
Dirga Pov
Kuparkir mobilku di depan sebuah resto yang terkenal dengan masakan khas Jawa. Siapa lagi jika bukan Kenatria lah pemiliknya. Kakak iparku itu sudah lebih dari dua tahun membangun resto ini. Dan hingga detik ini sudah banyak pengunjung yang pada akhirnya menjadi pelanggan tetap. Memang semua menu yang ada di resto ini tak dapat diragukan lagi rasanya. Semua resep spesial dari Bunda Anyelir yang pasti sangat lezat. Nasi rawon nya yang begitu menggoda selera dengan potongan empal yang empuk tak ada tandingan nya. Soto ayam Lamongan nya pun tak kalah sedapnya. Apalagi Lodho ayam kampung khas Tulungagung yang selalu menjadi Best seller di resto ini.
Bunda Anyelir memang jago nya dalam urusan masak memasak. Sebelum Ken membuka resto ini, Bunda Anyelir sudah terlebih dahulu mengelola sebuah catering rumahan dan pelanggan nya pun tak bisa dibilang sedikit. Bahkan hingga sekarang pun sepertinya pelanggan cateringnya semakin banyak, karena jika aku lihat jumlah kurir yang dimiliki oleh Bunda semakin banyak. Itu artinya pelanggan bunda juga semakin banyak.
Aku turun dari dalam mobil. Hari sudah larut malam. Kulirik sekilas arloji yang ada di tangan kananku. Hampir pukul sebelas malam. Aku sendiripun juga baru saja pulang dari club. Hanya sekedar mengecek laporan keuangan setelahnya aku langsung menuju kesini.
Memang sudah kurencana untuk datang kemari, karena jika sudah menjelang larut malam begini di rumah pasti Bunda sudah tidur dan aku tak enak untuk mengganggu istirahat nya. Jadi kuputuskan untuk datang ke resto, dan sesuai rencana setelahnya aku akan pulang ke rumah Bunda barengan dengan Ken. Kalau Ken pasti selalu membawa kunci cadangan jadi bisa masuk ke rumah tanpa mengganggu penghuni nya yang pasti sudah pada istirahat.
Masuk ke dalam resto yang dipintunya sudah tergantung kata "Closed" itu artinya resto ini sudah tutup. Tapi lampu di dalam resto masih menyala dan belum dipadamkan. Saat aku masuk ke dalam kulihat Bunda masih duduk dibalik meja kasir.
Aku pastilah terkejut karena tumben jam segini Bunda masih ada disini. Setauku biasanya bunda sudah pulang dari resto sekitar jam delapan malam.
" loh Bunda kok masih disini." tanyaku berjalan menghampiri meja kasir.
" eh nak Dirga.... Iya ini Bunda masih itung-itungan sama maya."
Maya itu adalah salah satu karyawan Ken.
Aku menoleh melihat Ken bersama Danisha yang muncul dari arah dapur.
" ada adik ipar toh.... Sudah lama datang kah?" Ken menepuk pundak ku.
" baru juga masuk. Ehm... Tumben jam segini masih pada sibuk bersih bersih." aku melihat suasana resto yang beda dari biasanya.
Jika biasanya di jam segini kondisi resto sudah bersih, lampu depan sudah dipadamkan dan beberapa karyawan sudah pada berpamitan pulang. Tapi malam ini yang kulihat masih banyak karyawan rdsto yang berada disini hilir mudik bersama sama membersihkan resto. Ada yang menyapu, mengepel, mengelap meja bahkan suara dentingan di dapur juga masih terdengar jelas.
" dan ini Bunda kok juga tumben masih ada disini." tanyaku lagi.
Ken duduk di salah satu kursi, dan aku menghampiri nya ikut duduk di kursi sebelah nya. Danisha ikut bergabung bersama beberapa karyawan ikut membereskan meja.
" jadi malam tadi resto kita di booking oleh sebuah perusahaan. Mereka mengadakan family gathering gitu. Jadi ya..... Seperti yang kamu lihat. Jam segini kita baru bisa beberes."
Aku manggut-manggut tanda mengerti.
" Ehm Camila mana. Kok ndak kelihatan. " aku celingak celinguk mencari keberadaan istriku.
