Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 38 - Canggung


__ADS_3

Camila Pov


Aku turun ke lantai satu menuju ruang makan. Tampak papa dan mama sudah duduk di meja makan.


" pagi ma, pagi pa" kucium punggung tangan keduanya bergantian.


" pagi sayang.... Ayo duduk sarapan dulu."


" baik ma"


Baru juga aku mendaratkan pantatku diatas kursi, derap langkah om Dirga terdengar sedang menuruni anak tangga menuju ruang makan.


" morning mama" kulihat om Dirga dengan penuh sayang mencium kedua pipi mama sebelum duduk di kursi sebelahku.


" morning pa." Kulirik dia mulai menyesap kopi dari cangkir yang sudah tersedia di hadapan nya.


" morning sayang." dia menoleh ke arahku, kupaksakan memberinya seulas senyuman. Dia memanggilku sayang lagi. Padahal baru beberapa menit yang lalu aku bilang jangan lagi memanggilku sayang. Rasanya sungguh aneh terdengar di telinga. Hmm.... Benar benar totalitas dia memerankan diri sebagai seorang suami.


" Mila... Nanti selepas kuliah Mila pulang kesini lagi kan?" tanya mama.


Aku yang baru mengisi piringku dengan nasi mendongak menatap mama mertuaku. Aku bingung harus menjawab apa karena jujur aku masih terlalu canggung tinggal di sini. Tempat baru yang begitu asing buatku. Dan sejujurnya aku sudah ingin sekali pulang ke rumah Bunda, tidur di kamarku sendiri terasa lebih nyaman ketimbang disini. Selama dua hari berada disini sudah membuatku sangat merindukan Bunda. Lantas aku harus menjawab apa untuk menolak permintaan Mama.


Kulirik om Dirga dan aku tahu lelaki itu juga sedang menatapku.


" Mama ku sayang..... Sepertinya malam ini Mila harus pulang ke rumah Bunda. Mila itu banyak tugas yang harus dikerjakan ma. Dan semua buku buku kuliah nya ada di rumah Bunda." om Dirga lah yang akhirnya mewakiliku menjawab pertanyaan Bunda. Mungkin dia tahu jika aku tak akan bisa menolak keinginan mama. Sepertinya aku harus berterimakasih padanya karena telah menyelamatkan ku kali ini.


" ya sudah kalau begitu mulai sekarang Mila tinggal disini saja nemenin mama. Barang barang punya Mila dipindah saja ke rumah ini. Bagaimana? ."


Aku tersenyum dan sekali lagi menatap om Dirga dengan sedikit garang. Om Dirga hanya mengedikan bahu.


" sudahlah ma..... Jangan memaksa Mila seperti ini. Mila juga masih butuh menyesuaikan diri. " papa lah kali ini yang membelaku membuatku sedikit lega. Bukan salah mama juga jika terlalu berharap padaku yang tak lain adalah menantunya.


Disini aku lah yang salah. Mengambil keputusan hanya karena alasan tidak tega melihat mama sakit. Padahal Sejujurnya aku memang tidak ada niatan untuk menikah diusia muda seperti ini. Tapi semua sudah terjadi dan aku harus menerima konsekuensi dari semua keputusan yang telah kuambil. Baru kusadari sekarang, mungkin berurusan dengan om Dirga lebih mudah tapi justru berurusan dengan mama om Dirga lah yang membuatku sangat susah. Astaga aku harus bagaimana sekarang.


" ah mama tau pasti kalau disini Mila takut dijaili Dirga lagi kan......" mama terkekeh.


" tenang saja ada mama. Kalau Dirga nakal.... Hem mama jewer nanti." lanjutnya.


" mama ini anak sendiri dianiaya."


" lha kamu. Mila diusili mulu kan kasian. Lha tadi mama lihat sendiri. Masih pagi juga sudah gatel ngegodain Mila. Sampe Mila teriak teriak begitu. Untung saja ketauan mama kan. Coba saja kalau tadi mama ga ke atas. Pasti itu si Mila ga selamat. "


Astaga ini mama ngomong apaan, jadi malu kan aku.


" kalian ini sudah pada tua masih saja suka ribut. Ga malu dilihat Mila. " papa menengahi perdebatan ibu dan anak itu.


Aku baru tau jika om Dirga ini manja nya seperti itu dengan mama nya. Pantas saja jika dia sangat sayang sama mama.

__ADS_1


Suasana kembali hening, semua sibuk menikmati sarapan. Aku pun juga tak berani banyak bertingkah. Bagaimana pun juga berada di tengah tengah keluarga baru seperti ini rasanya sungguh aneh.


" Sayang, sudah selesai makan nya. Ayok kita berangkat." aku mendongak menatap om Dirga.


" sudah." jawab ku singkat.


" ayo kita berangkat." om Dirga meneguk air sebelum berdiri dari duduk nya


Aku mengikuti nya. Tidak lupa berpamitan sebelum meninggalkan meja makan.


-------


Om Dirga mengantarku pergi ke kampus. Di perjalanan tak banyak yang dia bicarakan. Aku pun juga lebih banyak diam. Perasaan canggung menyelimuti kami berdua. Sungguh berbeda sekali jika sedang bersama mama nya. Tingkah om Dirga tak sesuai dengan umurnya, manja dan lebih banyak mencari perhatian. Kadang aku juga heran bagaimana bisa aku memutuskan menikah dengan seseorang yang sama sekali tak kukenal sifat dan watak nya.


" pulang jam berapa nanti ". Pertanyaan om Dirga membuyarkan lamunanku.


