
*Selamat datang di Angkasa Dirgantara season kedua....
Jangan lupa Like, vote and komen nya....
Happy reading*
*********
CHAPTER 1
Langkah kaki kecilnya terdengar memasuki kamar. Camila yang sedang sibuk dengan bebera tugasnya menoleh sekilas pada sang putra yang kini berusia hampir empat tahun.
" Hai Je, anak mama ...." Camila merentangkan kedua tangan nya untuk menyambut kedatangan Jaghad atau yang biasa mereka panggil dengan sebutan Je.
Dengan senyum mengembang, Je berjalan cepat menghampiri Camila. Tapi tiba-tiba terdengar suara berat sang papa yang kini memanggilnya.
" Je ...! Ayo main sama Papa. Jangan mengganggu mama . "
“ Biarkan saja, Pa. Mungkin Je kangen sama mama. “ protes Camila pada sang suami.
Camila membawa Je kedalam pelukan nya, lalu dengan gemas mulai menciumi kedua pipi gembil putra semata wayangnya itu. Terlihat sekali jika Camila sangat merindukan kehadiran anak lelaki nya. Sejak dia memutuskan untuk mengambil spesialis, dengan terpaksa kesibukan nya semakin bertambah. Itu semua tak luput dari peran Dirga yang selalu memotivasi Camila agar istrinya itu bisa menjadi seorang dokter spesialis anak , seperti yang dicita-citakan selama ini.
“ Papa sayang, terimakasih banyak telah membantuku merawat dan menjaga Je,” ucap Camila pada Dirga.
Wajah Camila mendongak menatap sang suami yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Je yang berada di pangkuan Camila , semakin merapatkan tubuhnya pada pelukan hangat sang mama.
“ Sayang, ini sudah menjadi tugasku untuk menjagamu juga menjaga Je.”
Camila tersenyum menatap Dirga. Dia merasa sangat beruntung mendapatkan suami sebaik Dirga yang begitu mengerti dirinya. Angkasa Dirgantara, lelaki yang telah hidup bersamanya selama kurun waktu tujuh tahun ini. Selalu setia mendampinginya dalam kondisi apapun, suka maupun duka . Selalu mengerti dirinya yang terkadang memiliki kelabilan di atas rata-rata.
“ Sini Je, sama Papa ya. Kasihan mama, pasti mama capek. “
Dirga berjongkok di bawah Camila, mensejajarkan dirinya dengan sang putra. Tangan nya terulur menggapai tubuh mungil Je. Jaghad adalah anak yang penurut. Meskipun anak itu masih begitu merindukan mamanya, tak ayal dia menurut juga saat sang Papa sudah menggendongnya dan membawanya untuk naik ke atas ranjang.
Dirga menolehkan kepalanya pada jam dinding yang bertengger di dinding kamar mereka. Sudah jam delapan malam , waktunya Je untuk segera tidur. Baik Dirga maupun Camila selalu membiasakan Je agar tidak tidur terlalu malam, selagi masih kecil, kebiasaan itu sudah ditanamkan pada diri putranya.
“ Je, tunggu papa disini. Eum... Papa mau ke dapur membuat susu untuk Je. Ini sudah malam waktunya Je untuk bobok, “ ucap Dirga yang diangguki kepala oleh balitanya.
Mata Je sudah terlihat sayu karena memang dia sudah mengantuk.
“ Pa, biar aku saja yang membuat susu untuk Je, ” tawar Camila.
Bahkan wanita itu sudah berdiri dari duduk nya. Tapi Dirga menggelengkan kepalanya.
“ Jangan. Biar aku saja yang membuatkan Je susu. Sayang, temani Je saja disini. “
Dirga tersenyum menyempatkan untuk mengusap pipi istrinya sebelum pergi meninggalkan kamar mereka. Camila menatap punggung Dirga yang kini sudah keluar melewati pintu dan menghilang dari pandangan matanya . Mata
Camila berkaca – kaca atas perhatian Dirga kepadanya.
