Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 40


__ADS_3

Bagi siapa saja yang melihat kebersamaan pasangan Dirga dan Camila pasti mereka akan iri dengan keharmonisan yang mereka ciptakan. Pada kenyataan nya memang benar mereka adalah pasangan yang sangat romantis, sebelum prahara kehadiran dokter Rasya yang memicu rasa kekhawatiran berlebih pada diri seorang Angkasa Dirgantara.


Dirga adalah orang yang selalu percaya diri selama ini, selalu yakin mampu menjaga istrinya dengan baik. Pada kenyataan nya, keyakinan nya kini goyah.


Dia selalu merasa was was seandainya dokter Rasya berani berbuat hal lebih gila lagi pada istrinya.


Pagi ini, Dirga tetap mengawal Camila hingga istri nya itu masuk ke dalam ruang praktik nya. Sebenar nya dia belum lega meninggalkan Camila, Dirga sedikit berpikir mungkin menemui dokter Allan tidak ada salah nya. Hanya sekedar meminta bantuan pada dokter itu untuk ikut mengawasi Rasya dan juga istri nya.


Dirga mulai menyusuri lorong rumah sakit berharap bisa bertemu dengan dokter Allan atau jika tidak ketemu maka ia akan mencari nya di pusat informasi.


" Pak Dirga, Tunggu....!"


Suara Panggilan seseorang menghentikan langkah Dirga.


" Dokter Rasya...."


" Hai, Pak Dirga apa kabar?"


" Saya baik. Anda sendiri bagaimana dokter Rasya?"


" Saya... Saya baik. Oh ya, sekarang anda selalu mengantar jemput dokter Mila. "


" Ya, demi keselamatan nya. Saya harus memastikan istri saya baik baik saja. "


" Baiklah dokter Rasya, saya permisi dulu. "


" Pak Dirga, Tunggu..... Sebenarnya ada hal yang akan saya bicarakan dengan anda. "


Dirga mengernyit.


" Bisakah anda mengikuti saya sebentar ke ruangan saya. " pinta Rasya.


Dirga pun memilih mengangguk. Dia penasaran juga dengan apa yang akan Rasya sampaikan padanya.


Dirga mengikuti Rasya berjalan di belakang dokter itu. Hingga tiba di depan ruangan bertuliskan dr. Rasya,


Rasya membuka pintu nya dan mempersilahkan Dirga masuk dengan sopan.


Dirga masuk kedalam ruangan yang di dominasi dengan cat dan barang barang berwarna putih. Dirga meneliti sekitar di setiap sudut ruangan.


" Silahkan duduk Pak Dirga."


Dirga mengangguk. " Terimakasih."


Lalu Dirga pun duduk di hadapan Rasya hanya berbatasan dengan sekat meja.


" Pak Dirga, sebenarnya ada hal yang ingin saya beritahukan pada Pak Dirga."


Dirga masih tak bereaksi menunggu Rasya melanjutkan ucapan nya.


" Eum.... Saya... Saya sebenarnya menyukai dokter Camila, istri anda."


Dirga sempat terkejut, ini memang gila. Bagaimana mungkin lelaki dihadapan nya ini dengan terang terangan mengatakan menyukai istri nya. Apa Dirga tak salah dengar? Tentu saja tidak.


" Sebentar dokter Rasya, apa yang barusan anda katakan tadi. "


" Ya, saya memang menyukai istri anda. Saya tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan saya karena itu sangat menyiksa saya."


" Anda waras atau tidak mengatakan hal itu dokter Rasya."


" Entahlah Pak Dirga. Saya memang tidak bisa mengontrol hati ini. Daya tarik dokter Camila begitu kuat. Dan saya tak kuasa menolak nya. "


Dirga menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Menghela Nafasnya. Dia ingin marah, tapi tidak bisa. Jujur, dia emosi saat Rasya mengatakan menyukai istrinya. Tapi kalau pun dia marah apa bisa mengubah perasaan Rasya pada istri nya.


" Lalu, jika anda menyukai istri saya, saya harus bagaimana?"