" Mila ada di rumah nak Dirga, dia nya banyak tugas jadi enggak ikut kesini. " Bunda menjawab pertanyaan ku dari balik meja kasir.
" owh... Memang Mila berani bun dirumah sendirian.? " tanyaku. Bunda terkekeh.
" kalau terpaksa pasti berani..... Oiya kalau nak Dirga mau, pulang duluan gih nemenin Mila. "
__ADS_1
Bunda mengambil sesuatu dari dalam tas nya. Berjalan menghampiri ku dan menyerahkan kunci rumah.
" ya sudah kalau begitu Dirga pulang duluan. Kasian Mila sendirian. " kuterima kunci dari Bunda.
Aku berdiri berpamitan pada Bunda. Mencium punggung tangan ibu mertuaku.
" kakak ipar.... Aku duluan ya." pamit ku pada Ken.
Ken ikut berdiri " hati-hati di jalan. "
Aku terkekeh berjalan menuju pintu keluar. jarak resto dengan rumah bunda itu tidak jauh. Resto ini berada di ruko depan perumahan dimana bunda beserta keluarga tinggal.
****
Sejak menikah dengan Mila aku belum pernah menginap di rumah Bunda. Memang hampir setiap hari aku akan datang ke rumah Bunda hanya untuk sekedar melihat istriku. Setelahnya aku pasti pulang ke rumah mama. Jika dari club sudah mendekati tengah malam begini aku pasti singgah ke resto setelahnya ikut Ken pulang sebentar ke rumah Bunda. Jika sudah bertemu Mila aku pamit pulang ke rumah mama.
Tapi jika aku harus berada di club hingga menjelang pagi dengan terpaksa aku tak akan pulang kerumah bunda melainkan langsung pulang kerumah mama. Tak enak hati rasanya jika lewat tengah malam harus mengganggu istirahat Bunda beserta keluarganya.
Aku masuk ke dalam rumah, suasana tampak sepi dan lengang. Lampu ruang tamu masih menyala tapi aku tak mendapati keberadaan Camila.
Mendongak ke atas dan berpikir sejenak, mungkin Mila ada di kamarnya. Aku berjalan menapaki anak tangga menuju lantai dua. Tiba di depan kamar Mila, ku ketuk pintu nya. Tak ada jawaban. Kembali kuketuk dengan sedikit bertenaga tapi tetap tak dibuka pintu nya. Kuputar handel pintu perlahan. Ternyata tidak dikunci. Kubuka pelan dan pemandangan pertama yang kulihat adalah Mila yang sudah tertidur pulas di atas ranjang.
Aku masuk ke dalam memperhatikan istriku yang tidur dengan lelap nya. Kubenarkan letak selimut yang sedikit tersingkap. Kuusap kepalanya sebelum mendaratkan satu kecupan di dahi Mila.
Kuputuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga kembali ke lantai bawah. Bertepatan dengan kedatangan Bunda, Ken serta Danisha.
" mau kemana Dir ? Sudah malam juga masak mau pulang." Ken menegurku.
" Mila nya mana.?" tanya Bunda padaku.
"Mila sudah tidur Bun. Sepertinya dia kecapean." jawabku
" ya udahlah kamu nginep sekalian aja disini. Ga capek apa harus nyetir lagi." Ken masih saja meminta ku untuk menginap disini. Mungkin Ken sudah curiga padaku karena selama ini aku pasti akan selalu pulang ke rumah mama dengan berbagai macam alasan.
" besok pagi aku harus ke Riau. " jawabku.
" Riau? " Ken sedikit terkejut. Aku mengangguk.
" ya sudah aku pamit dulu ya kakak ipar."
Ken mengangguk. Aku mencari cari keberadaan Bunda. Mungkin bunda sedang ke dapur.
" aku pamit ke Bunda dulu ya."
__ADS_1
" mungkin Bunda di dapur. Ya sudah kalo begitu aku naik ke atas dulu." Ken berlalu meninggalkanku.
Aku berjalan menuju dapur dan benar saja bunda ada disana.
" Bunda...." panggilku membuat bunda menoleh.
