
Lima tahun berlalu,
Jaghad Raya Semesta, anak tunggal pasangan Angkasa Dirgantara dan Camila Wijaya, telah menginjak usia lima belas tahun. Dan baru satu bulan ini Je, begitu dia biasa disapa , mulai meginjakkan kaki di kelas sepuluh . Semakin kesini , Je semakin terlihat tampan dan mempesona. Wajahnya bukan seperti wajah-wajah bule , karena dia bukan lah pemuda keturuan luar negeri. Kedua orang tuanya asli warga lokal. Sehingga gen lokal juga yang membingkai wajah tampan Je. Kulitnya yang eksotis, karena pemuda itu memiliki hobi basket dan juga berenang . Hidungnya yang mancung keturunan dari papa nya, tubuhnya yang tinggi tegap bahkan mengalahkan sang papa.
Menginjak usia remaja, Dirga benar-benar harus extra menjaga Je agar putra nya itu tidak terjerumus pada pergaulan bebas. Bukan nya Dirga dan Camila membatasi pergaulan Je. Tidak sama sekali. Hanya saja memang Dirga selalu memantau setiap aktifitas yang Je lakukan. Semua Dirga lakukan juga demi kebaikan Je. Maklumlah, karena jaman sekarang ini begitu rawan bagi kalangan remaja. Dan Dirga tidak ingin Je terjerumus pada pergaulan bebas ala remaja masa kini.
" Pagi, Pa. Pagi mama ila yang cantik, " Je memasuki ruang makan dengan baju seragam putih abu-abu. Tas ransel yang tadi tersampir di bahu, kini Je letakkan di kursi kosong sebelahnya. Setelahnya Je menghampiri sang mama yang sedang menuang teh hangat ke dalam cangkir sang papa. Mencium kedua pipi mama tercinta.
" Pagi ini kenapa mama cantik sekali ?" ucap Je memuji mamanya.
Camila hanya tersenyum , tapi Papa Dirga segera menyela . " Bukan kah setiap hari mama selalu cantik. "
" Ya memang benar. Mama selalu cantik tapi semakin cantik setiap harinya. " kembali kata pujian terlontar dari mulut Je.
Camila tak lagi sanggup menahan tawanya. Setiap pagi , kedua lelaki ini selalu saja memuji dirinya. Dan hal itu bisa membuat Camila merasa sangat dicintai oleh mereka berdua. Camila, wanita yang paling cantik diantara anak dan suaminya.
" Sudah ayo duduklah. Segera makan sarapanmu , sebelum menjadi dingin. "
" Siap , Ma."
Setelahnya Je duduk di kursinya, menyesap milo hangat yang sudah disiapkan oleh mamanya.
Camila ikut duduk di samping Dirga. Juga mulai menikmati sarapan nya.
" Ma ... !" panggil Je.
Camila mendongak menatap putra nya.
" Ada apa ?"
__ADS_1
" Sepertinya hari ini aku akan pulang terlambat."
" Memang nya kamu mau kemana ?"
" Biasa , Ma. aku mau basket. "
" Apa kamu tidak capek ? pulang sekolah langsung basket," tanya Mila pada putra nya.
Je hanya menggeleng. " Namamya juga hobi, Ma. Jadi tidak ada rasa capek. "
" Baiklah. Tapi ingat, jangan terlalu sore pulang nya. Hari ini mama shift siang. Jadi baru malam pulang nya. "
" Siap, Mama. "
Setelahnya mereka bertiga menikmati sarapan nya masing-masing. Je yang begitu lahap menyantap nasi goreng dengan telor mata sapi kesukaan nya. Sementara papa Dirga, karena faktor usia, tidak berani menyantap makanan yang berkalori tinggi, apalagi mengandung minyak seperti nasi goreng. Setiap pagi Dirga lebih memilih sarapan oats ditambah dengan irisan buah. Atau roti dengan olesan selai. Ditemani dengan teh hijau hangat tanpa gula. Semakin tua, Camila lebih menjaga pola makan suami nya. Agar suaminya bisa tetap sehat dan awet muda.
