Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 48


__ADS_3

" Bukan siapa-siapa kok, Om." jawab dokter Rasya cepat.


" Rasya, om ingin mengenalkan mu dengan anak prof. Rohaendy. Dia dokter juga. Siapa tahu kalian cocok. Ayo ikut om. Kebetulan prof. Rohaendy ada disana tadi." tunjuk dokter Hendrawan.


Rasya menghela Nafasnya." Baiklah, Om. "


Dan lelaki itu hanya menurut mengikuti kemana arah pergi nya om Hendra.


Sementara itu Hana merasa bersyukur karena terlepas dari kejaran dokter Rasya. Kembali duduk di hadapan Je.


" Bu, adek sepertinya mengantuk."


" Iya, matanya sayu begitu. " timpal Camila.


Mila menarik lengan suaminya. " Pa, pulang yuk... Je mengantuk seperti nya."


Dirga memperhatikan putra nya yang tampak lesu." Baiklah kita pulang. "


" Pak Dirga, saya pulang bareng dengan bapak ya. Jangan biarkan saya dengan dokter Rasya. " ucap Hana.


Dirga tersenyum lalu mengangguk. Merasa bersalah karena telah memaksa Hana untuk berangkat di satu mobil dengan dokter Rasya.


Mereka bertiga pun keluar dari ruang pesta menuju area parkir.


Je yang berada di dalam gendongan Dirga sudah mulai terlelap. Sesampai di mobil Hana mengambil alih Je dari gendongan Dirga lalu menidurkan balita itu di bangku tengah.


" Mbak Hana, maafkan kami ya, bukan maksud apa-apa. Hanya saja kapan hari dokter Rasya memang sengaja datang ke rumah dan meminta izin pada kami untuk menjadikan Mbak Hana pasangan nya di pernikahan dokter Allan. Saya tidak tahu jika hal itu justru membuat Mbak Hana nggak nyaman. " ucap Camila dengan penuh penyesalan.


" Iya Bu. Nggak papa. Saya hanya kurang nyaman saja dengan dokter Rasya. "


" Lain kali kami tak akan begini lagi. Maaf ya mbak. "


Camila dan Dirga saling pandang. Mereka berdua merasa sangat bersalah pada Mbak Hana.


Pada akhirnya mobil pun memasuki halaman rumah. Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, Dirga mengambil Je dan menggendong nya. Camila menyusul di belakangnya.


Dirga membawa Je langsung masuk ke dalam kamarnya. Dan menidurkan Je ke atas ranjang.


" Kasihan anak mama sudah mengantuk. Sini Pa biar aku ganti bajunya Je."


Camila mulai melepas baju yang dikenakan Je dan menggantinya dengan piyama tidur.


Sementara itu Dirga pun sudah melepas semua baju nya hingga menyisakan celana boxer nya saja.


" Mau mandi lagi, Pa. " tanya Camila.

__ADS_1


" Iya gerah... Sayang mau mandi sekalian?" tanya nya pada sang istri.


Belum juga Camila menjawab tapi Dirga sudah mengangkat tubuh istri nya.


" Papa.....!" pekik Mila.


Dibawanya tubuh sang istri ke dalam kamar mandi. Camila hanya menurut dan melingkar kan tangan nya di leher Dirga.


***


" Morning sayang...."


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi Camila.


Pagi ini Mila sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Selayaknya istri yang baik, dia mulai lagi menghandel sendiri semua keperluan anak dan suami nya.


" Mana Je?"


" Masih di toilet sama mbak Hana. Minta pipis tadi."


" Jadi bawa Je pergi ke sekolah hari ini."


Lelaki kecil yang sedang mereka perbincangkan muncul bersama mbak Hana.


" Papa, Je mau sekolah. " balita itu sudah berceloteh lalu Mbak Hana mengangkat tubuh Je dan mendudukan nya di baby chair.


" Baik - baik ya di sekolah. "


Je mengangguk.


***


Mila dan Hana menunggui Je di sekolah. Anak itu memang sangat aktif dan lincah. Tak heran jika tingkah nya terkadang sanggup membuat Hana juga Mila kewalahan.


