
Setiba Dirga di rumahnya, Je sudah mandi, sudah rapi dan sudah wangi. Bahkan putra nya itu sudah memakai sepatu. Tentu saja Dirga sempat terheran dibuatnya. Lalu didekatinya Je dan dirga berjongkok agar tinggi tubuhnya sejajar dengan putranya.
Dicium pipi Je, “ Wanginya anak papa. Je mau kemana ? kenapa sudah rapi sekali ?”
“ Je mau ke lumah kak enzo “
Kening Dirga berkerut, setelahnya ada Bunda Anyelir, Danisha, Kenzo serta Ken yang sedang menggendong Kenzi.
“ Nak Dirga, Je ingin ikut ke rumah Bunda , Bagaimana ? Nak Dirga mengizinkan kan ? ” ucap Bunda Anyelir.
Ken menimpali, “ tadi Je nangis, nggak ngebolehin Kenzo pulang. Ya sudah, aku bilang pada Je , ikut uncle saja ke rumah Bunda. “
Dirga mengangkat tubuh Je lalu berdiri.
“ Je, mau ikut uncle Ken ?”
Bocah itu mengangguk, “ Iya .”
Dirga menghela nafas. “ Baiklah. Tapi Je harus janji. Di rumah uncle nanti Je tidak boleh rewel dan tidak boleh nakal. Terlebih lagi Je jangan mencari mama juga papa ya ... karena papa tidak ikut Je. “
Dirga menatap kakak iparnya, “ Ken, yakin mau bawa je ? kalau rewel bagaimana ?” Dirga merasa khawatir.
Ini bukan kali pertama bagi Je menginap di rumah Bunda Anyelir.
Tetapi biasanya Je akan menginap bersama dengan mama nya atau terkadang Dirga pun akan ikut menginap juga.
“ Sudah jangan khawatir. Je tidak akan rewel, “ Jawab Ken dengan yakin nya.
Menurut Ken , selama ada Kenzo pasti Je tidak akan rewel.
Karena Je sangat cocok jika bersama dengan Kenzo, anak lelakinya. Mereka berdua selalu akrab.
Dirga membawa Je ke mobil milik Ken, memasukan balita itu ke dalam nya.
“ Ken, Kalau Je rewel telpon aku ya, “ pesan nya pada kakak iparnya.
“ Siap “
Di belakangnya ada Bunda Anyelir, Danisha serta Mbak Hana.
Ya, mbak Hana ikut serta bersama mereka karena bagaimanapun juga Mbak Hana adalah babysitter Je.
Kemanapun Je pergi, Mbak hana akan mengikuti.
Dirga menoleh pada mertuanya.
“ Bunda, maaf merepotkan. Dirga titip Je ya. Kalau Je rewel, telpon saja Dirga. Nanti Dirga Jemput Je. “
__ADS_1
“ Tidak merepotkan sama sekali, Justru Bunda senang ada Je di rumah. Ya sudah kami pamit dulu ya.”
“ Dadah papa... " Je dengan riang nya melambaikan tangan pada papanya.
Dirga masih mengamati hingga mobil Ken keluar dari halaman dan menjauh dari penglihatan Dirga.
Setelahnya Dirga masuk ke dalam rumah. Tampak lengang.
Dia duduk di sofa ruang keluarga. Menyalakan televisi dan memencet asal channel nya. Di sandarkan kepalanya dan matanya mulai mengarah pada televsi yang menyala.
Tak berselang lama ponsel nya berdering. Sedikit kaget lalu diraihnya benda pipih itu yang tadi dia letak kan diatas meja dihadapan nya.
Senyum nya mengembang. Istrinya yang menelpon.
Dengan semangat Dirga mengangkat panggilan telpon dari Camila.
“ sayang... kamu sudah sampai ? “
“ Iya, baru saja. “ jawab istrinya itu.
“ Pa, Je mana ?” tanya Camila
“ Je ikut Bunda pulang.”
“ oh ya.”
Camila tergelak. “ papa jaga diri baik baik. “
“ Hei, harusnya aku yang berkata seperti itu. “
“ Ya sudah aku tutup telpon nya. Ini sudah ditunggu oleh driver Rumah Sakit yang menjemputku. “
“ Baiklah, Love you sayang. “
“ Love you too , pa.”
