Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 37 - Jangan Panggil sayang


__ADS_3

Author Pov


" Kita pulang sekarang. Sudah sore." Dirga beranjak dari sisi ranjang yang dia duduki. Menatap sekilas mama nya yang sudah tertidur lelap.


Mereka keluar dari dalam kamar rawat inap bertepatan dengan papanya yang juga masuk ke dalam.


" pa, Dirga antar pulang Mila dulu ya. " pamitnya.


" iya. Biar papa yang jaga mama."


" nanti malam Dirga kesini lagi."


" papa, Mila pulang dulu. Assalamualaikum." pamit Mila mencium punggung tangan papa mertuanya.


" waalaikumsalam."


------


Sampai di rumah bunda Anyelir, suasana sudah terlihat sepi. Tenda yang kemarin ada di depan rumah juga sudah tidak ada. Dirga dan Camila memasuki rumah melihat papa Wijaya dan Keenan sedang berbincang di ruang tamu.


" Kalian sudah pulang. Bagaimana kabar mamamu Dirga". Tanya Pak Wijaya pada menantunya


" alhamdulillah mama sudah membaik Pa."


" ayo duduklah."


Dirga duduk di salah satu kursi kosong.


" ehm pa, Mila ke kamar dulu ya." pamit nya pada sang papa.


" istirahatlah. Pasti kamu capek."


Mila berlalu meninggalkan mereka.


" papa kapan kembali ke Australia. " tanya Dirga


" besok pagi. "


" owh.. "


" Dirga kalau mau istirahat naik saja ke atas. Pasti kalian sangat lelah. Nanti kita makan malam bareng."


" ga apa Dir, anggap saja rumah sendiri. " ucap Keenan


" oh ga usah. Ini juga aku mau pulang kok. "


Bunda Anyelir muncul membawa nampan berisi minuman dan cake.


" loh kenapa pulang. Disini kan juga rumahmu Dirga. "


" itu Bun, Dirga mau mengambil baju buat papa. "


" oawalah.... Mama mu bagaimana kondisi nya. Maaf ya Bunda belum bisa kesana. Rencana nya malam ini Bunda mau minta anter Ken. Eh ternyata Dirga sudah disini. "


" mama sudah lebih baik kok Bun. Hanya butuh istirahat. Mungkin besok juga sudah boleh pulang. "


" syukurlah kalau begitu. Eh Dirga jangan pulang sekarang. Tunggu sebentantar lagi. Kita makan malam bareng. "


" baiklah Bun. "


-----


Usai acara makan malam Dirga pamit pulang. Karena paksaan Bunda, Camila mengantar Dirga hingga diluar rumah.


" aku pulang dulu. "

__ADS_1


" iya. Hati hati di jalan. Salam buat papa dan mama. "


Dirga masuk ke dalam mobil. Baru saja mobil Dirga meninggalkan pelataran rumah, Mila sudah dikejutkan dengan kehadiran motor yang sangat dia kenali. Itu motornya Daffi dan Mila semakin tak percaya kala melihat Nathalie lah yang berada di boncengan motor Daffi.


Mila masih berdiri di posisi nya, mengamati interaksi Daffi dan saudara perempuan nya.


" Mil, aku pulang. Maaf tak bisa mampir." tanpa berniat melepas helm nya Daffi pamit pada Mila.


" iya kak, hati hati di jalan."


Mila masuk ke dalam rumah langsung naik ke lantai dua diikuti oleh Nath di belakangnya.


" kamu darimana Nath. Kok bisa sama Kak Daffi. "


" ehm... Engga tadi cuman keluar sebentar." jawab Nath sedikit gugup.


Camila membalikkan badan nya menatap Nathalie.


" Nath.... Kamu dan Kak Daffi.... Ehm... Maksudku apa ada sesuatu antara kamu dan Kak Daffi. "


" maksudnya? " Nath balik bertanya.


" ah enggak... Lupakan. " entah kenapa Camila merasa jika Nath dan Daffi ada sesuatu.


" ya sudah aku istirahat dulu." Nath sudah akan meninggalkan Camila untuk masuk ke dalam kamar Danisha. Sejak kemarin memang Danisha meminjamkan kamarnya untuk Nathalie. Camila menghentikan langkah Nath.


" Nath..." Nathalie berbalik dan menatap Camila.


Sungguh Camila merasa tak enak hati melihat Nath yang seperti ini. Tak adalagi Nath yang bicara ceplas ceplos padanya dan suka menjailinya. Yang ada dihadapkan Camila sekarang hanyalah Nath yang pendiam dan berusaha menjauh darinya.


"Aku minta maaf jika aku ada salah. Dan aku minta maaf karena aku..... Aku telah bersedia menjadi istri Om Dirga. " ucap Camila lirih tapi mampu membuat Nathalie terperangah.


" hei Mil... Kamu bicara apa... Aku sudah tak apa. Dan... Aku sudah berusaha menerima kenyataan jika Kak Dirga telah memilihmu untuk menjadi istrinya. "


Mila memeluk Nathalie masih dengan terisak.


