
Dirga POV
Menginjak usia kehamilan empat bulan, aku dan Camila mengadakan acara tasyakuran kehamilan. Kami sengaja menggelar acara di rumah mama sesuai persetujuan dengan pihak keluarga mama maupun Bunda. Dengan mengundang kerabat dekat, teman-teman dekatku dan Mila juga para tetangga.
Acara berjalan lancar sesuai dengan yang kita harapkan. Bahkan kesuksesan acara juga tak luput dari peran beberapa anggota keluarga. Terutama Ken dan Danisha. Mereka berdua lah yang banyak membantu mengurus semua nya. Bahkan dengan adanya Kenzo mereka tetap mampu menghandel semua nya dengan baik.
Selain itu aku juga sangat bahagia karena kak Bumi beserta istri dan anak nya juga turut hadir. Hanya saja Danu yang tidak bisa pulang karena terbentur padat nya jadwal study.
------
Kulihat Mila yang sedang kesusahan melepas resleting gamis nya yang memang berada di bagian punggung. Tanpa kata aku mendekatinya dan berdiri di belakang tubuhnya. Mila menolehku sekilas melalui bahu nya. Acara tasyakuran sudah selesai sejak sejam yang lalu.
Dengan perlahan kubuka resleting gamis nya hingga batas pinggang. Kuturunkan juga bagian lengan nya melewati bahu hingga terlepas dari kedua lengan nya. Gamis itu jatuh di bawah kaki Mila.
Kupeluk pinggangnya dari belakang. Perut Mila sudah mulai membuncit. Kedua telapak tangan ku menempel di atas perutnya. Tapi aku belum bisa merasakan apa-apa. Kata dokter pergerakan janin mulai bisa dirasakan saat usia kehamilan sekitar enam bulan.
" sayang..." kukecup bahu telanjangnya.
" aku capek om. Pengen rebahan." ucapnya.
Tanpa kata kuangkat tubuhnya, membopongnya dan menurunkan nya dengan perlahan di atas ranjang dengan sangat hati-hati.
" sebentar aku ambilkan baju ganti." ucapku kemudian. Menarik selimut dan menutupi tubuh Mila.
Aku berjalan menuju lemari, membukanya dan mengambil daster yang biasa Mila kenakan. Akhir-akhir ini istriku ini suka sekali memakai baju tidur tipis tanpa lengan. Alasan nya karena dia selalu merasa kegerahan. Padahal ac kamar juga selalu menyala.
" bangun sebentar sayang. Pakai dulu baju nya." ucapku sambil membantunya bangun.
Dengan telaten aku memakaian baju itu pada tubuh Mila yang semakin padat berisi.
__ADS_1
" om...." panggil nya.
" ada apa? Mau makan? Atau mau aku ambilkan sesuatu." tanya ku. Dan Mila menggeleng.
Aku ikut duduk di tepi ranjang menatapnya penuh tanya.
" kenapa om dirga baik sekali padaku."
Aku terkekeh mendengar pertanyaan nya.
" harus ya aku jawab." sahutku.
" om dirga ini selalu saja sabar menghadapi ku. Padahal kan aku ini manja dan suka merepotkan."
Jari telunjuk ku sudah menempel di bibirnya.
" kenapa ngomong seperti itu. Sayang, dengarkan. Kamu dan dia sudah menjadi tanggung jawabku. " aku menempelkan telapak tanganku di atas perutnya.
Tiba-tiba saja Mila sudah berkaca-kaca. Bahkan kini sudah memeluk ku erat.
Sejak hamil kurasa Mila ini semakin sensitif perasaan nya, selalu terbawa suasana. Meskipun sikap manja nya semakin menjadi tapi aku tak pernah merasa terbebani. Justru aku merasa senang tiap kali Mila merepotkan ku. Itu tandanya Mila masih membutuhkan ku.
Segala tingkah laku nya yang kadang tak masuk akal, meski jujur membuatku kesal tapi hanya sementara. Selebihnya aku akan selalu ingin melayani nya.
Bagiku Mila itu spesial. Belum lagi calon bayi kami yang ada di kandungan nya saat ini. Membuatku lebih bersemangat menjalani hidup. Lebih semangat kerja hingga aku mendapat banyak proyek. Mungkin rejeki calon baby. Aku juga lebih semangat berolahraga agar hidup semakin sehat. Jika aku sehat maka aku akan selalu bisa menjaga anak istri serta seluruh anggota keluargaku.
Setelah hati nya membaik dilepas nya pelukan tubuhnya. Kuusap air mata yang jatuh di pipi nya.
" kenapa menangis." tanya ku.
__ADS_1
" aku hanya terharu. Punya suami sebaik Om Dirga. Yang selalu memperhatikan ku dan menyayangiku."