Dirga masih memandangi ponselnya. Hanya mendengar suara Camila saja sudah membuatnya bahagia luar biasa. Bahkan kini diusai pernikahan mereka yang hampir menginjak delapan tahun. Tapi rasa cinta serta kasih sayangnya pada Mila tak pernah pudar sedikit saja.
Dia bersyukur mendapat istri sebaik Camila meskipun terkadang istrinya itu sedikit manja. Akan tetapi dengan manja nya Camila menandakan jika istrinya itu selalu membutuhkan nya, dan Dirga suka jika istrinya selalu menganggap keberadaan nya.
****
Di tempat dimana Camila berada saat ini,
Setelah selelsai menelpon suaminya, memberi kabar jika dia sudah mendarat dengan selamat, Camila menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
“ dokter Camila, ayo saya bantu membawa koper anda .”
__ADS_1
Belum juga Camila menjawab, Rasya telah lebih dulu menarik koper besarnya. Padahal Rasya sendiri juga sudah membawa koper besar miliknya. Jadilah di kedua tangan Rasya masing masing menyeret koper yang tidak kecil ukuran nya.
Camila sempat terkejut dibuatnya. Apa yang diperbuat Rasya sungguh diluar akal sehatnya.
“ Dokter Rasya ... !” pangil Camila membuat Rasya menoleh, hanya sekilas .
“ Ya,”
Dengan berjalan cepat , Camila segera menyusul Rasya.
“ Biar saya sendiri yang membawa koper saya. “
Camila sudah akan merebut koper miliknya tapi ditahan oleh Rasya.
“ Oh no, saya lelaki tak akan membiarkan wanita membawa barang seberat ini. “
“ Tapi itu tidak berat dokter dan saya masih sanggup membawanya sendiri. “
“ Sudahlah, lebih baik sekarang dokter Camila berjalan mengikuti saya, karena Allan sudah menunggu kita di dalam mobil jemputan yang telah dikirim oleh pihak Rumah Sakit. “
Camila tak mampu berbuat apa apa selain hanya menurut pada Rasya. Percuma saja dia berdebat jika pada akhirnya kalah juga.
Dengan mengekori langkah lebar Raysa, Camila sedikit kesusahan mengimbangi, karena kini dia tertingal cukup jauh di belakang lelaki itu.
Dan Camila bisa melihat dari jarak beberapa meter, dokter Allan sedang berdiri di samping sabuah mobil berlogo salah satu rumah Sakit .
“ Dokter Allan, maafkan saya . Membuat Anda lama menunggu. “ Camila merasa tak enak hati mendapati dokter Allan yang sudah menunggu nya.
“ Tidak apa. Tadi memang aku keluar bandara terlebih dahulu, mencari driver yang menjemput kita. “
Camila tersenyum tipis.
Rasya sudah menyimpan koper milik Camila dan juga koper miliknya sendiri ke dalam bagasi.
“ Silahkan masuk dokter Camila, “ rasya mempersilahkan.
Allan hanya mengamati tingkah laku sahabatnya ini.
“ Sebaiknya dokter Camila duduk di depan saja. Biar saya dan Rasya duduk di belakang. “
“ Baiklah dokter. “
Rasya memberenggut. Pasalnya tadi dia sempat berkeinginan untuk meminta Allan yang duduk di kursi depan, sementara dirinya duduk di bangku belakang bersama Camila. Tapi rencana nya buyar sudah. Dan dengan kecewa Rasya masuk ke dalam mobil disusul oleh Allan yang duduk di sampingnya.
Selama perjalanan tak banyak yang Camila bicarakan bersama dokter Allan dan dokter Rasya. Justru Camila hanya menjadi pendengar setia perdebatan dua dokter pria yang duduk di belakangnya.
Menjadi satu satunya wanita di dalam mobil ini, camila harus menjaga diri. Terlebih di dalam pikiran nya terlintas akan Je yang sedang menginap di rumah Bundanya. Semoga saja putra nya itu tidak rewel. Karena biasanya jika menginap di rumah Bunda, ada dirinya yang menemani. Tak sabar rasanya bagi Camila ingin segera menelpon Je. Ingin mendengar celoteh riang je saat bercerita tentang pengalaman bermain nya bersama Kenzo juga Kenzi, yang tak lain adalah kedua anak kakak pertamanya.
__ADS_1