Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 49 - Posesif


__ADS_3

Camila Pov


" Errghh " aku menggeliatkan tubuhku yang terasa remuk redam. Enggan sekali rasanya untuk membuka mata. Tubuhku terasa lemah.


Perlahan aku mengerjab, menyesuaikan dengan cahaya matahari yang menerobos lewat celah-celah jendela kamar.


" Sayang.... Sudah bangun. " suara berat itulah yang reflek membuat mataku langsung terbuka sepenuhnya.


Lelaki itu berdiri menjulang di sisi ranjang. Dengan rambut basah dan bertelanjang dada. Hanya handuk putih yang melilit menutupi pinggang hingga sebatas tengah paha. Seperti nya dia habis mandi. Aku masih melihat dirinya yang tersenyum manis kepadaku.


Aku beringsut berniat bangun, tapi badanku sakit semua.


" Sayang... Kamu kenapa? Masih sakit? Atau ada yang sakit ?" Tanyanya panik.


Om Dirga tampak khawatir. " Mukamu pucat." lanjutnya.


Dia duduk di sampingku. Menempelkan punggung tangan nya di keningku.


" Badanmu panas sayang"


Aku mengernyit. Apa benar aku tampak pucat. Mungkin aku demam. Badanku memang terasa tidak enak.


" Sayang, kuambilkan sarapan dulu ya. Nanti setelah itu minum obat biar demam mu reda." aku tersentak dari lamunanku selanjutnya aku menggeleng.


" Aku mau mandi saja." ucapku.


" Sayang mau mandi. Ya sudah tunggu disini aku siapkan air hangat dulu." Om Dirga beranjak berdiri menuju kamar mandi.


Tak berselang lama, Om Dirga kembali dan mengangkat tubuhku begitu saja, dibawa ya menuju kamar mandi.


" Mau aku mandiin sekalian. " ucapnya menggodaku.


Aku melotot, Om Dirga terkekeh dan berlalu keluar dari dalam kamar mandi.


*****


" Mila sayang.... kata Dirga Mila demam ya . Kenapa tidak beritahu mama kalau Mila sakit."


Aku yang baru keluar dari dalam kamar mandi terjengkit kaget mendapati mama yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar dengan diikuti om Dirga di belakangnya. Lelaki itu sudah tampak rapi dengan baju casualnya. Celana pendek selutut dan polo shirt . Sementara aku masih memakai bathrobe yang kutemukan ditumpukan handuk bersih di dalam lemari kecil yang terletak di bawah wastafel kamar mandi.


" Mila baik-baik saja kok, Ma. Mama jangan khawatir. Mungkin hanya demam biasa. " jawabku menenangkan mama karena kulihat mama mertuaku ini begitu khawatir. Entah apa yang tadi anak lelakinya bilang pada beliau hingga sekhawatir ini. Padahal sakitkupun hanya demam biasa.


" Beneran Mila oke? "


Aku mengangguk. Tampak kelegaan di wajah mama.


Beliau menoleh ke samping memandang anak lelakinya.


" Pasti ini semua ulahmu kan....sampai Mila sakit dan badan nya demam."


" Maksud mama apaan. Memangnya Dirga salah apa ?"


" Sudah tiba-tiba saja pulang tak kasih kabar...eh ini malah menantu mama sampe dibuat sakit. "

__ADS_1


Om Dirga hanya memggaruk tengkuk ya mendengar omelan mama.


" Mila, mama ke bawah dulu ya. Jangan lupa sarapan, minum obat habis itu istirahat . Kalau Dirga nakal ngegangguin Mila terus, bilang sama mama ya..."


" Baik, Ma. "


Mama keluar kamar, Om Dirga menutup pintunya. Mengambil nampan yang ada di atas nakas membawanya ke atas ranjang. Entah kapan nampan itu sudah berada dinsana. Mungkin Om Dirga yang membawanya.


" Sayang, sini sarapan dulu. " dia menepuk kasur di sebelahnya.