" sudah Mil. Jangan terus merasa bersalah padaku. I'm fine. Oke. Btw aku harus packing sekarang. Besok mau balik ke Australia."


" apa? Besok?"


" hem.. Besok papa mama sudah balik ke australie dan aku akan ikut bersama mereka."


" kenapa bisa begitu. Kamu ga mau tinggal disini dulu untuk beberapa waktu. "


" enggak Mil... Lain waktu pasti aku akan pulang kerumah ini lagi."


" Nath.. " kembali Mila memeluk Nathalie.


--------


Hari Senin pagi rumah sudah kembali sepi. Papa Wijaya dan mama Jane serta Nathalie sudah kembali ke Australia satu jam yang lalu. Keenan  juga sudah kembali bekerja. Danisha pergi kuliah sementara Bunda baru saja pergi ke Resto. Tinggalah Camila seorang diri di rumah. Sebenarnya hari ini dia ada jadwal kuliah tapi siang hari. Tidak ada satupun teman Camila yang mengetahui tentang pernikahan nya karena memang sesuai perjanjian nya dengan Dirga jika dia akan menyembunyikan status pernikahan mereka.


Ponsel yang berada di tangan nya bergetar. Mila mengernyit melihat siapa yang sedang menelepon nya saat ini.


" ya hallo. Ada apa om."


" kamu dimana."


" ya di rumah."


" tidak kuliah.?"


" nanti jam 1 an. Ada apa."


" hari ini mama sudah diizinkan pulang oleh dokter."

__ADS_1


" alhamdulillah."


" bisakah kamu kesini. Mama menanyakanmu."


" owh... Ehm sekarang?"


" iya. Biar pak parman yang menjemputmu di rumah. Kamu siap siap saja. Sekalian bawa keperluan kuliahmu. Jadi nanti setelah mengantar mama pulang, kamu bisa langsung pergi kuliah. "


" oke baiklah kalau begitu. Aku siap siap dulu. "


---------


Mama Dirga sudah terlihat membaik. Hanya saja dokter menyarankan agar banyak istirahat dan tidak boleh banyak fikiran jika tak ingin stres dan kembali nge drop. Dokter juga menyarankan kerjasama dari semua anggota keluarga agar tidak membuat sang mama bersedih hati.


" ma, Mila kuliah dulu ya. Mama harus banyak istirahat. Ga boleh capek." Mila membetulkan selimut mama mertua nya.


" terimakasih sayang. Oh ya nanti sepulang kuliah Mila balik kesini kan."


" eh itu ma.." Mila tergagap bingung harus menjawab apa.


Pintu kamar terbuka, muncul sosok Dirga dari ambang pintu.


" Sayang.... Sudah siap. Ayok berangkat."  Dirga berjalan mendekati ranjang sang mama.


" mama, Dirga antar Mila dulu ya. Mama istirahat. " Dirga mencium kening mama nya.


" Dirga, sepulang kuliah bawa Mila kesini lagi ya.... Mama masih ingin bersama mantu mama. "


" siap ma. Dirga pergi dulu ya."


" Mila kuliah dulu ya ma." mila pamit dengan mencium punggung tangan mama mertuanya.


Dirga merangkul pundak Mila membawanya keluar kamar. Sang mama tersenyum bahagia melihat kemesraan anak lelaki dan menantunya.


Diluar kamar Mila berusaha melepas tangan Dirga yang bertengger manis di bahunya.


" ish... Om lepas... Jangan suka modus. Pake acara pegang pegang segala."


" modus dengan istri sendiri ga dosa kan."


Mila memicingkan matanya " om ga lupa kan sama janji yang telah kita sepakati. Kuingatkan kembali jika memang om Dirga lupa. Tidak ada kontak fisik diantara kita berdua. "


Dirga hanya mengedikan bahu tak acuh berlalu meninggalkan Mila yang masih menahan kesal karena ulahnya.


-------


Dirga mengantar Mila hingga di parkiran. Selama perjalanan tidak ada pembicaraan diantara mereka.


" pulang jam berapa? " tanya Dirga tanpa menatap Mila.


" aku naik grab saja nanti. Om tak perlu menjemputku." Mila melepas seat belt nya dan hendak membuka pintu. Tapi tangan nya dicekal oleh Dirga. Mila menoleh. " ada apalagi.?"


Dirga memberikan tangan kanan nya.


Mila masih tak mengerti, Dirga mendekatkan punggung tangan nya di wajah Mila.


Barulah Mila tersadar akan maksud Dirga. Mila meraih punggung tangan suaminya dan dicium nya sekilas sebelum dia terburu buru keluar dari dalam mobil.


Dirga tersenyum simpul, terlebih melihat pipi Mila yang merah merona.


" nanti kujemput dan jangan kemana mana sebelum aku datang. Telpon aku jika kamu selesai kelas."


Mila hanya mengamati dalam diam mobil Dirga yang sudah menjauh meninggalkan nya.


" orang aneh. Kadang baik kadang bikin kesel. Dasar om om tua menyebalkan. " gumam Mila berlalu meninggalkan area parkir.

__ADS_1


__ADS_2