
Camila terbangun, matanya mengerjab dia tolehkan kepala ke samping kiri dan kanan.
" kok aku sudah di dalam kamar. Bukankah tadi masih di dalam mobil? Astaga! Aku ketiduran." ucap nya pada diri sendiri.
Camila bangun dari berbaring nya, menoleh kesamping mendapati Je juga papa Dirga sudah tertidur dengan pulas nya.
Pandangan Camila lebih fokus pada suaminya. Kelihatan sekali wajah lelah suaminya. Tapi entah kenapa Camila begitu menyukai wajah damai suaminya saat tertidur seperti ini. Ingin rasanya Camila membeli wajah suaminya dan memeluk tubuh nya. Melihat suaminya, seperti nya Camila merasa jatuh cinta lagi.
Digelengkan kepalanya kuat kuat. Lalu dia beringsut turun dari atas ranjang. Baju yang ia pakai tidak nyaman digunakan untuk tidur dan ia berniat untuk mengganti dengan piyama. Dibuka lemari baju nya lalu mengambil satu stel piyama tidur. Camila masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual malam nya. Dalam hati ia berpikir, akhir akhir ini kenapa sering sekali dia merasa sangat mengantuk yang tak dapat ia tahan. Selain itu hobi nya yang suka bermalas malasan sungguh seperti bukan dirinya saja. Camila heran dengan perubahan dalam dirinya. Apa iya ini pengaruh hormon. Hormon pra menstruasi mungkin.
Camila segera menghentikan aktifitas nya yang sedang menggosok gigi. Pemikiran tentang menstruasi mengusiknya. Buru buru ia selesaikan acara menggosok gigi nya dan bergegas mengganti baju nya. Dia kembali ke dalam kamar. Duduk di depan meja rias. Mengambil kalender meja dan melihat nya.
" Astaga! Jadi aku telah menstruasi satu bulan lebih."
Dia berpikir sejenak. Mungkinkah dia sedang hamil. Diputar tubuhnya menghadap papa Dirga. Mengamati suaminya dari tempatnya saat ini. Benarkah dia sedang hamil?
Camila sungguh tak menyangka. Kenapa hal begini saja bisa terlewat oleh nya. Dipijit pelipisnya lalu ia geleng kan kepala kuat kuat. Oke, jika memang ia hamil, dia akan menerimanya.
Pantas saja perubahan dalam dirinya sungguh signifikan. Ah, seperti nya aku harus berbicara pada Dirga sebelum memeriksakan diri ke dokter.
Begitulah pemikiran Camila pada akhirnya.
Setelah mengoles cream malam pada wajahnya, Camila kembali naik ke atas ranjang. Akan tetapi rasa ingin memeluk suaminya begitu kuat sekali. Sampai sampai dia berkali kali melirik papa Dirga yang masih saja tertidur dengan pulasnya.
Camila masih duduk bersila di atas ranjang, ingin menyusup diantara papa Dirga dan Je tapi seperti nya tidak cukup tempat. Baiklah dia harus egois. Sepertinya memindahkan Je adalah solusi yang tepat.
Dengan perlahan Camila menggeser tubuh Je hingga dirasa ada tempat untuk nya agar bisa berbaring di samping papa Dirga. Setelah Je tergeser dari singgasananya, Camila mencium kedua pipi anak nya.
"Maaf ya sayang," bisik nya lirih di depan wajah Je.
Lalu Camila membaringkan dirinya di sebelah papa Dirga. Di lingkaran tangan nya memeluk perut suaminya. Tubuhnya menempel sangat rapat. Bahkan Camila sempat sempat nya mengendus aroma yang menguar dari tubuh suaminya. Rasanya begitu nyaman.
Camila mulai memejamkan mata dengan senyuman tersungging di bibirnya.
Dirga terusik dalam tidurnya. Pasalnya seseorang yang terus berusaha merapatkan dirinya ini mengganggu tidurnya. Sedikit menggerakkan tubuhnya lalu matanya perlahan memicing. Senyum tersungging di bibir Dirga.
