Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 26 - Lamaran


__ADS_3

Dirga Pov


" yakin mama mau kita berangkat sekarang.?" tanya ku pada mama yang kini sedang merapikan kemeja batik yang kukenakan.


" apa ga sebaiknya nanti malam aja ma." lanjutku


" niat baik harus disegerakan. Kalau bisa sekarang kenapa harus nunggu nanti malam."


" sudah rapi. Sudah ganteng juga. Haduh mama ga sabar lihat kamu menikah sayang". Mama menepuk-nepuk bahuku. Lalu mengamati wajahku. Menyentuh bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar tulang pipi dan rahangku.


" ini kenapa ga dibersihin sih. Kalau kayak gini kamu jadi kelihatan tua Dirga."


" ya Dirga kan memang sudah tua ma.


" nyadar umur ternyata. Gitu disuruh nikah kok ya susah sekali. " mama menggerutu


" yang penting sekarang kan Dirga sudah mau disuruh nikah ma. "


" iya terimakasih sayang, kamu memang yang terbaik untuk mama. Rasanya sudah ga sabar ingin lihat kamu menikah." tampak wajah mama yang berbinar.


Mama terlihat begitu bahagia. Wajah ceria dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya. Aku yang melihat mama seperti ini ikut bahagia. Mama lah wanita yang begitu aku cintai. Tidak akan tega jika aku harus membuatnya kecewa.


Termasuk keinginan mama yang satu ini. Tak kuasa aku menolaknya dan hanya meng-iya kan permintaan nya.


Flasback


" Maafin Dirga ya ma. Dirga kelamaan ninggalin mama." aku menggenggam jemari mama yang terasa hangat.


" ga apa sayang. Mama hanya sedikit kecapean. Dipakai istirahat nanti juga sembuh." ucapan mama terdengar lirih.


" uncle, Danu sudah melarang oma sebenarnya. Tapi oma tetep ga mau diem di rumah. Ada saja yang dikerjakan. " Danu, keponakanku tampak bersalah melihat mama sakit.


" sudah sudah kalian jangan ribut. Biarkan mama istirahat. Lebih baik kita keluar. " ucap papa.


" mama istirahat. Kami keluar dulu. " papa mengecup kening mama. Lalu menarik selimut hingga batas dada.


Aku dan Danu mengikuti papa setelah sebelumnya juga ikut mencium mama yang kini mulai menutup matanya.


-----


" opa, uncle.... Ehm maaf bukan nya Danu tak suka jika ada kalian disini. Tapi.... Danu tak tega melihat oma sakit seperti ini." Danu menghela nafas sebelum melanjutkan kata katanya. " Danu sebenarnya bisa hidup mandiri. Jika ada oma disini Danu sangat senang sebenarnya. Karena oma begitu memperhatikan semua yang Danu butuhkan. Kasih sayang oma juga tiada duanya. Hanya saja oma pasti kecapean jika masih harus mengurus Danu. Dan akhirnya oma jatuh sakit. Danu tidak bisa membiarkan oma sakit. "


" Danu, uncle tau itu. Mama adalah ibu dan oma terbaik yang kita miliki. Mama juga tidak akan melewatkan sedetik pun tanpa mengurus semua yang kita butuhkan. " ucapku membenarkan perkataan Danu.


" opa.... Apa tak sebaiknya oma dibawa  pulang ke Surabaya. Biar oma bisa cukup istirahat dan tidak lagi capek capek ngurusin Danu. "


" Danu, opa juga berpikiran yang sama denganmu. Tapi.... Apakah oma mu akan setuju jika kita kembali ke Surabaya.  Mengingat oma mu juga selalu kepikiran kamu yang ada disini. Padahal Opa yakin jika kamu disini bisa belajar hidup mandiri. Tapi... Apa oma juga bisa berpikir seperti itu. "


" pa... Biarkan Dirga yang akan bicara dengan mama. "


" baiklah. Kuserahkan semua padamu"


" Thanks you uncle. Danu sayang sama oma dan Danu sedih jika melihat oma sakit. Danu janji, pasti Danu disini tidak akan pernah mengecawakan kalian."


