Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 59


__ADS_3

Begitu tahu jika istri nya hamil, rasa bahagia Dirga sungguh tak terkira. Terlebih Camila pun bisa menerima kehamilan nya kali ini. Semakin bertambah saja kebahagiaan yang Dirga rasakan.


Kebiasaan baru Camila masih tetap sama. Suka tidur, suka bermalas-malasan dan suka bermanja-manja kepadanya.


Untuk hal terakhir ini, keagresifan Camila kadang membuat Dirga sakit kepala. Menurut saran dokter, di trimester pertama kehamilan itu masih sedikit rawan. Sekalipun Camila tak ada keluhan apapun, bukan tidak mungkin sesuatu akan terjadi jika dia dan istri nya akan sering sering berhungan suami istri. Tapi ya begitulah, terkadang keinginan istri nya itu akan susah untuk ia tolak.


Pagi ini masih seperti pagi sebelum nya. Camila bergelung di bawah selimut tebal nya. Saat Dirga berpamitan untuk pergi bekerja, Camila hanya menjawabnya dengan gumaman yang tidak jelas. Baiklah, Dirga harus mengalah dan berdamai dengan keadaan. Untuk sementara waktu dia memang harus menjadi suami yang mandiri.


Keluar dari dalam kamar mendapati Je yang sudah memakan sarapan nya dengan disuapi Mbak Hana.


"Papa sih lama. Aku makan duluan, " celetuk sang Putra begitu mendapati Papa Dirga masuk ke dalam ruang makan.


Hana hanya senyum-senyum karena sedari tadi Je terus saja mengomel, menunggu papa nya yang tidak kunjung keluar juga.


" Maafkan papa. Papa telat bangun tadi. "


Ya, sekarang Je memang tidak lagi tidur bersama mama dan papa nya. Je sudah berani tidur di kamar nya sendiri meskipun ada mbak Hana yang menemani. Pengasuh nya itu akan tidur di lantai dengan menggelar kasur. Dirga sudah menawari Hana untuk membelikan ranjang yang akan ditaruh di kamar Je. Tapi Hana menolak. Dia lebih nyaman tidur di kasur busa yang di gelar di atas lantai.


"Sarapan ku tinggal sedikit papa."


" anak pintar. Habiskan sarapan nya. Lalu pergi ke sekolah biar tidak telat."


" Siap papa."


Dirga hanya terkekeh melihat tingkah laku sang putra.


Sejak dua hari yang lalu, Dirga tak lagi mengantar jemput Je ke Sekolah. Karena Dirga dengan persetujuan Camila, telah mempekerjakan seorang sopir pribadi khusus untuk Je dan Camila. Pak Mardi namanya. Tugas Pak Mardi adalah mengantar jemput Je ke sekolah. Juga mengantarkan kemanapun Camila pergi.


Dirga sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya. Sehingga mulai sekarang Dirga tak akan mengijinkan istri nya untuk menyetir mobil sendiri.


Je selesai dengan sarapan nya, sementara Dirga baru menghabiskan separoh sarapan nya. Lama-lama Dirga juga Je terbiasa hanya sarapan berdua tanpa Camila. Je pun sekarang sudah tidak pernah lagi protes karena tidak ada nya sang mama saat mereka sarapan.


Hana masuk ke dalam kamar Je untuk mengambil tas sekolah. Lalu ia keluar kamar dan kembali menghampiri Je yang masih duduk di meja makan.

__ADS_1


" Papa, Je berangkat sekolah dulu," pamit Je kala mendapati pengasuh nya sudah menenteng tas sekolahnya.


Dirga meletakkan sendok nya. Lalu berdiri dan mengangkat tubuh Je. Dicium kedua pipi Je lalu beralih mencium kening putra nya. Je masih dalam gendongan papa Dirga. Dibawa nya keluar karena sang sopir telah menunggu. Hana mengekori di belakang Dirga.


" Pak Mardi, tolong antar Je ke sekolah ya?" pinta Dirga pada driver nya.


" Baik Pak Dirga."


" Bawa mobil nya jangan kencang-kencang."


"Siap, pak."


Dirga memasukkan Je ke dalam mobil.


