
“ Belum tidur Pa, ” tanya Camila yang melihat Papa Dirga masih terpekur dengan ponsel di tangan nya.
Suaminya itu sudah berganti baju dengan piyama tidurnya, dengan duduk berselonjor di atas ranjang dengan kepala bersandar pada kepala ranjang. Camila yang selesai dengan semua ritual malam nya, seperti mencuci muka serta mengoleskan cream malam di wajahnya dan terakhir menyisir rambut panjang nya, merangkak naik ke atas
ranjang dan membaringkan diri di sebelah suaminya. Jam sudah menunjukan pukul
setengah dua belas malam.
“ Aku nunggu sayang. “
“ Kalau Papa Dirga capek, sebaiknya tidur duu jangan menungguku, “ jawab Camila.
Malam ini memang Camila harus mengerjakan laporan serta beberapa tugas kuliahnya. Hingga menjelang tengah malam seperti ini barulah dia selesai.
Camila beringsut mendekat ke arah suaminya. Kepalanya disandarkan pada lengan dirga. Kedua lengan Camila melingkari pinggang papa Dirga.
Melihat tingkah manja sang istri tercinta, Dirga meletak kan ponsel yang ada di tangan nya. Baru saja Dirga menjawab semua chat yang Ferdy kirimkan. Asisten nya itu mengingatkan nya akan tugas nya besok pagi dimana Dirga harus bertemu klien dari luar negeri.
Tangan Dirga meraih bahu Camila. Merapatkan tubuh istrinya hingga kepala Camila kini sudah bersandar pada dada bidangnya.
“ Maaf kan aku, Pa. Harus selalu merepotkanmu. Sudah harus bekerja dari pagi sampai sore, masih juga harus mengurus Je. “
“ Je itu anak ku dan sudah kewajiban untuk mengurus nya. Kita akan selalu bersama sama mengurus dan mendidik Je. Jika sayang sedang sibuk maka aku akan
menggantikan tugasmu mengurus Je, begitupun sebaliknya. Kita berdua harus
saling melengkapi dan bekerja sama dengan baik. “
“ Iya aku tau pa, Tapi lebih banyak Je papa dirga yang urus. "
“ Sudahlah, jangan merasa bersalah seperti itu. Aku senang bisa melakukan semua untuk mu juga utuk Je. “
“Terimakasih, Pa. “ Camila semakin menyusupkan kepalanya di dada bidang Dirga.
“ Sayang pasti capek kan? Tidurlah. “
“ Papa juga harus tidur, sudah malam.”
“ Sayang , boleh aku tanya sesuatu. “
“ Apa itu, “
“ Kenapa satu hari ini sayang tidak membalas pesan ku juga tak menjawab telponku. Justru sore tadi ponsel sayang mati saat aku menghubungi mu. "
“ Ah maaf. Aku lupa cerita ke papa. Tadi pagi ponsel ku terjatuh. Layarnya retak. Sebenarnya tadi masih bisa aku pakai. Bahkan sempat aku ingin menghubungi papa. Tapi tidak jadi. Dan sore nya tiba tiba ponsel ku mati. Mungkin kehabisan baterai. “
Seolah teringat nasib ponselnya, Camila melepaskan diri dari
pelukan sang suami. Beringsut turun dan berjalan menuju lemari dimana dia menyimpan tas kerjanya. Diraihnya ponsel yang bentuknya sudah tak sempurna. Memang tadi Camila sempat akan menghubungi Dirga tapi tiba tiba saja dokter Allan datang menemui nya. Dan setelah dia selesai makan dengan dokter Allan, tiba tiba ponsel nya tak bisa ia gunakan. Mati total.
Di bawahnya ponsel itu ke hadapan Papa Dirga. Tangan Dirga terulur meraih ponsel istrinya.
“ Bisa diperbaiki nggak sih, Pa. “ tanya Camila.
