Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 44


__ADS_3

Akhirnya Je siuman juga setelah semalaman kondisi nya kritis. Banyak mengucap syukur karena Je masih diberikan kesempatan untuk menikmati kehidupan. Camila yang merasa paling bahagia hanya bisa menangis terharu di pelukan suaminya. Melihat mata itu yang perlahan terbuka.


" Alhamdulillah Pa. Je sadar."


Dirga juga tak henti nya mengucap syukur. Di dalam ruang perawatan Je ada opa dan oma, bunda Anyelir, ken juga Danisha.


Mereka semua juga turut berbahagia. Pasalnya beberapa hari ini melihat Je yang tergolek lemah tak sadarkan diri membuat siapa saja yang melihat begitu trenyuh. Balita sekecil itu harus mengalami penderitaan yang entah seberapa sakitnya. Andai Camila bisa menggantikan posisi Je, pasti Camila lebih memilih yang terbaring lemah di atas brankar.


Karena Je di rawat di rumah sakit dimana dulu tempat Camila bekerja, jadi banyak diantara rekan rekan kerja Camila yang menjenguk Je.


" Dokter Camila yang sabar ya.... Ini ujian. Pasti Je nanti nya cepat sembuh."


" Terimakasih suster eni."


wajah Camila sudah tak berbentuk lagi. Dua hari menunggui Je di Rumah sakit membuat nya lupa makan dan minum.


" Sayang, kamu belum makan dari kemarin. Ayo makanlah sedikit saja. "


" Aku tidak nafsu makan Pa. "


" Sekalipun tidak nafsu makan tapi sayang tetap harus makan. Kalau sayang ikutan sakit bagaimana. Kasihan Je nanti nya."


Bunda Anyelir sudah mengambil kotak berisi makanan. Didekati putri nya. Dengan penuh kasih sayang disuapi nya Camila.


" Ayo buka mulutmu. Bagaimanapun juga kamu harus makan "


Masih dengan air mata yang menetes di pipi, Camila membuka mulutnya. Menerima suapan yang diberikan oleh sang Bunda. Sekalipun baginya makanan ini tidak berasa apa apa tapi Camila tetap harus memaksa menelan makanan nya. Benar apa yang dikatakan bunda dan suaminya. Dia tidak boleh ikutan sakit. Apalagi sekarang je sudah siuman. Pasti anaknya itu akan sering mencari nya. Dan Camila ingin sehat agar bisa melayani je.


Suapan demi suapan Camila terima dari bunda Anyelir.


" Bun, sudah."


Bunda menghela nafas lalu menutup kembali kotak makanan tersebut. Menggenggam jemari Camila dengan erat.


" Kamu harus kuat, harus tabah dan harus sabar."


" Iya Bun."


Hingga malam hari nya Ken, Danisha, opa dan oma nya Je diminta oleh Dirga untuk pulang. Hingga tersisa Dirga, Camila juga bunda Anyelir yang menunggu Je.


Mata itu mengerjab. Camila begitu antusias melihat perkembangan putra nya. Didekati putra nya. Dirga berada di sisi kanan ranjang sementara Camila berada di sisi kiri ranjang. Diusapnya lembut pucuk kepala putra nya.


" Je, sayang...."


Mata itu hanya mengerjab lemah lalu kembali tertidur.


Air mata Camila sudah kembali menetes. Sampai kapan putra nya ini akan melewati masa masa tersulit nya. Camila tidak tega melihat nya.


" Sayang, sudah biarkan Je istirahat. Sebaiknya sayang juga istirahat. Biar aku saja yang menunggui Je."


Bunda Anyelir membawa Camila untuk menuju ranjang tunggu pasien. Dibaringkan tubuh Camila.


" Ayo kamu istirahat. Biar bunda temani."


Mereka berdua saling tidur miring dengan kedua tangan Camila melingkari pinggang Bunda nya.


***


Dua hari berlalu, kondisi Je semakin membaik. Meski belum bisa leluasa menggerakkan badan nya, akan tetapi Je sudah mampu berbicara meski hanya sepatah dua patah kata. Tubuhnya masih penuh luka dan perlu perawatan extra. Dan selama Je dirawat di Rumah Sakit ini ternyata dokter Rasya lah yang menangani Je secara langsung.


