
Mila yang sampai di rumah bertepatan dengan kedatangan Je juga Kenzo, menatap heran keduanya.
"Kok bisa barengan kalian?"
"Iya," jawab Je singkat. Lalu mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
"Kenzo! Jangan pulang dulu, ikut makan malam disini, " ucap Mila sebelum meninggalkan mereka untuk masuk ke dalam kamar.
"Siap aunty! "
Dan makan malam di rumah Mila kali ini semakin ramai dengan hadirnya Kenzo. Apalagi Kenzo dan Je jika sudah bersama ada saja yang selalu mereka berdua ributkan. Ditambah Dirga yang juga suka menimpali perdebatan kedua nya, semakin membuat Mila pusing kepala.
Sepintas Mila melirik putra nya yang kali ini terlihat tidak biasa. Meski Je akan sering berkomentar atau berdebat dengan Kenzo, nyatanya Mila sangat tahu jika pikiran Je tidak fokus. Seolah ada yang sedang putra nya itu pikirkan.
Mila menghela nafas, sangat tahu tentang putra nya itu. Setelah Kenzo pamit pulang, Je sudah begitu saja masuk ke dalam kamarnya. Padahal biasanya, putra nya itu akan menghambur ke pelukan nya dan bermanja- manja padanya sembari mereka menonton televisi dan bersantai.
Mila menatap Dirga yang sedang fokus pada laptop nya.
"Pa...!aku ke kamar Je dulu ya," pamit Mila pada suaminya. Dirga hanya mengangguk mempersilahkan.
Mila berpikir, ada baik nya dia bicara dari hati ke hati pada putra nya.
Diketuk pintu kamar Je sebelum Mila membuka nya.
Mila melongokkan kepalanya melihat Je yang tengkurap di atas ranjang dengan menatap layar ponsel
"Je, boleh mama masuk."
Je mendongak menatap kehadiran mama nya. "Masuk saja Ma."
Je beringsut bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Mila. Masuk lalu kembali menutup pintu nya.
Duduk di tepi ranjang tepat di bawah kaki Je.
" Je, boleh mama bicara sebentar sama kamu."
"Bicara saja ma. Apakah ada hal penting yang akan mama sampaikan padaku?"
"Je, Mama tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Mama bisa melihat raut wajahmu yang tak biasanya. Jujur, Mama rindu kamu yang dulu."
__ADS_1
"Maksud mama apa?"
"Je, Mama tak tahu lagi harus berkata apa saat mengetahui kamu menyukai Sofia. Sampai-sampai kamu seperti ini juga karena kepikiran pertunangan Sofia kan?"
Je terhenyak. Dia tak mau menyangkal perkataan mama nya. Hanya saja Je sendiri tidak tahu kenapa masih saja terpikirkan Bu Sofia. Je bisa gila lama-lama seperti ini.
" Maafkan Je, Ma. "
" Kamu tak perlu meminta maaf pada Mama. Yang mama inginkan, lupakan Sofia. Dia sudah memiliki tunangan. Mama harap kamu fokus pada sekolahmu. Mama tidak melarang jika kamu ingin berhubungan dengan seorang perempuan. Tapi yang wajar dan normal. Jangan berlebihan. Dan lagi, mama berharap kamu kembali menjadi Jaghad nya mama seperti dulu lagi. "
" Aku tahu itu, Ma. Aku janji tak akan lagi mengecewakan mama. Aku sayang mama. "
Je menghambur ke pelukan sang mama. Mila berharap semoga Je tak lagi menyukai wanita yang umurnya jauh diatas usia putranya itu.
***
Keesokan hari nya, Je kembali seperti sedia kala. Menjadi pribadi yang manja jika bersama mama nya, dan menjadi anak yang menyebalkan jika bersama Papa nya.
Sementara itu, begitu Je menginjakkan kaki di Sekolah, maka Je akan bertransformasi menjadi pribadi yang pendiam, dingin dan tak peduli pada sekitar.
"Jaghad...!" panggilan itu membuat Je harus menoleh ke belakang. Hanya sekilas karena ia tidak tertarik dengan seseorang yang sedang memanggil nama nya. Bahkan kini, gadis itu sudah berlari kecil menyusul nya. Hingga saat si gadis sudah berada di sisi Je, pemuda itu menoleh sekilas tanpa repot - repot menyapa.
" Kau tidak lupa kan denganku?" gadis itu membuka suara.
Gadis itu tampak berbinar. " Aku pikir kau melupakanku. Ternyata tidak. Dan kau pun juga masih ingat pada tawaranku."
Gadis itu terdiam. Je masih berjalan menyusuri koridor sekolah menuju dimana kelas nya berada. Tak peduli meski gadis itu tetap berusaha menyamakan langkah nya.
"Jadi, Bagaimana dengan tawaranku kemarin? Kau terima tidak?"
"Bukan kah kemarin aku sudah menjawabnya."
Gadis itu mengedikkan bahu. "Ya memang kau kemarin sudah menjawabnya. Dan jawabanmu adalah 'Ya' ."
"Lantas, kenapa kau masih juga bertanya."
"Jadi kau serius dengan jawabanmu kemarin?"
"Menurutmu?"
