Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 75


__ADS_3

Peluh membanjiri tubuh tinggi nya. Pemuda yang beberapa bulan lagi menginjak usia enam belas tahun, dengan tinggi tubuhnya mencapai seratus tujuh puluh lima centimeter itu, kembali mendribel bola basket nya. Untuk kesekian kali bola itu memasuki ring dengan sempurna. Tampak puas karena kemampuan nya semakin kentara.


Je berjalan keluar dari lapangan basket. Dengan mengapit bola basket nya, Je berniat kembali ke kelasnya untuk mengambil tas sekolah yang masih ia tinggal di dalam sana.


Tanpa memperhatikan sekitar, dengan langkah lebar nya, sedikit tergesa hingga Je tak sengaja menabrak seseorang yang baru saja keluar dari sebuah ruang kelas.


Beberapa kertas serta buku-buku berhamburan jatuh ke lantai. Je sempat dibuat ternganga dengan perbuatan yang tidak ia sengaja.


Je menatap Sofia dengan rasa bersalahnya.


" Maaf, saya tidak sengaja."


Sofia mendengus lalu menghela nafas nya. Dia sudah merasa capek karena banyak nya aktifitas seharian, dan kini melihat hasil kerjanya berserakan di atas lantai membuatnya semakin frustrasi.


Je berjongkok memungut kertas-kertas serta buku-buku yang berceceran di atas lantai. Je berdiri menjulang di hadapan Sofia, mengulurkan barang-barang itu. "Sekali lagi saya minta maaf, Bu... Sofia."


Sofia menerima nya, " Lain kali berhati-hatilah jika berjalan."


Je hanya mengangguk, " Baik, Bu."


Sofia berlalu begitu saja meninggalkan murid nya. Je memutar badan, memperhatikan punggung Sofia yang kini menjauh dari nya. Seulas senyum terbit di bibir Je.


Setelahnya, Je kembali berjongkok mengambil bola basket nya dan kembali berjalan menuju kelas.


***


Motor sport yang dikendarai oleh Je membelah jalanan yang di sore hari mulai ramai. Barulah saat ia memasuki jalan menuju perumahan tempat tinggal nya, jalanan mulai lengang. Motor yang tadi nya berkecepatan di atas rata-rata perlahan memelan dan berhenti secara mendadak.


Je menolehkan kepala ke belakang, menatap seseorang yang sedang bersandar di sisi mobil nya.


Memutar motor besar nya, Je menghampiri Sofia yang sedang tampak gelisah.


Melihat seseorang yang menghampiri nya, Sofia mengernyit. Tentu saja Sofia tidak mengenali Je, karena pemuda itu masih mengenakan helm yang menutupi seluruh permukaan wajah nya.


Dilepas nya helm tersebut, dan barulah Sofia tahu jika orang itu adalah murid baru nya.


"Bu Sofia kenapa disini?" tanya Je, lalu pemuda itu turun dari motor sport nya.


" Mobil saya mogok."


"Mogok?"

__ADS_1


Sofia mengangguk. Je menggaruk tengkuk nya, karena jujur dia tidak seberapa paham mengenai mesin mobil. Jika mengenai seluk beluk motor, mungkin Je bisa membantu.


Disaat yang bersamaan sebuah mobil melipir di depan mobil Sofia.


Je memperhatikan mobil itu, dan senyum lebar pemuda itu tercetak jelas di bibirnya.


Sementara Sofia, memperhatikan mobil yang kini sudah berhenti tepat di depan mobil nya. Seorang lelaki keluar dari dalam mobil itu.


Sofia mengerutkan kening nya, memperhatikan lelaki itu. Lalu Sofia ganti menatap Je yang ternyata pemuda itu tersenyum lebar pada lelaki yang kini menghampiri mereka.  Dalam hati Sofia membatin, jika wajah kedua nya sangatlah mirip.


" Je, kenapa disini?" tanya Dirga pada putra nya.


Ya benar, lelaki yang baru turun dari dalam mobil itu adalah Dirga.


" Pa, bisa minta tolong tidak?"


Dirga memperhatikan putra nya, lalu beralih memperhatikan wanita yang berdiri tak jauh dari nya.


" Pa, ini Bu Sofia. Guru Je di sekolah. Mobil nya mogok. Mungkin papa bisa membantu mencarikan bengkel untuk memperbaiki mobil Bu Sofia. "


" Baiklah. Sebentar papa telpon bengkel langganan papa."