" belum tau. Om tak perlu menjemputku. Aku ada janji sama temen. "


" janji? Temen? Temen siapa?" tanya om Dirga penuh selidik. Matanya memicing menatapku.


" cari buku di gramedia."


" owh....."


" om...."


Kutarik nafas berat dan menghembuskan nya perlahan. Aku harus membicarakan kembali padanya mengenai status hubungan kami. Aku tak ingin om Dirga terlalu banyak berharap padaku dan pada pernikahan ini. Jujur aku pun sungguh berat menjalani ini. Padahal ini baru hari ketiga kita menikah.


" om Dirga ingat kan tentang perjanjian kita sebelum aku setuju untuk menikah dengan om." tanyaku.


" ya... Aku ingat." bicaranya tanpa ekspresi. Dan aku tak yakin jika dia bisa kuajak berbicara serius jika sikapnya seperti ini kepadaku.


" aku tahu jika om sangat menyayangi mama. Tapi..... "


" tapi apa. " tanya nya cepat sebelum aku menyelesaikan ucapanku.


" om juga harus mengerti tentang posisiku. Jujur aku tidak nyaman berada di situasi seperti ini. Dan aku ingin om menepati janji untuk mengembalikanku pada kehidupan ku seperti semula. Kita sudah sepakat kan jika seusai menikah aku masih bisa menjalani aktifitasku seperti sedia kala. "


" ya... Aku tau itu. "


" jika om tau berarti aku tak perlu repot repot untuk menjelaskan nya kembali pada om. Aku akan kembali tinggal di rumah Bunda, kuliah seperti biasa. Dan tak perlu diantar jemput oleh om Dirga. "


" oke baiklah. "


" Thanks. "


----------

__ADS_1


Tunjungan Plaza Surabaya, salah satu mall terbesar di kotaku. Sejak aku masuk di bangku Universitas sudah jarang sekali aku mengunjungi tempat ini. Selain karena kesibukan ku dengan berbagai macam tugas juga karena aku lebih sering membantu Bunda dan Kak Ken mengurus resto di hari libur. Seperti tidak ada waktu lagi buatku untuk sekedar jalan ataupun nongkrong bersama teman temanku. Jika dulu aku bisa menghabiskan waktu seminggu sekali hanya untuk sekedar berjalan jalan di mall, jika sekarang belum tentu sebulan sekali. Kadang kala aku masih sesekali pergi nonton atau terkadang hanya untuk sekedar mencari buku di gramedia, seperti yang tengah kulakukan sekarang ini.


" makan dulu yuk gaes.... Udah laper berat ini...." steffani salah satu teman baik ku mulai berceloteh. Kami empat bersahabat yang selalu akur pergi kemana mana sering bersama.


" bukan nya lu udah makan ya tadi di kantin." timpal nadia.


" kan cuma Siomay nad..... Masih laper.... " Steffani mengelus perutnya.


" ya sudah kita makan dulu." ucapku


" Yes...... Mila memang yang selalu mengerti diriku.. Muach Muach..." Steffani memonyongkan bibir nya membuatku geli.


" ish... Apaan sih...." aku berusaha menghindari Steffani dengan tingkah absurd nya itu.


Berjalan mundur sambil tertawa hingga tanpa sengaja aku menabrak seseorang.


" auw... " tubuhku terhuyung aku tak bisa menahan keseimbangan.


Dengan sigap lelaki yang baru saja kutabrak, menopang tubuhku hingga aku tak sampai terjerembab jatuh ke lantai. Seharusnya aku berterimakasih karena setidaknya lelaki ini telah menolongku. Tapi mengingat posisiku saat ini yang lebih terlihat seperti sedang dipeluk oleh nya membuatku malu dan tak nyaman.


Aku berusaha melepas diri darinya, mendongak ke atas dan mataku membulat sempurna. Segera kulepaskan diriku dan sedikit menjauh. Ketiga temanku mereka tidak ada satupun yang membantu dan justru dengan tatapan terkejut mereka hanya melihatku dengan mulut menganga. Kulihat sekali lagi dua orang lelaki di hadapan ku yang salah satunya adalah yang tadi tak sengaja kutabrak.


" dek Mila......!!!" aku melotot melihat satu diantara mereka menyebut namaku.


Pandangan mataku kembali menatap orang yang tadi kutabrak. Ah sial kenapa pula harus bertemu mereka berdua disini. Dan yang lebih parahnya lagi lelaki yang kutabrak tadi menatap garang ke arahku.


" lain kali kalau jalan hati hati." setelah mengatakan itu lelaki itu pergi meninggalkan ku disusul oleh lelaki satunya lagi.


" bos dek Mila... Itu kan dek Mila...."


Astaga, Ferdy justru malah melambaikan tangan nya ke arahku. Kulirik om Dirga berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.


" Mil... Mil... Lo kenal mereka" Nadia menoel lengan ku. Tatapan matanya tertuju pada Ferdy dan om Dirga yang berjalan semakin menjauh.


" heh. Apa..?"


"lo kenal mereka...."


" enggak.."


" masak sih.... Itu tadi dia tau nama kamu Mil." tia yang sedari tadi cuma diam ikut bicara juga.


" auk ah.... Temen kak Ken mungkin. Yuk ah katanya mo makan." kutarik lengan Nadia berjalan kembali menuju foodcourt.


" Mil... Gue mau dong dikenalin sama eksekutif muda yang ganteng itu.... " Steffani merangkul lengan kiriku.


" lah tadi kenapa ga mau kenalan sendiri."

__ADS_1


Steffani hanya mencebik dan aku terkekeh melihatnya.


__ADS_2