
Camila Pov
Semenjak kepulangan kami dari Seoul , Om Dirga tak pernah lagi menampakkan batang hidung nya. Padahal ini sudah satu minggu berlalu. Kemana pergi nya dia.?
Dalam kurun waktu seminggu itu pun bisa dihitung berapa kali dia mengirim chat padaku. Paling hanya sekedar pertanyaan lagi apa atau sudah makan?.
Itu saja tak ada lain nya. Apa mungkin Danu telah kembali ke Indonesia?
Seperti yang tempo hari kudengar dari cerita Om Dirga jika Danu akan pulang karena papanya akan menikah.
Jika Danu pulang seharusnya lelaki itu pasti sudah menemui ku bukan?
Aku teringat saat terakhir kali pertemuan ku dengan Danu. Waktu itu Danu yang akan pergi ke London sempat meminta ku menunggu nya kembali.
Astaga, kenapa sekarang aku baru tersadar. Bagaimana jika Danu tahu yang aku sudah menikah dengan Om nya.
Ah pasti Om Dirga sedang galau saat ini. Pantas saja dia tak menemuiku sama sekali. Huft.... Seharusnya kami bertemu dan membicarakan hal ini berdua bukan nya malah Om Dirga yang menjauhiku dan tak mau menemuiku sama sekali.
****
Dengan lesu aku turun ke lantai bawah, kuletakkan tas di sofa ruang keluarga selanjutnya aku menuju ruang makan. Tak nafsu sarapan sebenarnya tapi sudah menjadi rutinitas di rumah ini jika sarapan itu wajib.
" memang nak Dirga kemana, kok tidak pernah kelihatan. Apa balik ke Riau.?" tanya bunda saat aku baru saja mendaratkan pantatku diatas kursi.
Aku menggeleng. " enggak tau Bun."
Bunda mengernyit. " kok enggak tau? ."
Aku hanya mengedikan bahu. Memang aku tak tahu kemana Om Dirga. Setauku project di Riau memang sudah selesai. Bukan nya aku tak pernah bertanya kemana pergi nya dia. Hanya saja jawaban yang kudapat selalu tak masuk akal.
Pernah aku menelepon nya, tapi bilangnya "lagi meeting nanti telpon lagi" . Lalu jika aku telpon nya malam hari, dia bilang masih di jalan lah atau lagi di club lah. Kalau pun aku tanya via whatsapp kadang dijawab kadang di read pun tidak.
Lama-lama aku jadi males dan capek sendiri. Kuputuskan untuk tak lagi menghiraukan nya, toh saat awal menikah dulu tak ada masalah juga ada ataupun tak ada Om Dirga.
Hanya saja jika sekarang rasanya seperti tak ada semangat. Huft... Kuhela nafasku melalui mulut.
Bunda kembali memperhatikanku.
" kamu baik-baik saja kan sayang." bunda terlihat khawatir.
" Mila baik kok bun. Ehm... Mila ke kampus dulu ya bun." aku beranjak berdiri.
" ga dihabisin sarapan nya."
__ADS_1
" sudah kenyang bun."
Kubawa piring yang masih berisi nasi goreng ke tempat pencuci piring, sebelum nya sisa nasi yang tak kuhabiskan dengan terpaksa aku buang ke tempat sampah. Sebenarnya tak tega aku membuang nasi, tapi bagaimana lagi memang aku lagi tidak nafsu makan.
" Mila pergi dulu bun. Assalamualaikum." pamit ku dengan mencium punggung tangan bunda.
" waalaikumsalam. Hati hati di jalan."
******
" Mila.....!!!"
Aku yang sedang tergesa berjalan dikoridor kampus terpaksa menoleh ke belakang karena mendengar ada yang memanggil namaku.
" kak Ilham." gumamku.
" buat apa lagi sih lelaki itu masih saja gangguin aku. " aku menggerutu dalam hati.
" ehm... Mila... Aku... Aku mau minta maaf sama kamu." ucap kak Ilham saat sudah berdiri di hadapanku.
" maaf buat apa kak." tanyaku pura pura tak mengerti. Padahal sejatinya aku masih kesal dengan lelaki ini. Masih ingat bagaimana dia mengataiku malam itu.
" maaf untuk semua kesalahanku. Maaf untuk semua prasangka buruk ku padamu. Dan maaf atas kata-kata kasarku tempo hari."
" owh..."
" simpanan Om Om." sela ku
" bukan...bukan seperti itu. "
" oh atau wanita murahan. "
Kak ilham meringis." maaf..... "
" ya sudahlah kak. Toh sekarang kakak sudah tau jika aku ini sudah bersuami kan. "
" kamu mau memaafkanku. "
Aku mengangguk. Malas rasanya berurusan dengan nya lagi.
" terimakasih. "
" aku duluan kak. Mau masuk kelas."
__ADS_1
" oh... Oke baiklah. Silahkan"
Bergegas aku meninggalkan kak Ilham. Kembali menyusuri koridor menuju kelasku berada.
***
Setelah liburan semester, kembali beraktifitas dan berkutat dengan setumpuk tugas. Bulan depan pun aku sudah mulai banyak tugas praktikum. Rasanya sungguh capek. Tidak hanya capek fisik tapi juga pikiran.
Belum lagi selesai memikirkan Om Dirga, pagi tadi sudah harus dihadapkan dengan kak Ilham.
Hari menjelang sore. Jangan heran jika aku bisa seharian berada di kampus. Tapi memang tugas-tugas di fakultas kedokteran itu padat merayap.
Dengan gontai aku berjalan menuju tempat parkir. Mencari dimana motor matic ku berada.
Ponselku berbunyi, kubuka tas dan mencari keberadaan benda pipih itu.
Tertera nama "mama" di layarnya saat aku berhasil mendapatkan benda itu.
" ada apa mama menelepon. Tumben. Atau jangan jangan terjadi sesuatu dengan Om Dirga." pikirku dalam hati.
Dengan cepat kugeser tombol hijau.
" assalamualaikum ma."
" waalaikum salam. Mila ada dimana.?" tanya mama mertuaku.
" masih di kampus ma."
" mama bisa minta tolong.? "
" tolong apa ma. "
" Mila bisa datang kesini. Ke rumah mama sekarang. "
" sekarang ma. Maaf ma... Apakah ada terjadi sesuatu dengan Om Dirga.? " tanyaku penuh kekhawatiran.
" tidak ada sayang. Hanya saja.... Ada yang ingin mama bicarakan dengan Mila. Bisa kesini sekarang kan? "
" baik ma. Mila kesana sekarang. Kebetulan kuliah Mila juga sudah selesai."
" terimakasih. "
" sama sama ma. "
__ADS_1
Pikiranku kalut. Ada apa sebenarnya. Kenapa suara mama terdengar serak seperti habis menangis.
Semoga tidak terjadi sesuatu pada Om Dirga. Dengan tergesa dan berbagai macam pikiran yang berkecamuk, segera kunaiki motor matic ku. Keluar dari parkiran kampus menuju rumah mama mertuaku.