
Dengan gagah nya, Dirga menggendong Je naik ke atas pelaminan. Berangkulan dengan dokter Allan.
" Dokter Allan, Selamat menempuh hidup baru," ucap Dirga.
" Terimakasih Pak Dirga. Hallo jagoan nya om dokter sudah sembuh."
" sudah om dokter."
" Pintar. Jangan sakit-sakit lagi."
" Siap om dokter."
Lalu Dirga beralih mengucapkan selamat pada mempelai wanita. Begitupun dengan Mila yang mengucapkan selamat pada kedua mempelai pengantin.
Allan mengernyit karena Rasya sahabatnya datang bersama dengan rombongan Pak Dirga. Yang membuat Allan keheranan Rasya terlihat menempel pada babysitter Je.
" Bro selamat ya." Rasya memberi ucapan selamat pada sahabatnya. Kedua nya saling berangkulan.
" Kapan giliranmu. Jangan membuntuti istri orang terus."
" Sialan...."
Allan terkekeh lalu Rasya pun memberi ucapan selamat pada istri dokter Allan. Setelah nya dia turun pelaminan mengikuti Dirga dan Camila.
Hana, dia tidak merasa menjadi pasangan dokter Rasya sehingga dia juga terus saja mengikuti Dirga dan Mila yang menuju meja prasmanan.
Hana tersentak karena lengan nya ditarik seseorang. Siapa lagi jika bukan dokter Rasya.
" Kenapa kau meninggalkanku Hana."
Hana hanya mengernyit. " Saya tidak kemana - mana dokter Rasya. Saya hanya mengikuti Pak Dirga. Siapa tahu mereka mau makan, jadi saya mau gendong Je." ucapan enteng Hana tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
Rasya hanya menggaruk tengkuknya. Niat hati membawa Hana adalah untuk menjadi pasangan nya. Tapi ternyata yang ada di benak Hana tetaplah Je. Rasya menghela nafas lalu mengikuti Hana yang kini sudah menghampiri Dirga juga Camila.
" Sini Pak Dirga biar saya yang gendong," pinta mbak Hana pada Dirga.
" Mbak Hana nggak mau makan dulu?" tanya Camila.
" Nggak papa, Bu. Biar adek saja dulu yang makan."
Dirga menyerahkan Je pada Mbak Hana, lalu dia mulai mengantri di meja prasmanan bersama Mila.
Rasya berdiri di samping Hana yang sedang menggendong Je.
" Aku ambil kan makanan ya? "
__ADS_1
" Nanti saja dokter. "
Sebenarnya Rasya ingin mengambil makanan tapi tiba - tiba beberapa rekan dokter menyapa nya. Jadilah dia sibuk sendiri dengan mengobrol sampai sampai melupakan Hana.
Sementara Hana, Dirga juga Camila sedang menikmati makanan mereka di sebuah meja dengan Je disuapi oleh Hana. Balita itu tampak nyaman nyaman saja berada di dalam keramaian seperti ini. Sesekali ia berceloteh dan bertanya banyak hal. Camila kadang dibuat tertawa dengan tingkah putra nya itu.
" Eum... Bu, saya permisi dulu ya. Mau ke toilet," pamit Hana pada Camila.
Camila mengangguk lalu mengambil alih menjaga Je.
Hana, sekalipun ia seorang baby sitter tapi dia masih tampak muda dan cantik. Usia nya baru tiga puluh tahun. Perempuan beranak satu yang sudah sejak lama diceraikan oleh suaminya. Untuk menghidupi anaknya, Hana ikut sebuah agency babysitter. Disana dia banyak mendapat pelatihan, ketrampilan serta cara perawatan bayi. Sebelum menjadi baby sitter nya Je, dia sudah pernah satu kali menjadi babby sitter di tempat lain. Dan saat dipekerjakan oleh Dirga, Hana sangat bersyukur. Karena selain dia cocok dengan bayi yang akan di asuh juga keluarga Dirga dan Camila yang sangat baik. Hingga Hana pun betah bekerja dengan Dirga sampai Je sebesar ini.