" Pa, Ma, aku berangkat dulu." pamit Je begitu sarapan nya ludes tak bersisa. Diambil tas ransel nya lalu ia pakai di punggung nya.
" Hati-hati bawa motor nya. Jangan ngebut."
" Siap, Ma."
Je sudah meninggalkan ruang makan. Mila masih menatap punggung kokoh putra nya.
" Pa, tak terasa ya, anak kita sudah remaja saja. Seperti nya belum lama saat aku dulu melahirkan nya," ucap Camila.
Dirga hanya tertawa mendengar ucapan istri nya. Pasal nya saat Mila mengatakan Je sudah remaja, Dirga langsung ingat akan usia nya. Ternyata dirinya tidak lagi muda dengan usia yang semakin bertambah setiap hari nya.
***
__ADS_1
Motor sport berwarna Orange itu memasuki gerbang sebuah sekolah ternama di kota ini. Baru satu bulan Je bersekolah disini. Belum memiliki banyak teman, tapi Je tak peduli. Pemuda itu terlalu acuh dengan lingkungan di sekitar nya. Dia tak terlalu peduli dengan keadaan.
Setelah memarkir motor nya, dilepas nya helm yang membungkus kepala nya. Selanjut nya ia kibas-kibaskan rambut nya dengan poni sedikit menutupi mata.
Je tak peduli jika apa yang baru saja ia lakukan mengundang decak kagum kaum perempuan yang tak sengaja melihat nya.
Setelah ia turun dari motor besar nya, Je meninggalkan area parkir. Tak menghiraukan jika dibelakang nya beberapa gadis memang sengaja mengikuti nya. Je tak peduli akan hal itu.
Di sekolah ini hanya Kenzo yang Je pedulikan keberadaan nya. Kenzo adalah anak dari Papa Ken. Ya, Je memang memanggil kakak dari mamanya dengan sebutan Papa Ken.
Kenzo juga bersekolah disini dan sudah menginjak kelas dua belas. Selisih dua tingkat dengan Je.
Memasuki kelas dan segera duduk di bangku nya. Je melepas tas ransel nya dan menyimpan nya di bawah meja.
Tak berselang lama bel masuk kelas berbunyi. Semua siswa dan siswi bergerombol memasuki kelas masing - masing. Semua tampak tenang.
Seorang guru wanita memasuki kelas yang dihuni oleh Je. Guru muda itu menyapa seluruh siswa dan siswi barunya. Baru pertama kali ini guru wanita itu memasuki kelas Je. Karena dalam kurun waktu satu bulan ini, kegiatan siswa baru belum full belajar. Masih banyak kegiatan mengenai pengenalan siswa baru pada sekolah.
Pandangan mata Je saat ini tertuju pada guru baru nya. Cantik. Satu kata yang terlintas di benak Je. Juga masih sangat muda. Je rasa, guru nya ini mungkin saja baru lulus kuliah dan memang masih baru juga menjadi seorang guru. Suara nya yang merdu juga sikap nya yang lemah lembut, membuat Je terus mengawasi setiap pergerakan guru baru nya.
Kesan pertama pertemuan dengan guru baru nya adalah Je suka dan nyaman jika di ajar oleh Bu Sofia. Iya, nama guru baru Je adalah Sofia. Mengajar pelajaran matematika. Pelajaran itu adalah salah satu mata pelajaran yang tidak Je suka selama ini.
Je berharap semoga saja dia akan menyukai pelajaran itu seperti hal nya dia menyukai Bu Sofia.
Rasa nya aneh memanggil guru nya yang masih sangat muda itu dengan sebutan Bu. Tapi mau bagaimana lagi, demi kesopanan murid pada gurunya.
Pikiran Je masih menerawang hingga saat ia sadar, sang guru sedang meneriakkan namanya.
" Jaghad Raya Semesta!"
__ADS_1
Dan Je baru tersadar jika gurunya sedang meng-absen murid-murid nya. Je mengangkat tangan nya. Dan nampak kelegaan di wajah Bu Sofia, karena di panggilan yang kelima kali nya, barulah sang empu nya nama mengangkat tangan nya.