
Camila merasa ada yang tak biasa pada tubuhnya. Ini sudah dua minggu berlalu sejak kedatangan Nath waktu itu. Hampir setiap bangun tidur, dia akan merasakan pusing di kepalanya. Belum lagi rasa malas yang mendera, membuatnya hanya ingin bergelung di bawah selimut tebal nya. Tak lagi menghiraukan Je yang terkadang sudah loncat-loncat di atas ranjang demi membangunkan sang mama.
Seperti pagi ini, Dirga sedang mengancingkan kemeja biru lautnya. Sebelum nya Dirga juga sudah memandikan Je, memakaikan seragam sekolah Je hingga putranya tampil sangat menawan. Barulah giliran Dirga untuk mengurus dirinya sendiri.
Sementara itu sang istri masih terlelap di bawah selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Kejadian ini sudah tiga hari berlalu. Dan Dirga hanya memdiamkan saja dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Mungkinkah Mila sakit," gumam Dirga.
Setelah selesai merapikan kemeja nya, Dirga duduk di tepi ranjang. Disingkap sedikit selimut yang menutupi tubuh Camila hingga batas leher.
" Sayang...." ditepuk pelan pipi istrinya. Tapi Camila hanya menggeliat tanpa mau repot-repot membuka mata.
Ditempelkan punggung tangan Dirga di atas dahi Camila.
" Tidak panas," lagi - lagi Dirga bergumam.
Lalu Dirga membungkukkan badan.
Cup
Satu kecupan mendarat di pipi Camila. Namun tak ada reaksi.
Cup
Sekali lagi Dirga mencium pipi istri nya, dan Camila hanya bergumam lirih.
Menyerah sudah Dirga pada akhirnya. Membangunkan istrinya tak kunjung bangun dan ia harus segera mengantarkan Je sebelum pergi ke kantor.
Baiklah, Dirga biarkan saja Camila dengan dunia nya. Lalu ia membuka lemari bajunya dan mengambil satu jas miliknya.
Tak lupa tas kerja juga ponsel ia bawa keluar dari kamar. Mendapati Je yang sudah menunggu nya di meja makan.
" Pa, Mama mana?" tanya Je.
Dirga hanya tersenyum.
Je sudah cemberut, " Pasti masih tidur." Je menunduk tak semangat.
" Je sayang nya papa, Mama sedang tidak enak badan. Biarkan mama istirahat."
" Tapi kenapa setiap hari mama harus istirahat."
" Itu karena mama sedang tidak enak badan. Ayo sekarang Je sarapan nanti papa yang akan antar Je ke sekolah."
" Papa akan antar Je lagi? " ucap Je semangat.
" Iya, "
Dia suka jika diantar papa nya. Biasanya mama yang akan mengantar dan menunggu nya di sekolah. Dia hampir tidak pernah diantar Papa saat ke sekolah. Jadi begitu sekarang papanya yang akan mengantar, tentu dia akan senang. Segala sesuatu yang berbau hal baru selalu membuat Je semangat.
Segera Je melahap sarapan nya. Hanya roti panggang dengan isian coklat kacang. Dan segelas susu hangat. Tapi dia begitu semangat menghabiskan sarapan nya.
__ADS_1
Dirga yang melihat putra nya begitu pintar makan sendiri merasa sangat bangga.
" Sudah selesai sarapan nya boy?"
" Sudah papa."
"Lets go, kita berangkat."
Dirga mengangkat Je dan menurunkan nya dari kursi makan nya.
" Mbak Hana....!" panggil Dirga.
Hana datang dengan membawa tas sekolah Je.
" Iya Pak."
" Sudah siapa?"
" Sudah."
" Tidak ada yang tertinggal kan?"
" Tidak ada. "
" Ya sudah. Ayo kita berangkat. Daripada nanti kena macet."
Dirga menggandeng lengan Je keluar dari dalam rumah diikuti Hana di belakangnya.
Benar saja, begitu mereka telat sedikit saja keluar dari rumah, maka kemacetan yang menyambut mereka. Padahal pagi ini Dirga harus bertemu dengan klien. Pertemuan nya dilakukan di kantornya. Dan jika ia telat rasanya sangat memalukan. Atasan tapi telat datang ke kantor.
