
Dua hari lama nya Camila telah berada di Jakarta dan selama dua hari itu juga Camila belum ada kesempatan untuk bertemu dengan Daffi. Rencana nya baru hari ini dia akan menemui Daffi.
Saat ini Camila yang sedang menikmati makan siang di kantin Rumah Sakit, teringat akan Daffi dan ia ambil ponsel yang berada di saku jas dokter nya. Cukup lama Daffi tak menjawabnya dan begitu Camila ingin mematikan sambungan telpon nya tida tiba saja Daffi menjawab telpon nya. Dengan suara nafas yang sedikit ngos ngosan.
" Kak.... Darimana mana saja? Seperti habis lari. Nafas mu ngos ngosan."
Daffi terkekeh. " Aku sedang berada di proyek survey lokasi."
" Ah pantas saja. Apa aku mengganggumu."
" Tidak sama sekali."
" Bagaimana kalau hari ini kita bertemu."
" Baiklah."
" Hari ini aku shift pagi, dan jam kerjaku selesai jam tiga sore. Jam berapa kau Free kak? "
" Ya sudah, aku jemput kamu nanti sore, begitu pulang dari proyek aku langsung menuju Rumah Sakit. "
" Oke. Bye kak. "
Baru juga dia menyimpan kembali ponsel nya, Camila sudah dikejutkan dengan kedatangan Rasya. Camila yang memang sedang duduk seorang diri, tiba tiba saja Rasya sudah membawa nampan berisi makanan dan duduk di hadapan Camila.
" Hai dokter... Tidak masalah kan saya duduk disini?"
Apa iya Camila harus menjawab tidak boleh jika kenyataan nya lelaki itu sudah duduk dengan manisnya. Camila hanya mengangguk mempersilahkan. Setelahnya tanpa banyak kata Camila kembali menekuri makanan yang ada di dalam piringnya.
Rasya, sesekali melirik melalui ekor matanya. entahlah berhadapan dengan Camila selalu saja membuatnya salah tingkah. Dia tak suka dengan situasi seperti ini. Ingin mengatakan isi hatinya tapi tak berani. Sudah beberapa kali Allan mengingatkan nya tentang status Camila yang telah bersuami. Tapi Rasya tak peduli. Baginya, mengagumi seorang perempuan adalah hak setiap orang. Tidak peduli sekalipun itu istri orang.
__ADS_1
Lagipula dia hanya mengagumi Camila dan belum berniat mengambil perempuan itu dari suaminya. Biarkan saja jika orang lain mencemooh karena rasa suka nya pada Camila. Dia sendiri yang menjalaninya bukan orang lain. Dan orang lain tak akan tahu bagaimaan isi hati dan perasaan nya.
" Camila .... !"
Rasya sudah berani memanggilnya hanya dengan sebutan nama saja tanpa embel embel dokter seperti biasa. Bahkan camila sampai tersedak makanan nya. Buru buru dia tenggak air putih dalam kemasan botol yang ada di hadapan nya.
" Camila , hati hati makan nya. tidak usah terburu buru. " ucap rasya lagi.
Berada berdua bersama Rasya hanya membuat suasana hati Camila memburuk. Terlebih panggilan yang Rasya lontarkan kepadanya membuat perasaan Camila semakin tidak enak saja.
Camila hanya tersenyum tipis, Tangan Rasya terulur memberikan dia tisu.
Camila menerimanya dengan kikuk, " terimakasih. " Ucap Camila kemudian.
" Sama sama ... eum ... Camila, nanti kita selesai shift jam tiga kan ?"
pertanyaan Rasya sepertinya tak perlu Camila jawab, karena sepertinya lelaki itu hanya berbasa basi saja dengan nya, daripada tidak ada bahan obrolan.
