Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 31 - Akhirnya Menikah


__ADS_3

Dirga pov


Kulihat ferdy yang sedari tadi masih memandang Camila tak berkedip. Jangan sampai ferdy terpesona pada kecantikan Camila, calon istriku.


" Fer, kita pulang." perintahku dan ferdy tak bergeming.


" ferdy....!! " suara ku sedikit meninggi membuat ferdy terjengkit kaget.


" iya bos."


" kita pulang. SEKARANG"


" siap bos."


" kamu tunggu di mobil." perintahku padanya. Ferdy segera beranjak keluar, tapi kemudian kembali lagi masuk ke dalam.


" bos, belum pamitan."


Aku menggeram kesal pada asisten ku itu.


" Mila, Bunda mana."


" ada di belakang."


Tanpa dipersilahkan aku sudah masuk ke dalam, melewati ruang keluarga dan menuju dapur. Kulihat bunda Anyelir sedang duduk di meja pantry menulis sesuatu di buku yang ada dihadapan nya.


" tante." panggil ku dan Bunda Anyelir mendongak menatapku, tersenyum lalu berdiri dari duduk nya.


" saya pamit mau pulang dulu."


" loh kenapa kok buru buru. baru juga datang sudah pamit mau pulang ."


" masih ada sedikit pekerjaan di kantor, tante."


" nak Dirga jangan panggil tante. Panggil bunda saja seperti Camila. Toh nak Dirga ini juga bakalan jadi anak Bunda."


Bunda Anyelir menghampiriku.


" baiklah Bunda. Kalau begitu saya pamit. " kucium punggung tangan nya.


" oh ya Bun, semua berkas berkas punya saya untuk keperluan pernikahan sudah beres. Berkas punya Mila bagaimana? Apa sudah disiapkan. "


" owh itu Bunda juga sudah siapkan. Justru Bunda ini malah nunggu dari nak Dirga. "


" kalau begitu besok Dirga kesini lagi. Nanti Dirga bawa ke kantor urusan agama untuk pendaftaran pernikahan. "


" iya, lebih cepat diselesaikan lebih baik. Biar nanti pas hari H semua lancar. "


Kami berdua berjalan menuju ruang tamu. Tampak ferdy sedang berbicara dengan Camila. Sepertinya si ferdy itu sedang berusaha mendekati Mila dengan mengajak nya berkenalan.


Memang sedari tadi aku tak berniat mengenalkan mereka berdua. Sengaja kulakukan agar ferdy tak banyak tanya tentang siapa Camila. Aku selalu terngiang dengan persyaratan yang Camila ajukan. Agar tidak ada orang lain yang tau tentang pernikahan yang akan kami lakukan. Jadi aku pun juga tak berniat memberitahukan hal ini pada ferdy. Meski ferdy itu asisten Pribadi ku yang keseharian nya banyak dia habiskan bersamaku. Tapi aku masih menghormati Camila dan sebisa mungkin menepati janjiku padanya.


" ehem. Ferdy kita pulang sekarang."


" baik bos. Tante, ferdy pamit pulang dulu."


" iya. Hati hati di jalan."


" aku pulang. Besok kita ketemu lagi." bisik ku di telinga Camila. Dan gadis itu melotot menatapku. Aku tertawa melihat ekspresi nya sebelum keluar dari rumah bunda Anyelir.


-------


Sepanjang perjalanan ferdy terus saja berceloteh, bertanya ini itu, penasaran dengan sosok Camila. Tapi aku pun masih setia dengan kebungkamanku tak berniat untuk menjawab satupun pertanyaan Ferdy.


" bos... Bos... Si bos ini ditanya dari tadi diam saja. Aku kan hanya ingin tau siapa gadis cantik tadi. Mana bos juga ga memperkenalkan aku pada nya."


" bisa diem ga kamu Fer. Sakit telingaku sedari tadi kamu berisik."

__ADS_1


" aku kan hanya tanya bos. Salah sendiri bos ga mau jawab. "


" diem atau turun disini kamu. "


" aduh jangan gitu bos.... Iya iya aku diam. "


Huft lega rasanya akhirnya Ferdy mau diam juga. Lelaki itu tingkat keingintauan nya begitu tinggi atau memang jangan-jangan dia tertarik pada Mila.


" bos.... Dek Mila cantik ya. Aku kan masih single bos. Bantu kenapa bos buat deketin dek Mila. "


Mataku melotot, apa dia bilang tadi, Dek Mila. Sejak kapan ferdy memberi embel embel julukan dek pada Mila. Ya memang Camila itu masih kelihatan sangat muda. Cocok buat di jadiin adek. Tapi mana aku rela jika Ferdy ngejadiin Camila inceran nya.


" cari wanita lain saja. Masih banyak gebetan lu yang single."


" tapi dek Mila itu cantik nya ga ada yang nandingin bos. Masih polos tanpa polesan....cantik natural....."