Berkali - kali Dirga harus melirik jam yang melingkar di tangan kanan nya. Sekolah Je berlawanan arah dengan kantornya. Oleh sebab itulah kenapa selama ini dia tidak pernah mengantarkan Je pergi ke sekolahnya.
Hampir satu jam lamanya waktu yang mereka tempuh untuk bisa sampai di sekolah Je.
" Mbak Hana, nanti jika saatnya Je pulang tapi ibu belum menjemput, kamu telpon saya ya?" pesan nya pada Hana.
" Baik Pak Dirga."
" Boy, sekolah yang rajin, jadilah anak yang pintar menurut pada ibu guru. Okay."
" Siap papa."
" Good."
Dirga mencium kedua pipi Je sebelum anak nya keluar dari dalam mobil.
" Mbak Hana, tolong jaga Je baik - baik."
"Baik Pak Dirga."
" Terimakasih."
__ADS_1
Setelah Je dan Hana turun dari mobil, Dirga masih memastikan kedua nya benar - benar masuk ke dalam Sekolah. Setelah Dirga melihat sendiri Hana dan Je memasuki gerbang sekolah, barulah ia tancap gas.
Meeting satu jam lagi dan dia harus segera menjalankan mobil nya sampai di kantor.
Di perjalanan yang masih setengah macet, Dirga berusaha mencari cara agar dia bisa mendapatkan jalan tercepat untuk bisa segera tiba di kantornya.
Belum lagi Ferdy yang terus saja menelpon nya membuat Dirga semakin emosi saja.
" Aku masih di jalan Fer.... Terjebak macet."
" Meeting sejam lagi bos. Jangan sampai telat."
" Kau aturlah dulu."
Di lempar nya ponsel di atas dasbord mobil. Ferdy ini bukan nya memberikan ketenangan justru semakin membuat Dirga emosi di tengah kemacetan jalan.
Empat puluh menit berlalu dan Mobil yang Dirga kemudikan memasuki basement gedung perkantoran nya.
Huft, lega rasanya.
Bergegas ia turun dari dalam mobil. Menentang tas serta jas yang ia sampirkan di lengan nya.
Memasuki lobi dengan disapa beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan nya. Dirga hanya tersenyum sambil lewat saja. Dia tidak percaya diri dengan penampilan nya saat ini. Pastilah sangat kacau.
Seorang Angkasa Dirgantara harus semengenaskan ini. Ah sudahlah, buat apa ia pikirkan.
Pintu lift terbuka, segera ia masuk ke dalam nya. Dari dinding lift Dirga dapat melihat bagaimana rambutnya yang acak - acakan. Bahkan ada setetes keringat yang menempel di dahinya. Apa-apaan ini. Ia segera mengusap dengan punggung tangan nya.
Sial, kenapa harinya seburuk ini.
Ting
Pintu lift terbuka. Ia segera melangkah keluar dan berjalan tergesa menuju ruangan nya. Tapi lagi dan lagi panggilan Ferdy menghentikan langkah nya.
" Bos...! Sepuluh menit lagi. Klien kita sudah datang dan sedang menunggu di ruang meeting."
Panik tentu saja. Dirga belum ada persiapan apa-apa. Lalu tiba-tiba Ferdy mendekati Dirga. Meneliti penampilan bosnya yang amburadul.
" Kau ini kenapa? Menatapku sampai segitu nya. " protes Dirga karena ia risih juga diperhatikan Ferdy seintens itu.
" Bos darimana saja sih. Kenapa penampilan bos acak acakan begitu. Bos nggak mandi ya tadi?"
" Sialan, enak saja mengataiku nggak mandi. "
" Habis nya penampilan bos berantakan sekali. Sebaiknya sekarang bos segera ke toilet. Beberes diri. Biarkan saya saja yang opening di meeting kita kali ini. Ini tinggal lima menit lagi bos.... "
Ferdy mengangkat lengan nya dan menunjuk arloji nya.
" Iya iya aku tahu. Bawel banget sih.... " gerutu Dirga.
Ferdy tak menanggapi dan berlalu pergi meninggalkan bos Dirga.
__ADS_1