Dengan perlahan aku menuju ranjang dan duduk di atas nya. Perutku sudah terasa lapar sejak aku membuka mata tadi.


Om Dirga menuang kuah ke dalam mangkok. Aku melongokkan kepala melihat sarapan apa yang dibawanya. Semangkok bubur ayam dengan kuah soto, potongan buah apel dan semangka serta satu gelas coklat hangat yang masih mengepulkan asapnya.


" Minum dulu coklatnya. Mumpung masih anget. " disodorkan nya gelas berisi coklat ke mulutku tapi aku segera mengambil alih gelas itu dan mulai mencium aromanya sebelum menenggak isinya.


Sepertinya Om Dirga sudah hafal menu sarapanku yang tak pernah jauh dari coklat hangat. Mungkin selama dia sering ikut sarapan di rumah Bunda, diam-diam memperhatikanku juga. Memang aku ini penggemar minuman coklat terutama coklat hazelnut seperti kakao . Setiap sarapan bunda selalu menyediakan nya untuk ku.


" Buka mulutnya...aak..." om dirga menyuapkan satu sendok ke dakam mulutku.


" Aku makan sendiri saja. " kutaruh gelas coklat di atas nampan. Mengambil alih sendok dan mangkok bubur. Dan aku mulai menyuapkan bubur ke dalam mulutku.


Aku mendongak merasa Om Dirga memperhatikanku sedari tadi " Kenapa ngelihatinnya kayak gitu ."


" Kamu cantik.." ucapnya. Mengambil helaian rambutku yang masih sedikit basah.


Tubuhnya dicondongkan kedepan dan menghirup dalam rambutku.


" Om....please deh jangan mulai lagi. " aku beringsut mundur.


Om Dirga kembali menegakkan tubuhnya. " Maaf. Sebaiknya habiskan sarapanmu. Dan jangan lupa minum obatnya. Setelahnya kamu istirahat lagi saja. Aku mau ke bawah dulu."


" Tapi aku ingin pulang setelah ini."


" Pulang? Sayang, kamu masih demam. Sebaiknya kamu istirahat disini."


" Nanti dicariin bunda. "


Om Dirga menghela nafas nya." Nanti aku telpon bunda. Oke. "


Aku mengerucutkan bibirku. Sebenarnya aku hanya ingin menghindari Om Dirga. Rasanya aneh saja setelah apa yang terjadi semalam, dan sekarang harus berhadapan dengan nya lagi yang menurutmu bertampang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak jika sedari tadi dia melihatku dengan tanpa melepaskan senyuman di bibirnya.


******


Seusai makan dan meminum obat sebenarnya aku ingin istirahat tapi mata ini tak mau terpejam. Mungkin keluar kamar dan ngobrol dengan mama adalah ide yang bagus.


Kucari phasmina yang kemarin kupakai. Teringat bagaimana aku hingga bisa berada disini dan err..... Mengingat kejadian tadi malam kembali membuatku malu.


Ini semua berawal dari ajakan mama mertuaku yang keukeh untuk memintaku menginap. Padahal aku tak membawa baju ganti. Tidak ada rencana juga saat mama membawaku ke rumah. Beliau langsung menjemputku ke kampus. Karena kutahu mama sedang dalam kondisi kurang sehat akupun tak kuasa menolaknya. Apalagi om Dirga juga masih berada di Riau.


Hingga saat malam tiba aku yang kebingungan ingin mengganti bajuku, dengan lancangnya membuka lemari pakaian Om Dirga dan mengambil asal satu kaosnya.


Aku pikir karena tak ada orang lain di kamar ini kuputuskan untuk mencuci pakaian dalamku, bra dan celana dalam agar besok pagi bisa aku pakai lagi. Kebetulan juga di dalam tas aku selalu menyimpan celana dalam cadangan yang bisa kupaksi saat kondisi darurat seperti ini. Dan kaos Om Dirga yang kupakai ternyata cukup besar hingga bisa menutupi setengah pahaku.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, hanya memakai kaos tanpa bawahan dan hanya memakai celana dalam tanpa bra, aku segera naik ke atas ranjang empuk punya Om Dirga. Terhitung sudah dua kali aku tidur di kamar ini.


