Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 72


__ADS_3

Nathalie tak menyangka jika dia bisa kembali ke London. Sudah beberapa bulan dia meninggalkan tempat ini, dan kini dia memutuskan untuk kembali lagi. Katakanlah jika Nath belum bisa move on, tapi memang itulah kenyataan nya.


Sehari sebelum keberangkatan nya ke London, Nath sudah menyewa tempat tinggal untuk nya. Lokasi yang dia pilih pun juga tak jauh dari tempat tinggal nya yang lama. Nath akan memulai kehidupan baru, tanpa Willy tentunya. Dan Nath berharap dia tak akan lagi bertemu dengan Willy, lelaki yang telah membuatnya kecewa dan patah hati.


Dengan perlahan Nath mulai melangkahkan kakinya. Tujuan nya adalah dia akan mendatangi dimana tempat tinggal nya yang baru. Semoga tempat nya sesuai dengan keinginan.


Lokasi yang ia tuju sudah dekat, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia menatap seorang pria yang sedang berdiri tak jauh dari nya. Lelaki itu juga sedang intens menatapnya.


" Nathalie …! " panggil pria itu.


Nathalie mengangguk. " Ya, aku Nathalie." dia menelisik wajah pria itu yang bagi Nath seperti tak asing olehnya.


" Aku Matthew. Rekan kerja Daffi. Apa kau ingat ? "


Nath mengernyit berusaha mengingat tapi dia tak ingat pernah menjumpai lelaki itu bersama Daffi.


" Ah, entahlah mungkin aku lupa. "


Pria itu mengangguk lalu tersenyum.


" Kau ... bukan kah kau sudah meninggalkan kota ini sejak beberapa bulan yang lalu ? Lantas kenapa masih ada disini? " tanya Matt penasaran.


Tentu saja Matt terkejut, pasalnya Daffi pernah bercerita jika beberapa bulan lalu Nathalie telah kembali ke Australia karena akan menikah.


" Ah itu, kau tahu juga rupanya yang aku sempat meninggalkan London."


" Ya, Daffi yang mengatakan nya padaku. "


Nath manggut-manggut." Lalu, kemana Daffi sekarang? "


Matt menatap Nathalie.


" Rasanya tak enak jika kita mengobrol disini. Kau mau kemana sekarang ini? "


" Aku mau menempati rumah sewaku yang baru "


" Bagaimana kalau kita minum sebentar di kedai itu." tunjuk Matt pada sebuah kedai tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


“ Baiklah. “ Nathalie menyetujui nya.


*****


Matt menyesap Coffe late nya lalu menatap Nathalie yang juga sedang melakukan hal yang sama dengan nya, menikmati kopi yang terasa hangat di tengah cuaca London yang memang dingin.


" Jadi, kau baru hari ini kembali ke London? "


Tanya Matt karena tadi dia sempat bertanya kenapa Nathalie membawa koper besar. Dan wanita itu bercerita jika dirinya baru saja dari Indonesia.


" Ya begitulah. Aku terlalu mencintai kota ini. Dan rasanya tak ingin meninggalkan nya. Oleh sebab itulah aku kembali."


" Bagaimana dengan pernikahanmu. Apakah suamimu juga ikut kesini. Kenapa aku tak melihatnya dan sekarang kau hanya seorang diri."


Nath kembali menyesap kopi nya. Tak menyangka jika lelaki yang duduk dihadapan nya ini begitu tau banyak tentang dirinya. Nath tak heran pasti Daffi lah yang sudah bercerita tentang semuanya.


Jujur Nathalie enggan menjawab pertanyaan pria itu. Tapi tak sopan rasanya bila Nath hanya diam membisu.


" Aku batal menikah." jawab Nath singkat dengan tatapan sendu.


" Apa? Kenapa bisa begitu."


" Sory aku tak bisa menceritakan nya padamu."


" I see. Maaf jika aku terlalu banyak tau tentangmu."


" Tak masalah. Pasti Daffi yang sudah bercerita, mengingat kau kan teman baiknya."


" Ya, begitulah."

__ADS_1


" Lalu kemana Daffi sekarang. Kenapa kau hanya sendirian. "


" Daffi ada di Indonesia. "


" Indonesia? Benarkah itu. Buat apa dia di Indonesia. Dan, ah kenapa aku tak bertemu dengan nya saat berada di Indonesia. "


" Dia baru kemarin pergi ke Indonesia. Dan dia pulang ke Indonesia karena ... ah itu ... aduh kenapa aku jadi susah mengatakan nya. "


" Hei, memang nya kenapa. Ada yang salah kah dengan Daffi atau jangan-jangan terjadi hal yang buruk padanya. "


" Bukan. bukan seperti itu maksudku. Tapi ... Daffi ada di Indonesia karena dia ... dia menikah. "


" Apa? Menikah? Daffi menikah? Kau jangan bercanda. " Nathalie tampak terkejut mendengarnya.