-----

__ADS_1


" morning ma. Bagaimana kondisi mama hari ini. Jauh lebih baik kan."


Tanyaku pada mama saat pagi ini aku masuk ke dalam kamar nya.


Melihat nya terbaring lemah di atas ranjang seperti ini membuatku menyesal karena telah meninggalkan nya pulang ke Indonesia hampir tiga minggu lamanya.


" alhamdulillah sayang. Mama sudah merasa segar hari ini."


" ayo mama sarapan dulu setelah itu baru minum obat."


Kubantu mama agar bersandar di kepala ranjang. Dengan sabar aku mulai menyuapi mama dengan bubur yang aku bawa.


" ma...."


" kenapa. Apa ada yang ingin kamu sampaikan. "


" yah tepat sekali. Ehm... Ma.... Kita pulang ke Surabaya aja yuk. Apa mama tidak kangen sama rumah. Tidak kangen sama temen ngrumpi mama, sama tetangga rumah yang bawel bawel....."


" kamu itu. Namanya ibuk ibuk dimana mana ya bawel.... " mama terkekeh.


Aku tersenyum melihat mama yang sudah bisa tertawa seperti ini.


" jadi? ..... Bagaimana ma. "


" bagaimana apanya? . " tanya mama padaku.


" kapan mama mau pulang ke Surabaya. "


" kenapa? Apa kamu tidak betah tinggal disini. "


" kalau Dirga tidak betah, tidak mungkin juga Dirga bisa berada disini lebih dari tiga bulan lamanya. Oh ralat ini sudah empat bulan kita di London. Sampai-sampai Dirga bisa punya coffe Shop disini...."


" mama harus yakin jika Danu disini pasti bisa hidup mandiri. Mama tidak perlu khawatir. Toh mama juga sudah bisa melihat sendiri bagaimana keseharian Danu selama ada kita disini. "


" kalau begitu kapan kita akan pulang ke Surabaya. Mama sudah rindu ingin ikut pengajian sama ibu ibu satu kompleks. " mama tampak antusias.


" mama serius kan? " tanya ku tak percaya.


" Kalau begitu tunggu mama sehat dulu, baru nanti Dirga carikan tiket pesawat ke Surabaya. " ucapku bersemangat.


" eits tunggu dulu. Ada satu syarat yang harus kamu penuhi. " mama menatapku dan entah kenapa firasatku jadi tak enak.


" Syarat? Syarat apaan ma. Kenapa harus pake syarat segala. "


" ya sudah kalau kamu ga mau. Lebih baik kamu balik ke Surabaya sendiri biar mama tetap disini. "


" oh no mama. Kalau Dirga balik Surabaya, mama juga harus ikut. Kasih tau Dirga apa syaratnya. "


" kamu harus menikah. "


" apa ma!!! Yang bener saja. Apa ga ada syarat lain. "


" memang kenapa kalau mama ingin kamu menikah. Toh kamu itu juga sudah cukup umur. Sudah tiga puluh tahun. Bukan abg lagi. "


" tapi ma.... Dirga mau menikah sama siapa? "

__ADS_1


Mama mengernyit." kan ada Camila. "


" apa ma? Camila.? Kenapa harus Mila. " aku mengusap wajahku frustrasi dengan keinginan mama yang ga masuk akal.


" loh memang kenapa dengan Mila. "


" Camila itu masih kuliah ma. Dia pasti ga mau diajak nikah sebelum lulus dan menjadi seorang dokter. "


" kalau itu biar jadi urusan mama. Nanti kita langsung lamar dia saja begitu sampai di Surabaya. Kalau nungguin Mila lulus dan jadi dokter kelamaan. Keburu kamu sudah ubanan. Mama itu sudah cocok sama Mila. Mama yakin Mila itu gadis yang baik dan pantas menjadi istrimu. Apapun yang terjadi pokoknya kamu harus bisa menikahi nya. "


" tapi ma.... "


" tapi kenapa? Biar nanti mama yang atur. Sudah kamu tenang saja. Nanti kita atur jadwal lamaran setelah tiba di Surabaya. "


Aku harus bilang apalagi jika kanjeng mama sudah bersabda.


