
Dirga Pov
Wanita di sebelahku ini sedari tadi terus saja bergelayut manja di lenganku dan itu membuatku jengah.
" Vira.... Ini tangan bisa ga sih jangan gelendotan terus." aku berusaha menepis lengan Vira, tapi bukan nya dilepas justru dia semakin erat memeluk lenganku.
Kurasa memang Vira ini sudah hilang urat malu nya. Sudah jelas tahu jika aku berulang kali menolaknya tapi tetap saja dia seperti ini.
" emang kenapa sih. Bermanja manja dengan calon suami sendiri juga." jawabnya enteng.
Astaga sebenarnya terbuat dari apa wanita ini. Seperti yang pernah aku katakan dulu, jika tidak karena kelangsungan proyek mungkin aku tidak akan mau lagi berhubungan dengan wanita ini. Wanita yang selalu saja membuatku naik darah dengan tingkah laku nya.
" Vira, sudah berapa kali aku bilang ke kamu. Aku ini sudah menikah. Dan jangan terlalu berharap seolah-olah aku ini beneran calon suamimu."
Lelah rasanya berbicara padanya. Lagian Ferdy kemana saja dari tadi belum muncul-muncul juga. Aku sudah kehabisan akal untuk menjauh dari Vira.
Memang tadi aku kesini bukan hanya berdua dengan Vira, melainkan bertiga dengan Ferdy juga. Sudah sejak dua hari yang lalu Vira datang dari Riau. Dan hari ini aku ada agenda meeting membahas project perusahaanku di riau yang saat ini sedang berjalan. Selepas meeting tadi Vira memaksaku untuk menemani nya sebentar masuk ke dalam Mall yang tak jauh dari tempat kita mengadakan meeting tadi.
Dan disinilah akhirnya kita berada, Vira memintaku menemani nya makan di salah satu restaurant Jepang yang ada di dalam mall ini. Aku dan Vira turun di lobi sementara Ferdy memarkir kendaraan. Tapi sudah lebih dari lima belas menit, Ferdy tak menampakkan juga batang hidung nya. Padahal sudah dua lantai yang kutapaki bersama Vira.
Ponselku berbunyi, ada notif whatsapp dari Ferdy. Lega rasanya karna Ferdy lah yang sedari tadi kutunggu tunggu.
🧑 Ferdy : bos dimana
👨 Me : buruan kesini, gue tunggu di resto Jepang lantai 2. Cepetan..!!!!!!!
🧑 Ferdy : asiap bosqueeee... 🙋♂️
👨 Me : ok
" anterin aku shoping dulu yuk.." Vira kembali merengek.
Kumasukan ponsel ke dalam saku celana.
" enggak bisa. Aku sudah bilang ke Ferdy kita tunggu di resto Jepang depan sana." aku menunjuk deretan resto yang berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri.
" ayolah beb.... " Vira menggoyang goyangkan lenganku.
Aku menatapnya tajam.
" Vira.... Tadi kamu sendiri yang bilang pengen makan. Sekarang sudah dekat tempat tujuan, kamu bilang mau shopping. Plis deh vir aku ini masih banyak pekerjaan. Jadi tolonglah hargai sedikit jangan seperti ini. Kalau kamu mau shopping silahkan... Aku pergi makan sendiri. "
Kutinggalkan dia yang tampak kesal. Bibirnya mengerucut dan dia mengikuti ku dengan menghentak hentakan kaki. Dasar kekanak-kanakan. Dan aku tak peduli mau dia marah atau apapun. Aku masih fokus berjalan menuju resto Jepang yang beberapa menunya menjadi makanan favorit ku.
Aku menghentikan langkah, Vira kembali menarik lenganku dan bergelayut manja persis seperti anak monyet yang takut kehilangan induknya.
Mataku memicing mendapati sosok yang selalu membuat jantungku berdebar sedang berdiri seorang diri tak jauh dariku saat ini.
__ADS_1
" Sayang....!!!" teriak ku sambil melambaikan tangan ke arah Mila. Jangan lupakan seulas senyum bahagia kutujukan kepadanya.
Mila tampak terkejut menatapku. Dia menoleh kekanan dan kekiri. Entah sedang apa dia disini. Dengan semangat aku berjalan lebih mendekat padanya. Tak kuhiraukan lagi Vira yang kini tangan nya sudah terlepas dari lenganku.
" sayang dengan siapa disini." tanyaku ketika sudah berdiri tepat dihadapan nya.
Mila nyengir, menggaruk belakang telinganya yang tertutup jilbab berwarna peach. " itu.... Ehm sama kak Danisha."
" Danisha?" ulangku.
Mila mengangguk.
" Danisha nya mana? ." tanyaku sambil mencari keberadaan kakak iparku yang tak terlihat olehku.
" masih di toilet." jawab Mila singkat.
" owh..." aku mengangguk. Menoleh sekilas kesamping karena kurasakan tanganku telah ditarik kembali oleh seseorang. Siapa lagi jika bukan Vira.
" Vir, kenalkan ini Camila, istriku."