Dirga membolak balikan ponsel itu , “ Sepertinya masih bisa . Tapi ini layarnya retak. Beli yang baru saja. “
“ Kalau masih bisa dipakai kenapa harus beli yang baru sih pa, kan sayang duitnya. “
Dirga menghela nafas, inilah istrinya. Perempuan yang tidak suka menghambur hamburkan uang nya. Bahkan kartu kredit yang Dirga berikan pun hampir tak pernah disentuh oleh istrinya. Kecuali jika memang Camila benar benar membutuhkan. Jangankan kartu kredit, kartu debit pun hanya dipakai Camila untuk belanja kebutuhan rumah tangga mereka, padahal setiap bulan nya Dirga akan mentrasfer sejumlah uang yang tidak sedikit pada kartu debit yang ia berikan pada Camila sebagai bentuk nafkah nya pada sang istri tercinta dan juga anak nya. Dan seharusnya Camila bisa bebas memakai nya untuk segala keprluan nya. Tapi nyataya, Camila tak pernah menggunakan uang Dirga untuk keperluan yang tidak ia perlukan.
Camila sangat berhati hati dalam megatur pengeluaran rumah tangga mereka, dia tidak pelit, tapi hemat. Hemat dalam segala hal, Menurut Camila tidak selamanya dia akan bisa menikmati fasilitas serba ada seperti ini.
Terlahir di tengah keluarga sederhana membuat Camila tumbuh menjadi seorang
perempuan tangguh meskipun sedikit manja.
“ Kalau diperbaiki pun tidak bisa kembali normal fungsinya. “
“ Terserah kau saja, Pa. “
“ Besok papa belikan, ” ucap Dirga kemudian.
“ Aku bisa membelinya sendii Pa, Aku nggak mau selalu merepotkan mu. “
“ Aku tidak pernah merasa direpotkan. “
“ Aku tahu itu. “
“ Ah sebentar tunggu disini dulu, “ Dirga memberi titah pada istrinya.
Camila menurut. Duduk diatas ranjang sembari mengamati apa yang sedang dilakukan suaminya.
__ADS_1
Dirga membuka lemari kecil yang berada di bawah rak televisi.
Mengambil sesuatu dari dalam sana.
“ Ma, pakai ini saja dulu. Ini ponsel lamaku waktu itu. Masih bagus dan masih berfungsi dengan baik. Daripada mama tidak memegang ponsel, sementara pakai ini saja dulu. “
Dirga duduk di hadapan Camila, membuka kardus berisi ponsel pintar miliknya. Ponsel tersebut sudah tidak terpakai olehnya.
“ Aku susah kalau sayang tidak ada ponsel.”
“ Susah kenapa ? “
“ Ya aku tidak akan bisa menghubungi sayang. Padahal sayang tahu sendiri kan, setiap detik setiap waktu aku selalu merindukanmu.”
“ Halah gombal. “
“ Loh apanya yang gombal. Itu semua relaita “
“ Iya aku tahu. Dasar bucin ....”
Dirga tergelak, Iya itu benar. Dia memang bucin. Gara gara Camila Wijaya istri tercintanya. Dia tidak malu sedikitpun dengan sebuatan bucin yang disematkan kepadanya karena memang seperti itulah kenyataan nya.
Seorang Angkasa Dirgantara yang begitu tergila gila dengan Camila Wijaya. Hingga detik ini pun rasa cinta nya pada sang istri tidak berkurang seidkitpun. Justru semakin
bertambah setiap harinya. Camila yang mampu menjungkir balikkan hatinya. Camila
yang mampu membuatnya bergetar tiap berada begitu dekat dengan nya, Camila yang
mampu membuat jantungnya berdetak kencang kala tak sengaja bertatapan mata.
Camila yang ah ... entah apa lagi yang dibuat Camila untuk memporak porandakan
hatinya.
Meski diluaran sana banyak sekali wanita yang menggoda nya, tapi Dirga tak tertarik sedikitpun , karena yang ada di hati dan pikirannya hanya Camila dan Je tentu saja. Bagi Dirga Camila adalah wanita terhebat di dalam hidupnya setelah posisi sang mama .
Iya, Mama dan Camila dua wanita yang amat dicintai oleh seorang Angkasa Dirgantara.
***
Pagi hari seperti biasa, suasana di dalam rumah besar papa Dirga didominasi oleh celoteh riang Je yang sedang disuapi oleh Camila. Balita itu jika bersama mama nya akan lebih rewel , manja dan banyak maunya. Pagi ini Camila masih mendapatkan shift pagi di Rumah Sakit, dan sore harinya harus
kuliah lagi setelah satu hari kemarin dia sempat libur.
