Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Episode - Chapter 83


__ADS_3

Sudah menjadi hobi nya bermain basket, entah bermain bersama satu team nya ataupun dia bermain seorang diri. Sering ikut pertandingan antar sekolah membuat Je dikenal banyak siswa dan siswi dari sekolah lain.


Hari ini tidak ada jadwal nya berlatih basket bersama rekan-rekan nya. Akan tetapi karena suasana hati Je yang sedang tidak baik-baik saja, maka basket lah satu-satu nya cara yang mampu meredam serta membuat suasana hati Je menjadi lebih baik lagi.


Peluh membanjiri seluruh tubuhnya. Je membungkuk dengan nafas tersengal.


"Kau kenapa?"


Je kaget karena suara itu. Pemuda itu mendongak mendapati Kenzo berdiri dengan tangan bersadekap di dada. Sedang menatap nya tajam.


Je kembali menegakkan badan nya. Tanpa kata dia mengambil bola basket nya lalu berjalan ke sisi lapangan. Meraih tas miliknya dan membuka nya. Mengambil air mineral dalam kemasan yang memang ia simpan disana. Diteguknya hingga tersisa separoh isinya.


Lalu ia menjatuhkan dirinya di atas lantai lapangan basket sekolah. Menselonjorkan kaki panjang nya. Dengan tatapan kosong jauh ke depan.


Kenzo tahu jika saudara sepupunya ini sedang tidak baik-baik saja.


"Kenapa kau bisa ada disini? Memang nya kau tidak kuliah kak?" tanya Je.


Ya, benar sekali. Kenzo memang sudah lulus dari sekolah ini dan saat ini sudah berstatus menjadi seorang Mahasiswa. Akan tetapi Kenzo masih sering mengunjungi sekolah ini. Kadang untuk ikut bermain basket atau kadang hanya ingin main saja untuk menemui Je.


"Aku kerumah tadi. Tapi tidak ada siapa-siapa. Uncle Dirga dan aunty La belum pulang. Dan kau...." Kenzo mengangkat lengan kanan nya. Melihat arloji yang melingkar disana.


"Bahkan ini sudah jam lima. Tapi kau masih disini. Sendirian. Ck." Kenzo berdecak.


Lalu lelaki itu ikut duduk berselonjor di samping Je.


"Mau cerita sekarang atau ___" Belum juga Kenzo melanjutkan ucapan nya tapi Je sudah menyela.


"Bu Sofia sudah tunangan. Semalam."


Kenzo terkejut, menoleh pada Je dengan mata melotot. "Apa? Kau tak sedang bercanda kan?"


"Dan kau tahu siapa sebenarnya Bu Sofia?" tanya Je lagi.


Kenzo mengedikkan bahu. " Mana aku tahu?"


"Bu Sofia adalah anak nya Mbak Hana."


"Apa? Bagaimana bisa. Mbak Hana pengasuhmu dulu kan?"

__ADS_1


"Ya."


"Ya Tuhan! Dunia ini sungguh sempit."


Lagi - lagi Kenzo berdecak. Tapi sesaat kemudian dia kembali menatap Je.


"Jadi... Kau sedang patah hati," ledek Kenzo.


Je melotot lalu mentoyor lengan Kenzo. "Sialan kau Kak!"


" Ya maaf. Lagian kayak nggak ada cewek lain saja selain Bu Sofia. Biarkan saja Bu Sofia tunangan. Memang kan usia Bu Sofia itu sudah matang. Kau nya saja yang tidak tahu aturan. Suka kok sama guru nya sendiri."


"Kau jangan mengolokku, Kak."


Dan Kenzo sudah tertawa. Je, pemuda itu segera bangkit berdiri meraih tas nya dan meninggalkan Kenzo begitu saja.


"Hei...! Tunggu aku!" Teriak Kenzo pada Je.


***


Keesokan hari nya, Je yang sedang tidak bersemangat, karena sebelum jam istirahat tadi kelasnya diisi oleh Bu Sofia. Sungguh Je merutuki kebodohan nya sendiri. Kenapa dia harus mengagumi atau bahkan menyukai Bu Sofia. Dan sekarang lihat lah wajah Je yang sudah ditekuk, kusut masai. Entah karena apa. Mungkinkah dia patah hati karena pertunangan Bu Sofia? Atau merasa sedih karena tidak dapat lagi mengagumi Bu Sofia.


