
Rasya tak menyangka jika ia harus dipertemukan dengan Dirga sekeluarga. Dia sampai terkejut mendapati mereka masuk ke dalam resto tadi.
Dari sekian banyak resto, kenapa juga harus di tempat yang sama. Padahal Rasya datang ke resto untuk jamuan makan malam bersama anak prof. Rohaendy. Seorang wanita yang baru saja dikenalkan oleh om Hendra.
Rasya, setelah ajakan nya menikah ditolak oleh Hana, ia kembali berpikir. Memang benar, menikah itu bukanlah suatu permainan. Hanya karena ia terdesak oleh om Hendra lalu dengan mudahnya mengajak Hana menikah. Sangat lucu memang.
Dan sekarang, Rasya memang harus mencoba mengenal sosok Permata Rohaendy, anak prof. Rohaendy yang berprofesi sebagai dokter di salah satu klinik kecantikan.
Cantik, sudah pasti. Tapi hati Rasya tidak tahu lagi. Apakah bisa jatuh hatiĀ pada perempuan itu. Sama halnya kayak dia yang pernah terobsesi dengan Camila atau yang hatinya bergetar kala melihat Hana.
Yang pasti malam ini, adalah awal perkenalan nya dengan permata dan sial nya lagi ia harus bertemu dengan Hana dan Camila. Mau ditaruh dimana muka nya?
Jujur Rasya merasa sangat malu. Bahkan baru tadi siang dia menawari Hana menikah dan sekarang dia sudah membawa perempuan lain.
Kira - kira apa yang Mila dan Hana pikir tentang nya? Lelaki plin plan yang tidak punya pendirian. Ataukah lelaki playboy yang suka mengobrol janji?
Rasya menggelengkan kepalanya mengusir rasa malu yang mendera nya.
***
" Kapan kau balik ke London, Nath." tanya Dirga masih dengan menyantap makan malam nya.
" Satu minggu lagi."
" Masih lama berarti disini."
" Ya, karena aku sengaja ambil cuti."
" Kau tak ada rencana menetap di Aussie." Kali ini Camila yang bertanya. Karena Camila sendiri heran dengan saudara nya yang lebih memilih hidup terpisah dengan keluarga nya.
" Entahlah. Aku lebih suka tinggal di London."
Setelahnya tak ada lagi pembicaraan diantara mereka.
Mereka semua pulang saat hari menjelang larut malam. Karena setelah acara makan malam, mereka sempat pergi jalan-jalan.
Je, balita itu sudah tertidur di gendongan papa Dirga.
Begitu memasuki rumah, Dirga langsung membawa Je masuk ke dalam kamar untuk menidurkan putra nya.
Nath menjatuhkan dirinya di atas sofa bersama Camila. Hana sudah pergi ke belakang menuju kamarnya.
" Nath...."
" Hmm..."
" Kau itu sudah pantas punya anak."
" Mulai deh bahas anak...."
" Habis nya aku tu ingin kamu cepet nikah."
" Kan aku sudah bilang Mil. Aku lagi pendekatan dengan Will. Semoga saja kami berdua cocok."
" Tapi kok aku nggak yakin ya Nath dengan Will. Kalian beda keyakinan. Pasti papa tak akan merestui kalian menikah nantinya. "
__ADS_1
" Huft.... Entahlah Mil. "
" Nikah aja sama Kak Daffi. "
Nath terdiam." Memang nya Daffi masih di Jakarta"
"Ya. Dia kan mengurus perusahaan milik kakak nya."
" Jadi orang sukses dong."
" Ya jelas lah... Dia direktur utama Nath. Mana makin ganteng sekarang."
" Memang kamu ketemu dia?" tanya Nath.
Camila mengangguk.
" Aku dua minggu di Jakarta. Ada tugas di salah satu Rumah Sakit. Jadi ya hampir setiap hari aku ketemu kak Daffi. " cerita Camila.
Nath hanya terdiam tak menanggapi cerita Mila.
" Ya sudah. Aku ke kamar dulu. Kamu tidurlah. Istirahat. Good Night, Nath."
" Good Night."
Setelah Mila berlalu meninggalkan nya, Nath masih terdiam di tempatnya.