Sofia, wanita itu hanya memperhatikan interaksi Je dengan lelaki yang Je panggil dengan sebutan papa. Ah ternyata lelaki itu papa nya Je. Pantas saja wajahnya mirip.


" Sebentar lagi orang bengkel akan datang kesini."


"Terimakasih, Pa."


Dirga memperhatikan Sofia.


"Bu Sofia, kenalkan ini papa Dirga. Papa saya."


Sofia mengangguk dan tersenyum pada Dirga. Begitupun Dirga juga melakukan hal yang sama. Melemparkan senyum pada Sofia.


" Je, Papa tinggal dulu tidak apa-apa kan?"


"Silahkan, Pa."


"Bu Sofia, saya permisi dulu."


"Silahkan Pak. Terimakasih atas bantuan nya."

__ADS_1


Setelah kepergian Dirga, Je masih berdiam diri menemani Sofia. Diantara mereka bahkan tanpa kata satu dengan yang lain nya. Hingga orang bengkel yang tadi di telpon Dirga datang.


Memeriksa kondisi mobil Sofia dan ternyata mobil Sofia terpaksa harus di derek menuju bengkel.


"Mobil derek sebentar lagi tiba. Saya akan membawanya ke bengkel."


Sofia mengangguk.


" Bu Sofia!" panggil Je membuat Sofia menoleh pada murid baru nya ini.


"Bagaimana jika saya antarkan Bu Sofia pulang. Dijalan sini jarang ada taxi yang lewat. Dan ini sudah hampir malam."


Sofia menimbang-nimbang, sebenarnya dia bisa saja memesan Ojek online, hanya saja Je sekali lagi memberikan ia tawaran.


"Baiklah kalau seperti itu."


Sofia menyerah dan mengiyakan saja tawaran Je. Setelahnya dia buka pintu mobil mengambil tas kerja nya.


Baru disadari oleh Sofia, jika Je menggunakan motor sport. Mana mungkin dia akan dibonceng Je dengan motor itu. Apalagi jarak rumahnya yang masih jauh.


Sebenarnya tadi, Sofia lewat jalan ini karena dia ingin membeli kue terlebih dahulu. Dan toko kue langganan Sofia tak jauh dari tempat ini.


Seolah Je paham akan apa yang dipikirkan oleh Sofia, karena Ibu gurunya itu terus saja memandang motornya.


"Bu Sofia takut saya bonceng pakai motor?" tanya Je.


Sofia menatap Je, sedikit ragu dia akan menjawab ya.


"Jika seperti itu, mungkin ada baik nya Bu Sofia ikut saya pulang ke rumah dulu. Nanti saya akan meminjam mobil papa untuk mengantarkan Bu Sofia pulang. ."


"Eum, kamu seharus nya tidak perlu repot repot seperti ini. Mungkin lebih baik saya order grab saja."


Je terkejut. " Jangan! Biar saya saja yang mengantar Bu Sofia. Ayo!"


Sofia masih terdiam, ragu ingin manaiki motor Je.


" Rumah saya dekat dari sini. Bu Sofia jangan khawatir. Saya akan membawa motor pelan-pelan. "


Setelahnya Je memasang helm nya. Dengan ragu Sofia mulai menaiki motor besar Je. Beruntungnya Sofia saat ini sedang memakai celana. Dengan berpegangan pada bahu Je, Sofia mulai merasa was-was saat motor itu melaju. Dan benar saja, Je membawa motornya pelan - pelan. Sofia tidak lagi takut, meskipun begitu, kedua tangan nya tetap berpegangan pada kedua bahu Je.


Dalam hati Je tersenyum. Entahlah, dia hampir tidak pernah mau membonceng wanita, kecuali Kenzi. Selama ini Je juga tidak pernah mempunyai teman wanita. Dan hanya Kenzi satu-satu nya wanita yang dekat dengan nya. Memang Sedari kecil Je begitu akrab dengan sepupu nya itu.

__ADS_1


Dan sekarang, demi membonceng Bu Sofia, rasanya lain. Tidak seperti saat ia membonceng Kenzi. Bahkan, karena Bu Sofia yang berpegangan pada bahu nya, Je rasa detak jantungnya bekerja extra tak seperti biasanya.


__ADS_2