Je menghela nafas, lalu memejamkan matanya. Ingat apa yang mamanya sampaikan. Fokus pada belajar dan membuang jauh- jauh perasaan suka pada guru yang usianya jauh lebih tua dari nya.


Sayup Je mendengar suara seseorang. Dibuka matanya, lalu menoleh ke samping. Mendapati seorang gadis yang duduk disebelah nya. Tapi pandangan gadis itu tidak tertuju padanya. Melainkan lurus ke depan.


"Apa maksudmu?" tanya Je yang merasa yakin jika gadis itu sedang berbicara dengan nya. Karena disini tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua.


"Aku tahu kau menyukai Bu Sofia," ucap gadis itu lagi.


Je terhenyak. Menatap tajam gadis itu. Bahkan Je tidak mengenalinya. Namanya saja tidak tahu. Je mengamati gadis di sebelah nya, dan Je yakin jika gadis itu bukan lah teman sekelas nya.


Memilih untuk tak menanggapi, Je beranjak berdiri. Tapi sebelum Je berlalu meninggalkan gadis itu, kembali perkataan yang membuat Je harus menatap tajam gadis yang masih duduk tanpa ekspresi.


"Aku tahu Bu Sofia sudah tunangan. Dan kau patah hati. Kasihan sekali. Lagi pula kau ini tampan dan masih muda. Untuk apa juga kau menyukai Bu Sofia yang jelas- jelas jarak usia kalian saja berbeda jauh. Membuang-buang waktu saja."


Je yang geram membalas perkataan gadis itu." Memang nya kau siapa berani mengataiku seperti itu? "


" Aku memang bukan siapa-siapa. Hanya saja aku iba melihatmu. "

__ADS_1


" Kau tak perlu iba atau mengasihaniku. "


" Patah hati itu memang sakit, Jaghad. Dan kau paham akan hal itu."


"Kau tahu nama ku?" tanya Je yang kaget mengetahui fakta jika gadis itu memanggilnya Jaghad.


"Siapa yang tak kenal seorang Jaghad Raya Semesta. Lelaki dingin yang disukai banyak gadis di sekolah. Akan tetapi di balik sifat dingin mu itu tersimpan misteri. Dan aku sudah tahu, misteri apa yang ada di balik sifat dingin dan kaku mu itu."


Sungguh Je merasa geram luar biasa. Tanpa kata Je melangkah meninggalkan gadis aneh itu.


" Aku punya solusi untuk mu jika kau ingin mengobati patah hati mu itu. "


Je berhenti lalu berbalik." Aku tak membutuhkan solusi darimu. "


" Kau yakin? Bagaimana jika seluruh murid di sekolah mengetahui jika seorang Jaghad menyukai Bu Sofia,"


"Kau...!!" Je menudingkan jarinya ke arah gadis itu.


Tapi gadis itu hanya mengedikkan bahu.


"Jadilah pacarku. Dan semua masalahmu selesai. Kau tak akan lagi merasakan patah hati. Dan aku yakin, kau akan melupakan Bu Sofia, tanpa harus ada yang tahu jika selama ini ternyata kau menyukai Bu Sofia. Bagaimana? Kau terima tawaran ku."


Je sudah capek menghadapi gadis itu.


" Terserah kau saja mau berbuat apa. "Je kembali melangkah.


" Jadi... Kau terima tawaran ku untuk menjadi kekasihku....! " lagi gadis itu berteriak.


" Ya, "


" Namaku Rea. Ingat itu!! "


Teriak sang gadis yang masih di dengar oleh Je.


" Rea, huh. " gumam Je hingga dia sudah benar-benar meninggalkan gadis itu.


Je tak peduli dengan semua perkataan Rea. Gadis itu terlalu banyak omong dan terlalu banyak tahu tentang nya. Bagaimana bisa?


Je berpikir, siapa sebenarnya Rea?

__ADS_1


Dan bagaimana bisa gadis itu tau semua tentang nya?


Ya Tuhan! Je meraup wajahnya. Tak bisa mempercayai semua nya.


__ADS_2