" Dirga pulang dulu. Dan sekalian Dirga pamit. Mungkin beberapa minggu ke depan Dirga tak bisa kesini. Besok pagi Dirga harus ke Riau. Ada proyek disana yang harus Dirga tangani."
" Riau? Jauh sekali.... Ehm... Ya sudah nak Dirga hati hati di jalan. Dan semoga proyek nya berjalan lancar. "
" terimakasih bun. Dirga pamit ya. Assalamualaikum. "
" waalaikumsalam. "
****
Sebenarnya aku sangat berat harus kembali pergi ke Riau dan meninggalkan Camila dalam waktu yang cukup lama. Tapi bagaimanapun juga aku harus profesional dalam bekerja.
Setelah melalui beberapa pertemuan dengan perusahaan Vira dan beberapa perusahaan kontraktor akhirnya disepakati jika perusahaan milik ku lah yang memang berkompeten mengerjakan proyek besar dengan nilai ratusan Milyar. Dan demi kepercayaan serta dedikasi perusahaan, akulah yang harus turun tangan langsung memantau jalan nya proyek yang kurang lebih akan memakan waktu sekitar tiga bulan lamanya. Itu artinya selama kurun waktu tersebut aku harus stay di Riau.
Bayangkan saja waktu tiga bulan harus kuhabiskan dengan hidup berjauhan dengan istriku. Meski sebenarnya bisa saja aku bolak balik Surabaya Riau demi bertemu Camila. Tapi aku tak bisa menjamin jika setelah bertemu Camila aku akan bisa kembali lagi ke Riau.
Jadi Kuputuskan untuk sementara aku harus tetap stay di Riau. Mengesampingkan urusan ku dengan Camila. Dan aku harus berusaha agar proyek segera selesai tepat pada waktunya agar aku bisa secepatnya kembali ke Surabaya.
Sebenarnya selain Camila, mama ku lah yang selalu membuatku khawatir. Bahkan saat aku berpamitan padanya, dengan berat hati mama merelakanku pergi. Baju-bajuku semua mama yang packing. Dan dengan segala bujuk rayuku akhirnya mama melepas juga kepergianku kali ini. Tentunya dengan iming iming jika mama bisa kapanpun meminta Mila untuk menemani nya. Terang saja mamaku sungguh bahagia pasalnya Camila itu adalah menantu kesayangan nya.
Memikirkan dua wanita tercinta ku itu membuatku tak hentinya tersenyum.
" Dirga.... Ayo......" Vira menarik lenganku. Membuyarkan semua anganku tentang Mila Dan mama.
Aku harus segera check in karena pesawat yang akan membawaku terbang ke Riau dijadwalkan satu jam lagi.
Memang kali ini aku pergi bareng Vira. Kebetulan juga setelah satu minggu lamanya Vira berada di Surabaya hari ini dia harus kembali ke Riau. Jadilah itu sebabnya kita berdua bisa pergi bersama.
Dan satu lagi, mengenai pengakuanku tempo hari, pada awalnya Vira benar benar tidak mempercayaiku. Apalagi mulut comel nya Ferdy yang terang terangan mengatakan tidak tahu menahu mengenai status ku yang sudah menikah, membuat Vira semakin menuduh jika aku mengada ngada.
Akan tetapi berkat bukti bukti yang kutunjukan padanya, akhirnya Vira percaya juga. Beberapa foto pernikahan ku dan Camila yang ada di galeri ponselku serta foto buku nikah kami yang dulu sengaja kuabadikan dalam sebuah jepretan kamera juga tersimpan rapi di dalam galeri ponselku.
Dan sejak saat itu Vira pada akhirnya dengan terpaksa mempercayai nya. Tapi bukan Vira namanya jika dia mau menerima kenyataan yang aku ini suami orang. Dia seolah tak peduli dengan statusku dan justru dengan percaya dirinya tetap menggandeng tanganku seperti yang dia lakukan saat ini.
Satu tangan nya bergelayut di lenganku dan satu tangan nya lagi menarik kopernya. Jika orang melihat pasti dikira nya kita ini pasangan suami istri.
Biarlah dia berlaku sesuka hatinya. Tapi yang jelas hati ini hanya untuk Mila seorang.
__ADS_1