Aku tersenyum mendengar ucapan nya.
" I love you."
" I love you too."
Selanjutnya bibir kami telah bertemu. Saling mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang. Aku tulus mencintai istriku tanpa mengharapkan apapun. Dan semoga saja Mila juga memiliki perasaan yang sama dengan ku. Tulus mencintaiki meski pun jarak usia kami yang lumayan jauh.
Bahkan aku tak pernah mempermasalahkan dia yang tetap memanggilku dengan sebutan om. Bagiku itu adalah panggilan sayangnya untuk ku. Tidak perlu aku merasa tua dengan sebutan om yang selalu terlontar dari mulut Mila. Karena memang kenyataan nya demikian. Usiaku sudah semakin beranjak dewasa, ah berasa tua beneran kan jadinya.
----
Beberapa hari berlalu. Dan semenjak kehamilan Mila yang semakin membesar ditambah padatnya aktifitas diluar, aku telah meminta Pak Mardi untuk menjaga Mila dan mengawalnya kemanapun istriku itu pergi. Pak Mardi selain menjadi sopir pribadi juga bisa dibilang sebagai bodyguard Mila. Aku telah mempercayakan Mila pada nya karena keterbatasanku yang tidak bisa menjaga istriku sepenuhnya.
Satu hari penuh aku harus bekerja dan terkadang malam hari nya aku masih harus berada di club. Sudah cukup lama aku tidak nge dj lagi. Ke club hanya mengontrol atau sekedar mengecek apa saja yang harus kutahu dan para karyawan butuhkan. Daffi yang dulunya selalu bisa kuandalkan sekarang sudah tidak ada lagi di Surabaya. Daffi pindah ke Jakarta membantu kakak iparnya mengurus perusahaan. Jadilah sekarang aku harus mengelola sendiri club itu meski kadang kala kak Bumi ikut membantu. Hanya sedikit sih tapi cukup meringankan bebanku. Sejak menikah lagi, sifat kak Bumi juga jauh berubah lebih baik. Dan tidak seperti dulu lagi yang acuh tak acuh pada keluarga. Sekarang ini kak Bumi beserta anak istrinya akan sering mengunjungi kami di Surabaya. Kadangkala beberapa hari menginap sebelum mereka kembali pulang ke rumahnya di Bali.
Dan hal itu tak luput dari perhatian mama. Iya benar.... Saat ini mama tampak lebih bahagia. Dan karena kebahagian nya itu, mama jadi tidak pernah sakit sakitan. Tidak pernah stres dan hidup nya lebih berwarna dengan kehadiran menantu-menantunya. Siapa lagi jika bukan Camila istriku dan Alisha istri baru nya kak Bumi. Danu pun juga sekarang lebih dewasa tidak pernah lagi membuat kekacauan. Bahkan dia juga sudah move on dari istriku. Kabar terakhir yang kudengar, Danu sempat menjalin hubungan percintaan dengan Nathalie. Iya Nathalie saudara tiri Camila. Aku mendengar langsung cerita itu dari mulut Danu juga sedikit cerita dari Camila. Meski pada akhirnya mereka berdua tidak bisa bertahan lama setidaknya Danu sudah tidak mengharapkan cinta Camila lagi.
------
Saat sampai di rumah sudah hampir tengah malam. Jam sebelas lebih lima belas menit. Tadi aku harus pergi ke club karena disana sedang disewa untuk acara birthday party. Jadi aku harus memantau jalan nya acara jangan sampai terjadi kericuhan. Dan untung saja pesta berjalan lancar tanpa ada hambatan atau kerusuhan. Hingga aku bisa pulang dalam keadaan tenang.
Masuk ke dalam kamar mendapati Camila yang tertidur pulas di atas ranjang. Beberapa buku berserakan juga laptop yang belum dimatikan. Mungkin dia baru saja tertidur. Kadang aku merasa kasihan dengan nya. Disaat mengerjakan tugas skripsi dengan kondisi nya yang berbadan dua. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Itu sebabnya kenapa aku sangat menyayangi nya. Karena perjuangan dan pengorbanannya untuk kami tak sebanding dengan apa yang sudah kuberikan padanya selama ini.
Kubereskan buku-buku nya dan menyimpan nya di atas meja belajar. Kuambil perlahan laptopnya. Menyimpan semua pekerjaan nya sebelum kumatikan lalu menyimpan nya juga di atas meja. Kuperbaiki posisi tidurnya dan menyelemuti tubuhnya yang tampak lelah.
Kuusap pucuk kepalanya sebelum mendaratkan satu kecupan di dahinya.
__ADS_1
" good night." bisik ku di depan wajahnya.