Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 58 - Konflik (2)


__ADS_3

Dirga PoV


" uncle" panggilan Danu membuatku menoleh. Mungkin karena pikiranku sedang kalut jadinya aku tak fokus bahkan saat menaiki tangga aku tak melihat keberadaan Danu.


Aku baru saja pulang dari mengantar Camila. Melihatnya sedih dan marah kepadaku rasanya sungguh aku tak tega.


" mama dimana. Apa sudah tidur." tanya ku pada Danu.


" oma baru saja tidur.... Ehm uncle bisa kita bicara sebentar"


Kuputuskan untuk duduk mungkin sudah saatnya aku dan Danu menyelesaikan semua permasalahan ini.


" apa yang uncle katakan tadi memang sudah uncle pikirkan ? Apakah uncle tidak memiliki perasaan apapun pada Camila." pertanyaan Danu sungguh sangat sulit kujawab.


Jika aku jujur bahwa aku sudah mencintai Mila sejak pertama bertemu, apa Danu bisa terima.


" apakah jawaban ku penting bagimu "


" tentu saja. Uncle tau kan aku sudah sejak dulu mencintai Camila. Bahkan aku dengan percaya menitipkan Mila pada uncle. Aku tau jika uncle pasti bisa menjaga Mila."


" kalau begitu tugasku selesai. Anggap saja dengan aku menikahi Mila itu salah satu caraku untuk menjaga nya. "


Danu terhenyak mendengar jawabanku. Aku pun tak tahu kenapa bisa memberikan jawaban seperti itu.


" karena sekarang kamu telah kembali dan mama pun juga sudah mengetahui tentang alasan ku menikahi Camila, jadi sudah saatnya aku melepaskan nya. Tugasku menjaga Camila telah selesai. Sekarang sudah menjadi tanggungjawabmu untuk menjaganya. Secepatnya aku akan mengurus percerainku dengan Camila. " aku beranjak berdiri.


Sudah tak sanggup lagi rasanya aku menghadapi Danu.


" terimakasih uncle. Hanya uncle yang mengerti aku. Uncle lah yang terbaik untuk ku. Terimakasih untuk semua yang telah uncle lakukan dan berikan padaku. Kuharap uncle tak menyesal karena telah melepaskan Camila untuk ku."


Aku mengangguk dan segera pergi meninggalkan Danu. Begitu masuk ke dalam kamar, kubanting tubuhku diatas kasur. Hari ini sangat melelahkan.


" cerai.. " gumamku masih dengan mata terpejam.


Bayangan Camila memenuhi pikiranku. Mampukah aku berpisah dengan nya. Selama enam bulan bersamanya telah banyak hal yang kami lalui berdua. Setiap hari harus mendengar gerutuan Camila jika aku akan sering mengabsen nya via telpon. Selalu mendapat tatapan tajam serta sikapnya yang ketus jika aku memaksanya entah memaksanya ikut denganku atau menemaniku jalan kadang mengajak nya sekedar makan. Selalu mendapat pelototan tajam ketika dengan sengaja kucium pipinya yang menggemaskan. Apalagi sikap manisnya yang ditujukan nya padaku akhir akhir ini.


Rasanya aku tak sanggup jika harus menceraikan nya. Aku harus bagaimana sekarang. Lebih memilih kebahagiaan Danu atau kebahagiaan ku sendiri. Jika aku tak menceraikan nya, apa Camila bisa bahagia dan bisa mencintaiku. Atau justru Camila akan merasa tertekan karena dengan terpaksa harus menjalani pernikahan denganku.


"aaargghhhh......" aku berteriak frustrasi.


-----


" Fer..... Bagaimana kerjasama perusahaan kita dengan inter corporations Jakarta." pagi ini aku teringat jika kemarin aku sempat melewatkan meeting penting dengan sebuah perusahaan besar dari jakarta.


" tumben bos pagi pagi sekali sudah menelponku. Bahkan ini aja aku mungkin belum bangun jika tak ada telpon dari bos. "


" terus bagaimana. Apa hasilnya."


