Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 34


__ADS_3

Mila mendorong pelan dada suaminya, dia sudah kehabisan nafas karena ciuman Dirga yang bertubi - tubi tak ada habisnya.


" Pa.... Kelakuanmu...." Mila menggeram. Punggung tangan nya berusaha mengusap seputar bibirnya yang belepotan.


Melihat tingkah istrinya justru membuat Dirga tertawa.


" Bahkan ini di parkiran dan papa bisa - bisa nya merusak make up ku seperti ini." kembali Mila menggerutu.


Tangan Dirga terulur mengusap pipi istri nya yang merah merona.


Mila segera membuka tas nya, mengambil tas mske up yang selalu ia bawa kemana - mana. Diraih nya selembar tissue. Diusap seputar bibirnya. Dihilangkan sekalian sisa lipstik yang masih belepoten.


" Sayang, kalau pergi ke Rumah Sakit, lebih baik tak perlu pakai make up segala."


" Memang nya kenapa?"


" Itu si Rasya bisa - bisa tak mau memalingkan wajah nya kalau lihat sayang cantik begini. Aku saja rasanya pingin bawa sayang pulang lagi kok."


" Papa.... Jangan menggodaku seperti itu. "


Dengan cepat dioles kembali lipstik di permukaan bibirnya. Lalu memastikan kembali jika penampilan nya sudah perfect tak ada cela.


" Oh ya Pa, mobilku gimana? "


" Aku sudah nyuruh orang buat ambil di kampus."


" Owh.. Oke. Makasih Pa. "


" Sama - sama sayang."


" Ya sudah, aku turun dulu Pa. Takut nanti telat."


" Aku ikut."


" Papa mau ikut ke dalam?" tanya Mila memastikan.


" Iya."


Camila mengangguk. Lalu mereka berdua turun dari dalam mobil.


Berjalan berdua memasuki lobi Rumah Sakit. Menjadi pusat perhatian karena Dirga yang kali ini kembali berpenampilan parlente. Dia akan ke kantor dan ada meeting dengan klien.


Tangan Dirga meraih jemari tangan istri nya.


" Ingat pesanku..." kembali Dirga mengingatkan. Mila mengangguk lalu tersenyum saat berpapasan dengan beberapa perawat yang juga mengenalnya.


" Pagi dokter Mila...."

__ADS_1


" Pagi suster...."


Sapa beberapa suster yang bertemu dengan nya.


Mereka berdua berhenti di depan ruang praktek Mila.


Dirga mengusap pucuk kepala istrinya.


" Aku pergi dulu. Nanti aku jemput."


Camila mengangguk. Menatap kepergian suaminya hingga punggung Dirga tak terlihat lagi.


Masuk ke dalam ruang praktek nya sudah disambut oleh suster nya.


" Tumben diantar suami dokter."


" Mobil saya mogok sus."


" Dok, tanya boleh? "


" Apa suster? "


" Dokter dulu bisa dapat suami tampan bagaimana cara nya. Ya Tuhan, dokter. Saya betul - betul ngiri loh."


" Suster ini bisa saja. Nama nya juga jodoh tidak akan pernah tahu bagaimana caranya dan dengan siapa kita dijodohkan."


Camila melangkah menuju meja nya lalu menyimpan tas kerjanya.


" Tuhan mengirimkan jodoh pada saya pun juga lebih cepat dari semestinya. Naik semester dua saya menikah. " ucapan Mila membuat suster terbengong - bengong. Pasalnya selama ini Mila tidak pernah mengumbar hal pribadi pada siapapun.


" benarkah itu dokter? "


" Iya. Kalau nama nya sudah jodoh, saya bisa apa selain menerima nya dengan ikhlas dan lapang dada. Dan alhamdulillah hingga di tahun ke delapan pernikahan kami masih kompak dalam segala hal. Dan semoga  kami selalu rukun selamanya. Amin. "


" Amin. "


****


Begitu Dirga memasuki ruangan, Ferdy pasti akan langsung menyusul bos nya.


" Selamat pagi bos. " dengan sedikit takut takut Ferdy menyapa Dirga.


Pasalnya raut muka Dirga sudah tidak enak sekali untuk dilihat. Muka yang amat sangat masam hingga kegantengan bos nya yang selalu terpancar, kali ini mendadak hilang entah kemana.


" Apa Jadwal ku hari ini."


" Bos... Seperti nya bos sedang tidak baik baik saja ya."

