Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 28


__ADS_3

" Dokter Allan, dokter Rasya, terimakasih atas waktu nya. Seperti nya Je butuh istirahat. Kami permisi dulu," pamit Dirga.


Sekalipun suasana hati Dirga tidak bisa dikatakan baik - baik saja, nyatanya lelaki itu sanggup menyembunyikan nya.


Dirga beranjak berdiri diikuti oleh Daffi, Camila, Allan juga Rasya. Mereka kembali berjabat tangan sebagai salam perpisahan.


Tiba saat nya Dirga yang sedang menjabat tangan Rasya, pandangan mereka berdua beradu. Dirga melihat dari sorot mata Rasya yang sama sekali tidak bersahabat padanya. Berbeda sekali dengan dokter Allan yang begitu Welcome padanya.


Rasya, susah sekali mengenyahkan ketidak sukaan nya pada suami Camila. Sudah berusaha memaksakan senyum tapi yang keluar dari sudut bibirnya justru seringaian. Astaga! Sungguh, Rasya ingin sekali merutuki kebodohan nya sendiri yang begitu kentara menunjukkan sikap tak sewajarnya pada Dirga juga Daffi. Hanya pada Camila saja Rasya mampu menguasai diri. Bahkan tanpa diminta pun, senyum manis terbit begitu saja di bibir pria itu. Je yang berada dalam gendongan Camila tak luput dari perhatian Rasya. Lelaki itu mengusap pipi putih yang menggemaskan. Ingin sekali mencium balita itu tapi ia tak berani melakukan nya. Takut jika Camila marah jika ada orang lain yang menyentuh putra nya. Ah, andai saja balita yang ada dalam gendongan Camila itu adalah anak nya, betapa bahagia hidupnya.


" Aduh...." Rasya mengaduh, pukulan Allan di perutnya membuatnya meringis kesakitan.


" Kau ini apa - apaan. Kenapa memukulku, Allan?"


" Lalu, ngapain kamu sendiri kayak orang ****, bengong ngelihatin Camila sampe segitu nya."


Rasya mengerjab. Dia baru menyadari jika Camila beserta suaminya sudah tidak ada di tempat. Rasya menggaruk tengkuknya. Jujur dia malu. Malu sekali dengan Allan. Ketahuan mengagumi istri orang sampai sebegitu nya.


" Masih saja mengagumi Camila? " tanya Allan dengan mimik muka serius.


Dengan lesu Rasya mengangguk.


" Bahkan setelah kamu bertemu sendiri dengan suaminya dan melihat betapa harmonis nya keluarga mereka?"


" Allan, kau tahu? Apa yang kita lihat tidak selamanya sesuai dengan realita. "


" Maksudmu?" Allan mengernyit kan kening.


" Kau tahu, mungkin mereka terlihat harmonis dan terlihat bahagia. Tapi kan kau tak tahu bagaimana kehidupan mereka sesunguh nya. Bisa saja kan mereka hanya berpura - pura bahagia di depan orang lain, demi menutupi kebrobokan rumah tangga mereka."


Allan meraup wajahnya. Sangat susah berbicara dengan orang yang otak nya konslet seperti Rasya.


" Kurasa, semakin kesini kau semakin tak waras saja. Saranku, pergilah ke psikolog. Periksakan otak mu yang sedikit konslet itu. "


Setelah mengatakan itu Allan pergi meninggalkan Rasya.


Sementara Rasya, mulutnya ternganga mendengar apa yang Allan ucapkan.


" Sialan kau, Allan... Allan! Tunggu aku....! "


Rasya mengejar Allan yang sudah meninggalkan nya cukup jauh di depan.


Masih dengan mengumpat karena perkataan Allan, Rasya keluar dari coffe Shop. Kepala nya menoleh ke kanan dan ke kiri tapi sudah tidak mendapati Camila beserta keluarganya. Dan pada akhirnya Rasya memilih untuk menyusul Allan.

__ADS_1


***


" Kak Daffi, kita ke guest house dulu ya. Ambil barang - barang ku."


" Siap tuan putri."


" Terimakasih Kak. Kau memang baik."


" Aku memang baik dari dulu."


Dirga memukul pelan lengan Daffi. Membuat kedua lelaki itu tergelak.