Hari ini papa Dirga sudah berangkat kerja pagi sekali. Kebalikan dari sang mama. Biasanya Camila yang pergi pagi pagi sekali, sedangkan hari ini Papa nya yang harus melewatkan sarapan bersama Je. Tadi Camila sudah menemani Dirga sarapan sebelum suaminya itu pergi. Karena hari ini Dirga harus menjemput klien dari luar negeri sehingga Ferdy sudah menjemput Dirga sebelum jam tujuh pagi.
Sekarang tinggal Je yang belum memakan sarapan nya. Balita itu rewel karena mencari papa Dirga dan ingin sarapan dengan disuapi sang papa tercinta. Camila masih berusaha membujuk Je agar anak nya itu mau makan dengan nya.
“ Baiklah, mama akan telpon Papa. Semoga saja diangkat karena pagi ini papa ada meeting penting. “
Camila menyerah lalu mengambil ponsel yang berada di dalam tas kerjanya yang dia simpan di atas sofa di ruang keluarga.
Ini adalah ponsel lama Dirga yang dipakai oleh Camila. Mencari nomor telpon suamianya dan berusaha menghubungi sang suami. Demi Je agar anak nya itu mau sarapan. Mila tidak akan tenang meninggalkan Je selagi dirinya belum melihat Je memakan sarapan nya pagi ini.
Dan baiklah Camila merasa lega karena di seberang sana Dirga mengangkat panggilan telpon nya.
“ Hai sayang ada apa ?”
“ Sebentar Pa, jangan ditutup dulu telpon nya. Papa sedang sibuk kah ?”
“ Masih ada waktu sebelum meeting dimulai. Ada apa ? kangen sama papa dirga ya ? " goda Dirga
Camila tergelak, “ Kalau kangen sudah pasti, tapi ini ada yang lebih urgent.”
“ Ada apa sayang. Apa ada sesutu yang terjadi di rumah”
“ Ya tepat sekali dugaanmu pa. Kau tau Pa, Je tidak mau memakan sarapan nya. Dia mau disuapin oleh papa. “
“ Je mana sekarang ?”
“ Sebentar...” Camila menghampiri Je yang masih duduk dengan lesu di baby chairnya nya.
Camila mengulurkan ponsel pada putranya.
Entah apa yang diucapkan dirga pada putra nya hingga sang putra mengangguk patuh dan menjawab “ Iya, Papa...”
Tangan mungil Je mengulurkan ponsel pada mamanya.
Dengan senyum merekah Camila mencoba kembali menyuapi Je, dan anak itu menurut. Membuka mulutnya menerima suapan nya lalu perlahan mengunyahnya.
Camila tidak tahu bagaiaman cara dirga merayu putra mereka hingga je begitu menurut pada sang papa.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya makanan Je tandas tak bersisa lalu camila menggendong putra nya. Dicuci tangan Je serta dibersihkan mulut putranya itu. Dicium nya dengan penuh sayang karena Je berhasil menghabiskan sarapan nya.
“ Je sayang, mama harus pergi bekrrja Je jangan nakal ya di rumah . Baik baik dengan mbak hana. Nurut dengan mbak hana dan jangan bandel. Maafkan mama nya hari ini kembali mama tak bisa menemani Je bermain. Nanti kalau mama libur kita bermain bersama , okay. “
“ Iya mama.. “
“ Je anak pintar. “
Camila sungguh terharu melihat putranya yang tidak rewel saat ditinggal bahkan balita itu melambaikan tangan melihat kepergiaan Camila.
****
Dirga sudah kembali ke kantornya bersama klien dari luar negeri. Hari ini dia ada meeting penting untuk membahas proyek nya yang berada di luar negeri. Ini bukan kali pertama dirinya mendapat proyek besar tapi sudah
yang kesekian kalinya. Perjalanan bisnisnya yang malang melintang semenjak dia
lulus kuliah hingga sekarang, perjalanan yang panjang dan itu semua tidak mudah
dilalui oleh dirga. Beruntungnya ada Ferdy yang selalu berada bersamanya.
Mendukungnya dan selalu bisa dia andalkan dalam segala hal.
Ferdy bahkan lebih memiih untuk tetap menjadi asisten pribadi nya ketimbang menjadi manager seperti yang sering dirga tawarkan pada nya. Meski jabatan adalah asisten pribadi Dirga, tapi gajinya lebi besar dari gaji manager.