__ADS_1
"Kenapa berbicara dengan mu itu susah sekali. Kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Tapi tak apalah. Bagiku, kau sudah menerimaku karena kau sudah menjawab 'Ya' akan tawaranku kemarin."
Je tak menanggapi ocehan gadis itu.
"Okay fine. Mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih."dengan riang gadis itu tersenyum penuh kemenangan.
" Senang dapat menjadi kekasihmu, Je. "
Je mengernyit kenapa gadis itu memanggilnya Je. Bukan Jaghad seperti panggilan nya kemarin.
"Baiklah, aku akan ke kelas. Ingat! Jangan coba-coba kembali melirik Bu Sofia. Kau harus move on. Okay." ucap nya lirih sebelum meninggalkan Je.
Je menghela nafas, dia sudah berusaha untuk melupakan Bu Sofia. Nyatanya gadis itu kembali mengingatkan nya. Dan apa yang tadi dia bilang. Harus move on. Ya, memang. Dia harus move on. Dan sepertinya gadis itulah yang bisa membuatnya move on.
"Hei... Tunggu!" Teriak Je yang menghentikan langkah gadis itu.
Lalu dia berbalik menatap Je seolah bertanya padanya, ada apa.
"Siapa namamu? Sorry, aku lupa."
Je nyengir.
"Panggil saja aku Rea."
Setelah mengatakan itu, Rea kembali berjalan menjauhi Je.
Rea, kenapa gadis itu bisa tahu tentang nya dan Bu Sofia. Tentang perasaan suka nya pada Bu Sofia. Je jadi bertanya - tanya. Rea ini sedikit misterius. Sebelum nya Je tidak pernah kenal dengan Rea. Tapi Rea, seolah tahu segalanya tentang Je. Siapa sebenar nya gadis itu?
Sementara itu Rea yang sudah masuk ke kelasnya tersenyum penuh kemenangan. Sebenarnya dia tidak serius saat mengajak Je berpacaran. Yang Rea tahu, Je itu cowok pendiam yang digilai banyak perempuan. Pemain basket andalan sekolah yang menjadi favorit para siswi di sekolah ini. Rea tak menampik jika dia juga kagum akan sosok Je. Hanya saja lelaki itu terlalu pendiam dan tak tersentuh.
Hingga suatu ketika tanpa Rea sengaja, gadis itu akan menuju ke lapangan basket mengambil buku nya yang mungkin saja terjatuh disana. Karena dia sempat mendatangi lapangan basket untuk menonton team basket latihan. Begitulah Rea, gadis itu memang cinta sekali dengan basket dan dia juga penggemar cowok - cowok keren para pemain basket. Hanya saja Rea sendiri tidak bisa bermain basket. Oleh karena nya dia sudah cukup puas hanya dengan menonton basket yang menjadi favorit nya.
Dan saat itulah tanpa sengaja Rea mendapati Jaghad, salah satu pemain basket idola nya, sedang bersama seorang lelaki yang Rea tahu adalah alumni sekolah ini.
Dua orang cowok tampan itu saling bercerita. Rea, gadis itu tak ada niat menguping pembicaraan mereka. Hanya saja saat telinga nya sayup mendengar nama Bu Sofia disebut-sebut, Rea jadi penasaran. Bu Sofia adalah salah satu guru di sekolah ini yang mengajar mata pelajaran matematika. Tak Rea pungkiri, jika Bu Sofia adalah wanita yang sangat cantik. Selain itu pembawaan Bu Sofia yang kalem dan lemah lembut memang sanggup menghipnotis siapa saja yang berada di sekelilingnya. Tak terkecuali Rea. Gadis itu juga sangat menyukai Bu Sofia, tapi dalam konteks yang berbeda, dari segi pembelajaran di sekolah. Menurut Rea, cara Bu Sofia dalam menyampaikan pelajaran sangat mudah dipahami. Tak heran jika banyak sekali yang mengidolakan Bu Sofia.
Dan siapa sangka jika Je adalah salah satunya. Bahkan perasaan yang Je miliki bukan lagi sebatas murid dan guru. Tapi lebih dari itu. Rea sampai dibuat tak percaya. Mendengar obrolan kedua pria itu jujur membuat Rea harus mencerna dengan baik setiap kata yang terlontar dari mulut kedua nya.
Dan dari semua yang Rea dengar, dapat ia simpulkan jika Je yang memang menyukai Bu Sofia itu harus patah hati karena ternyata Bu Sofia sudah bertunangan dengan lelaki lain.
__ADS_1
Huft, Rea tak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang Jaghad yang penuh misteri itu ternyata menyimpan sebuah rahasia besar. Pantas saja tidak pernah ada cewek yang berhasil mengambil hati seorang Jaghad. Karena fakta nya Jaghad lebih menyukai wanita dewasa yang mandiri. Bukan cewek - cewek manja seperti kebanyakan gadis yang ada di sekitar nya.
Baiklah, Rea merasa tertantang. Dia akan membuat seorang Jaghad berpaling dari Bu Sofia, dan beralih menatapnya . Lihat saja bagaimana usaha Rea yang tidak sia sia jika nyata nya Jaghad mengiyakan saja tawaran pacaran yang ia lontarkan.