
Dirga membelalakkan mata nya. Kenapa jadi dia yang kena sasaran sang istri. Bahkan istri nya ini tidak peka sama sekali.
" Sayang ... jangan suka menuduh orang sembarangan. Papa nggak punya musuh ya. "
" Lalu siapa yang sudah tega merusak mobilku kalau bukan orang yang memang berniat jahat padaku."
" Sayang coba ingat - ingat. Kira - kira ada hal yang janggal tidak dengan kejadian itu. Sayang pikir baik - baik. Runtut kronologis nya. "
Dirga benar, Camila berusaha berpikir. Mengingat - ingat tentang hal hal yang terjadi hari itu. Dokter Rasya. Satu nama yang begitu saja terlintas di dalam memori otak nya. Bagaimana bisa dokter Rasya berada di tempat yang sama disaat kejadian itu. Seperti sudah di setting sebelum nya.
Camila menghadap suaminya, menatap Dirga lekat - lekat.
" Mungkinkah dokter Rasya dalang dibalik semua ini?"
Dirga tersenyum lalu mencium pipi Camila sekilas.
" Tuh kan sayang pinter... dari awal aku sudah curiga semua ini kelakuan nya Rasya. Bagaimana mungkin di saat yang bersamaan Rasya ada di tempat yang sama dengan sayang. "
" Waktu itu aku juga nggak tanya Pa, kenapa dia kok bisa lewat di depan kampus. Selama perjalanan aku juga nggak banyak ngobrol. Yang di pikiran aku segera sampai rumah. "
Dirga mengusap lembut pucuk kepala istri nya.
" Aku tahu sayang pasti ketakutan. Lain kali jangan sampai lupa nge cahrge ponsel. Biar tidak fatal akibatnya. "
" Ya, kok bisa kebetulan ponsel ku mati. Bener - bener kondisi yang sangat menguntungkan buat dokter Rasya."
__ADS_1
" Kita belum punya bukti yang akurat. Jadi kita tidak bisa menuduh sembarangan pada dokter kampret itu. Hanya pesanku, sayang harus selalu waspada dan harus berhati - hati. Karena sudah kelihatan si Rasya itu punya niatan yang tidak baik. "
" Iya Pa. Terimakasih selalu mengingatkan ku. "
Mereka berdua saling tersenyum. Camila sudah merentangkan kedua lengan nya dan Dirga menarik tubuh Camila ke dalam pelukan nya. Mereka berdua berpelukan saling menguatkan.
***
Seusai dari kantor, Dirga mengantar Mila sampai kampus. Setelahnya ia tinggalkan Camila untuk pergi ke bengkel. Melihat kondisi mobil istri nya.
Ya, tukang bengkel sudah menjelaskan pada Dirga kerusakan yang terdapat pada mobil Camila dan itu adalah kerusakan yang di sengaja. Beruntung nya bukan rem yang dipotong atau sejenisnya. Ini memang sengaja dibuat agar mobil tidak bisa di starter. Ah lega Dirga, keselamatan istri nya tetap lah nomor satu. Jika seperti ini, Dirga memang perlu extra waspada menjaga istri nya. Apapun akan ia lakukan termasuk jika harus mengawal istri nya kemanapun dia berada. Biarkan saja dia dikata lelaki posesif tapi ini semua demi kebaikan keluarga mereka. Demi kelangsungan rumah tangga nya. Karena yang Dirga lihat, Rasya itu sudah terobsesi pada istri nya. Sumpah, lelaki itu benar - benar gila.
Dulu Dirga juga pernah berbuat hal gila seperti itu dengan menikung Camila dari keponakan nya, Danu. Apa mungkin sekarang ia kena karma nya. Dirga menggelengkan kepala berkali - kali.
Seberat apapun cobaan pasti akan ia hadapi. Dia tidak akan mau menyerahkan Mila begitu saja pada Rasya.
Setelah nya Dirga masuk ke dalam mobil dan menjalankan kembali mobil nya menuju kampus istri nya. Perasaan nya tidak enak. Entahlah, dia terus saja kepikiran Camila.