Flasback end.


**********


" papa ayo kita berangkat sekarang. Nanti keburu kemalaman. " papa yang sedang membaca koran, segera berdiri dan meletak kan koran itu di atas meja.


Papa juga sudah rapi dengan baju batik yang dikenakan nya. Mama tampak bersemangat, mengamit lengan papa berjalan keluar rumah menuju garasi.


" biar Dirga yang nyetir ma. Kita ga usah bawa sopir."


" yakin kamu mau bawa sendiri mobil nya."


Aku mengangguk.


" oleh oleh dari London yang sudah mama siapkan untuk kluarga Camila apa sudah dimasukkan ke dalam mobil."


" sudah ma." lagi lagi aku mengangguk.


" ya sudah kalau begitu. Kita berangkat "


Kubuka pintu mobil untuk mama. Begitu mama sudah masuk kembali kututup pintu mobil itu.


Sebenarnya aku sudah deg-deg an sejak tadi. Bagaimana tidak jika acara lamaran ini mama yang mengatur semuanya. Bahkan keluarga Camila juga tidak ada yang tau dengan rencana kedatangan ku ini.


Tadinya aku berencana mengajak Camila dulu berbicara mengenai rencana mama ini. Tapi sayangnya begitu kita tiba di Surabaya mama sudah langsung saja tancap gas. Mengajak aku dan papa untuk melamar Camila. Dan aku tak akan bisa menolak keinginan mama.


----


Tiba di depan rumah Mila, jantung ini bekerja semakin ekstra. Seorang Angkasa Dirgantara bisa segugup ini hanya karena ingin menghadapi seorang perempuan. Padahal menghadapi berpuluh investor saja aku selalu percaya diri tak pernah merasa gugup seperti ini.


Keberuntungan sedang berpihak kepadaku. Karena kini aku bisa melihat jika Camila sedang berada di rumah. Gadis itu bahkan sedang menyiram bunga di taman depan.


Begitu aku keluar dari mobil, Mila menatapku dengan entahlah arti tatapan nya sungguh tak terbaca.


Mungkin dia sedang bertanya-tanya untuk apa aku berada di rumahnya.


Aku berjalan ke samping mobil dan membuka pintu untuk mama. Sementara papa, sudah keluar lewat pintu sebelah. Saat aku berbalik ternyata Camila tak sendiri melainkan ada Bunda yang berdiri di sebelahnya. Begitu melihatku Bunda langsung tersenyum dan ini semakin membuatku gugup.


Aku benar-benar merutuki perbuatan ku yang meng-iyakan keinginan mama. Sekarang adalah waktu yang kurang tepat. Seharusnya acara lamaran itu ya malam hari. Bukan sore begini. Lihatlah Mila, pasti gadis itu belum mandi. Penampilan nya masih kucel dengan hijab kaos menutupi kepalanya. Meski begitu dia tetap terlihat cantik dimataku. Kecantikan yang dimilikinya itu alami. Jadi meskipun hanya berbalut baju rumahan dia tetap mempesona. Ditambah bunda yang juga hanya memakai daster dengan sebuah kotak di tangan nya. Jika kutebak mungkin itu adalah kotak kue.

__ADS_1


Aku menggaruk tengkuk ku. Merasa konyol dengan semua ini. Tamunya saja sudah berpenampilan rapi seperti ini pake baju batik pula. Lah justru tuan rumahnya masih pada belum mandi. Aku terkekeh sendiri merasa lucu dengan situasi yang ada.


" loh kenapa malah bengong disitu. Ayo" Bunda sudah menarik tanganku masuk melewati pagar menuju halaman rumah Bunda Anyelir.


__ADS_2