Ponselnya berdering saat dirga baru akan memasuki ruang meeting. Diambil ponsel yang berada di saku celananya. Ternyata Camila yang menelpon nya.
“ Fer, aku angkat telpon dulu. Tolong temani dulu Mister Rich ke dalam “
“ Baiklah bos. “
Dirga sedikit menjauh agar lebih privasi dan menjawab telpon istrinya. Begitu ponsel di angkat dan dia mendengar apa yang dikatakan sang istri. Rasa bersalah menghinggapinya. Diraup wajhnya.
Jaghad mencarinya, memang benar saat dirga berangkat tadi bahkan jaghad masih mandi, dan dirga hanya pamit sebentar pada anak Lelaki nya itu tanpa menungu je selesai mandi.
Dan sekarang Je sedang ngambek tidak mau sarapan dengan sang mama . Lebih memilih sarapan dengan disuapi olehnya.
“ Sayang, mana Je. Biar aku yang bicara padanya.”
“ Sebentar....”
Terdegar langkah kaki camila yang sedang menghampiri Je.
“ Hai jagoan....lagi sarapan ya...”
“ Iya...”
“ Kata mama Je tidak mau sarapan dengan mama. “
“ Iya je mau disuai papa, “
" Sayang, papa sedang bekerja sekarang. Eum... maafkan papa karena tidak bisa menyuapi je. Kali ini Je disuapi mama dulu, dan papa janji nanti setelah papa pulang kerja papa akan bawa Je pergi jalan jalan. Bagaimana ?"
“ papa janji ?”
“ Papa janji ?”
“ oke. “
“Anak pintar, ayo sekarang je jangan membuat mama sedih karena je menolak disuapi mama. Je kan anak pintar.”
Dirga tersenyum mendengar nada manja Je , dan anak itu menurut. Lalu dimatikan panggilan telpon papanya.
Hari ini Dirga berencana membelikan Mila ponsel baru, karena kemarin ponsel mila retak dan tak bisa digunakan. Jadwal Dirga hari ini tidak padat, sesuai prediksi, meeting dengan klien akan berakhir setelah makan siang, selanjutnya Dirga bisa ijin ke Ferdy untuk pulang.
Setelahnya Dirga akan pulang menjemput Je dan membawa Je jalan jalan, sekaligus membelikan ponsel untuk Camila.
Tidak masakah Dirga hanya pergi berdua dengan Je, lagipula dirga akn memberikan surprise pada istrinya . Jika dirga tidak membelikan ponsel baru untuk mila, bisa dirga pastikan jika istrinya itu akan tetap memilih menggunakan ponsel lamanya yang semalam dia berikan pada sang istri. Jika
untuk hal hal demikian pasti camila enggan mengeluarkan uang meskipun dirga sudah
memberikan nya. Bagi istrinya selagi ponsel masih bisa dipergunakan buat apa harus beli yang baru.
Itulah istrinya , begitu menjaga barang barang yang dia pergunakan dan selalu bisa memilah mana barang yang masih dia pertahankan atau tidak dam dia tidak akan mau mehambur hamburkan uang untuk hal hal yang tidak
seberapa dia butuhkan. Temasuk ponsel. Padahal jika menurut dirga ponsel itu
sesuatu yag harus dieprhatikan karena bagi dirga, ponsel selain mampu dia gunakan
untuk bertelpon juga bisa dia gunakan untuk bekerja.
Banyak file file atau laporan yang bisa dia kerjakan melalui ponsel tanpa harus repot repot mebuka laptop. Atau saat dirinya membutuhkan email maka bisa diakses melauli ponsel. Ibaratnya, Dirga akan membeli ponsel yang secanggih mungkin yang bisa mendukung pekerjaan nya.
__ADS_1
Tapi berbeda dengan camila, bagi camila kegunaan ponsel yang paling penting hanyalah untuk bertelpon dan berkirim kabar dengan keluarganya.
Bahkan dia akan sering meninggalkan ponsel selagi menangani pasien di rumah sakit. Jadi tidak ada bedanya ponsel mahal canggih atau tidak jika menurut Mila selagi masih bisa digunakan untuk menelpon keluarganya.