Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 97


__ADS_3

" Jadi begitulah cerita nya, Ma." Je mengakhiri sesi cerita pada sang mama juga papa yang terheran dengan keberadaan Cinta yang bisa bersama nya.


" Cinta, jika kamu kesepian tinggal sendiri di rumah Sofia, kenapa Cinta tidak tinggal disini saja bersama tante. Lagian kalau Cinta tinggal disini tante jadi ada teman dan tidak sendirian lagi."


"Terimakasih tante tawaran nya. Tapi..."


" Tapi kenapa?"


" Saya tidak enak saja jika harus tinggal disini."


" Tidak enak apanya? Kamu tidak enak sama siapa? Sama tante, om dirga atau kak Jaghad."


" Ya semua nya tante. Saya ini kan bukan siapa siapa masak iya harus tinggal disini. "


" Cinta, kamu ini sudah tante anggap seperti keluarga sendiri. Bahkan papa dan mama mu itu bukanlah orang lain bagi tante juga om. Kita adalah satu keluarga. Jadi tante tidak mau lagi mendengar alasanmu. Dan besok, tante akan menelpon papa dan mama mu. Tante akan bicara dengan mereka. "


Cinta tak lagi bisa menolak. Sementara Je, lelaki itu juga tak berani mendebat mama nya. Apapun yang sudah menjadi keputusan sang mama tercinta tak mungkin bisa di ganggu gugat. Bahkan kini papa Dirga juga menyetujui rencana mama camila.


" Ya sudah sebaiknya sekarang Cinta istirahat saja. Besok kak Jaghad akan mengantar mu mengambil barang barang."


Ucapan Camila membuat je terbengong. Mana ada Jaghad bersedia mengantar cinta.


" Je...!" panggilan Camila membuat je terkesiap.


" Iya ma."


" antarkan cinta ke kamar tamu. Biar cinta bisa beristirahat. "


" Baiklah ma. " je hanya menurut.


Lelaki itu berdiri diikuti oleh Cinta. Setelah kedua nya meninggalkan ruang keluarga, Dirga dan Mila saling tatap.


" Pa, apakah papa keberatan jika cinta tinggal disini? " tanya Camila dan Dirga menggeleng.


" Tidak sama sekali. Aku tidak keberatan jika cinta tinggal disini. Apalagi jika cinta menjadi menantu kita pun papa tidak keberatan kok."


Camila tertawa. " Papa ini ternyata sudah ngebet juga pengen punya mantu. "


" Ya jelas lah sayang. Aku ini sudah tua mau nunggu apa lagi. Ingin sekali diberi kesempatan untuk melihat keturunan kita kelak. Termasuk didalam nya aku ingin sekali memiliki cucu yang akan menjadi penerus keluarga kita. "


Ucapan suaminya membuat Mila terharu.


" Ya sudah ayo kita tidur. "


Kedua nya bergandengan tangan menuju kamar.


Semebtara itu, Je membuka salah satu kamar yang ada di lantai dua rumahnya. Kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur nya.

__ADS_1


" Kau bisa tidur disini. Jika butuh sesuatu Panggil saja ART. Aku tinggal dulu. Selamat malam."


"Kak Jaghad."


" Ada apa lagi."


" Terimakasih."


Je mengangguk dan meninggalkan cinta.


****


Keesokan harinya, Cinta yang juga ikut sarapan merasa canggung dan juga malu. Pasalnya mendengar godaan Dirga sekeluarga yang menyangkut pautkan dirinya.


"Rasanya sudah lengkap ya, sayang. Keluarga yang sempurna."


" Lengkap apa nya?"


"Eh belum lengkap karena belum ada cucu." Dirga terkekeh.


" Papa ini ngomong apaan sih," protes Je


"Ya kan Papa hany membayangkan. Seandainya Cinta ini jadi menantu kita. Keluarga yang sempurna."


Cinta sampai tersedak sarapan nya.


"Iya tante."


"Maklum om Dirga itu sudah kebelet pengen nikahin Je." ucap Camila lagi


Cinta hanya nyengir sementara Je sudah melotot merasa tak suka dengan pembahasan dirinya. Tapi Mila dan Dirga seolah tak menghiraukan dengan protes Je.


"Cinta....!"


"Ya om."


"Mau ya jadi mantu om dan tante."


"Apa om? Cinta kan masih kuliah om.


" Ya nggak masalah. Dulu tante Mila juga masih kuliah saat om nikahi. "


Cinta sempat tak percaya dengan cerita Dirga mengenai cerita masa lalu mereka. Sementara Je, pria itu hanya terdiam Sedari tadi.