Dirga menatap tajam Rasya. " Dokter Rasya, Camila hanya untuk saya seorang dan tidak mungkin saya mau berbagi dengan siapapun. Karena istri saya sangat berharga bagi hidup saya. Dokter Rasya, di dunia ini kan banyak wanita yang masih single belum mempunyai suami, kenapa anda tidak mencari wanita single saja untuk anda nikahi. "


" Tapi saya hanya tertarik dengan dokter Camila Pak Dirga. "


Rasya masih saja ngeyel, Dirga sampai tak habis pikir nyali Rasya ini besar juga. Bagaimana kalau sampai Dirga emosi dan memberikan bogem pada dokter tersebut. Oh no, no Dirga bukan lah orang yang gegabah dengan berbuat hal secara brutal.


" Pak Dirga, jika anda berkenan, maukah anda berbagi dokter Camila dengan saya."


Sial, lelaki tidak waras. Dirga beranjak dari duduk nya.


" Dokter Rasya saya rasa pembicaraan ini tidak perlu di teruskan. Saya pikir anda sudah gila mengajak saja berbagi istri. Tentu saja saya tidak akan mau. "


Dirga berbalik badan bersiap keluar, tapi perkataan Rasya membuat nya menghentikan langkah.


" Bagaimana seandainya dokter Camila mau menerimanya. Tentu anda tidak keberatan bukan? "


" Dan saya rasa istri saya juga tidak akan mau berbagi kasih sayang keluarga dengan anda. Selamat pagi."


Dirga membuka pintu ruang kerja Rasya dengan sedikit kasar. Sungguh dia tak menyangka jika akan mendapatkan penawaran yang benar benar membuatnya dibuat takjub. Bagaimana bisa dengan enteng nya dan tanpa rasa bersalah meminta untuk berbagi istri. Dasar dokter gila. Dirga mengumpat berkali kali.

__ADS_1


Jika Rasya sudah seberani ini, Dirga tak akan tinggal diam lagi. Rasya itu terlalu percaya diri dan berani.


Dirga sampai di parkiran dan masuk ke dalam mobil nya. Dipukul nya stir kemudi nya berkali kali untuk meluapkan kekesalan hati nya.


Dirga kembali berpikir, jari telunjuk yang mengusap dagu yang masih ditumbuhi jambang - jambang halus, jika Rasya berani mengutarakan hal itu pada dirinya, bukan tidak mungkin lelaki itu pun juga akan merayu Camila.


Arg sial, lelaki gila, nggak waras. Baiklah mungkin nanti dirga perlu berbicara pada istri nya mengenai kasus Si Rasya. Jangan jangan memang benar si Rasya ini sudah pernah mengutarakan isi hati nya pada Camila. Tapi Camila kenapa tidak pernah bercerita kepadanya.


Andai saja Dirga tak menyadari bahwa mereka sedang berada di Rumah Sakit, mungkin saja satu bogemen boleh dia berikan untuk Rasya.


Dengan tergesa Dirga menjalankan mobil nya keluar dari area Parkir Rumah Sakit. Andai hari ini dia tidak ada meeting, pasti Dirga akan kembali ke ruangan Camila dan membawa istri nya itu untuk kembali pulang. Tak perlu lagi bekerja di Rumah sakit yang pimpinanan nya gila seperti Rasya.


Ya, nanti malam Dirga perlu membicarakan masalah serius ini. Ini bukan lah masalah kecil tapi masalah besar. Si Rasya itu bisa saja akan melakukan apa saja demi mendapatkan keinginan nya. Dan keselamatan Camila adalah taruhan nya.


****


Dirga masuk ke dalam ruang kerja nya, membanting ponsel di atas meja. Menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kebesaran nya. Dipejamkam mata nya, dipijit pelipis nya. Kepala nya serasa mau pecah saja.


Tok... Tok... Tok...


Pintu ruangan kerja Dirga diketuk oleh Ferdy. Lelaki itu melongokkan kepala ke dalam melihat kondisi bos nya yang seperti nya sedang tidak baik - baik saja.


" Selamat pagi, Bos."


Sapaan Ferdy sama sekali tak di gubris oleh Dirga. Tentulah Ferdy terbengong - bengong melihat muka kusut Bos nya.