Padahal Camila juga tahu, rasa capek Dirga mungkin jauh lebih besar dari pada dirinya , karena seharian ini Dirga juga disibukan dengan pekerjaannya di perusahaan . Perusahaan yang Dirga punya bukan lah perusahaan kecil. Salah satu perusahan besar yang ada di kota tempat tinggal mereka. Dan Dirga juga membawahi karyawan yang berjumlah ratusan orang.
Akan tetapi, selama Dirga menjadi suami nya, Camila tidak pernah mendapati Dirga yang otoriter meskipun jika di perusahaan , Dirga adalah seorang Bos.
“ Mama ...! “ panggilan lirih Je menyadarkan Camila dari lamunan tentang Dirga.
Wanita itu menoleh pada sang putra yang sedang berbaring di atas ranjang mereka. Camila segera menghampiri Je, dan ikut naik ke atas ranjang.
__ADS_1
“ Anak mama....” Camila mendekap tubuh Je, menepuk pelan pantat Je. Kebiasaan yang sering Camila juga Dirga lakukan saat menidurkan anak mereka.
“ Anak mama sudah mengantuk ternyata. Sebentar ya ... tunggu papa membawakan susu utuk Je. “
Camila mampu merasakan anggukan kepala Je yang ada di dalam dekapan nya.
Tak berselang lama, Dirga kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa botol susu di tangan nya.
Je yang menyadari kehadiran sang papa, berbinar bahagia, mengulurkan tangan kanan nya untuk meminta botol susunya.
Dirga ikut berbaring di atas ranjang , dengan Je berada di tengah kedua orang tua nya.
Tatapan penuh sayang dan cinta dari Dirga dan Camila membawa Je larut dalam mimpi indah nya. Karena setelah botol susunya kosong, mata Je pun sudah terpejam. Camila mencium pipi kiri Je lalu Dirga pun melakukan hal yang sama, mencium pipi kanan Je.
“ Tidak terasa ya , Pa. Je sudah semakin besar saja, “ celetuk Camila.
Inilah perkembangan Camila, semenjak Jaghad sudah bisa melafalkan kata Papa untuk memanggil Dirga, secara otomatis Camila pun melakukan hal yang sama. Tidak lagi memanggil Dirga dengan sebutan Om seperti biasanya. Melainkan menyebut dengan kata Papa, mengikuti cara panggil Je pada Dirga.
Tentu saja Dirga merasa sangat senang, meskipun dia tak pernah keberatan jika Camila memanggilnya dengan sebutan Om. Akan tetapi ketika Camila memanggilnya dengan sebutan papa, jiwa kebapakan nya muncul begitu saja. Dirga merasakan tanggung jawabnya semakin besar pada kedua orang yang sangat dicintainya.
“ Sudah pantaskah Je punya adik ?” tanya Dirga tiba-tiba.
Camila tersentak kaget, lalu menatap suaminya penuh tanda tanya.
“ Pa ... jangan mulai deh....” protes Camila
Dirga hanya terkekeh, dia tahu betul bagaimana traumanya sang istri kala melahirkan Je. Hingga sering kali terucap dari mulut Camila jika dia tak ingin punya anak lagi karena takut saat proses melahirkan.
Ingatan Dirga melayang pada saat kelahiran Je tiga tahun yang lalu. Dimana Camila yang sedikit kesusahan saat melahirkan Je, hingga istrinya itu harus merasakan sakit yang Dirga sendiri tak tahu seberapa parahnya. Yang ia tahu dimana Camila yang terlihat sangat tersiksa karena berjam jam lamanya Je tak kunjung lahir ke dunia.
Dan hingga sekarangpun tiap kali Dirga membahas mengenai adik untuk Je, Camila selalu menolak dan meminta dirinya untuk mengingat perjuangan istrinya saat itu. Padahal Dirga sudah ingin sekali jika mereka memberikan adik buat Je. Selain karena umur Dirga yang sudah bisa dibilang semakin tua, juga karena dia ingin memberikan Je teman bermain.
Mereka baru bisa bertemu jika Camila kangen dengan Bunda. Dan saat mengunjungi Bunda Anyelir, barulah Je akan bertemu dengan Kenzo juga Kenzi.
