusut begitu ...!”
Dirga meraba wajahnya sendiri lalu diraupnya dengan menghela nafas.
“ Aku hanya kepikiran dengan Je, " jawabnya datar.
Ferdy mengernyit." Memang kenapa dengan Je ? Apakah ada masalah .”
“ Masih seperti biasa. Je ingin menempel bersamaku dan tidak mau aku tinggal. “
“ Kenapa Bos tak membawa Je ke kantor saja ?”
“ Memnagnya kau lupa ? hari ini kita ada meeting penting. “
Ferdy menepuk dahinya, “ Iya Bos, aku lupa. Lalu Je bagaimana ? ”
“ Menangis, Dan itu lah yang membuatku terus kepikiran. “
“ Eum... bos, memnag dek Mila tidak di rumah lagi ?”
Ferdy sudah tahu betul seluk beluk kehidupan rumah tangga bosnya, termasuk tentang kesibukan Camila. Ferdy paham, Camila yang seorang dokter mengharuskan istri bos nya itu tidak bisa selalu berada di rumah. Bahkan
ada kalanya Camila tidak pulang karena mendapat jadwal shift malam.Dirga pun
juga sering mengeluhkan tentang banyak nya aktifitas Camila semenjak mengenyam study lagi.
“ Ya. Jam lima pagi dia sudah berangkat. Ada seminar dengan dinas kesehatan.”
“ No comment deh bos ... aku tak tahu harus berkata apa.”
“ Aku sudah bicara pada Mila untuk memasukan Je di play group, Tapi dia menolaknya. Aku hanya kasihan melihat Je yang tidak ada teman, bahkan tak bisa selalu bersama papa dan mamanya.”
“ Bos, semua ada konsekuensi nya. Bos sendiri yang memberi ijin pada dek Mila untuk mengambil spesialis, itu berati bos sudah harus siap dengan segudang jadwal dan rutinitas dek mila. Semoga saja setelah dek Mila lulus nanti. Akan lebih banyak waktu untuk Je juga buat bos.”
“ Teriamaksih Fer. Kau selalu saja bijak dalam menyikapi masalah. Jika seperti itu kenapa kau tak juga menikah ? kurang apa perempuan perempuan yang dekat dengan mu selama ini ? pilih salah satu buat kau jadikan istri.”
“ Entahlah bos, aku masih betah menyendiri. Belum ingin direcoki perempuan. Lagipula nyari yang seperti dek Mila juga belum dapat.”
“ Sialan ...sudah buruan siapkan semua bahan meeting kita. Setengah jam lagi kita beragkat.”
Kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kananku.
“ Siap Bos ... saya permisi dulu.” Pamit Ferdy dan setelahnya lelaki itu menghilang keluar dari dalam ruang kerja Dirga.
Sebelum memulai aktifitasnya , dia teringat Camila. Di ambilnya ponsel yang ada di dalam saku celananya. Lalu mendial nomor Camila.
Tapi tidak diangkat oleh istrinya.
Dirga memutusakan untuk mengirim chat saja pada Camila.
“ Sayang sednang apa ? Jangan lupa makan . Jaga diri dan jaga kesehatan. Jangan terlalu capek dan jangan memaksakan diri. Ada Aku dan Je yang selalu menyayangimu. I Love you. “
Setelah menyentuh tombol send, senyum Dirga merekah. Dia begitu menyayangi istrinya. Dia hanya tidak ingin istrinya terlalu lelah dan mengabaikan kesehatan.
Meskipun pesan yang dia kirimkan belum di baca oleh istrinya, Dirga sudah merasa lega. Mungkin saja istrinya memang sedang sibuk dan belum sempat melihat ponsel.
Setelahnya Dirga menelpon Hana, pengasuh Je. Memastikan pada Hana bahwa Je menjalani aktifitasnya hari ini dengan baik, makan dengan baik, tidur cukup dan istirahat cukup.
Tiba-tiba terlintas di pikiran nya, mungkin dia perlu menelpon mama nya agar datang ke rumah dan menemani Je. Agar Je ada teman dan tidak merasa kesepian.
Dirga tersenyum lega setelah menelpon mamanya. Kebetulan sekali sang mama tak ada acar dan bersedia untuk datang ke rumah. Menemani Je. Dirga harus berterimakasih pada mama nya yang selalu bersedia membantunya.
__ADS_1