
Lima tahun kemudian,
Je yang kini sudah berusia dua puluh tujuh tahun dan beberapa bulan lagi sudah menginjak dua puluh delapan tahun, seorang eksekutif muda yang digilai banyak wanita. Akan tetapi Jaghad tetaplah Jaghad, lelaki dingin super arogan berbeda sekali dengan sang papa.Bahkan hingga saat ini pun Je masih juga betah melajang tanpa harus ada seorang perempuan yang mendampinginya.
Sejak keputusan nya berpisah dari Rea lima tahun yang lalu, hingga sekarang Je tidak ada keinginan untuk menjalin kasih lagi dengan sipapun. Hati Je terlalu tertutup. Entahlah kenapa yang ada di pikiran Je hanya pekerjaan tanpa berniat sedikitpun untuk memikiran masa depan berkeluarga.
Dirga juga Camila seringkali menegur Je tentang kapan ia akan mengenalkan calon istri pada kedua orangtua nya itu, akan tetapi jawaban Je selalu sama. Nanti jika sudah saat nya pasti Je akan mengenalkan nya pada mama. Sampai bosan Camila mendengarkan nya.
Pagi ini , masih seperti sebelumnya dimana Je yang akan bermanja manja pada sang mama saat mereka sedang sarapan. Sering menimbulkan kecemburuan pada sang papa.
" Ma, aku ingin makan nasi goreng telor mata sapi dong !"
" Pagi-pagi jangan makan nasi goreng. Yang lain nya saja . Omlet mau ?"
" Kamu ini jangan rewel kenapa ?" protes sang papa.
" Ish papa ini , Kalau tidak dengan mama sama siapa lagi aku mau minta dimasakin. "
" Makanya buruan cari calon istri. "
" Papa ini , mulai deh ...."
" Habisnya mau nunggu apa lagi , ini sudah hampir dua puluh delapan tahun kenapa tidak punya pacar juga. "
" Papa ingat tidak dulu saat papa menikah dengan mama , usia papa berapa ?"
Dirga kalah telak, Je selalu bisa membuatnya bungkam.
Camila hanya tertawa karena dia sudah terbiasa mendengar keributan setiap Je bertemu dengan papa Dirga.
" Sudah jangan ribut terus. Ini lebih baik kalian berdua sarapan oat saja."
Je juga Dirga hanya menurut dan memakan sarapan mereka dalam diam.
__ADS_1
Je selesai lebih dulu , lalu dia beranjak berdiri.
" Je pergi dulu . "
Lalu dia mencium punggung tangan Dirga dan beralih mencium pipi mama Camila.
Setelah kepergian Je, Mila menatap Dirga. " Papa ini , tiap bertemu Je ada saja yang diributkan. Heran aku. Sudah tua tapi tak juga mau mengalah dengan anak nya, ck. " Camila berdecak.
" Habisnya dia itu selalu saja manja padamu , sayang. "
" Biarkan saja kenapa , Pa. Selagi dia masih bisa bermanja manja denganku. Nanti juga kalau Je sudah menikah dia tak akan bisa lagi bermanja manja padaku. "
" Masalahnya kapan dia mau menikahnya ?"
" Ya mana aku tahu, Pa. "
" Makanya jangan suka manjain dia. "
Camila hanya mengedikan bahu. Pasalnya antara dia dengan suaminya selalu mempunyai persepsi berbeda jika itu menyangkut anak mereka satu satu nya.
Je, lelaki itu hanya akan bermanja manja pada mama nya saja. Di luar itu, Je akan kembali menjadi lelaki dingin dan arogan.
***
Sesampainya Je di kantor, dia langsung saja masuk ke dalam ruangan nya tanpa menghiraukan sekretaris yang duduk di depan ruangan nya.
