Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 78


__ADS_3

"Bu Sofia, siapa?" tanya Camila, kini wanita itu menatap bergantian pada dua lelaki di hadapan nya.


Baik Dirga juga Je saling melempar pandangan.


" Kalian ini kenapa? Ditanya tidak ada yang mau jawab. Atau jangan-jangan...." Camila menatap Dirga sengit


" Selingkuhan papa ya..."


"Eh enak aja... Mana ada aku selingkuh. Sayang, tidak baik berkata hal demikian."


Je sudah tergelak mendapati papa nya sudah diomeli mama ila.


"Habisnya, kalian ini menyembunyikan sesuatu dariku."


"Tanya itu Je. Siapa Bu Sofia," ucap Dirga menatap tajam putranya.


Mila ganti menatap putra nya.


" Bu Sofia itu guru aku, Ma."


Mata Mila memicing, " Lalu?"


" Lalu apa nya, Ma."


" Ada hubungan apa sama kamu dan papa."


"Nggak ada hubungan apa-apa. Hanya tadi itu mobil Bu Sofia mogok, Dan Je tolongin. Sudah itu aja, Ma."


Meski demikian Mila kurang begitu percaya dengan omongan Je. Pasti ada sesuatu.


"Je, boleh mama nasehati kamu."


Je menatap mama nya penuh tanya.


"Sekolah dulu yang bener. Jangan mikirin hal yang aneh-aneh. Apalagi mikirin Bu Sofia itu."


Selanjutnya tidak ada lagi yang berkata - kata. Baik Dirga juga Je mulai fokus pada makanan nya. Hanya Mila yang perasaan nya jadi tidak enak. Candaan Dirga pada Je yang membuat Mila kepikiran pada anak lelaki nya itu.


Selesai makan malam Mila dan Dirga masuk ke dalam kamar mereka. Seperti biasanya Mila akan melakukan ritual malam sebelum tidur.


Lagi dan lagi saat Mila sedang menggosok gigi, Dirga nyelonong begitu saja masuk ke dalam kamar mandi. Camila lupa mengunci pintu kamar mandi.

__ADS_1


Dirga tersenyum menatap istri nya. Lalu dia pun melakukan hal yang sama, meraih sikat gigi dan Pasta gigi. Menghadap cermin besar yang ada di atas wastafel dan seperti itu lah kebiasaan mereka saling tatap melalui cermin dengan sama-sama menggosok gigi. Hal-hal kecil yang masih sering mereka lakukan sekalipun anak mereka sudah tumbuh menjadi remaja.


Mila selesai dengan aktifitas nya. Lalu menatap tajam Dirga.


"Pa, kau ini selalu saja menyelak ku jika sedang memakai kamar mandi."


"Memang nya kenapa?"


"Aku mau ganti baju, Pa. Kamu keluar dulu sana."


"Biar aku saja yang gantiin."


"Pa! Jangan bercanda."


Dirga tertawa lalu meraih lengan istri nya, menariknya hingga Mila jatuh dalam pelukan nya.


Memeluk istri nya dengan penuh kasih sayang. Rasanya hidup nya begitu sempurna dengan kehadiran Mila dan juga Je.


***


Keesokan hari nya, Je berdecak kesal pasalnya di meja makan dia harus melihat papanya yang sudah menempel seperti lintah pada sang mama. Padahal ini masih pagi dan papa nya yang bucin itu seolah tak mau lepas dari mama kesayangan nya.


"Pa...!" panggil Je.


Itulah Je, dia tidak akan suka jika sering melihat papanya bermesraan dengan mamanya. Selalu ada saja yang putra nya itu lakukan untuk memisahkan  nya dari Mila.


Mila melepas belitan tangan Dirga di pinggang nya.


"Sana Pa, duduk!" perintah Mila.


Dirga dengan terpaksa melepas pelukan nya dan duduk di kursi nya. Je sudah senyum - senyum karena merasa menang dari sang papa.


Kini giliran Je yang mendekati mamanya lalu mencium kedua pipi mamanya.


" Pagi mama sayang," ucap Je setelah nya duduk di kursi yang ada di samping papa nya.