Mobil Dirga mulai mendekati kampus Mila tapi dia merasa curiga melihat ada mobil berwarna putih yang ia kenali adalah mobil nya Rasya, sedangĀ berhenti tak jauh dari gerbang kampus.
Dirga sedikit berpikir perlukah ia keluar dan menemui Rasya? Lalu buat apa juga, dia malas ribut - ribut apalagi ini di jalanan.
Baiklah, Dirga memilih mengikuti permainan Rasya saja. Sejauh mana dokter gila itu akan berusaha mendapat kan istri nya.
Mobil Dirga memasuki gerbang kampus, tak peduli apakah Rasya mengenali nya atau tidak. Setelah memarkir mobil nya, Dirga segera mengirimkan pesan pada sang istri jika ia sudah menunggu nya di parkiran.
__ADS_1
Sekitar tiga puluh menit berlalu, Dirga mendapati sang istri mengetuk kaca mobil nya. Segera ia buka dan menyuruh istri nya untuk segera masuk.
" Sayang, di luar ada Rasya?" ucap Dirga begitu Camila masuk ke dalam mobil.
" Apa? Dokter Rasya? Di luar mana?" Camila jadi panik sendiri.
" Sebelum gerbang masuk kampus."
" Papa ketemu dia?"
" Aku lihat mobil nya terparkir disana. Tapi kubiarkan saja. "
" Ngapain coba dokter Rasya disana. Ya sudah Pa, ayo buruan kita pulang saja. "
Dirga mulai menjalankan mobil nya, perlahan keluar dari gerbang kampus. Dan benar saja dugaan Dirga, mobil Rasya mengikuti dari belakang.
" Dia ngikutin kita, Pa. "
" Sepertinya iya. Biarkan saja. "
Dirga tetap melajukan mobil nya tanpa mempedulikan mobil Rasya yang masih mengikuti nya. Akan tetapi begitu mobil Dirga memasuki kawasan perumahan tempat tinggal mereka, Mobil Rasya tidak lagi mengikuti mereka. Sungguh lega hati Camila. Memang benar - benar psikopat, sebenarnya apa yang Rasya mau, apakah yang Rasya sampaikan pada nya tadi memang benar ada nya. Camila jadi takut sendiri pada dokter itu.
Sementara itu Rasya membawa mobil nya tak lagi mengikuti Dirga dan Camila karena mereka berdua ternyata langsung menuju arah rumah mereka. Sial, ternyata sekarang Camila benar-benar dikawal oleh Dirga. Atau mungkin Rasya perlu pindah rumah. Jadi tetangga mereka sepertinya seru juga. Setiap hari bisa memperhatikan aktifitas mereka sembari mencari celah untuk mendekati Camila.
Entah untk berapa kali Rasya mengumpat. Bahkan dia sudah mengutarakan semua perasaan nya pada Camila tapi nyata nya Camila tak menggubrisnya. Apa dipikir nya dia hanya main - main dan tidak serius. Hei, dia serius dengan perasaan nya. Dia tak peduli sekalipun Camila telah bersuami. Jika perlu Rasya sanggup membuat Camila bercerai dari suaminya lalu menikah dengan nya. Itu akan benar - benar ia lakukan jika seandainya Camila tetap saja jual mahal kepada nya.
__ADS_1
Masalah hati tak bisa di bohongi. Dan Rasya tidak malu mengakui dia mencintai istri orang. Buat apa juga dia harus malu. Masalah hati bukan dia yang mengatur nya. Hidup, mati, Jodoh, rejeki semua sudah ada yang mengatur nya dan dia sebagai manusia hanya tinggal menjalani nya saja.
Termasuk dengan perasaan cinta nya yang tak terbendung pada Camila. Dia hanya bisa mengungkapkan apa yang memang ia rasakan dan dia juga akan berusaha mewujudkan apa yang dia inginkan. Sekalipun dia harus berperang dengan suami Camila dia tetap akan lakukan. Rasya akan terus maju dan Pantang mundur sampai dia berhasil mendapatkan Camila dan menjadikan Camila sebagai istrinya apapun itu caranya.