Bunda Anyelir memang masih tinggal bersama Kennatria, kakak pertama Camila. Sementara Dirga dan Camila sudah tinggal di rumah sendiri.
Belum lama mereka memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri. Baru sekitar satu tahun ini mereka pindah. Sebelum nya mereka tinggal bersama dengan Papa dan Mama Dirga. Akan tetapi karena Je juga tumbuh semakin besar, pada akhirnya Dirga memutuskan untuk membeli rumah sendiri dan memboyong Camila beserta Je ke rumah baru mereka.
Mama Dirga sempat memprotesnya, karena jika tidak ada Je di rumah, maka rumah mereka akan terasa sepi. Sejak kehadiran Je, mampu memberi warna tersndiri pada kehidupan Papa dan Mama Dirga. Terlebih mama nya yang semakin hari kesehatan nya semakin membaik. Lebih banyak menghabiskan waktu bersama Je. Tentu saja mama sangat merasa kesepian semenjak Dirga dan Camila pindah.
Dirga hanya ingin mandiri, menjadi kepala rumah tangga , menjadi ayah dan suami yang bertanggung jawab bagi Camila dan Je, tentunya tanpa campur tangan orang lain. Bukan nya Papa dan mamanya selalu campur tangan akan rumah tangga Dirga, tidak sama sekali. Hanya saja Dirga ingin sekali hidup mandiri.
Dan di rumah baru mereka ini, Dirga serta Camila dibantu oleh seorang Asisten Rumah Tangga yang akan membantu menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang tak mampu di handel seorang diri oleh Camila. Jadwal Camila yang begitu padat sebagai seorang dokter umum di salah satu Rumah Sakit swasta di kota ini, juga kesibukan Camila yang saat ini sedang menempuh study . Hingga tak memungkinkan bagi Camila untuk mengurus semua seorang diri. Dirga pun juga tidak akan membiarkan Camila capek dengan aktifitas setiap hari.
Dan mengenai Je, ada seorang babysitter yang akan membantu menjaga dan merawat balita itu. Jadi saat Dirga juga Camila sibuk dengan aktifitas mereka, Je akan ditemani oleh susternya. Kadangkala mama Dirga atau Bunda Anyelir akan datang ke rumah mereka, Bahkan juga terkadang mereka akan menginap.
“ Sayang ....” panggil Dirga membuat perhatian Camila teralih pada suaminya.
“ Ya ....”
“ Apa tidak sebaiknya Je kita masukan ke play group. “
“ Sepertinya jangan dulu Pa, Je masih terlalu kecil. Kasihan dia. “
“ Tapi kan kalau di playgroup Je akan mempunyai banyak teman “
“ Iya juga sih, tapi mungkin tidak sekarang. Bagaimana kalau tahun depan saja. “
__ADS_1
“ Kalau menurut sayang seperti itu, ya sudah aku ikut saja.”
“ Kamu itu selalu tidak punya pendirian, Pa.”
Camila bangkit dari berbaringnya.
“ Bukan nya tidak punya pendirian. Hanya saja apa yang menurut sayang yang terbaik , Aku ikut saja. “
Camila mengusap dahi Je lalu mencium kening balitanya. Ciuman yang penuh kasih sayang.
“ Entahlah aku merasa sangat bersalah karena sering meninggalkan Je dirumah, “ celetuk Camila masih dengan memandang putranya.
“ Sayang jangan berbicara seperti itu.”
“ Apa yang aku ucapkan itu benar adanya, Kodrat seorang wanita seharusnya selalu berada di sisi suami dan anaknya. Memastikan anak dan suaminya tidak kekurangan suatu apapun juga. Sementara aku ... Aku justru mempercayakan orang lain untuk mengurus Je. Juga harus menyerahkan semua taggung jawabku sebagai istri pada ART.”
“ Hei, sayang jangan berbicara seperti itu. Hidup itu pilihan. Tak ada yang perlu disesali. Semua punya jalan hidup masing-masing. “
Dirga menjeda ucapan nya, lalu dia ikut bangun dari berbaringnya.