Parahnya luka dalam yang Je derita membuat balita itu harus sering rewel dan menangis jika rasa sakit menyerang.


" Bagaiamana kondisi putra saya dokter?"


" Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nanti saya akan konsultasikan juga dengan dokter anak. Apakah perlu dilakukan penanganan lebih intens lagi."


" Lakukan yang terbaik untuk Je dokter."


" Itu pasti akan saya lakukan. "

__ADS_1


Rasya selalu tak kuasa menahan gejolak di hatinya setiap melihat kesedihan yang ditunjukkan oleh Camila. Trenyuh. Sebegitu sedih nya karena sang putra tercinta sedang berjuang demi melalui segala macam proses kesembuhan.


Rasya masih menatap tubuh mungil yang tergolek lemah di atas brangkar rumah sakit. Tangan nya terulur mengusap pucuk kepala Je. Rasa bersalah nya pada Camila setiap melihat Je jelas terlihat di wajah Rasya. Entahlah Rasya selalu saja merasa bersalah pada Kedua orangtua Je. Bagaimana mungkin dulu dia bisa punya niat menghancurkan rumah tangga orang tua balita ini. Mata Rasya berkaca kaca lalu buru buru ia geleng kan kepela nya.


" Ya sudah dokter Camila. Saya permisi dulu. Jika anda butuh sesuatu jangan sungkan untuk memberitahukan pada saya."


Camila mengangguk. Beberapa hari ini Camila sempat tak sengaja memperhatikan dokter Rasya setiap kali dokter itu visit Je atau dengan sengaja menjenguk Je ke dalam ruangan nya. Seolah raut penyesalan di tunjukkan oleh dokter Rasya setiap melihat Je yang tergolek lemah tak berdaya. Apakah mungkin dokter Rasya baru menyadari akan semua kesalahan nya selama ini. Bahkan Camila juga Dirga sempat melupakan keberadaan dokter Rasya. Mereka berdua seolah lupa dengan apa yang pernah dokter Rasya lakukan. Karena mungkin yang ada di benak mereka saat ini hanya lah Je. Dan ketika mengetahui dokter Rasya adalah salah satu dokter yang merawat Je baik Camila juga Dirga tidak pernah merasa keberatan sama sekali.


Camila menghela nafas. Menatap je sekilas lalu menatap pintu dimana dokter Rasya baru saja keluar. Hari ini papa Dirga harus ke kantor sehingga Camila hanya menunggu Je dengan ditemani oleh mbak hana. Camila sedikit heran kenapa dia tidak merasa ketakutan bertemu dengan dokter Rasya. Apa mungkin dokter Rasya sudah membuang jauh jauh rasa nya pada Camila. Ah semoga saja. Dengan begitu maka Camila akan merasa tenang saat dokter Rasya ikut merawat Je.


****


Mbak Hana sedang berada di kantin untuk membelikan makanan Camila. Hari ini dia menjaga Je hanya berdua bersama Camila. Sambil menunggu pesanan makananan nya, mbak hana menunggu di salah satu kursi tunggu.


" masih nunggu makanan."


Kehadiran seseorang tentu saja membuat hana terkejut. Bahkan kini Rasya sudah duduk di hadapan nya membuat hana menjadi kikuk. Hana tahu jika lelaki ini adalah dokter yang menangani Je. Oleh karena itulah rasanya tak etis jika dirinya yang hanya seorang baby sitter harus mengobrol sedemikian dekat dengan seorang dokter.


Hana hanya tersenyum simpul menjawab pertanyaan dokter Rasya yang tadi.


" Eum... Mbak."


" iya pak dokter."


" Mbak siapa namanya?"


" saya hana dokter."


" Oke. Mbk hana, kakak aku boleh tahu, apakah mbak sudah lama bekerja dengan dokter Camila."


Entahlah kenapa Rasya jadi ingin tahu sendiri. Melihat kedekatan mereka, melihat bagaimana waktu itu hana menangis histeris rasanya membuat Rasya jadi bertanya tanya.