" Bos, kau kenapa?" tanya Ferdy, tubuh lelaki itu condong ke depan meneliti ekspresi wajah bos Dirga yang sungguh tak enak dipandang.


" Bos Sakit."


Kali ini Dirga menggeleng.


" Lalu?"


Ferdy semakin penasaran.


Dirga menegakkan punggung nya. Menatap Ferdy tajam. Nyali Ferdy menciut, apakah ia sudah membuat kesalahan.


" Ferdy?"


" Ya Bos."


Dirga menghela nafas lalu kembali memijit pelipisnya.


Ferdy menelan salivanya. Ternyata masalah dokter Rasya. Apalagi yang dokter saiko itu lakukan hingga membuat bos nya bertampamg kusut dan masam.


" Tadi sewaktu di Rumah Sakit, aku bertemu dengan nya."


" Lalu?"


" Dia bilang padaku, katanya ingin membicarakan sesuatu dengan ku. Oke aku pun menurut. Dibawalah ke dalam ruangan nya."


" Dan disitulah Rasya mengatakan jika dia menyukai Camila."


" Apa??? Wah dokter Rasya berani juga cari mati. "


" Dan kau tau Fer apalagi yang dia inginkan? "


" Apa Bos? "


" Dia ingin berbagi Camila denganku. Sialan kan.... Otak nya itu ditaruh dimana. Berani berani nya dia meminta hal itu padaku. "


Ferdy hanya diam tak tahu harus menjawab apa. Nyali di Rasya sungguh besar, berani meminta berbagi istri dengan bos Dirga.


" Lalu, bos Dirga menjawab apa? "


" Hei gila saja kalau aku menuruti nya. Enak aja, memang nya istri itu barang yang bisa dioper kesana kemari atau justru dibuat berbagi."


" Sungguh aku tak gmhabis pikir dengan lelaki itu. Bagaimana mungkin bisa mengatakan hal yang seperti tanpa rasa bersalah sedikit pun. Memang benar benar dokter saiko. "


" Dek Mila tahu bos? "


Dirga menggeleng." Tidak. Dan aku harus secepat nya membicarakan mengenai masalah ini dengan Mila. Aku tidak ingin Rasya semakin gila dan semakin berani berbuat hal yang akan menyakiti Mila. "


" Sabar bos. Cobaan rumah tangga bos kali ini sedikit pelik. Bos harus pintar pintar mengatur strategi. Jangan sampai si Rasya itu semakin tidak tahu diri. "


" Ya, kau benar Fer. Mungkin jalan satu satu nya adalah meminta Camila untuk resign saja. Daripada setiap hari aku tidak tenang membiarkan Camila bekerja. "


" Ya, itu mungkin solusi terbaik bos. Semoga dek Mila juga mau menerimanya. "


Dirga meraup wajahnya, sungguh dia merasa sangat galau. Dia begitu takut jika Rasya benar benar mengambil Camila dari nya.


***


Di Rumah Sakit,

__ADS_1


Rasya masih tak akan menyerah untuk melakukan segala cara agar mendapat kan Camila. Dia sudah minta ijin secara baik baik pada suami perempuan itu. Tapi ya, dia dikecewakan. Dirga sana sekali tak memberinya kesempatan untuk berbagi Camila dengan nya. Padahal Rasya sydah menpertaruhkan kredibilitas nya hanya demi berkata jujur pada Dirga, suami Camila.


Tapi nyata nya lelaki itu masih kekeuh tak mau membagi Camila untuk nya. Baiklah, jika menang ijin baik baik pun tetap tidak diberi kesempatan, maka Rasya masih banyak cara untuk melakukan hal hal yang tentu nya diluar perkiraan.


Dia bangkit dari singgasananya. Berjalan keluar menyusuri koridor Rumah Sakit. Hari beranjak siang, biasanya para dokter dan suster ada di kantin untuk makan siang.


Rasya memutuskan untuk pergi saja ke kantin, siapa tahu saja dia bisa bertemu Mila disana.


Berdiri di ambang pintu kantung, Rasya mengedarkan pandangan nya. Kantin tampak ramai. Bangku bangku sudah banyak yang terisi. Mengetahui kehadiran nya di kabarin, beberapa dokter juga suster sempat menyapa nya.


