
Camila PoV
" Selamat sore tante."
" eh nak Dirga. Selamat sore......" bunda menoel-noel lengan ku. Lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik di telingaku. " itu ada nak Dirga sama siapa ?."
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Bunda, mama nya om Dirga melangkah mendekatiku yang berdiri dengan jarak beberapa meter darinya. Dengan senyum lebar tiba-tiba mama om Dirga memeluk ku. Aku sampai mundur satu langkah karena terkejut.
" Mila, tante rindu sekali sama kamu sayang." mama om Dirga memeluk tubuhku begitu erat. Padahal aku belum mandi loh. Dan badanku pasti bau. Tapi mau melepas kan pelukan mama om Dirga rasanya juga tak sopan.
Kulirik Bunda yang tampak shock melihat anak perempuan nya dipeluk oleh orang yang tak dia kenal.
" kamu apa kabar Mila." mama om Dirga akhirnya melepaskan pelukan nya. Lega rasanya. Aku tersenyum kikuk.
" alhamdulillah Mila baik. Tante sendiri bagaimana kabarnya. Sehat kan?" tanyaku
" tante sehat. Apalagi bisa ketemu kamu. Rasanya sungguh luar biasa sehat. " aku bisa melihat binar bahagia di wajah wanita paruh baya itu. Apa iya hanya dengan bertemu denganku saja bisa membuat orang sebahagia ini.
Mama om Dirga menoleh dan seperti nya baru menyadari jika ada Bunda yang berdiri disampingku, menatap kami dengan bingung.
"oalah maafkan saya loh mbakyu. Haduh saking senengnya ketemu calon mantu sampai tak menghiraukan calon besan. Oiya perkenalkan saya mama nya Dirga."
Mama om Dirga mengulurkan tangan nya dan Bunda menerimanya dengan senyuman.
" saya Anyelir, bunda nya Camila. "
" senang dapat berkenalan dengan mbakyu anyelir. Oh iya sebentar. " mama om Dirga menoleh ke belakang. Melihat om Dirga dan satu orang lelaki yang kutahu adalah papanya karena dulu aku pernah sekali bertemu.
" Dirga, papa..... Kenapa masih berdiri disitu. Ayo sini. "
Kedua orang pria itu berjalan menghampiri kami. Papa om Dirga ini meski kutahu usianya tak muda lagi tapi masih terlihat tampan dengan rambut yang memulai memutih.
Aku mengulurkan tangan pada papa om Dirga." sore om. Apa kabar. " demi kesopanan aku menyapa duluan. "
" alhamdulillah om baik. Mila sendiri bagaimana. "
__ADS_1
" alhamdulillah Mila juga baik om. "
Papa om Dirga beralih ke Bunda dan mereka berdua saling berkenalan. Aku melihat om Dirga yang tampak tenang padahal akunya sudah bertanya-tanya sejak tadi. Ada keperluan apa hingga om Dirga bertamu dengan mengajak serta papa dan mamanya dengan penampilan formal seperti ini.
Aku masih menatapnya dalam diam saat tanpa sengaja tatapan mata kami bertemu karena om Dirga tiba-tiba mendongak, aku berusaha bertanya padanya melalui pandangan mata. Tapi yang kulihat om Dirga hanya mengedikan bahu. Tak menghiraukan keingintahuanku.
" mari silahkan masuk. Aduh maaf ya ada tamu kok saya biarkan diluar. Ayo silahkan."
" kami juga minta maaf ya mbakyu sudah mengganggu sore sore begini datang bertamu."
" oh tidak apa apa. Kebetulan memang kami sedang tidak ada kegiatan dan hanya berdiam diri dirumah sejak tadi. "
Bunda masuk ke dalam diikuti oleh mama dan papa nya om Dirga. Sekali lagi aku melihat ke arah om Dirga.
" om, ini ada apaan sih. Kenapa mama dan papa om Dirga ada disini. " tanya ku saat om Dirga sudah berdiri di depanku.
Om Dirga tersenyum tipis dan melenggang masuk ke dalam rumah meninggalkanku yang masih terbengong-bengong tanpa mendapat jawaban atas keingintahuanku.
------
Aku masih bertanya-tanya ada apa gerangan keluarga om Dirga tiba-tiba datang kemari. Apalagi melihat interaksi bunda dan mamanya om Dirga, mereka langsung akrab padahal baru hari ini berkenalan.
" saya sebagai orangtua hanya mendukung semua keputusan yang akan diambil oleh Camila."
Sayup-sayup kudengar suara Bunda saat aku menuruni anak tangga.
" maksud nya bunda apaan sih." aku bergumam sendiri.
Kuputuskan untuk tetap menuju ruang tamu menemui keluarga om Dirga.
" eh itu Camila sudah selesai. Sini nak duduk sini ayo. " bunda menepuk kursi disebelahnya saat melihatku.
Aku menurut dan duduk di samping Bunda. Mengedarkan pandangan ke arah om Dirga, lelaki itu tersenyum kecil. Lalu aku beralih menatap mama dan papa om Dirga yang kini juga sedang menatapku dengan wajah bahagia.
" jadi begini sayang" Bunda menepuk pahaku, mengambil nafas dan kembali berkata. " ehm nak Dirga ini datang bersama kedua orang tua nya, ada satu tujuan."
__ADS_1
" maksud Bunda."
" sabar jangan menyela. Bunda belum selesai bicara."
" iya maaf."
" jadi nak Dirga ini punya maksud baik ingin melamarmu." bunda terdiam sejenak menatapku yang masih terdiam. Aku masih ingin mendengar kelanjutan ucapan bunda. Tak ingin menyela seperti beberapa detik tadi.
" bagaimana sayang? " tanya bunda padaku.
Aku mengernyit." bagaimana apanya bun.? " tanya ku balik pada bunda.
" astaga Mila. Nak Dirga ini ingin melamarmu dan menjadikan mu istrinya."
" apa Bun???? Istri.....!!!!!"
Kutatap om Dirga yang duduk di depanku. Lelaki itu diam tanpa ekspresi tapi matanya tak lepas dari mataku. Menatapku penuh harap.
" iya sayang. Nak Dirga ini ingin menikahi mu. " kutolehkan kepala ke samping. Mataku membulat mendengar ucapan Bunda.
Jujur aku gagal faham dengan semua ini. Bunda bilang om Dirga melamarku dan ingin menikahiku. Apa aku ga salah dengar. Menikah????
" Tujuan kami datang kemari itu untuk melamar mu sebagai calon istri anak kami, angkasa Dirgantara. Bagaimana? Mila mau kan menerima lamaran Dirga dan menikah dengan nya."
" tapi tante saya...... "
" ma " ucapan ku terputus karena om Dirga menimpali." boleh Dirga bicara sebentar dengan Camila. "
" aduh kenapa ga bicara disini saja. "
" Dirga hanya ingin bicara empat mata mama. "
" ya sudah terserah Dirga. "
Om Dirga berdiri." tante saya minta ijin untuk bicara berdua dengan Mila, bolehkah ."
__ADS_1
" oh iya silahkan nak Dirga. Sepertinya di teras belakang enak buat kalian ngobrol. Mila ayo sana ajak nak Dirga ke taman belakang."
" baik bun" sebenarnya aku ingin menolak, tapi melihat bunda yang melotot membuat nyaliku menciut. dengan malas aku berdiri menyeret kaki ku menuju taman belakang dan Om Dirga mengikuti ku.