Sementara itu anak dari Hana diasuh oleh kedua orang tua Hana di kampung. Seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Setiap setahun sekali Hana selalu diberi jatah cuti untuk mengunjungi anak nya di kampung.
Itulah sedikit cerita mengenai Hana. Babysitter nya Je.
Rasya melihat Hana berjalan diantara kerumunan tamu undangan. Dia yang sedang mengobrol dengan rekan nya segera undur diri.
" Ah ya permisi, saya tinggal sebentar." pamit Rasya
Lelaki itu segera menyusul Hana tapi dia kalah cepat karena ternyata Hana sudah masuk ke dalam toilet.
****
Hana membenarkan letak gaun nya. Sebenarnya dia juga sering diajak oleh pasangan Dirga dan Camila ke acara undangan pernikahan seperti ini. Tapi untuk kali ini lain. Pak Dirga bilang padanya jika dokter Rasya ingin dirinya menjadi pasangan lelaki itu dalam acara ini. Dia sendiri juga tidak yakin dengan maksud dokter Rasya menjadikan dia pasangan nya.
Hana hanya tersenyum simpul. Meneliti kembali riasan sederhana nya lalu ia berjalan keluar dari dalam toilet.
Hana menghentikan langkah seketika. Dokter Rasya ada di depan toilet perempuan, sedang bersandar pada dinding.
"Dokter Rasya."
Rasya menoleh mendapati Hana, lalu ditegakkan punggungnya. Berdiri di hadapan Hana.
" Dokter Rasya kenapa ada disini?"
" Menunggumu?"
" Menunggu saya." Hana menunjuk dirinya sendiri.
" Ya. Kau tahu Hana. Aku sengaja memohon pada Pak Dirga agar mengizinkan ku untuk membawamu sebagai pasangan ku di acara ini. Tapi, kenapa kau justru menjauh dariku? "
Hana menelan salivanya.
" Maafkan saya dokter. Tapi __"
__ADS_1
" Tapi apa?"
" Saya ini kan babysitter nya Je. Jadi yang menjadi prioritas saya adalah Je."
" Itu kalau sehari harinya. Tapi khusus malam ini, Please...! Jadilah pasanganku."
Hana menunduk lalu menghela nafas.
" Maafkan saya dokter Rasya. Saya tidak bisa. Seharusnya anda membawa pasangan adalah rekan sesama dokter. Bukan nya saya. "
" Tapi, kalau saya maunya kamu bagaimana? "
Glek.... Hana susah menelan saliva.
Yah, dokter ini mulai otoriter. Hana mulai ketakutan. Dia harus mencari cara bagaimana agar terlepas dari dokter Rasya.
" Dokter Rasya. Maaf saya permisi dulu. "
Hana buru buru melewati Rasya tapi dia kalah sigap. Rasya sudah menarik lengan nya membuat Hanaa sedikit oleng. Beruntung nya Rasya sigap menahan tubuh Hana dengan melingkarkan lengan di bahu Hana.
Hana yang masih terkejut hanya mengelus dadanya. Lalu berusaha menjauhkan lengan dokter Rasya yang tersampir di bahunya.
" Maaf kan saya dokter..." dengan cepat Hana meninggalkan dokter Rasya.
Bukan Rasya namanya jika tidak keras kepala.
" Hana... tunggu!" Rasya berjalan cepat di belakang tubuh Hana. Berusaha menghentikan langkah Hana diantara kerumunan tamu undangan yang semakin banyak yang datang.
" Rasya....!!" seseorang memanggil namanya membuat Rasya menghentikan langkah.
" Om Hendra...." gumam Rasya.
Pak Hendra masih menatap keponakan nya. Dengan ragu Rasya menghampiri om nya lalu mencium punggung tangan adik dari mendiang papa nya.
" Om datang dengan siapa?"
" Driver." jawab Pak Hendra singkat.
Pak Hendra menatap Rasya tajam.
" Siapa perempuan tadi?"
Rasya menggaruk tengkuknya.
Lalu kembali Pak Hendra bertanya.
__ADS_1
" Perempuan yang kamu kejar tadi itu siapa?"