Rasya masih mencari keberadaan Mila ternyata wanita itu ada, duduk di bangku pojok bersama seorang suster.


Baiklah, Rasya segera memesan makanan lalu berjalan mabtap menuju dimana keberadaan Mila berada.


" Boleh saya duduk?"


Sintak Mila dan suster Eni mendongak menatap kehadiran Rasya. Camila merutuki dalam hati kenaoa juga dokter Rasya harus menghampiri nya.


" Silahkan dokter." kali ini suster Eni yang me jawab.


Mila lebih memilih menekuri kembali makanan nya berusaha mengabaikan keberadaan dokter Rasya. Biarkan saja jika dia dianggap tidak sopan. Tapi memang Camila merasa tidak nyaman dengan hadirnya dokter Rasya.


Mila masih terus mengingat wejangan wejangan yang diberikan oleh papa Dirga. Jangan dekat dekat dengan dokter Rasya. Karena kita tidak tahu aoa yang akan dokter Rasya perbuat. Mengingat dokter Rasya yang juga sudah berani mebyabotase mobil ya saja membuat Camila begidik ngeri.


Camila harus buru buru menghabiskan makanan nya agar ia bisa segera meninggalkan Rasya.


" Dokter Mila."


Mila mendongak menatap sekilas dokter Rasya.


" Ya dokter."


" Kenapa makan nya terburu buru."


" oh itu dokter saya masih ada babyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."


" Owh... Padahal ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan dengan dokter Mila."


" Apa itu dokter?"


" Hal pribadi yang tak enak saya bicarakan disini. "


Camila hanya manggut manggut.


" Jiia dokter ada waktu, mungkin bisa ke ruangan saya sebentar. Ada hal yang ingin saya sampaikan. "


Nyali Camila langsung mencit. Mana berani dia menemui dokter Rasya lagi jika ujung ujungnya seperti sebelum nya dimana dokter Rasya mengutarakan semua isi hati kepadanya.


" Dokter Rasya, saya mohon maaf mungkin lain kali saya bisa menemui dokter Rasya. Eum... Sekarang saya tidak bisa. Sekali lagi saya mohon maaf."


Camila beranjak dari duduk nya.


" Saya harus pergi sekarang dokter. Permisi."


Suster eni yang terbengong bengong karena ditinggal oleh dokter Camila, buru buru bangkit juga dari duduk nya lalu berpamitan dengan sopan pada dokter Rasya.


Dikerjarnya Camila yang sudah terbirit birit meninggalkan kantin.


" Dokter Camila....! " panggil Suster Eni.


Camila menoleh menatap lega pada suster eni.


" Dokter kenapa? Kok seperti nya terlihat menghindari dokter Rasya."


Camila hanya tersenyum. " Tidak apa apa suster. Saya hanya kurang nyaman saja dengan kehadiran dokter Rasya. "


Suster eni terdiam lalu kembali ambil suara.


" Dokter, maaf kalau saya lancang. Seperti nya dokter Rasya itu menyukai dokter Camila. "


" Kenapa suster eni bisa berkata seperti itu? "


" Saya bisa melihat dari tatapan dokter Rasya yang tak biasa setiap kali menatap dokter Camila."


" Oh ya kah? Suster eni merasa begitu. "


" Iya dokter. Setiap melihat dokter Camila, tatapan dokter Rasya itu selalu tak biasa. Terlihat sekali seorang lelaki yang memuja seorang perempuan. "


Camila tertawa sumbang." Suster eni ini bisa saja. "


Mereka berjalan bersisihan. Pikiran Camila sudah berkecamuk kemana mana. Dokter Rasya tak akan hentinya mengganggu nya. Ada saja hal yang dokter itu perbuat.


Apakah Camila masih sanggup untuk menolak atau menghindar jika setiap hari dia dan dokter Rasya selalu berada di satu tempat yang sama.


Camila menghela nafas. Apakah rencana nya untuk resign akan dia dia laksanakan. Tapi memang hanya itu cara satu satu nya untuk Camila bisa lepas dari dokter Rasya. Sekalipun dia mencintai pekerjaan nya akan tetapi keluarganya tetap yang utama.

__ADS_1


__ADS_2