Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 61 - Accident


__ADS_3

Dirga Pov


Sebulan berlalu, selama berada di Jakarta hidupku pun tak tenang. Berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan. Tapi bayang Camila terus saja berputar di memoriku. Aku sangat merasa bersalah padanya. Tak seharusnya aku melarikan diri seperti ini. Lari dari masalah memang tak akan pernah menyelesaikan apa yang telah terjadi.


Yang kupikir kan waktu itu hanya satu. Aku ingin menenangkan diri. Aku berada di posisi yang sangat sulit. Harus memilih antara keponakan atau istri dimana dua dua nya sangat kucintai.


Tetapi sekarang setelah aku mendengarkan langsung penjelasan Danu, aku telah mantap mengambil sebuah keputusan.


Tiga minggu lalu Danu menelponku. Dia pamit kembali ke London. Urusan nya di Surabaya telah selesai. Memang keberadaan Danu di Surabaya adalah untuk menyaksikan pernikahan papa nya, Bumi Perkasa. Aku jadi menyesal karena tidak ikut hadir menyaksikan kakak ku menikah lagi. Saat kak Bumi melangsungkan pernikahan nya, aku sudah berada disini di Jakarta.


Flasback tiga minggu lalu


" uncle aku mau pamit." suara Danu yang kudengar di telpon.


" besok aku harus kembali ke London." ucap Danu lagi.


" besok?" tanya ku memastikan.


" iya. Maafkan aku uncle. Aku......"


" kenapa kamu minta maaf sama uncle. Harusnya uncle yang minta maaf. Karena uncle yang bersalah padamu."


" uncle jangan bicara seperti itu. Tidak seharusnya uncle merasa bersalah padaku. Beberapa hari ini aku banyak merenung dan aku berpikir mungkin benar apa yang dikatakan Camila. "


" Camila? " kembali aku mengulang ucapan Danu. Mendengar kata Camila secara refleks aku jadi ingin tau tentang apa yang terjadi antara Mila Dan Danu selama aku tidak ada.


" uncle.... Aku sudah bertemu dengan Camila. Jujur meski aku sedikit kecewa dengan keputusan nya, setidak nya hatiku sudah tenang sekarang."


" apa maksud mu Danu?"

__ADS_1


" apa yang Mila katakan tentang hidup, mati, jodoh, rezeki sudah ada yang mengatur semuanya memang benar adanya. Dan mungkin Mila memang bukanlah jodohku. Tapi jodoh nya uncle. "


Aku masih terdiam berusaha mencerna apa yang Danu katakan.


" uncle. Bolehkah aku bertanya. "


" kamu mau bertanya apa. "


" seharusnya aku bertanya ini sejak kemarin saat uncle masih ada disini. Tapi.... Mungkin karena aku terlalu egois jadinya tidak pernah memikirkan sedikitpun tentang apa yang uncle rasakan."


" jangan berbelit belit Danu. Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan pada uncle. "


" apa uncle mencintai Camila? "


Hening tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.


" dengan diamnya uncle aku bisa menyimpulkan jika uncle mencintai Mila. Dan yang perlu uncle tau, Mila pun juga lebih memilih menjadi aunty ku daripada menjalin hubungan dengan ku. Jadi kurasa uncle patut mempertahankan Mila."


" uncle, aku sadar cinta memang tak bisa dipaksakan. Meski aku sudah lama mencintai Mila tapi ternyata Mila tak bisa membalas cintaku. Mila hanya menganggapku sahabatnya tak lebih. Dan Mila bilangĀ  sekalipun uncle menceraikan nya Mila tetap tidak akan mau menikah denganku. "


" Danu.... "


" kurasa uncle bisa memikirkan nya lagi tentang rencana uncle tempo hari. Dan maafkan aku karena telah membuat uncle merasa bimbang. Tak sepatutnya memang uncle meninggalkan Mila. Mila berhak bahagia. Danu mohon pada uncle buat Mila bahagia."


" akan uncle usahakan semampu uncle untuk membuat Mila bahagia. "


" terimakasih uncle. "


Tut... Tut.... Panggilan telpon terputus.

__ADS_1


Flasback end


*******


Sebenarnya sejak Danu menelponku kala itu aku sudah ingin langsung ke Surabaya dan menemui Mila. Tapi kuurungkan niatku. Aku terlalu malu untuk menemui Mila. Bagaimanapun juga aku telah menyakiti hatinya dan dengan gampang nya sekarang aku akan menarik kembali ucapanku tempo hari. Rasanya aku masih belum sanggup bertemu dan bertatap muka dengan nya.


Apa yang harus kukatakan pada Bunda jika beliau bertanya. Sanggupkah aku berhadapan dengan mereka. Aku yakin pasti Mila telah bercerita pada mereka tentang kata perceraian yang tempo hari kuucapkan.


Aku benar-benar menyesal. Tapi semua sudah terlanjur terjadi dan aku bertekad untuk segera meminta maaf pada Camila.


Sudah tak dapat lagi aku menahan diri untuk tidak menemui Camila. Beberapa minggu kulalui dengan kecemasan . Aku sudah mantap memutuskan untuk pulang sementara ke Surabaya. Menemui Mila dan meluruskan permasalahan yang ada.


****


Bandara Juanda Surabaya


Dengan mantap aku melangkahkan kaki keluar dari Bandara. Kepulanganku kali ini tak ada yang tau sekalipun itu Ferdy. Sengaja aku tak memberi kabar pada mama juga Mila.


Kuputuskan untuk naik taksi Bandara untuk pulang menuju ke rumah. Tak enak juga aku meminta Ferdy menjemputku. Sebulan lalu saat aku dengan keukeh memaksa Ferdy agar mengurus keberangkatanku ke Jakarta, asistenku itu sudah mengingatkan dan memastikan berkali kali padaku apakah memang benar aku akan tetap berangkat.


Dan sekarang baru juga sebulan aku sudah tak sabar untuk pulang.


Hari beranjak sore kala taxi yang kutumpangi membelah jalanan yang mulai padat merayap. Tak sabar ingin berjumpa dengan mama, papa dan terutama Mila.


Brakk.....tttiiiiiinnnnnn...


Suara dentuman keras beserta bunyi klakson bersautan.


Entah apa yang terjadi saat tiba-tiba tubuhku yang berada di bangku penumpang terpental ke depan dan membentur jok kemudi. Yang dapat kurasakan sekarang hanyalah kepalaku yang sangat pusing akibat benturan keras yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Aku masih sadar saat kerumunan orang mulai berdatangan dan akupun juga merasakan saat tubuhku dikeluarkan dari dalam taxi yang kutumpangi. Sepertinya darahku menetes dari dahi dan badanku berasa sakit semua. Astaga..... Taxi yang kutumpangi mengalami kecelakaan. Dengan kesadaran yang masih aku punya berusaha menahan rasa sakit di kepala. Suara riuh beberapa orang masih bisa kudengar tapi aku tak mampu membuka mata.


__ADS_2