Memikirkan tentang masa lalu nya. Digelengkan kepala nya kuat-kuat. Tidak. Dia tidak mungkin menemui Daffi. Nath masih merasa sangat malu pada lelaki itu. Kejadian fatal yang beruntung nya tak membuahkan hasil apa-apa.
Ah, kenapa hidup ini begitu rumit. Belum lagi tentang hubungan nya dengan Will. Nath kembali berfikir tentang apa yang disampaikan Mila. Perbedaan keyakinan itu memang masalah yang pelik. Tapi kalau di luar negeri, menikah dengan keyakinan berbeda masih bisa dilaksanakan.
Tapi, apakah papa nya akan merestui jika ia menikah dengan lelaki yang tak seiman? Mereka memang tinggal di luar negeri dan mereka adalah warga negara asing. Tapi keyakinan yang mereka anut tetaplah muslim. Sekalipun bukan muslim yang taat.
***
Di dalam kamar,
Dirga sedang mengganti baju yang Je pakai dengan piyama tidur, saat Camila masuk ke dalam kamar.
" Loh Pa, baju Je sudah papa ganti."
" Iya, aku pikir sayang akan lama di luar. Mungkin masih ingin mengobrol dengan Nath."
" Enggak lah. Ini sudah malam. Aku juga sudah mengantuk."
" Nath sudah tidur?"
" Belum seperti nya. Tadi pas aku tinggal, dia masih di ruang keluarga. ".
" Sama siapa? "
" Sendirian lah. "
" Kamu tinggalin sendirian? Tega sekali.... "
Dirga terkekeh.
__ADS_1
" Memang papa mau nemenin. Sana gih... "
Dirga semakin tergelak.
Camila mengambil baju ganti lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Dia masih menggosok gigi saat Dirga tiba-tiba ikutan masuk. Lalu mengikuti sang istri, gosok gigi juga.
Mereka saling pandang melalui kaca wastafel di hadapan mereka.
Lalu kedua nya sama sama tersenyum melihat mulut mereka yang dipenuhi busa pasta gigi.
Hal hal kecil seperti ini terkadang menjadi hal lucu bagi mereka. Kalau tidak, mereka akan berebut Pasta gigi. Atau kalau Dirga asal memencet pasta gigi maka Camila akan mengomel sepanjang malam.
Begitulah pasangan suami istri. Tidak hanya ada baiknya saja tapi juga buruknya. Dan sebagai pasangan suami istri harus bisa saling melengkapi kelebihan dan kekurangan pasangan nya.
Mereka selesai menggosok gigi.
" Pa, kau ini selalu saja menyela jika aku sedang memakai kamar mandi."
" Menghemat waktu sayang."
" Hemat waktu apa modus."
" Ya dua dua nya."
" Sudah sana keluar dulu, Pa. Aku mau ganti baju."
" Sini papa gantiin."
Dirga maju mendekati istrinya menarik-narik baju istri nya.
" ish... Nggak mau, Pa. Aku bisa ganti sendiri. "
" Yakin... "
Dirga masih saja menggoda istrinya. Mereka saling tertawa di dalam kamar mandi.
" Pa, jangan berisik. Nanti Je bangun. "
" Sayang sendiri yang teriak- teriak."
" Habisnya disuruh keluar nggak mau. "
Camila mendorong suaminya hingga keluar dari dalam kamar mandi. Barulah ia bisa mengganti bajunya. Bukan nya dia malu ganti baju di hadapan Dirga. Hanya saja jika ada Dirga, dapat Mila pastikan dia tidak akan jadi mengganti bajunya dengan piyama tidur. Suaminya itu menyebalkan sekali karena suka menggoda dan mengerjainya.
Keluar dari dalam kamar mandi, Dirga sudah duduk manis di atas ranjang.
" Sudah selesai sayang...."
" Sudah."
" Kemarilah..."
Dengan jari telunjuknya Dirga meminta Camila mendekat. Jangan lupakan kedua alis yang ia naik turunkan membuat Camila ngeri sendiri melihatnya.
__ADS_1
" Pa, jangan mesum begitu bisa?"
Dirga yang niat nya menggoda istrinya, sekarang sudah tertawa melihat Camila yang justru ngeri melihat nya.