Kedua nya duduk bersila di atas kasur saling berhadapan dengan Je sebagai pembatas diantara mereka. Tangan Dirga terulur mengambil tangan Camila. Digenggamnya erat.
“ Sayang, bukan berarti kita berdua ini bukanlah orangtua yang tidak bertanggung jawab pada Je, hanya karena satu alasan, menyerahkan pengasuhan Je pada orang lain. Setiap manusia itu mempunyai jalan hidup nya masing-masing. Dan kita hanya bisa menjalani semua nya dengan ikhlas. Mungkin bagi seorang ibu rumah tangga akan
merasa bangga karena bisa megurus anak serta suami dengan tangan nya sendiri. Tapi di hati kecil mereka juga pasti ada terselip rasa iri jika melihat wanita lain yang karir nya cemerlang. Punya penghasilan sendiri.”
Camila terdiam mencerna kata kata suaminya. Memang benar apa yang Dirga sampaikan. Ada kalanya seorang Ibu Rumah Tangga bangga akan pencapaian nya karena berhasil megurus anak dengan tangan nya sendiri. Melalui setiap proses tumbuh kembang anak nya. Selain itu juga bisa megurus suami dengan baik.
“ Sayang, dengarkan baik baik apa yang aku sampaikan. Hidup sayang ini sudah sangat luar biasa. Sayang adalah ibu terbaik yang Je punya serta istri yang terbaik yang aku miliki. Meskipun sayang tidak bisa melakukan semua sendiri bukan berarti sayang tidak mampu melakukan nya. Aku yakin sayang mampu melakukan semua , hanya saja memang keadaan yang memaksa sayang untuk seperti ini. “
Camila semakin terharu dengan semua ucapan suaminya. Kenapa suaminya ini begitu bijaksana, mempunyai pola pikir yang luas. Tidak pernah banyak menuntut dan
selalu menyemangati nya . Seperti saat ini, disaat Camila merasa down karena rasa bersalah pada Je, justru Dirga selalu mengatakan bahwa dia adalah ibu terbaik yang Je miliki.
Benarkah demikian ? benarkah apa yang suaminya sampaikan itu ? benarkan dia sudah melaukan yang terbaik untuk Je juga utuk Dirga ?
“ Pa .... “ Camila bersuara.
“ Benarkah apa yang papa sampaikan itu ? Benarkah aku ini adalah ibu terbaik untuk Je dan istri terbaik untuk mu ? “
Dirga mengangguk mantap lalu membawa tangan Camila yang ada di genggaman nya ke dalam kecupan lembut bibirnya.
“ Pa, aku ini tidak bisa mengurus kalian dengan baik. Aku sering meninggalkan kalian pagi pagi buta, aku tidak pernah menyiapkan makan kalian, bahkan aku baru bisa melihat Je saat malam menjelang. Bagaimana mungkin papa bisa mengatakan jika aku ini wanita terbaik untuk kalian ?”
“ Apa sayang lupa, siapa diri sayang sebenarnya. Bahkan sayang bukan saja wanita terbaik dan terhebat untuk kita. Tapi juga dokter terbaik bagi orang orang yang sangat membutuhkan jasa sayang. Kehadiran sayang sangat dinanti oleh semua. “
“ Pagi hari memang benar sayang harus meninggalkan ku juga Je, akan tetapi di rumah sakit ada banyak orang yang begitu mengharap kehadiran sayang. Begitu menantikan sayang. Dan aku sangat bangga pada sayang. “
“ Pa... kamu selalu bisa menghiburku, selalu bijak dalam mensikapi segala hal. Aku .... aku
sangat beruntung bisa memilikimu. “
Camila tak dapat menghentikan air mata yang sudah membasahi pipinya.
“ Aku juga sangat beruntung memilikimu sayang. “
Dirga menarik Camila dan membawanya ke dalam pelukan hangat tubuhnya. Dan Camila
__ADS_1
merasa bahwa Dirga adalah segalanya bagi dirinya.
Bersambung