" Sejak Je berusia satu bulan. "


" Sampai sekarang. "


" iya dokter. Sekitar empat tahunan."


" kenapa dokter bertanya hal itu."


" ikatan batin kalian begitu kuat. Aku salut melihat rasa kasih sayang yang terpancar dari diri kalian. Keluarga dokter Camila adalah contoh keluarga harmonis yang begitu saya rindukan. Suatu ketika saya juga ingin sekali memiliki keluarga yang harmonis degan istri yang cantik dan anak anak yang lucu. Dan saya selalu salut akan hal itu. "


Hana hanya terdiam. Dia bingung mau menimpali pun juga apa yang harus dia omongkan. Dokter Rasya ini seperti nya sedang berhayal terlalu tinggi karena merasa iri melihat kebahagiaan dan kemesraan kedua orang tua Je. Jangan kan dokter Rasya. Hampir orang yang mengetahui bagaimana kehidupan rumah tangga mereka sudah barang tentu mereka akan tertarik. Pak Dirga yang ganteng   banyak duit, penyabar dan penyayang.  Sementara Camila yang cantik dan selalu mampu membuat perempuan iri.


Beruntung nya pesanan hana sudah selesai.


"Dokter saya permisi dulu."


Hana pikir Rasya akan tetap berada di kantin tapi nyatanya lelaki itu justru mensejajari langkah Hana membuat wanita itu terjengit kaget.


" Eh dokter. Dokter kok ngikutin saya."


" Nggak papa. Saya juga tidak ada lagi praktek. " jawab Rasya enteng.


Entahlah dengan melihat babysitter nya anak camila, membuat perasaan Rasya berbeda. Itu semua berawal dari tangis histeris yang keluar dari mulut wanita itu. Padahal yang kecelakaan adalah anak asuh nya tapi rasa sedih yang perempuan itu rasakan sungguh tidak mengada ada. Dan dari situlah Rasya mendadak suka.


Memang aneh kok, ya Rasya akui dirinya ini memang aneh. Berbulan bulan berusaha melupakan Camila dan saat dipertemukan lagi dengan Camila dalam kondisi yang semua berubah. Kondisi dimana sanggup membuka mata hati nya bahwa seberapa besar cinta yang ada pada keluarga Dirga dan Camila.


Dan Rasya pun memilih kembali mundur secara teratur. Tapi jika dengan baby sitter nya Je, apakah ia memiliki perasaan khusus. Rasya tidak tahu yang jelas rasa untuk mendekati perempuan ini begitu kuat.


Sampai di depan kamar rawat inap Je,


" Dokter mau masuk."  Tawar hana.


Tapi Rasya menggeleng." salam untuk Je "


" Baik dokter  "


Hana masuk ke dalam sementara Rasya memilih meninggalkan ruang perawatan Je.

__ADS_1


Di dalam ruang perawatan Je, Hana menjadi pendiam. Dia tentu saja berpikir apa motif dari dokter Rasya seolah sengaja dekat dekat padanya. Bukan nya Hana terlalu percaya diri, tapi dari semua runtutan kejadian itu bisa dikatakan jika memang dokter Rasya sengaja mendekati nya. Hana ingat beberapa bulan lalu saat dia, Mila dan Je yang bertemu Rasya untuk pertama kali. Bahkan majikan nya ini terlihat sangat tidak menyukai dokter Rasya.


Hana melirik Camila. Haruskah dia bercerita pada Camila mengenai apa saja yang terjadi antara dia dengan dokter Rasya. Karena tentu saja Hana tidak tahu menahu tentang siapa sebenarnya dokter Rasya.


" Mbak Hana...."


Panggilan Camila mau tak mau membuat mbak Hana mendongak.


" Iya Bu."


" Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan atau ingin kau sampaikan padaku. Aku lihat daritadi mbak hana seperti ingin bertanya hal padaku."


Ya, beberapa kali Camila sempat memergoki mbak hana yang menatap nya.