Wanita berusia tiga puluh lima tahun, bernama Afilia, yang merupakan Sekretaris Je, segera mengikuti atasan nya masuk ke dalam ruangan nya. Afilia adalah seorang perempuan dengan status menikah dan sudah memiliki satu orang anak. Wanita itu sudah bekerja pada kantor Dirga sejak lima tahun lalu tepatnya semenjak Ferdy pensiun. Dan sebelum menjadi sekretaris Je, dulunya Afi sudah menjadi sekretaris Dirga selama dua tahun lamanya. Semenjak Je resmi menggantikan papa nya tiga tahun lalu, dia pun merasa cocok dengan Afi. Sengaja Je mempekerjakan seorang wanita yang sudah berkeluarga karena dia tidak mau memiliki sekretaris yang banyak mau nya juga ujung ujung nya terpesona kepadanya.
"Apa saja jadwal ku hari ini, Afi?" tanya Je pada sekretaris nya yang sudah berdiri di depan meja kerjanya.
Meski usia Afi lebih tua darinya, tapi Je tetap saja memanggil perempuan itu dengan sebutan nama saja.
Afi mulai membuka catatan nya dan membacakan di hadapan Je.
__ADS_1
" Jadi, siang ini aku harus bertemu dengan Mister Smith ?" tanya Je.
" Iya , Pak Jaghad. Mister Smith mengundang anda untuk makan siang. "
" Baiklah aku akan menemui beliau. Dimana Mister Smith mengadakan janji temu nya. "
Afilia menyebutkan salah satu nama Resto yang cukup terkenal dan biasa digunakan untuk acara pertemuan.
" Baiklah , terimakasih Afi. "
Setelahnya Afi meninggalkan ruangan Je dan kembali ke ruang kerjanya.
Sebelum jam makan siang, Je sudah bersiap pergi. Dia tidak ingin terlambat karena itu akan memengaruhi ke profesionalan nya sebagai seorang pengusaha muda.
***
Acara makan siang yang ujung-ujung nya membuahkan hasil. Sebuah proyek besar berhasil di dapat oleh Je. Pemuda itu tersenyum lebar sembari berjalan keluar dari dalam resto. Sebuah proyek yang akan memberikan keuntungan yang cukup besar pada perusahaan nya. Jika perusahaan nya menang tender tak hanya dia sendiri yang diuntungkan tetapi juga para karyawan nya. Sudah bisa dipastikan jika karyawan nya akan mendapatkan bonus besar.
"Auw....!" pekik seorang gadis yang tak sengaja tertabrak lengan nya.
Je yang saat berjalan tak peduli dengan sekitar, menoleh sekilas mendapati seorang gadis yang sedang ia tabrak. Bahkan gadis itu sedang mengusap lengan nya yang tadi tak sengaja tertabrak oleh Je.
"Sorry," ucap Jaghad enteng.
Tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghampiri mereka. Lebih tepatnya menghampiri gadis yang baru saja ia tabrak dan bertanya, "Kau tak apa - apa?"
Je hanya menatap nya dan saat itulah saat kedua wanita itu sama sama menatap ke arah nya, semua saling terdiam.
Je tahu siapa perempuan itu. Bu Sofia. Kenapa jantung Je berdetak kencang, Je seperti ini hanya karena melihat Bu Sofia lagi. Apakah dia masih memiliki rasa pada mantan gurunya itu. Bu Sofia yang terlihat keibuan seperti mama nya. Dan Je terpesona. Merasa bodoh karena perasaan lamanya tiba tiba muncul lagi. Percuma saja dia berpacaran dengan Rea selama ini, jika nyatanya saat kembali bertemu Bu Sofia rasa itu hadir kembali. Sial Je mengumpat dalam hati.
"Jaghad....!" sapa Bu Sofia masih dengan meneliti wajah Je. Mungkin saja Bu Sofia takut jika dia salah orng
Je mengangguk. " Bu Sofia?"
__ADS_1
" Jadi benar ini kamu. Astaga Jaghad kamu sekarang sudah beda ya! Aku sampai pangling tadi. Takut jika salah orang.
Je hanya tersenyum menanggapi Bu Sofia.