" Aku serius dan tidak bercanda. Hari ini Daffi akan menikah. "


" Bagaimana bisa? " Nath tak habis pikir dengan berita yang baru di dengar nya. Bagaimana mungkin secepat itu Daffi menikah. Setelah tiga bulan lalu Daffi sempat mengatakan padanya jika dia menginginkan Nath untuk menikah dengan nya dan menjadi ibu untuk anak-anak lelaki itu.


" Dengan siapa Daffi menikah. Apa kau kenal dengan istrinya Daffi ?"


" Entahlah aku tak tahu dan akupun tak kenal dengan perempuan yang akan menjadi istri Daffi. Aku puk juga tak bisa datang ke acara pernikahan nya, karena aku tak bisa meninggalkan pekerjaan."


Nath terdiam. Pikiran nya berkecamuk. Hatinya teras panas. Entah kenapa dia merasa sangat bersedih mendengar berita pernikahan Daffi. Harusnya Nath senang karena pada akhirnya Daffi bisa move on darinya. Tapi Nath tak tahu, rasanya seperti  cemburu membayangkan Daffi bersanding dengan perempuan lain. Dan Nath tahu jika


kali ini dia kembali patah hati.


***


Di kediaman Daffi,


" Daff, kenapa kau sudah harus kembali? Tunggulah hingga usia pernikahanmu satu minggu. Rasanya tak enak saja Bunda melihat nya."


" Tidak bisa Bunda. Daffi harus kembali ke London."


Daffi tetap ngotot ingin kembali ke London sehari setelah acara pernikahan nya selesai. Sementara itu, sang Bunda masih kekeuh berusaha menahan anak lelakinya agar mau tinggal lebih lama lagi.


" Kak Malvin sudah tidak ada hubungan nya dengan perusahaan di London yang Daffi pimpin sekarang.  Jadi percuma saja Bunda, karena Kak Malvin tidak tahu seberapa banyak pekerjaan yang terbengkalai karena aku tinggal pulang, " jawab Daffi masih ngotot pada Bundanya.


Bunda menghela nafas. Tak tahu lagi harus berkata apa. Bahkan baru kemarin pesta pernikahan anak nya itu di gelar, dan sekarang Daffi sudah berpamitan akan kembali ke London.


Rentetan acara pernikahan ini belum selesai sampai disini. Sesuai adat jawa, setelah acara pernikahan ini terlaksana, sesudahnya masih ada acara lagi yang akan digelar, seperti acara balik tikar yang biasanya dilakukan setelah beberapa hari sejak acara ijab qabul dilangsungkan. Tapi Daffi tak mau memusingkan acara-acara seperti itu.


" Jika seperti itu, kapan kamu akan berangkat ke London ."


" Besok pagi."


Sang Bunda menghela nafas. Berusaha menyiapkan rangkaian kata jika seandainya beliau ditanya oleh besan nya mengenai kembali nya Daffi ke London.


" Apa Putri sudah kamu beritahu tentang hal ini."


Daffi menggeleng." Apa itu perlu? " jawabnya enteng.


" Daffi, Bagaimana pun juga Putri itu adalah istrimu. Justru kalau Putri setuju dan mau mengikuti mu , kamu harus ikut serta membawanya ke London bersamamu."


" Bunda, tidak semudah itu aku membawa Putri ke London. "


" Bunda tahu, tapi setidaknya ajaklah Putri bicara dulu. "


" Nanti saja Daffi beritahu Putri yang Daffi akan kembali ke London. "


Setelah mengatakan itu Daffi berlalu meninggalkan sang Bunda. Dengan gontai Bunda Daffi duduk di atas sofa.


Seharusnya hari ini Daffi pulang ke rumah mertua nya, bukan nya pulang ke rumah ini. Sesuai tradisi, setelah acara resepsi berlangsung, pengantin pria akan pulang ke rumah mempelai wanita. Baru setelahnya, akan ada satu prosesi lagi dimana keluarga mempelai wanita datang ke rumah mempelai pria, dan itulah yang dinamakan


prosesi balik tikar.