Dirga hanya berdecak melihat tingkah laku anak nya.


"Ayo makan sarapan kalian," perintah Mila.


Mila tahu jika disetiap Dirga bertemu Je, ada saja yang mereka ributkan. Dan Mila yang merasa dicintai oleh keduanya tentu saja merasa sangat bahagia.

__ADS_1


Selesai sarapan Je sudah beranjak berdiri pamit pada papa dan mama nya.


Setelah kepergian putra nya, Mila menatap Dirga dalam.


"Pa...!"


" Ada apa, sayang."


"Entah kenapa pikiranku jadi tak enak saja. Aku kok khawatir ya sama Je."


"Khawatir kenapa?"


" Pa, coba bilang yang sejujurnya sama aku. Siapa sebenarnya Bu Sofia?"


Dirga menghentikan kunyahan makanannya lalu mendongak menatap sang istri tercinta. Kenapa istri nya ini kembali membahas mengenai Bu Sofia.


" Bu Sofia?" tanya Dirga, dan Mila mengangguk.


" Iya, Bu Sofia yang menjadi bahan candaan papa dan Je. Jujur ya Pa, aku kepikiran. Bukan nya apa-apa. Hanya saja aku ingin Je fokus dulu pada sekolah nya. Boleh saja pacaran, aku tak akan melarang. Tapi tidak sekarang. Sekarang Je belum genap enam belas tahun dan baru kelas satu SMU. Aku tidak mau Je fokus pada urusan percintaan. Papa tahu sendiri kan bagaimana pergaulan remaja jaman sekarang. "


" Ma, jangan terlalu khawatir berlebihan. Percaya pada Je, bahwa putra kita itu tak akan berbuat hal yang macam - macam. Kita sebagai orang tua Je tentu lebih mengenal bagaimana anak kita kan? "


" Aku tahu itu, Pa. Hanya saja naluri keibuanku ini bergejolak demi mendengar nama Bu Sofia yang keluar dari mulut papa. "


Dirga terkekeh.


" Baiklah. Seperti nya kamu memang harus tahu kronologis cerita yang sebenarnya. Agar tidak kepikiran lagi. "


Camila dengan serius mendengar cerita yang terlontar dari mulut Dirga. Mulai dari pertemuan Dirga yang tak disengaja dengan Je di pinggir jalan. Hingga Je yang membawa wanita bernama Bu Sofia ke rumah dan mengantarkan wanita itu pulang.


" Jadi Bu Sofia itu gurunya Je yang mobil nya mogok dan ditolong oleh Je. Apa Bu Sofia itu masih muda Pa?" tanya Camila penasaran.


Dirga mengangguk. " Ya, seperti nya juga fresh graduate. Mungkin usianya sekitar dua puluh tiga tahunan lah. Kalau papa tidak salah prediksi. "


Camila menghela nafas. Yang ada dibenaknya, jangan-jangan Je menyukai gurunya itu. Astaga! Bagaimana bisa. Ah tapi Camila tak boleh menuduh sembarangan.


" Pa, apa jangan-jangan Je suka sama gurunya itu. "


Dirga justru tertawa." Ada-ada saja kau ini, Ma. Tapi nggak ada salahnya juga kan Je suka sama gurunya."


"Papa ini kenapa malah bicara seperti itu. Astaga Pa! Je itu masih terlalu muda untuk memikirkan urusan cinta. Bukankah tadi aku sudah bilang. Aku tidak melarang Je punya kekasih asalkan nanti jika usianya sudah menginjak tujuh belas tahun atau lebih. Jangan sekarang. Kalau sekarang aku mau Je fokus pada sekolahnya dulu. Lagi pula dia masih kelas satu, Pa. "

__ADS_1


Dirga mencerna semua ucapan istri nya. Apa yang disampaikan Mila memang benar adanya dan itu semua demi kebaikan putra nya. Meskipun Dirga tak pernah membatasi Je mau bergaul dengan siapa saja. Atau jika Je mau menjalin kasih dengan seorang perempuan. Akan tetapi Je masih sangat muda untuk memikirkan hal-hal seperti itu.


__ADS_2