Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 60 - Sister Complex


__ADS_3

Camila Pov


" pagi dokter...."


Sayup terdengar di telingaku beberapa mahasiswi memberi salam pada seseorang. Aku yang baru saja memarkir motor matic ku melihat ke kanan dan kekiri mencari sumber kekepoanku.


Nampak seorang lelaki bersepeda yang baru saja melewatiku.


" itu kan si dosen killer. Kenapa dipanggil dokter. Memang nya dia dokter apa dosen sih" aku membatin.


Kulanjutkan langkahku dengan tergesa karena lima belas menit lagi aku ada kelas dan sialnya adalah kelas si dosen killer. Enggak mau lagi aku dipermalukan seperti tempo hari.


Ruang kelasku sudah di depan mata dan aku baru menyadari jika sepertinya ponsel ku tertinggal di rumah. Kurang yakin juga sih, kubuka tas ku berusaha mencari benda pipih yang merupakan benda wajib kedua yang harus selalu kubawa selain dompet.


Mencari dan mencari, mengobrak abrik isi di dalam tas, masih dengan berjalan tapi fokusku pada handphone. Hingga tubuhku sedikit terpental kebelakang. Aku menabrak sesuatu.


Saat aku mendongak mendapati dosen killer lah yang berdiri di depanku. Mulutku menganga, jadi aku tadi menabrak nya dan membentur dada pak dosen.


Lelaki itu menatapku garang.


" ehm... Maaf saya tidak sengaja." Ucapku merasa takut dan bersalah.


Tanpa kata dia melewati ku begitu saja. Membuatku sedikit salah tingkah sebelum akhirnya mengikuti nya masuk ke dalam kelas.


" ppsstt.  Sttt......"


Aku celingukan dan mendapati Nadia yang memberi kode agar aku duduk di sebelahnya.


" lu tadi kenapa bisa menabrak dokter Allan. Untung saja lu ga dimarahin kayak waktu itu."


" dokter Allan?" aku mengernyit


" dosen baru... Tuh..." nadia menunjuk dengan dagu. Maksudnya menunjukan padaku jika yang dia maksud adalah dosen killer yang sedang ada di depan kelas.


" dosen apa dokter? Kenapa kamu panggil dokter. " tanya ku penasaran karena sudah kedua kali aku mendengar panggilan dokter untuk si dosen killer.


" astaga mila...lu ish parah memang.. "


Aku memang tak mengerti.


" apaan sih."


" lu memang bener-bener enggak ngedengerin ya pas dokter Allan memperkenalkan diri kemarin." ucap Nadia lirih.


Aku menggeleng. Memang benar aku tak menyimak perkenalan nya kemarin.


" pantesan elu nya ditegur gitu... " Nadia mencebik.


" jadi dokter Allan itu sebenarnya hanya dosen pengganti disini. Dia hanya akan mengajar kita selama satu semester doang. Profesi sebenarnya dia adalah dokter spesialis penyakit dalam. dan kebetulan nya lagi dokter Allan itu baru pindah dari RS di Singapore." aku manggut-manggut mendengar penjelasan Nadia.


" ehem.... " suara deheman membuatku dan Nadia segera menegakkan tubuh.


Dosen killer sedang menatap kami berdua.


" sudah siap menerima materi yang akan saya sampaikan? " tanya nya.


" siap dokter Allan. " jawab Nadia dan aku hanya bisa menunduk tak berani menatap lelaki dengan wajah datar itu.


*******

__ADS_1


Aku bernafas lega, akhirnya selesai sudah kelas nya dosen killer.


" Nad.... " Nadia yang kupanggil menoleh.


" kamu belum selesai tadi cerita tentang dokter Allan."


" duh ada yang kepo.... Cie... Cie..."


" ya emang sih aku kepo. Katamu kan dia pindahan dari Singapore. Tapi kok bisa fasih begitu berbahasa Indonesia meski pun agak agak cadel dikit...."


" ish kalau yang itu mah mana gue ngerti...... Eh tapi bener juga ya.... Dokter Allan itu kan muka-muka chinnes gitu.... Tapi kok fasih pake bahasa indonesia ya. Oh atau jangan jangan dia ada keturunan orang Indonesia kali. Eh lu mau kemana Mil. "


Tanya Nadia saat aku berdiri dari duduk ku.


" kantin. " jawabku singkat. Aku masih harus berada di kampus sampe sore karena jadwal kuliah hari ini padat merayap.


Sembari menunggu praktikum yang jadwalnya baru sejam lagi mungkin tak ada salahnya aku ke kantin dulu, sekedar minum es untuk melepas dahaga sekaligus mendinginkan pikiran.


" tunggu gue Mil...."


Nadia menyusulku yang sudah berjalan keluar kelas.


--------


" Camila......!!!" kuhentikan langkahku. Menoleh ke belakang dan aku terkejut mendapati Danu ada disini.


" Danu." cicitku.


" Siapa?" Nadia yang mengapit lenganku berbisik bertanya padaku.


" temen ku. Ehm. Nad kamu duluan aja ke kantin. Nanti aku menyusul. Aku temui temenku dulu ga papa kan."


" ehm... Kok kamu bisa ada disini." tanya ku dengan canggung karena aku beneran tak menyangka bisa mendapati Danu ada dikampusku.


Danu tersenyum." kenapa Telpon ku tak diangkat. " tanya nya kemudian.


" eh kamu menelponku? Maaf ponsel ku ketinggalan di rumah. "


" oh pantesan. Kutelpon berkali kali tak diangkat. Ya sudah kuputuskan buat mencarimu kesini. Ehm.... Mil... Bisa kita bicara sebentar. Ada hal yang harus aku sampaikan padamu."