Tapi yang ada sekarang justru seusai acara resepsi tanpa memberitahu siapapun, Daffi sudah pulang terlebih dahulu ke rumah kedua orang tuanya. Bahkan Putri serta kedua mertua Daffi pun tak ada yang tahu.

__ADS_1


Sungguh Bunda merasa malu pada keluarga mempelai wanita atas tingkah laku Daffi.


*****


Keesokan harinya, Daffi mendatangi Putri, wanita yang telah resmi ia nikahi sehari yang lalu.


" Putri, maaf karena aku tidak bisa menjalani pernikahan ini dengan semestinya. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk mu. Maafkan aku. Aku harus kembali ke London."


Bahkan putri belum sempat menjawab semua perkataan suaminya, tapi Daffi telah pergi meninggalkan nya begitu saja.


Melihat punggung kokoh Daffi, Putri hanya bisa berkata pada dirinya sendiri. " Kamu bukan nya tidak bisa mas. Tapi belum bisa. Tidak dan belum itu berbeda makna. Dan aku yakin suatu saat kamu pasti bisa. Aku akan menunggumu dan aku akan memberikan mu waktu hingga tiba masanya nanti kita bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang semestinya.  "


***


Sekembalinya Daffi dari Indonesia lelaki itu dirundung dilema. Matthew memberitahu pasal pertemuan nya dengan Nathalie tempo hari. Dan Matt telah menceritakan pada Daffi tentang apa yang terjadi pada Nathalie. Yang Matt tahu hanya satu, yaitu Nathalie batal menikah. Dan apa penyebab wanita itu tidak jadi menikah, Matt pun tak tahu karena Nathalie tidak mau bercerita kepadanya. Ternyata memang apa yang disampaikan Dirga di hari pernikahan nya itu benar adanya.


Mengetahui fakta jika Nathalie gagal menikah, jujur membuat hati Daffi gundah gulana. Apakah semua sudah terlambat. Penantianya selama bertahun-tahun sia-sia. Dan sekarang saat kesempatan itu ada, status dirinya telah berubah. Ya, Daffi sudah terlanjur menikah. Meskipun harus menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak ia kenal dan cintai. Tapi tetap saja, statusnya saat ini adalah seorang suami, meski Daffi berusaha menolak untuk menyandang status itu.


Dia sudah menikah dengan Putri, wanita pilihan keluarganya. Akankah dia akan kembali mengejar Nathalie saat ini. Meski Daffi pun tak yakin jika Nathalie masih mau menerima dirinya seandainya perempuan itu tahu bahwa dia telah menikah.


Nathalie, hatinya tercubit dan itu sangat sakit. Apakah selama ini dia ternyata mencintai Daffi ? Karena yang ia rasakan saat ini merasa patah hati begitu mengetahui lelaki itu telah menikah.


Daffi adalah lelaki pertama dalam hidupnya, ah bukan. Ralat, lelaki pertama yang telah menyatu bersamanya. Ya, karena kesalahan semalam dia dan Daffi telah melakukan perbuatan terlarang. Dan dia merasa sangat malu serta bersalah. Pasalnya dia lah yang memulai semuanya. Dia lah yang  meminta Daffi untuk menemaninya minum kala itu. Dan dia juga yang akhirnya menggoda lelaki itu hingga Daffi terjerumus semakin dalam akan pesona nya. Nathalie ingat, saat itu dia juga sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja karena Nath patah hati mengetahui


lelaki yang dia sukai justru menikah dengan saudara perempuan nya. Seandainya Nath bisa menjaga dirinya dan tidak terjerumus pada keinginan gilanya yang meminta Daffi menemaninya hingga mereka berdua lupa akan dunia nyata.


Begitu tersadar akan perbuatan nya, Nath sangat malu. Malu akan tingkah bodoh nya. Hingga Nath mencoba menghilang dari hidup Daffi. Dia tak punya muka lagi untuk bertemu kembali dengan Daffi, meskipun lelaki itu terus mengejar nya dan menawarkan pertangung jawaban kepadanya. Tapi Nath tak bisa menerima kebaikan Daffi.


Ini semua bukanlah salah Daffi dan lelaki itu tak harus bertanggung jawab padanya.


Nath tahu jika Daffi merasa bersalah padanya karena kejadian terkutuk kala itu. Tapi hal itu justru menjadi beban tersendiri bagi Nath. Semakin Nath merasa terbebani dengan semua pertanggung jawaban yang Daffi berikan, semakin kuat pula tekat Nath untuk pergi dari kehidupan Daffi.