" Pa, Ma, aku pamit dulu. Mau ke kantor." pamit Je pada akhirnya menyudahi acara sarapan nya.


" Je, kau tidak lupa kan jika harus mengantar Cinta memindahkan barang barang nya ke rumah ini." Mila mengingatkan

__ADS_1


Cinta pikir ucapan Mila tadi malam hanyalah gurauan belaka. Tapi nyatanya pagi ini kedua orang tua Jaghad kembali memintanya untuk pindah ke rumah ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya seandainya Cinta benar benar tinggal di satu rumah dengan lelaki dan arogan seperti Jaghad.


"Cinta....!"


"Ya tante."


"Tante susah telpon mama dan papamu tadi. Dan mereka tidak keberatan jika kamu pindah dan tinggal disini."


Cinta tak lagi bisa menolak. Memang benar apa yang disampaikan Mila. Sebelum. Ia sarapan tadi, Mama nya memang menelpon dan mengatakan semua pada Cinta. Yang bisa Cinta lakukan sekarang hanya mengangguk menerima.


****


Jaghad dengan malas berada di rumah kos Cinta. Menunggu gadis itu selesai mengemas barang barang nya. Satu jam lebih dia menunggu hingga pada akhirnya Cinta pun keluar dengan barang-barang nya.


Membawa kembali Cinta ke rumah nya. Je, lelaki itu meru5ukinkebodohan nya sendiri karena tadi malam dia sendiri yang sudah membawa Cinta ke rumah nya. Andai semalam Je tak membawa gadis itu pulang ke rumah mungkin kejadian nya tak akan seperti ini. Tapi Je memang tidak tega saat semalam dia menolong Cinta. Refleks saja dia membawa Cinta pulang.


Sampai di rumah, Mila menyambut kedua nya dengan suka cita. Je tak lagi peduli dan setelah menurunkan Cinta juga barang barang Cinta, Je langsung kembali ke luar rumah dan dia pergi ke kantor.


Hingga sore hari saat ia pulang kerja, sesuai dugaan nya bahwa kamar tamu yang semalam dipakai cinta untuk menginap, mulai hari ini resmi menjadi kamar pribadi gadis itu. Je harus mulai membiasakan diri dengan adanya gadis itu.


Semoga saja Cinta tak membuat masalah dan tak merecoki hidupnya. Batin Je dalam hati kalau lelaki itu berjalan melewati kamar Cinta untuk menuju ke dalam kamarnya.


Makan malam yang biasa nya bertiga sekarang jadi bertempat. Je harus berusaha mengabaikan semua ocehan ocehan yang keluar dari mulut papa Dirga dan Mama Mila. Apalagi yang menjadi bahan obrolan selain seputar rencana mereka yang akan menjodohkan nya dengan Cinta.


"Je... Mama rasa memang tak ada salahnya jika kamu menikahi Cinta." kali ini ucapan mama nya yang sanggup membuat ia mendongak lalu menatap malas nya tajam.


Sementara Cinta, gadis itu seperti nya sama terkejut nya dengan je. Pasalnya Cinta pun melajukan hal yang sama. Dengan pandangan penuh tanya menatap satu persatu penghuni rumah ini.


"Mama ini bicara apa?"


" Mama serius Je. Kau ini sudah tak muda lagi. Hampir tiga puluh tahun beberapa bulan lagi. Dan mama akan sangat senang jika di ulang tahunmu yang ke tiga puluh tahun nanti, di rayakan dengan sebuah acara pernikahan mu."


"Ma..."


" Kenapa? Ada yang salah kah dengan ucapan mama.


" Ya jelas ada. Aku maau menikah dengan siapa ma? Cinta? "


" Iya itu kamu tahu apa yang mama Mau. "


" Tapi mama apa pernah bertanya pada Cinta. Apa dia mau menikah dengan ku? "


Kali ini Je harus menampar mulutnya sendiri yang dengan lancangnya berbicara seperti itu. Pasti mama nya akan mengira jika dia setuju menikah dengan Cinta jika Cinta jugasetuju meenikah dengan nya. Je berharap semoga cinta menolak keinginan mama nya.


" Cinta, apakah kamu bersedia menikah dengan kak Jaghad?" pertanyaan Mila pada Cinta.


Gadis itu menelan saliva dengan susah payah. Apalagi saat Cinta menatap Jaghad. Lelaki itu menatap nya tajam membuat nyali Cinta menciut.

__ADS_1


__ADS_2