Camila meghela nafas, dia harus menolak secara halus. Camila tak ingin membuat masalah dengan Rasya terlebih Rasya adalah keponakan dokter Hendra. Selain itu Camila juga harus menjaga hati dan menjaga dirinya. Berada jauh dari Dirga, Camila tak akan mengingkari kepercayaan yang telah Dirga beri untuk nya. Bagaimana mungkin Rasya memberikan tawaran kepadanya untuk pergi keluar bersama. Tentu saja Camila tak akan mau menerimanya. Kecuali jika Daffi lain lagi. Dirga sudah mengijinkan nya untuk bertemu dengan Daffi sekalipun tanpa keberadaan Dirga diantara Daffi dan Mila tetapi daffi bukan lah orang lain bagi nya.
" Maafkan saya dokter Rasya. Saya sudah ada janji hari ini. " Penolakan yang cukup halus Mila berikan untuk Rasya.
Dokter muda itu mendesah. Kecewa , jelas saja. Bagaimanapun juga, Camila baru saja menolaknya. Sekalipun kemungkinan penolakan ini sudah pernah Rasya prediksi. Hanya saja mendengar langsung kalimat penolakan dari mulut Camila, membuat dia merasa kecewa.
" Oh jadi anda sudah ada janji . "
Camila mengangguk. " Iya "
"Kalau saya boleh tau, Camila ada janji dengan siapa ? apakah kamu akan pergi keluar ke suatu tempat misalnya ?"
__ADS_1
Pertanyaan kali ini rasaya tak perlu Mila jawab. Sudah terlalu jauh keingintahuan Rasya tentang kehidupan pribadi nya.
" Maafkan saya dokter Rasya. Sepertinya pertanyaan anda terlalu jauh. dan maaf, saya tak bisa menjawabnya. "
Rasya tampak kecewa, tapi sebisa mungkin dia tetap tersenyum. " baiklah saya pun tidak akan memaksamu untuk menjawabnya."
Makanan yang masih berada di piring Camila susah untuk ia telan. Tak nyaman rasanya harus berduaan seperti ini dengan Rasya. kecuali jika Rasya bisa bersikap sewajarnya seperti rekan rekan nya yang lain, seperti dokter Allan misalnya. Tapi Rasya ini berbeda, dan camila bisa merasakan nya.
" Dokter Rasya, sepertinya saya harus permisi dulu. "
Rasya melirik piring milik Camila. " tapi makanan mu belum habis. "
" Tidak apa apa dokter. Saya sudah kenyang."
Camila berdiri, " mari dokter, saya duluan."
Camila sudah berlalu meninggalkan nya tanpa repot repot menunggu jawaban nya, dan Rasya hanya ternganga dibuatnya.
****
Sore harinya, Camila sudah selesai dengan tugas shift nya. Beberapa menit yang lalu dia sudah memberi kabar pada Daffi jika ia telah selesai bekerja, dan saat ini Daffi sedang menuju Rumah Sakit untuk menjemputnya.
Sambil menunggu Daffi, Camila menyempatkan diri menelpon Je. Setelah puas melakukan video call bareng Je, Camila ganti menelpon Dirga. Baru dua hari lamanya Camila tidak bertemu mereka berdua, Camila sudah sangat rindu luar biasa. Bahkan setiap malam Camila akan susah sekali memejamkan mata.
Beruntung dia punya suami sebaik Dirga. Setiap malam Dirga selalu melakukan video call bersama Camila, dan memastikan Camila sampai mengantuk hingga istrinya itu bisa tertidur barulah Dirga mematikan video call nya. Je, hanya dua hari menginap di rumah Bunda Anyelir, Dirga sudah menjemputnya. Dirga tidak bisa tidur sendirian tana Je juga Camila. alhasil sekarang giliran Bunda Anyelir yang tinggal di rumah Dirga.
Ponsel Camila berdering disaat baru saja dia mematikan sambungan telpon nya dengan DIrga. Camila sudah memberitahu suaminya jika dia ada janji untuk bertemu dengan Daffi.
Camila menajwab telpon dari Daffi, lelaki itu mengatakan jika sudah berada di Parkiran Rumah Sakit. Camila meminta Daffi untuk menunggunya sebentar. Bergegas ia bereskan barang barang pribadinya dan memasukan ke dalam tas .
__ADS_1
Segera melesat keluar dari ruangan , tanpa Mila sadari, saat perempuan itu berjalan tergesa di lorong Rumah Sakit ada Rasya yang mengikuti.