Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 18


__ADS_3

Dengan muka kusut Dirga masuk ke dalam ruang kerjanya. Ferdy yang melihat bosnya tampak sayu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lalu ia pun menyusul Dirga masuk ke dalam ruang kerja bos nya itu.


“ Pagi, Bos. “ Sapa Ferdy begitu pintu ruang kerja ia buka.


Terlihat Dirga yang duduk di singgasananya dan  sedang memijt pelipisnya .


Dirga mendongak, “ Pagi, Fer. “ hanya sekilas ia menetap Ferdy sebelum menunduk kembali fokus memijit pelipisnya.


“ Bos Dirga sakit ?” tanya Ferdy lalu mendekati Dirga.


“ Kepalaku pusing. Kurang tidur mungkin. “


“ Mau saya buatkan kopi. “


“ Boleh. “


“ Tunggu sebentar, Bos.”


Ferdy keluar dari ruang kerja Dirga berniat akan membuatkan bos nya kopi.


Setelah kepergian Ferdy, Dirga menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. Kepalanya mendongak dengan mata terpejam. Baru beberapa hari ditinggal Camila, rasanya hidupnya sungguh hampa. Dirga tidak sabar ingin menyusul saja istrinya ke Jakarta.


Tak berselang lama Ferdy datang dengan membawa secangkir kopi.


“ Bos, ini kopinya.Selagi masih hangat silahkan diminum. “


Dirga menegakkan punggungnya, membuka matanya dan meraih cangkir kopi yang diletakkan ferdy di atas meja. Dihirup dalam aroma kopi yang menguar dan asapnya yang mengepul. Mencoba merileks kan diri lalu setelahnya Dirga mulai meminum kopinya. Berharap rasa pusing nya mereda.


“ Bos, kalau sakit sebaiknya bos pulang saja. Biar aku saja yang menghandel semuanya. “ ucap Ferdy yang tidak tega melihat bos nya tampak sedang tak enak badan.


“ Aku tidak apa apa . Mungkin hanya kurang tidur saja. “


“ Begitu ya Bos jika ditinggal istri. “ celetuk Ferdy.


Dirga hanya tersenyum masam. Entahlah , terbiasa tidur bersama Je juga Camila, dan saat harus tidur seorang diri rasanya lain. Padahal ini bukan kali pertama dirinya berpisah dari sang istri. Dirga kerap kali harus berpisah sementara dari sang istri jika ada pekerjaan di luar kota atau bahkan luar negeri. Dan bisa beberapa hari Dirga meninggalkan anak dan istrinya. Tapi saat ini yang Dirga rasakan lain. Setiap dia berada di rumah, pikiran nya justru menerawang entah kemana hingga membuatnya susah memejamkan mata.


Ah, Dirga kembali merasakan pusing di kepalanya. Kembali ia minum kopi buatan Ferdy yang rasanya biasa saja menurut Dirga. Tapi aroma kopi yang sedang ia minum bisa sedikit merileks kan pikiran.


“ Apa agendaku hari ini ?” tanya Dirga.


Dengan sigap Ferdy menjelaskan apa saja yang harus Dirga kerjakan hari ini. Sebenarnya tidak seberapa padat jadwalnya. Hanya saja ada jadwal meeting penting hari ini dengan salah satu klien dari sebuah perusahaan asing yang berasal dari jepang.


“ Baiklah , terimakasih Ferdy.”


“ Adalagi yang ingin bos perlukan dari saya.” Tanya Ferdy sebelum ia undur diri.

__ADS_1


“ Sepertinya tidak ada lagi. “


“ Baiklah Bos, jika begitu saya balik ke ruangan. Akan saya siapkan semua bahan meeting kita. Bos siap siap satu jam lagi kita berangkat. “


Dirga mengangguk paham. Ferdy meninggalkan Dirga keluar dari ruangan bos nya.


Setelah tubuh Ferdy tak terlihat lagi, kembali Dirga menyandarkan punggungnya. Tubuhnya terasa tidak enak dimana mana. Ingin tidur saja tapi mengingat pekerjaan nya yang tidak bisa ia tinggalkan maka Dirga harus tetap bertahan pada kondisinya yang sekarang.


Saat ia baru saja kembali memejamkan mata, ponselnya bergetar. Berharap Camila yang menelpon nya dan ternyata benar. Wajahnya berbinar, orang yang ia tunggu tunggu menelpon juga.


“ Sayang ....” Panggilan Dirga melalui layar ponselnya.


Ya , Camila sedang melakukan panggilan video call.