" beres bos. Semua lancar. Kita sudah sepakat akan mulai mengerjakan proyek itu minggu depan. Dan Rio yang akan menangani Project ini pun sudah setuju mulai lusa akan tinggal sementara di Jakarta. "


" biar aku saja yang akan menangani proyek ini. "


" maksud bos.? " tanya ferdy

__ADS_1


" aku yang akan berangkat ke Jakarta. "


" ah bos bercanda. "


" aku serius. "


" tapi bos. Ini akan memakan waktu yang cukup lama. Paling cepat tiga bulan. Apa bos yakin mau tinggal di Jakarta dalam waktu selama itu. "


" ya aku yakin. Apa kamu lupa jika sebelum nya aku pernah di Riau dua bulan lamanya. "


" itu kan karena Bu Vira yang memaksa bos ada disana " jawab Ferdy


" Ferdy..... Kamu atur saja semua nya yang penting aku tau beres dan tinggal berangkat. Dan untuk semua urusan pekerjaan ada di Surabaya, aku serahkan kepadamu"


" siap bos. Tiket dan tempat tinggal bos Dirga selama di Jakarta akan saya atur semua. "


" thanks Fer. Kamu memang selalu bisa kuandalkan."


Kuhela nafasku. Semoga keputusan yang akan kuambil ini adalah yang terbaik. Aku butuh mendinginkan pikiran agar aku bisa mengambil keputusan yang terbaik buat hidupku terutama buat Camila.


******


" kamu mau pergi kemana lagi Dirga. "


Mama yang melihatku sedang packing, masuk ke dalam kamar. Tatapan sendunya masih bisa kulihat.


" Dirga mau ke Jakarta ma. Ada proyek disana. Dan sepertinya akan sedikit lama disana."


Aku mengernyit. " kenapa? Kenapa apa nya ma. "


" kenapa kamu harus meninggalkan mama."


" ma..... Dirga bukan nya meninggalkan mama. Tapi memang Dirga ada urusan pekerjaan. Dirga pasti secepatnya kembali ke Surabaya begitu urusan proyek selesai. "


" lalu bagaimana dengan Mila. "


Aku terhenyak. Menghentikan sebentar aktifitasku. Duduk disebelah mama dan merangkul bahu mama.


" mama... Sekali lagi Dirga minta maaf sudah membuat nama sedih. Masalah Camila akan segera Dirga selesaikan selepas Dirga pulang dari Jakarta. "


" huft.  Lalu bagaimana dengan Danu."


" ma... Jika Danu memang benar benar mencintai Mila, Dirga pasti akan melepaskan Mila. Memang Dirga yang salah. Tidak tau diri telah mengambil Mila dari tangan Danu. "


" Dirga.... Kamu anak mama yang selalu setia berada disisi mama. Dan mama yakin betul jika.... Kamu mencintai Mila kan. "


Kuhela nafasku. Mama memang selalu tau apa yang kurasakan.


Aku mengangguk." iya.... Dirga sangat mencintai Mila. Dirga sayang sama dia. Tapi untuk apa jika rasa cinta Dirga justru akan menyakiti Danu. Dirga sayang mama sayang Danu. Dan Dirga tidak ingin Danu kecewa sama Dirga."


" dirga, kamu sudah dewasa mama yakin kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik. "


" terimakasih ma. "

__ADS_1


******


" uncle ..... tunggu !!!!! "


Aku yang sudah keluar rumah dan sedang menyeret koper besarku terpaksa berhenti melangkah. Danu lah yang kini sedang menghampiriku.


" kenapa uncle pergi. " tanya nya


" aku pergi karena ada urusan proyek. Ferdy sudah menungguku di depan. "


" bukan karena menghindariku kan?"


" menghindarimu? Apa maksudmu."


" ya siapa tau uncle ingin lari dari masalah dan uncle tak akan menepati janji uncle padaku. "


" astaga Danu.... Plis..... Tidak ada yang ingin lari dari masalah. Berikan uncle waktu. Oke. "


Aku meninggalkan Danu masih dengan menyeret koperku.


" minggu depan aku sudah balik London. Kuharap aku bisa mendapat kabar baik dari uncle. "


Aku hanya mengangguk dengan masih menyeret koperku. Ferdy telah menungguku di luar gerbang. Dia lah yang akan mengantar ku pergi bandara pagi ini.


" bos oke kan.?"


Baru juga aku mendaratkan tubuhku diatas jok mobil, Ferdy sudah meneliti ku. Melihat ku intens.


" kurasa bos memang sedang tidak baik baik saja." ucapnya lagi karena aku tak menanggapi nya.


" jalan fer." perintahku


" oke."


Ferdy mulai menjalankan mobil nya meninggalkan rumah mama.


" bos."


" hemm."


" itu tadi Danu kan. Kapan dia pulang dari London. "


" tiga hari lalu. "


" beneran kan. "


" beneran apanya"


" ya beneran pasti bos lagi bermasalah sama Danu"


" sok tau kamu. Sudah aku mau tidur jangan berisik. Bangunin kalo sudah sampe."


Segera kupejamkan mataku untuk menghindari semua ocehan Ferdy.

__ADS_1


__ADS_2