Aku mendengus sebal bagaimana bisa Ferdy terus membicarakan Camila. Untung saja mobil sudah memasuki area perkantoran. Jadi aku tak perlu mendengar ocehan Ferdy tentang Camila.


**********


" malam ma... Belum tidur. " kucium kedua pipi mama yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.


Melesak kan tubuhku di dekat mama. " tumben sudah pulang. Ga ke club?"


Aku menggeleng. Tubuhku sangat lelah hari ini. Jadi aku langsung menuju rumah mama selepas dari kantor.


" oh ya sayang, mama sudah telpon tante Vivi. Kapan kamu mau bawa Camila untuk memilih baju untuk kalian." tante Vivi itu adalah pemilik butik langganan mama.


" Dirga serahkan semua nya ke mama ya. Maaf ma Dirga harus ke Riau besok siang. Mendadak dapat telpon dari proyek tadi sore. " kataku.


" kamu ini mau menikah kok ya masih saja sibuk. Luangkanlah sedikit waktu mu."


" iya ma. Yang penting berkas berkas nya kelar dulu. Yang lain menyusul. Lagian Camila maunya juga hanya sederhana saja. "


" mama sih terserah kalian. Yang penting mama bisa melihatmu menikah. "


" ehm... Kamu yakin nda perlu kasih tau Danu dan kakak mu. "


" kalau Danu kurasa tidak perlu diberitahu. Biarkan Danu fokus pada studi nya. Sedang kak Bumi terserah baik nya mama bagaimana. Toh meski aku beritahupun belum tentu kak Bumi mau datang. "


" begitulah kakak mu. Mama sendiri sebenarnya juga malas memberitahunya. "


" Dirga ke kamar dulu ma. Gerah mau mandi. Mama istirahat saja ini sudah malam. "


" iya sebentar lagi mama istirahat. Ini masih nunggu papamu. "


" memang papa kemana ma. "


" owh itu tadi papa ada undangan di gang depan. "


" oh... Ya sudah Dirga tinggal dulu ya ma. "


Aku beranjak meninggalkan mama.


********


Semua berkas yang berhubungan dengan syarat pernikahan sudah selesai. Papa lah yang sudah banyak membantu ku. Karena akhir akhir ini aku memang sangat sibuk. Banyak sekali proyek yang harus kutangani. Sementara papa, semenjak mama sering sakit beliau sudah jarang aktif berada di kantor. Hanya saat ada rapat pemegang saham saja baru papa akan datang. Selebihnya semua urusan tentang perusahaan papa serahkan sepenuhnya kepadaku.


Aku harus berterimakasih pada papa dan mama. Mereka berdua yang begitu antusias pada pernikahan ini. Semua urusan yang berhubungan dengan pernikahan sudah mereka atur semua. Aku tinggal tau beres. Meski hanya pernikahan sederhana tetap saja segala sesuatu nya terlalu ribet. Sebenarnya aku kasihan melihat mama yang sibuk kesana kemari seperti menyiapkan baju untuk acara ijab qabul, menyiapkan cincin dan sebagainya. Aku takut mama kecapekan. Sudah kuingatkan tapi mama yang terlalu antusias pada pernikahanku tidak menghiraukan segala laranganku.


*******


Hari ini tepatnya malam nanti acara pernikahanku dan Camila akan diadakan di kediaman Bunda Anyelir. Sejak pagi tadi mama sudah sibuk sendiri menyiapkan beberapa hantaran yang akan dibawa ke rumah Bunda Anyelir. Dari pihak keluargaku hanya papa, mama, dua orang ART dan sopir papa yang akan mendampingiku.


Sejak pertemuan terakhirku dengan Camila tiga minggu lalu, setelahnya aku tak pernah lagi bertemu dengan nya. Karena pada keesokan harinya ternyata aku harus terbang ke Riau untuk meninjau proyek seminggu lamanya. Dan setelahnya aku harus menangani proyek baru di jakarta selama sepuluh hari. Mungkin ini adalah rezeki bagi orang yang akan menikah hingga aku mendapat begitu banyak proyek sampai kewalahan.


" Sayang, kamu belum siap siap juga. Ini sudah jam empat dan kamu masih nyantai disini."

__ADS_1


Mama menghampiri ku yang sedang bersandar si kursi taman belakang rumah. Sebenarnya aku sedikit gugup hingga aku bisa berada disini untuk sedikit menenangkan diriku.


" iya ma. Ini juga Dirga mau siap-siap. "


Aku beranjak dari duduk ku. Di meja ruang keluarga beberapa bingkisan sudah tertata rapi. Entahlah apa aja isinya aku tak sempat melihat lihat karena kini mama telah mendorongku naik tangga menuju kamar.


Mama sendiri kurasa juga sudah siap akan didandani oleh seorang perias yang sengaja disewa nya.


" papa kemana ma." tanyaku sebelum masuk ke dalam kamar.