“ Pa, kamu sakit. Kenapa wajahmu pucat .”


“ Hanya kurang tidur saja .”


“ Papa ini , aku kan sudah bilang jangan tidur larut malam. Biasanya juga kan papa yang mengomeliku tidak boleh begadang.”


“ Ini beda sayang. Aku tak bisa tidur karena tak ada kamu disampingku.”


Camila tampak tersipu, sudah sering mendapat gombalan receh dari Dirga tapi tetap saja mampu membuatnya merona.


“ Pa, aku kangen .” rengek manja Camila.


“ Masih sepuluh hari lagi, Pa. Masih lama. “


“ Apa perlu aku susul ke Jakarta.”


“ Papa kan kerja . ah ya Pa, kemarin aku sudah bertemu dengan Kak daffi. Kak Daffi titip salam untuk mu. “


“ Bagaimana kabar Daffi disana .”


“ Dia baik. Makin tampan tentunya .” Camila tergelak


“ Sayang, kamu sudah berani mengagumi pria lain. “


Mila semakin tergelak mendengar manjanya Dirga. Hingga Camila harus mengakhiri panggilan telpon nya karena dia harus bekerja.


Seperti mendapat asupan energi, wajah Dirga sudah kembali ceria. Pusing kepalanya hilang begitu saja. Dia beranjak berdiri menghampiri


meja Ferdy.


“ Fer, kita berangkat sekarang .”

__ADS_1


Ferdy menatap Dirga tak berkedip. Sedikit heran dengan raut muka bosnya yang sudah berubah kembali ceria.


“ Fer ... aku bicara padamu, kenapa kau hanya menatapku seperti itu.”


“ Bos, bukankah tadi bos sakit kepala ? lalu kenapa sekarang terlihat seperti tak pernah terjadi apa apa. “


Dirga tersenyum . “ Sudah dapat obatnya. “


“ Jadi bos minum obat ? bukankah tadi sehabis minum kopi ? bos, setahuku dilarang minum obat setelah meminum kopi. “


“ Siapa yang bilang aku minum obat.”


Ferdy mengernyit tak mengerti, lalu sedetik kemudian dia sudah tersenyum lebar. Dia tahu obat apa yang Dirga maksudkan.


“ Pasti ditelpon dek Mila. “


“ Yup, itu kamu tahu.”


“ Bos, bisa tidak jangan memanas manasi aku. Aku cemburu kalau bos mesra begitu sama dek Mila. “


“ Ferdy, jangan suka mengagumi istriku.”


“ Dari dulu pelitnya bos ini tak pernah hilang juga kalau menyangkut urusan dek mila.


“ Ya jelas lah, Dia wanita istimewa.”


“ Aku pikir hanya martabak doang yang istimewa “


“ Ferdy ....”


“ Asiap bos....berangkat “


Dirga sudah berjalan mendahului Ferdy. Hari ini dia ada meeting di perusahaan lain. Dan jadwal meeting nya satu jam lagi. Jadi dia


harus segera berangkat agar tidak terjebak macet.


Ferdy mengikuti langkah lebar Dirga. Dalam hati dia berkata , ternyata hanya dengan bertelpon dengan istri bisa membuat seoarng pria kembali bertenaga. Mungkin mulai sekarang dia harus gigih dalam mencari calon istri.


Usianya juga sudah tidak muda lagi. Karir cemerlang. Hanya urusan percintaan saja yang Ferdy kurang beruntung. Berkali kali menjalin kasih selalu saja berakhir dengan dihianati. Dan akhirnya diputusin. Sungguh sial nasibnya. Dan hal itulah yang membuatnya masih betah melajang. Ferdy menjadi malas menjalin cinta jika ujung ujung nya selalu dikecewakan . Lebih baik menyendiri seperti ini agar hidupnya bisa fokus pada pekerjaan. Tapi jika melihat Bosnya yang tampak menyayangi anak dan istri nya, jujur membuat ferdy jadi merasa iri. Ingin mendapat wanita seperti dek Mila. Yang cantik dan baik hati. Tapi sampai sekarang dia belum nemu juga.


“ Aduh ... “ Ferdy menabrak punggung Dirga yang tiba tiba berhenti mendadak.


Dirga yang terkejut karena ditabrak oleh Ferdy membalikkan badan nya. Menatap ferdy dengan keheranan.


“ Kau ini kenapa ? “

__ADS_1


“ Maaf Bos, aku melamun tadi ....” Ferdy hanya cengir.


“ Astaga Ferdy ....!”


__ADS_2