__ADS_1


Dirga mendongak menatap Ferdy. Ditatap bosnya membuat nyali Ferdy langsung menciut. Dia takut salah bicara tapi memang raut muka Dirga sangatlah kusut.


" aku pernah cerita kan tentang seorang dokter bernama Rasya. "


Fedy mengangguk." yang teman dek Mila itu kan bos. Memang nya dia kenapa?"


" lelaki itu sepertinya sudah gila."


" gila? Maksud bos?"


Meluncur lah cerita dari mulut Dirga. Ferdy menyimak semua apa yang Dirga sampaikan. Dan ekspresi Ferdy yang sudah ikut ikutan tersulut emosi tanpa sadar menggebrak meja di hadapan nya.


" dasar dokter sinting... Bos....! "


Dirga sampai terkejut dibuatnya. Bagaimana mungkin Ferdy ikut ikutan emosi hanya dengan mendengar cerita nya. Apa mungkin cerita nya terlalu mendramatisir. Tapi memang kenyataan nya seperti itu. Dan bukan hanya dia sendiri saja yang menyebut Rasya itu sinting alias gila.


" Bos, kurasa memang bos harus segera membuat perhitungan dengan dokter itu."


" Bagaimana cara nya? Aku belum ada bukti otentik yang menyatakan bahwa si Rasya itu memang benar suka pada Camila."


" Harus ya pakai bukti otentik segala. Lagian dari perilaku yang ditunjukkan oleh si dokter itu sudah menjadi bukti. "


" Tapi si Rasya belum mengatakan kalau suka sama Mila. "


" Jadi cerita nya bos sedang nungguin dokter Rasya buat ngungkapin perasaan nya pada dek Mila, begitu? "


Seperti kebiasaan Dirga jika kesal dengan ucapan Ferdy maka bolpoin pun melayang. Dan Ferdy pun selalu sigap menangkap nya hingga tak sampai mengenai dahi nya.


" Sialan...bukan begitu. Mana aku rela dia ngungkapin cinta ke istriku. "


" lha habisnya tadi bos bilang...."


" bukan seperti itu maksud ku...tapi... Ah sudah lah Fer pusing kepalaku."


" Baiklah bos. Untuk sesaat bos lupakan dulu persoalan dek Mila. Sekarang bos siap siap pelajari lagi proposal yang kemarin aku email. Satu jam lagi kita meeting. Aku keluar dulu bos. Jika butuh apa - apa jangan ragu buat telpon. "


Ferdy beranjak dari duduk nya dan pergi meninggalkan ruangan bos Dirga.


Sepeninggakan Ferdy, Dirga memijit pelipisnya. Dia sedikit berpikir apa iya dia terlalu bersikap berlebihan. Maksudnya rasa cemburu dan posesif pada Mila. Sebegitu tidak rela nya ada lelaki yang mengagumi istri nya. Tapi bukan kah itu hal yang wajar. Seorang suami yang sangat menyayangi istrinya dimana mana juga akan melakukan hal yang sama. Meskipun sebuah kepercayaan sangat dijunjung tinggi dalam sebuah hubungan pernikahan.


Apa yang Dirga lakukan semata mata untuk menjaga kelangsungan dan keharmonisan rumah tangga mereka. Jangan sampai ada kerikil kecil yang sanggup menghancurkan rumah tangga nya bersama Camila. Selama ini dia begitu berusaha menjaga Mila beserta anak mereka. Dia tulus mencintai keluarganya. Tak sedikitpun dia pernah merasa tertarik atau tergiur dengan godaan - godaan yang kadangkala menghampiri nya.


Dirga selalu menjaga diri dengan sebaiknya dan dia pun juga akan melakukan hal yang sama. Menjaga Mila dari Rasya. Jika Rasya memang lelaki baik yang tidak punya niat apa - apa pada istrinya, mana mungkin lelaki itu berani datang pagi - pagi ke rumah untuk menjemput Mila. Astaga, bahkan Rasya pun tahu jika Mila telah bersuami. Atau.... Tunggu... Ah Dirga paling benci jika pikiran negative mulai merasuki nya. Selalu bisa menggoyahkan iman nya. Dan ujung ujung nya rasa kepercayaan nya mulai di pertanyakan.


Mungkinkah semalam Rasya memang sudah janji dengan Mila untuk menjemput nya?


Argh.... Sial pemikiran bodoh seperti apa ini

__ADS_1


__ADS_2