Karena tubuhku yang terasa lelah tak butuh waktu lama akupun bisa tertidur. Benar-benar tak menyangka jika kecerobohanku kali ini berakibat fatal. Aku kebobolan.


Aku tersentak dari lamunan, wajahku memanas hanya karena mengingat hal itu. Kutepuk kedua pipiku berulang-ulang baru setelahnya kupakai phasminaku. Hanya kusampirkan di atas kepala.


Kulirik bekas makanku tadi yang masih berada di atas nakas. Berniat untuk mencucinya, kuangkat nampan dan aku keluar dari kamar.


Terdengar suara orang berbicara dari arah ruang makan. Benar saja saat aku berhasil menapaki anak tangga terakhir kulihat om Dirga bersama Ferdy sedang duduk di meja makan.


Pertama yang menyadari kehadiranku justru Ferdy.


" Waduh ada dek Mila rupanya. " ucapnya. Aku hanya tersenyum sedikit.


Reflek om Dirga menatapku.


" Sayang , kenapa turun. Bukan nya kamu harus istirahat. "


Om dirga sudah berdiri menghampiriku , mengambil alih nampan di atas tanganku.


" Dek Mila ternyata lebih cantik aslinya ya." Aku masih mematung berdiri di tempatku saat mendengar celetukan Ferdy.


Keningku mengernyit tak mengerti dengan ucapan nya. Tapi Om dirga yang sudah kembali dari pantry menaruh nampan bekas makanku tadi, segera menghampiriku dan menutupi tubuhku dengah tubuh besarnya. Menghalangi pandangan Ferdy yang masih juga menatapku.


" Ferdy, tutup matamu. Jangan lagi lihat-lihat istriku yang seperti ini. "


" Si bos pelit amat...."


Om Dirga sudah melingkar kan tangannya di bahuku dan menuntunku kembali naik tangga. Aku tak mengerti dengan sikapnya yang tiba-tiba posesif seperti ini.


" Apaan sih om. Kenapa aku dibawa masuk ke kamar lagi. Aku kan mau ketemu mama. " protesku kala aku sudah kembali masuk ke dalam kamar.


" Tidak sekarang sayang, di luar masih ada Ferdy. " jawabnya


" Ferdy ? Memangnya kenapa kalau ada Ferdy . Bukan nya selama ini juga sudah biasa aku ketemu Ferdy."


" Iya, tapi tidak sekarang disaat kamu nggak pakai jilbab. Okay. "


Kembali aku mengernyit. Bukan nya aku sudah menutup kepalaku pakai pashmina. Ya meski hanya kusampirkan di kepala hingga sebagian rambut ku masih terlihat.


Om Dirga mengusap wajahnya.


" Astaga sayang. Kamu tak paham maksud ucapan Ferdy tadi. Dia melihatmu yang seperti ini. " Om dirga mengusap kepalaku.


" Kerudung yang kamu pakai ini tidak tertutup dan lihatlah...rambut panjangmu masih nampak" tangan nya mengusap sebagian poniku yang memang tak tertutup.


" Leher jenjangmu juga terlihat olehnya. Dan aku tak rela. Okay. " tangan om Dirga sudah beralih ke tengkuk ku.


Pashmina yang kupakai merosot jatuh di bahuku. Wajah om Dirga semakin mendekat dan


Cup satu kecupan mendarat di keningku.


" Aku nggak suka ferdy yang selalu saja terpesona dan memujamu. " ucapnya lirih.

__ADS_1


" Posesif. " aku mengatakan itu sambil berbalik menuju ranjang dan menjatuhkan tubuhku di atas kasur. Lebih baik aku tidur saja daripada harus memghadapi om dirga yang ternyata baru kutahu jika dirinya seposesif itu.


__ADS_2