Sesampainya mereka di guest house, Camila masuk ke dalam. Je pun di bawa oleh Camila masuk. Sementara Daffi dan Dirga menunggu di luar, duduk di kursi teras .


" Daff.... "


" Hemm...."


" Apa kau tahu sesuatu mengenai dokter Rasya?"


Daffi terhenyak lalu menatap Dirga. Dari yang Dirga tangkap, Daffi pasti mengetahui sesuatu.


Pada akhirnya Daffi pun mengangguk.


" Tapi, aku tak akan mau bercerita atau memberitahukan apapun kepadamu. Itu adalah persoalan mu dengan Camila. Aku tak mau ikut campur. Salah kata bisa fatal akibatnya." jawab Daffi serius.


Daffi mengangguk. Bukan nya dia tak mau bercerita apa pun. Jujur Daffi pun tidak suka dengan Rasya. Dengan cara lelaki itu menggoda Camila yang jelas jelas adalah istri orang. Tapi Daffi tak mau ikut campur. Dia takut timbul fitnah jika sampai mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kenyataan nanti nya.


" Pa... Boleh minta tolong."


Camila keluar. Je berada di belakang Camila.


" Apa sayang?"


" Tolong bawakan koper dan barang barang ku."


" Baiklah sayang."


Dirga beranjak dari duduk nya. Menghampiri Camila. Begitupula dengan Daffi. Lelaki itu pun ikut masuk dan membantu Dirga juga Camila.


Membawa barang barang Camila lalu menyimpan nya ke dalam mobil nya.


" Tidak ada lagi yang tertinggal kan? " tanya Daffi. Setelah dirasa semua barang - barang Camila telah masuk semua ke dalam mobil nya.

__ADS_1


" Seperti nya tidak ada lagi." jawab Camila yakin.


" Baiklah. Kita berangkat sekarang."


" Sayang, kenapa barang - barang mu jadi sebanyak itu? " tanya Dirga pada Camila.


Camila hanya nyengir. Dan Daffi sudah tergelak.


" Perempuan dimana - mana itu ternyata sama. Jika sudah shoping kalap." goda Daffi.


" Kak Daffi, itu kan juga salahmu. Kenapa juga kak Daffi mau menemaniku belanja. "


Daffi tertawa. " Baiklah, ini aku mau bawa kalian kemana? Ke apartmenku saja ya?"


" Jangan. Nanti ngerepotin. Kita ke hotel saja. " jawab Dirga membuat Daffi kembali tertawa.


Pasalnya dia tahu, sahabat nya yang mesum itu pasti sangat merindukan istri nya. Dan rasanya tidak mungkin juga jika mereka menginap di apartemen nya.


Melepas rindu paling pas adalah menginap di hotel.


" baiklah. Apa kalian perlu bantuan ku untuk menjaga Je."


" Kak Daffi apaan sih?"


" Hei aku tahu apa yang kalian mau. Dan aku menawari jasa penitipan Je secara gratis."


" Terimakasih tawaranmu, Kak. Tapi aku masih sangat merindukan Je. Ingin tidur memeluk Je. "


" Halah... Je apa papa Je. "


" Kak....!!! "


Dirga hanya menggelengkan kepala mendengar perdebatan antara Daffi dan istri nya. Daffi memang paling suka jika menggoda Camila. Apalagi dasar nya Daffi itu memang suka sekali membuat rusuh jika bersamanya juga bersama Camila.


" Kalian tak mau mampir ke rumah om Aldy?" tanya Daffi.


Om Aldy adalah mertua nya Ken yang tak lain adalah kakak lelaki Camila.


" Sepertinya lain kali saja Kak. Tidak ada waktu. Besok bukan kah kita harus kembali ke Surabaya ya Pa."


Dirga terdiam sejenak. " Ijin saja pada Pak Hendra. Kita pulang lusa bagaimana?"


" Baiklah. Nanti aku coba telpon dan minta ijin ke Pak Hendra."

__ADS_1


" Kita liburan sementara disini. Kasian Je juga pasti capek kalau besok harus kembali ke Surabaya. "


Camila menatap Je yang masih bermanja - manja padanya. Ah, kangen sekali dia sama putra nya. Rasanya waktu berjalan begitu lambat saat dia berada di Jakarta. Dan sekarang semua terbayarkan sudah. Rasa rindu pada anak nya bisa terobati juga.


__ADS_2