" ada di depan. Lagi nyiapin mobil sama parman." jawab mama. Parman adalah sopir pribadi papa dan mama.


" owh ya sudah kalau begitu. Dirga siap siap dulu. "


**********


Tenda dan beberapa kursi berjajar rapi di halaman rumah bunda Anyelir. Aku turun dari mobil diikuti papa dan mama. Dua orang ART kami dan parman yang akan menjadi saksi dari pihak keluargaku.


Kedatanganku disambut oleh beberapa tetangga dekat rumah Bunda yang kebetulan juga diundang di acara ini. Aku semakin gugup saat Bunda Anyelir keluar bersama Keenan. Mereka menyambut kedatangan kami.


" maaf ya mbak yu kami sedikit telat." ucap mama meminta maaf. Tadi memang kami sedikit terjebak macet. Hingga saat tiba disini ternyata sudah banyak orang yang berkumpul.


" oh ga apa apa. Ayo silahkan masuk."


Kami bersalam salaman saat tiga orang keluar dari dalam ruang keluarga. Satu pria paruh baya yang baru pertama kali ini kulihat, satu wanita Bule dan satu pria muda yang wajahnya mirip dengan Keenan.


" oh iya kenalkan. Ini papa nya Camila." Bunda Anyelir memperkenalkan kami pada pria paruh baya itu.


" senang dapat bertemu dengan om." ucapku. Pria itu tersenyum ramah.


" senang juga bisa bertemu denganmu anak mantu. Ah ya jangan panggil om. Panggil saja papa. "


" baiklah pa... "


Papa Camila bersalaman dengan papa dan mamaku.


" dan kenalkan ini mama nya Camila" bunda memperkenalkan wanita Bule yang berdiri di samping papa Camila.


Mamaku sempat kaget melihat ke arah Bunda. Mungkin Bunda tau jika mama tampak bingung. Aku rasa wanita Bule ini lah mama nya Nathalie.


" jangan kaget mbak yu. Maaf saya belum pernah cerita. Jadi Mila itu punya satu orang bunda yaitu saya dan satu orang mama dan ini mama jane. Mama nya Camila."


" owh.... Iya iya.. Tadi sedikit bingung saya nya." mamaku tersenyum kikuk.


Dan satu lagi pria muda yang wajahnya mirip Keenan ternyata kakak kedua Mila yang bernama Andrew. Aku baru pertama kali ini juga bertemu dengan nya karena selama ini Andrew tinggal di Bondowoso.


" bagaimana nak Dirga, sudah siap kan? . kalau begitu sekarang kita mulai acaranya. Kebetulan Pak penghulu juga sudah datang." ucap papa Camila padaku.


" saya siap pa." jawab ku dengan mantap.


Kulihat tiga orang Bapak bapak masuk ke dalam yang kutahu mereka adalah penghulu dan petugas KUA.


Duh, semakin gugup saja kalau begini. Kutarik nafas dalam dan mencoba menenangkan diriku. Jangan sampai aku tak bisa mengucapkan ijab qobul dengan lancar. Bisa malu kan...


Tunggu, sedari tadi aku tidak melihat Camila ada di sini. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan memang benar Camila tidak ada disini. Kemana gadis itu sekarang. Kenapa tidak tampak padahal aku sudah kangen karena lama tak bertemu dengan nya.


Mama menjawil lengan ku, dan kini menariknya agar duduk di hadapan bapak penghulu dan papa nya Camila.


" rileks sayang.... Jangan tegang begitu." bisik mama di telingaku.


" Mila mana ma. Sedari tadi Dirga ga lihat dia ada disini." ucapku lirih. Jujur aku sedikit khawatir. Jangan-jangan Mila kabur karena merasa terpaksa menikah denganku. Kugelengkan kepalaku mengusir pikiran-pikiran buruk yang tiba tiba muncul.


" itu dia.... Aduh cantiknya mantu mama." ucapan mama membuatku menoleh ke belakang. melihatnya yang berdiri disana dengan diapit oleh Danisha, istrinya Keenan. Satu kata untuk Camila, cantik.


Ah lega rasanya. Ternyata pikiran buruk ku barusan hanyalah ketakutan ku semata. Kutolehkan kepala ke samping, Camila duduk di sebelahku tanpa sedikitpun melihat ke arahku.


" bagaimana? Semua sudah siap. Mari kita mulai acaranya." ucapan pak penghulu membuatku kembali gugup.

__ADS_1


Tarik nafas dalam, keluarkan. Ayo rileks Dirga. Aku berusaha menetralkan detak jantungku saat tangan itu terulur kepadaku. Tangan hangat papa mertuaku yang kini menjabat tanganku dan menggenggamnya erat. Menetralkan ketegangan yang ada padaku. Tangan hangat itu secara perlahan menyalurkan energi positif padaku untuk dapat mengucap kalimat sakral dengan sekali tarikan nafas.


__ADS_2