__ADS_1
Ternyata istri nya yang Sedari tadi terus saja menempel padanya.
Dirga sedikit memiringkan badan nya. Lalu tangan nya melingkar di pinggang sang istri. Menarik lebih rapat lagi padanya.
Camila sudah menyeruak kan kepalanya di leher sang suami.
Deru nafas hangat yang menerpa kulit leher Dirga, membuat lelaki itu terusik. Belum lagi Camila yang kini mulai mengendus ceruk lehernya.
Fix, dia tidak bisa tertidur lagi. Sesuatu di bawah sana sudah terganggu dengan semua perlakuan Mila padanya.
Dirga mengendurkan pelukan nya. Dia menunduk. Camila mendongak ingin protes. Tatapan mereka bertemu lalu keduanya tertawa.
Dirga semakin menundukkan wajahnya. Satu kecupan mendarat di bibir istri nya. Camila menyambut nya dengan suka cita.
Detik selanjutnya mereka sudah sama sama menyalurkan apa yang mereka inginkan.
****
Dirga tidak juga ada kesempatan berbicara pada sang istri. Subuh tadi sebenarnya Dirga ingin menanyakan perihal perubahan perilaku istri nya tapi Camila keburu tidur lagi. Selain suka bermalas malasan dan suka tidur istrinya ini sekarang juga sangat agresif sekali. Dirga hingga kewalahan menghadapi Camila.
Setelah merapikan penampilan nya, Dirga mendekati Camila. Duduk di tepi ranjang. Diusapnya kening istrinya, disingkirkan helain rambut yang menutupi wajah Camila.
Cup
Satu kecupan di pipi Camila tak membuat wanita itu terbangun. Dirga sudah terbiasa lama lama dengan semua ini.
Dia membiarkan saja Camila dan tak berniat membangunkan nya. Karena jika di bangunkan, Camila susah sekali bangun nya.
Dirga beranjak berdiri lalu keluar dari dalam kamar.
Je sudah rapi dan sudah menunggu nya di meja makan.
" Papa lama sekali," Protes nya.
Dirga mengusap pucuk kepala anak nya. Je ini sudah bisa protes sekarang.
__ADS_1
" Maafkan Papa. Mari kita makan sarapan kita."
Dirga melihat menu sarapan Je kali ini. Semangkok bubur ayam. Sama dengan milik nya. Pasti yang masak adalah Asisten Rumah Tangga nya.
" Je mau makan bubur." celetuk sang putra.
" Oh, jadi Je yang minta dibikinin bubur ayam."
" Iya, Je minta ke mama buat dimasakin bubur ayam."
Dirga tersenyum. Sekalipun ini bukan masakan Camila setidak nya ada niat Camila untuk meminta asisten mereka memasakkan bubur untuk Je. Itu tandanya Camila masih ada perhatian pada Je. Hanya saja memang kondisi Camila yang tidak memungkinkan untuk bangun pagi sekarang.
Dirga lalu mulai menyantap sarapan nya. Begitupun Je yang sangat lahap menyantap sarapan nya.
" Habiskan. Biar nanti di sekolah Je jadi anak yang pintar. Sarapan itu wajib sebelum kita beraktifitas."
" Siap papa."
Dirga kembali tersenyum. Anak nya ini semakin pintar saja. Dan semakin berani semenjak Je sekolah.
Keduanya telah berhasil menghabiskan sarapan masing - masing.
" Papa, habis. "
" Anak pintar. Ayo minum susu nya. Setelah itu kita berangkat. "
Je mengikuti perintah papa nya. Menghabiskan satu gelas susu nya.
Lalu Dirga mengangkat tubuh Je turun dari atas kursi. Je sudah berlari ke bakang mencari mbak Hana. Tergopoh gopoh mbak hana muncul dengan menenteng tas sekolah Je.
" Nggak ada lagi yang ketinggalan kan?" tanya nya pada Hana.
" Nggak ada Pak."
" Ya sudah, ayo kita berangkat."
__ADS_1
Je sudah berlari keluar meninggalkan papa dan mbak Hana.