" Eum itu Bu.... Saya ingin tanya sesuatu boleh? "


" silahkan tanya saja. Selagi saya bisa menjawab pasti akan saya jawab. "


" Tadi saat saya di kantin saya di samperin sama dokter Rasya. Yang dokter nya adek."


" Dokter Rasya."


Camila mulai antusias.


" Lalu dia banyak tanya sesuatu pada mbak hana atau apa gitu. "


" Ya hanya nanya berapa lama kerja sama ibu. Intinya ya hanya itu itu saja cuma yang membuat saya agak jaanggal kok dari setiap nada yang keluar dari mulut dokter Rasya seolah penuh penyesalan. Lalu memuji tentang keharmonisan rumah tangga Pak Dirga dan Bu Camila. "


" Mbak Hana. Dengarkan aku baik baik. Mbak Hana harus menjauhi yang namanya dokter Rasya. Karena dokter Rasya itu... Entahlah aku sendiri juga No komen dengan semua sikap dan kelakuan nya. "


" begitu ya Bu. "


Camila mengangguk. Benarkah dokter Rasya masih mengincar nya. Padahal Camila sempat berpikir jika diantara ia dan dokter Rasya susah tidak ada apa apa lagi. Ya Tuhan kenapa Mila jadi takut sendiri. Mila pikir dokter Rasya sudah melupakan persoalan antara mereka. Tapi kenapa ini seolah olah dokter Rasya justru mendekati Mbak Hana.


Camila menatap mbak Hana sekilas lalu dihela Nafasnya. Semoga dokyer Rasya itu tidak berani berbuat kurang ajar padanya.


***


Malam hari nya Je ditunggu oleh Camila dan Dirga. Sementara mbak hana diminta pulang oleh Camila.


Tadi Je sudah bisa berkata kata dengan suara serak. Sungguh perkembangan yang luar biasa. Semoga putra nya itu lekas sembuh dan bisa segera dibawa pulang.


Je sudah kembali terlelap. Dirga dan Mila sama sama duduk di atas ranjang yang memang disiapkan untuk tempat istirahat penunggu pasien. Wajah Dirga tampak lelah tapi Camila tetap harus bercerita pada suaminya meski hal sekecil apapun.


" Pa...


" Ya"


" menurut papa bagaimana dokter Rasya?"


Dirga menautkan kening. Tumben sang istri kembali membicarakan pasal dokter Rasya.


" memang kenapa sayang."


" menurut papa, selama dokter Rasya menjadi dokter nya Je ada hal ganjil tidak dari diri seorang dokter Rasya. "


" entahlah sayang. Karena khawatir nya aku sama je sampai sampai aku tak pernah kepikiran sampai sejauh itu. Memang sayang merasa kan ada hal yang aneh begitu. "


" Ya enggak sih Pa. Kemarin kemarin memang kita kan masih fokus pada je. Dan baru kali ini kok aku jadi kepikiran kira kira dokter Rasya masih mempunyai keinginan gila seperti yang dulu atau tidak ya. Jujur pa kok tiba tiba aku kepikiran gitu."


Dirga terdiam. Mengingat sepak terjang Rasya bukan tidak mungkin jika dokter itu memang masih memiliki keinginan yang sama dan ini lah kesempatan bagi Rasya untuk. Bisa dekat dekat dengan camila.


" Sayang aku kok juga baru kepikiran ya. Lalu menurutmu kita harus bagaimana"


Camila menaikkan bahunya.


" Dokter Rasya itu sudah berani bertanya tanya pada mbak hana. Maka dari itu aku jadi was was Pa."


" kalau memang seperti itu sayang harus bisa menjaga diri dengan sebaik baiknya. Terlebih jika dia siang hari aku tak ada disini. Jangan diladeni jika si Rasya menginginkan ini dan itu. Itu semua biasa nya hanya lah modus ya. "

__ADS_1


" iya Pa aku tau. "


" dan kasih tahu mbak hana juga jangan terlalu dekat dengan dokter Rasya apalagi jika sudah bertanya banyak hal. Tak perlu dijawab. Itu si Rasya hanya mengorek ngorek informasi dari orang orang terdekat kita. "


__ADS_2