" Je jangan bandel ya. Nurut dengan Bu Guru juga mbak Hana. Jangan berlarian kalau tidak mau jatuh."


" Siap papa."


Dirga mengusap pucuk kepala putra nya. Dia sangat menyayangi Je. Apalagi sebentar lagi Je akan punya adik. Semoga saja Je bisa menjadi kakak yang baik untuk adik nya kelak.


Teriak Dirga saat mobil yang dikemudikan Pak Mardi mulai berjalan meninggalkan halaman rumah.


Setelah mobil yang membawa Je keluar dari pagar dan tak terlihat lagi, Dirga kembali masuk ke dalam rumah. Menghabiskan sarapan nya yang tadi masih tersisa.


***


Siang hari nya, Dirga masih meeting dengan klien di luar kantor. Dirga tidak sendiri melainkan berdua bersama Ferdy. Mereka sedang membahas proyek baru yang sedang ditangani oleh perusahaan Dirga.


Meeting berjalan lancar, hanya saja sejak meeting berlangsung, ponsel Dirga tak kunjung juga berhenti bergetar. Untung saja setiap kali meeting, Dirga selalu mengatur mode silent pada ponsel nya.


Mereka selesai meeting hampir jam dua siang. Saat Dirga dan Ferdy baru saja keluar lift untuk menuju basemant, mengambil mobil mereka yang terparkir disana, ponsel Dirga kembali bergetar.


Dirga jadi teringat, sebenarnya tadi dia ingin mengecek siapa yang terus saja menghubungi nya selama ia meeting tadi. Ternyata ponsel nya sudah kembali bergetar.

__ADS_1


Ia ambil ponsel yang berada di saku celana nya. Kening nya berkerut. Ternyata Camila pelakunya.


Ditarik nya nafas dalam sebelum mengangkat panggilan telpon dari sang istri tercinta.


" Pa....! Lama sekali angkat telpon nya. Nggak tau apa jariku sampe keriting nelponin Papa," cerocos Camila saat Dirga baru saja mengangkat panggilan telpon istrinya dan menempelkan ponsel di telinganya.


Dirga masih sambil berjalan menjawab apa yang istri nya tanyakan.


" Aku baru selesai meeting, sayang. Maaf ya tadi tidak bisa mengangkat panggilan telpon mu."


Mobil Dirga sudah terlihat. Ferdy sudah terlebih dulu berjalan di depan Dirga karena nanti nya Ferdy yang akan menyetir.


" Pa, kamu lagi meeting dimana sih?"


Tanya Camila, dan Dirga menjawab menyebutkan nama salah satu gedung perkantoran yang ada di kota ini.


Ferdy sudah membuka pintu mobil. Begitupun Dirga, hingga membuat lelaki itu kurang fokus dengan apa yang istri nya sampaikan.


" Pa, kamu dengar nggak sih," ucap Camila dengan nada sedikit kesal.


Dirga yang sudah mendudukkan dirinya di jok mobil sampai harus menajamkan pendengaran nya.


"Hallo sayang, maaf aku tadi sedang di basemant. Sayang, kamu tadi bicara apa? Aku kurang jelas."


" Astaga, Pa! Benar kan kamu tak mendengarkan ku?"


" Iya, iya maaf." Dirga masih dengan tingkat kesabaran nya menghadapi istri nya.


Ferdy yang kini sudah mulai menjalankan mobil nya sampai dibuat terheran. Sebenarnya apa yang sedang bos nya bicarakan hingga wajah bos nya tampak frustrasi begitu.


Belum lagi kata maaf yang terlontar berkali kali dari mulut bos Dirga, membuat Ferdy semakin kepo saja. Ingin bertanya tapi seperti nya Bos Dirga masih sibuk dengan ponsel nya.


Hingga mobil yang ia kendarai keluar dari gedung pencakar langit, bos Dirga masih setia dengan ponsel yang menempel di telinga nya.

__ADS_1


Tidak banyak yang bos Dirga ucapkan. Selain kata iya dan kata maaf. Ferdy mengerutkan alis. Jangan - jangan bos Dirga sedang dimarahin istri nya. Tiba-tiba saja Ferdy terkikik dengan pemikiran nya sendiri.


__ADS_2