" ya sudah kita bicara disana saja. " aku menunjuk taman yang tak jauh dari tempatku saat ini.


Aku duduk di salah satu bangku taman kampus. Danu ikut duduk di sebelahku.


" apa yang ingin kamu bicarakan padaku."


" Mil, entahlah aku sendiri bingung harus bicara seperti apa. Pernikahanmu dan uncle dirga benar benar membuatku shock. Hal yang tak pernah terpikirkan sebelum nya olehku."


" Danu, yang nama nya hidup,mati ,jodoh, rejeki semua sudah ada yang mengatur. Termasuk pernikahanku dengan om Dirga. Aku pun juga tidak pernah menyangka jika akhirnya  menikah dengan uncle mu. Mungkin memang aku dan om Dirga sudah ditakdirkan berjodoh."


" Berjodoh...ckck...lantas bagaimana denganku ?. Kamu tau sendiri kan jika aku menyukaimu sejak dulu. Dan aku selalu berharap akan bisa menikah denganmu. Oleh karena itu aku telah berusaha bersungguh sungguh kuliah di london karena aku ingin menjadi orang sukses yang bisa dibanggakan. Aku ingin membawa kesuksesan itu di hadapanmu."


Aku diam tak tau harus berkata apalagi.


" Mil, berikan aku kesempatan untuk bisa membuktikan padamu jika aku memang benar-benar serius. Kasih aku waktu untuk menyelesaikan studyku. Setelahnya aku pasti akan pulang dan melamarmu."


" tunggu. Apa tadi kamu bilang.melamarku ? Apa kamu ga salah. Danu, aku ini sudah menikah loh. "


" aku tau. Tapi.... bukankah uncle Dirga akan segera mengakhiri pernikahan kalian. "

__ADS_1


Aku menunduk, menghela nafas dan menghembuskan nya kasar. Entahlah mendengar kata yang diucapkan Danu barusan membuatku sakit hati. Aku pun tak pasti apakah sakit hati pada Om Dirga yang jelas-jelas akan mencampakkanku atau justru sakit hati pada Danu yang dengan tidak punya hati justru berbahagia jika om Dirga menceraikanku.


" Danu. Tolong dengarkan aku. "


Danu menatapku. Dengan menekan rasa emosi yang sudah diujung tanduk, perlahan kurangkai kata kata  agar danu mampu mercerna nya dengan baik.


" Tolong mengerti aku . Selama ini aku selalu menganggapmu teman. Teman terbaik ku. Dari kita sekolah hingga saat inipun perasaan yang kumiliki untuk mu tak lebih dari seorang teman sekaligus sahabat. Aku tidak bisa memberikan kedudukan lebih padamu. Jadi  .... seandainya om dirga benar benar menceraikanku, aku tetap tak bisa menerima cintamu.  Danu maafkan aku jika kejujuranku mengecewakanmu. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu padamu. "


" tak bisakah kamu memberikan kesempatan padaku. " tanya danu memelas.


Aku menggeleng.


" Danu, kamu ini lelaki yang baik. Dan kamu berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari aku ."


" tapi aku hanya ingin kamu. Bukan yang lain. "


" sekali lagi aku minta maaf. Aku beneran tidak bisa. "


" apa karena kamu lebih memilih tetap menjadi Aunty ku hingga kamu tidak mau memberikanku kesemptan barang sedikitpun.?"


Aku terdiam tidak mengelak juga tidak membenarkan.


" baiklah kalau seperti itu. Akupun juga tidak boleh memaksamu. Tapi kamu harus tau jika aku masih sangat mencintaimu."


Setelah mengatakan itu Danu berdiri dari duduknya. Aku masih diam terpaku di tempatku.


" aku pamit dulu. Terimakasih karena kamu sudah mau menemuiku. "


Aku tersenyum, Danu berbalik dan berjalan meninggalkanku yang masih duduk di bangku taman.


Baru aku berdiri dari duduk ku kala Danu kembali menoleh ke belakang, menatapku dengan raut wajah yang sulit kudiskripsikan.


" dua hari lagi aku balik ke London. Kuharap kamu berubah pikiran dan mau memberikanku kesempatan. "


Sebelum berlalu meninggalkanku dia kembali berucap.


" I love you Aunty. "


Setelahnya Danu benar-benar pergi meninggalkanku.


Aku tak mengerti kenapa susah sekali memberi pengertian pada Danu . Aku tak mungkin bisa mencintainya karena cintaku sudah tertambat pada uncle nya.


Saat aku berbalik ingin meninggalkan taman, betapa terkejutnya aku. Pak Dosen Killer berdiri tak jauh dariku. Tatapannya tertuju padaku.


" sejak kapan orang itu ada disini  . Jangan-jangan dia menguping pembicaraanku dan Danu barusan. " batinku dalam hati.


Dengan canggung aku berjalan semakin mendekat padanya karena aku ingin pergi ke kantin menemui Nadia. Pak Dosen killer masih menatapku dengan tatapan datarnya, aku pun tak mau ambil pusing karena jalan satu-satu nya menuju kantin tetap harus melewati dirinya.


" Sister Complex. " ucapnya.


Dokter Allan membalikkan badan, berjalan mendahuluiku tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.


Aku mengernyit. " sister complex " kembali aku mengulang ucapan nya barusan.


Siapa yang dia maksud sister complex.


Ah atau jangan-jangan dia mendengarkan Danu yang bilang i love you aunty tadi.


Ish....dasar dosen kepo. Tak tau apa-apa berani asal ngomong saja. Siapa juga yang sister complex. Jelas jelas aku dan danu tak ada hubungan darah.

__ADS_1


Aku menggerutu seorang diri merasa sangat kesal dengan dosen killer berwajah datar bernama dokter Allan.


__ADS_2