Dan disinilah selama bertahun-tahun Nath bersembunyi dari seorang Daffi Juliandra. Tapi seolah takdir mempermainkan jalan hidup dan cintanya. Bertemu kembali dengan Daffi dan berakhir dengan sebuah kenyataan bahawa saat ini Daffi telah menikah, sementara dia sendiri justru gagal menikah dan tetap melajang hingga sekarang.


*****


" Kembalilah pada istri mu, Daf. Aku tak ingin menjadi perusak rumah tanggamu dan aku yakin jika kita berdua memang tak ada jodoh."


Kali ini tanpa sengaja Nath dan Daffi dipertemukan kembali setelah beberapa bulan lamanya mereka tidak saling jumpa.


Dan disinilah mereka berdua berada, di sebuah coffe shop tak jauh dari tempat tinggal Nathalie.


" Tapi Nath, kau tidak tahu apa yang terjadi padaku hingga aku memutuskan untuk menikah." Jawab Daffi dengan mata lekat menatap Nathalie. Ada sebongkah harapan yang Nathalie lihat dari pancaran mata yang Daffi tunjukkan padanya.


" Daff, dengarkan aku. Apapun itu, yang pasti kau sudah menikah sekarang. Dan jangan lagi kau berharap padaku karena aku tak akan pernah menerima permintaan yang tak masuk akal itu. Dan jangan kau berusaha memaksaku jika kau tak ingin aku kembali lari dari kehidupanmu."


Daffi terhenyak mendengar penuturan Nathalie. Memang ini semua salah Daffi. Setelah dia mengetahui alasan gagal nya menikah yang Nath tadi ceritakan padanya, sungguh Daffi merasa seolah dia masih ada peluang untuk mendapatkan Nathalie. Dan Daffi tak segan-segan untuk mengajak wanita yang telah ia cintai sejak dulu itu


menikah. Hal bodoh memang mengingat dia sendiri pun juga baru saja menikahi perempuan lain. Tapi bagi Daffi mungkin inilah sebuah kesempatan yang Tuhan berikan padanya. Tapi nyatanya, untuk kesekian kali Nath menolak nya. Menolak kehadiran nya dalam hidup wanita itu.


" Jangan kau lakukan itu lagi Nath. Oke fine. Aku tak akan memaksamu lagi untuk menikah dengan ku. Aku tidak ingin kehilangan mu untuk kesekian kali. Tapi kumohon, mau kah kau menjadi sahabatku kembali. Seperti dulu?"


Daffi mencoba berdamai dengan hatinya. Mungkin memang dia dan Nath tak mungkin menikah. Tapi apa salahnya jika mereka berdua kembali berteman seperti dulu. Daffi tidak ingin kehilangan Nathalie kembali. Dan biarlah dengan cara ini, agar dia masih tetap bisa melihat Nathalie. Meski pun hanya berstatus sebagai seorang teman.


Nath berpikir sejenak sebelum dia memutuskan untuk menerima permintaan Daffi.


" Oke. Aku setuju. Kita berteman. Dan aku mohon padamu, Daff. Hilangkan semua perasaanmu padaku. Anggap saja diantara kita tidak pernah terjadi sesuatu. Aku sudah melupakan semuanya dan kuharap kau pun melakukan hal yang sama. Itu hanya masa lalu kita yang mungkin saja akan menjadi kenangan. Meskipun kita berdua tidak


bisa bersama menjadi sebuah keluarga, setidaknya kita masih bisa berteman."


" Baiklah Nath jika itu yang kau inginkan. Aku akan berusaha untuk tidak lagi membahas mengenai masa lalu kita karena jujur aku tak ingin kehilanganmu untuk kesekian kalinya. Aku pun juga tidak ingin merusak persahabatan kita. Aku janji, kita akan tetap menjadi teman baik sampai kapanpun juga. "


Daffi tersenyum menatap Nathalie. Dia harus mulai berdamai dengan hatinya. Mungkin memang benar jika Nath bukanlah jodoh nya. Dan Daffi harus berlapang dada menerima Nathalie hanya sebatas sebagai teman baik nya saja. Dalam hati Daffi berdoa semoga Nathalie segera menemukan jodoh nya, lelaki yang mampu menjaga Nathalie dan mencintai perempuan itu dengan sebaik-baiknya.


" Oke Janji ya...."


" Janji."

__ADS_1


Dan mereka berdua saling melempar senyum. Kelegaan hinggap di hati kedua nya. Pada akhirnya masalah diantara mereka selesai sudah. Dengan sepakat mengambil keputusan yang terbaik jika mereka berdua akan tetap menjadi sahabat untuk saat ini dan selama nya.


__ADS_2