" istri?" tanya Vira
Kutepis kembali lengan Vira, dan aku pindah berdiri di samping Mila. Melingkarkan tanganku di pinggang ramping istriku tercinta, kurasakan Mila menegang dan tersenyum kikuk.
" sayang, kenalkan ini namanya Vira, rekan bisnisku dari Riau."
Camila mengulurkan tangan dan diterima dengan canggung oleh Vira.
Aku mengernyit, " kenapa kamu bertanya seperti itu. "
Vira tampak meneliti Camila dari atas ke bawah. Terlihat sekali jika dia tak percaya bahwa Camila ini adalah benar-benar istriku.
Pandangan mataku menangkap kehadiran sosok Danisha yang berjalan dari arah toilet sambil membenarkan tatanan bajunya. Saat danisha mendongak aku tau dia terkejut. Mungkin tak menyangka jika akan bertemu dengan ku disini.
" hai kakak ipar..." sapaku padanya.
" eh... Hai.... Kok ada disini" tanya danisha balik.
Vira melihat Danisha dengan mengerutkan kening, lalu kembali menatapku.
" Tadi ada meeting dengan klien." ucapku menjawab pertanyaan Danisha.
" Ehm... Vir, kenalkan ini Danisha, kakak iparku. Suaminya Danisha ini kakaknya Camila."
Vira dan Danisha berkenalan, Mila menatapku sedikit garang, aku mengedikan bahu tak tahu apa salahku.
Tiba-tiba Ferdy datang mengejutkan kami. " maaf bos lama. Tadi ke toilet bentar... " ferdy nyengir.
__ADS_1
" eh ada dek Mila juga disini. " ferdy melanjutkan ucapan nya karena sepertinya dia baru menyadari kehadiran Camila disini.
Camila melepaskan tanganku yang masih bertengger di pinggangnya. Sedari tadi memang tanganku ini dengan nakalnya memeluk pinggangnya dan menarik tubuh Camila agar semakin rapat menempel padaku. Totalitas kutunjukan pada Vira jika aku ini memang benar sudah menikah agar dirinya tak terus saja menempel padaku seperti lintah.
Camila mengapit lengan Danisha.
" maaf kita duluan. Sudah ditungguin kak Ken."
" ikut kita makan sekalian." tawarku
" tadi kita sudah makan kok. Permisi." dengan terburu-buru Camila menarik Danisha meninggalkan kami. Aku masih memperhatikan mereka berdua yang sudah menjauh.
Ferdy menoel lenganku." Bos, sepertinya memang jodoh ya.... dimana mana selalu ketemu dek Mila. " Ferdy berbisik di telingaku kemudian dia terkekeh.
Aku mengedikan bahu berlalu meninggalkan mereka berdua.
" eh bos tungguin napa...."
******
Aku tahu jika ada sesuatu yang ingin Vira tanyakan padaku. Terlihat sekali jika selama kita makan tak hentinya dia menatapku, membuka mulutnya lalu mengatupkan nya kembali.
" Dirga, kamu serius perempuan tadi itu istrimu. "
Pertanyaan Vira membuatku menghentikan suapan yang sudah tergantung di depan mulut.
Aku mengangguk, kembali menyuap makanan yang sempat tertunda.
" masih sangat muda. Dan jujur aku tak yakin jika dia istrimu. " Vira menatapku penuh selidik.
" percaya atau tidak itu terserah kamu Vir. Tapi yang jelas kutegaskan sekali lagi padamu. Aku sudah menikah. Okay." kuperjelas kata-kataku yang justru membuat Ferdy tersedak makanan nya. Lelaki itu terbatuk-batuk dan kulihat segera meneguk air mineral yang ada di atas meja.
" lu kenapa fer? "
Ferdy menyeka mulutnya dengan tisu, menatapku dalam.
" bos, maaf ya.... ini yang bos dan bu Vira omongin tentang apa dan siapa sih sebenarnya. ? Jujur nih bos aku rada bingung. Beneran bos sudah menikah? " dengan polos nya Ferdy bertanya.
Jangan salahkan Ferdy jika dia merasa kebingungan. Pasalnya selama ini memang aku tak pernah bercerita padanya tentang status Camila dan juga statusku yang sudah menikah.
Aku mengangguk mantap.
" jadi????? Bos beneran sudah nikah? Kapan? Kok aku tak tahu sih bos."
Huft dasar Ferdy , lihat saja gara gara tingkah dan omongan nya yang tidak bisa di rem, Vira menatapku tajam seolah meminta penjelasan.
" bukan nya kamu asisten pribadinya Dirga? Kenapa bisa tidak tahu kalau Dirga sudah menikah. Owh.... Atau jangan-jangan ini cuma akal akalan mu saja Dirga.... Hemm..."
__ADS_1
Matilah aku Vira jadi menuduhku kan. Padahal apa yang kuomongin itu semua benar adanya.
Kuhembuskan nafas kasar. Vira dan Fedy menatapku penuh tanya dan seolah mereka berdua menuntut jawaban dan penjelasan padaku.