Hingga saat Je tiba waktunya pulang, tiba-tiba saja balita itu berteriak memanggil seseorang.


" Om dokter....!"


Hana dan Mila sama - sama melihat kedatangan dokter Rasya.


Mila mengernyit, buat apa dokter Rasya ada di sekolah Je. Dan bagaimana dokter itu bisa tahu jika mereka berdua sedang berada disini.


Camila tak habis pikir dengan kenekatan dokter Rasya.

__ADS_1


" Dokter Mila, maaf tadi saya ke rumah tapi penjaga rumah mengatakan anda berdua berada di sekolah Je."


" Dokter Rasya ada perlu apa ya mencari kami disini."


" Sebenarnya saya ingin berbicara dengan Hana. Ada sedikit hal yang ingin saya sampaikan."


Camila menoleh pada Mbak Hana, tapi Hana hanya menggeleng.


" Baiklah dokter Rasya. Begini saja. Tidak jauh dari sini ada resto cepat saji. Kita berbicara disana saja bagaimana? "


" Baiklah. "


Camila dan Hana masuk ke dalam mobil.


" Bu, dokter Rasya ada apa ya mencari saya? Saya kok jadi takut sendiri."


" Saya juga tidak tahu mbak. Ya sudah Nggak papa. Kita dengarkan saja apa yang dokter Rasya ingin bicarakan nanti. "


Mereka menuju resto yang tak jauh dari sekolah Je. Dokter Rasya mengikuti mereka di belakang. Sesampai nya di resto, mereka berempat masuk ke dalam nya dan duduk di salah satu kursi.


" Maaf dokter Rasya jika saya harus mendampingi mbak Hana. "


" Tidak apa dokter Camila. Sebenarnya tujuan saya menemui Hana karena saya ingin... Eum...."


Rasya menatap Hana.


" Hana, maukah kau menikah denganku?"


Tentu saja Hana terhenyak. Camila pun ikut kaget. Ini dokter Rasya serius atau bercanda.


" Dokter Rasya ini bicara apa? " Hana tertawa sumbang.


" Saya serius Hana."


Sepertinya Camila harus menengahi. Bagaimana mungkin mengajak menikah seperti membeli permen.


" Dokter Rasya maaf jika saya lancang. Dokter, menikah itu bukan hal yang main main. Menikah itu butuh komitmen. Tidak serta merta anda mangajak menikah mbak hana dan masalah selesai. Tidak seperti itu dokter."


Camila berkaca pada pengalaman nya sendiri waktu dia awal menikah dengan Dirga.


" Dokter Rasya.... " kali ini Hana yang juga mulai berani angkat bicara.


" Maafkan saya. Bukan karena saya sombong atau apa lalu saya menolak dokter. Bukan. Bukaan seperti itu. Saya dan dokter itu tidak saling mengenal. Kita hanya sebatas saling tahu. Tidak lebih dan tidak kurang. Saya rasa juga tidak etis rasanya jika tiba tiba dokter mengajak saya menikah. Tentu saja jawaban saya adalah tidak. Sekali lagi saya mohon maaf. Bukan bermaksud saya sombong. Tapi benar apa yang Bu Mila sampaikan. Menikah itu membutuhkan komitmen. Dan diantara kita saya rasa juga tidak pernah ada hubungan apa apa. Jadi sekali lagi saya mohon maaf dokter. "


Rasya terdiam. Apa yang disampaikan dua perempuan di hadapan nya ini benar adanya. Hanya karena ia dipaksa menikah oleh om hendra, jadi dia asal saja mengajak Hana menikah tanpa dia berpikir apakah hana mau atau tidak. Rasya pun juga melupakan jika kedua orang yang menikah itu didasari akan rasa cinta dan kecocokan satu sama lain. Ya, dia baru menyadari semuanya. Selama ini hidup nya memang sangat kacau. Hingga dia tidak punya pendirian. Hidupnya pun tak tentu arah. Rasya meraup wajahnya frustrasi. Dia merasa malu. Sangatlah malu. Malu pada Mila dan juga Hana.

__ADS_1


__ADS_2