
Setelah acara liburan itu, beberapa hari setelahnya Je sudah harus kembali ke London. Sehari sebelum keberangkatan nya, Je menyempatkan diri menemui Rea. Pemuda itu hanya ingin sekedar berpamitan.
" Semoga perjalanan mu lancar. Jika sudah sampai jangan lupa mengabariku." tutur Rea.
"Iya."
"Kapan kau akan berangkat, Je."
"Besok pagi."
Setelahnya baik Rea juga Je sama-sama terdiam. Sebenarnya Rea ingin mengatakan sesuatu pada Je. Tapi dia urungkan. Sesuatu tentang hubungan mereka berdua yang tak jelas asal usul nya dan juga tak jelas mau dibawa kemana.
Bukan kenapa - kenapa, hanya saja semakin kesini Rea semakin merasa kurang nyaman. Pasalnya jarak yang memisahkan diantara keduanya. Belum lagi sifat Je yang begitu cuek dan seolah tak peduli padanya. Terkadang membuat Rea capek sendiri. Tapi, bukan kah dia sendiri yang dulu menawarkan hubungan ini pada Je. Lantas apakah sekarang Rea merasa menyesal? Entahlah Rea sendiri juga tidak tahu.
Je sudah berdiri dari duduk nya.
"Re, aku pulang dulu ya." pamit Je.
Rea pun ikut berdiri dari duduk nya. Tapi siapa sangka jika ternyata Je sudah mendekat padanya. Berdiri berhadapan dengan nya dan mengikis jarak antara mereka.
Rea tak mampu lagi berpikir jernih saat Je menunduk dan mencium bibirnya begitu saja. Hanya sebentar tapi mampu membuat Rea mematung cukup lama.
"Aku pegi dulu." ucap Je seolah tak ada rasa bersalah sedikitpun pada gadis itu.
Rea hanya mengangguk dan begitu motor Je meninggalkan rumah nya, Rea baru tersadar. Di sentuh bibirnya bekas ciuman Je. Baru kali ini Je melakukan kontak fisik kepadanya. Bahkan selama ini Je tak lebih dari menggandeng tangan nya itu saja. Dan ini adalah ciuman pertamanya dengan Je. Astaga! Jantung Rea serasa mau copot.
Sementara itu, Je yang menyadari apa yang telah dilakukan nya, merutuki diri sendiri. Kenapa juga tadi dia harus mencium Rea. Kejadian nya tiba-tiba. Je hanya mengikuti naluri nya saja. Dan ini adalah pengalaman ciuman nya yang pertama dengan seorang gadis. Bayangkan saja di usia hampir dua puluh tahun Je tak pernah berpacaran. Disaat teman - teman nya menjadi playboy dengan bergonta ganti pacar, nyatanya Je tak pernah minat akan hal itu. Dan untung saja ada Rea yang menawarkan diri dengan suka rela untuk menjadi pacarnya. Huft, rasanya tak dapat Je Deskripsi kan.
Dia yang selama ini selalu bersikap dingin pada Rea. Tak pernah perhatian pada gadis itu. Nyatanya kali ini dia berani mencium nya. Dan apakah Je akan mengulangi nya lagi? Entahlah dia pun juga tidak tahu.
***
Kembali ke London dan Je menjalani hubungan jarak jauh tak hanya dengan keluarga nya melainkan juga dengan Rea.
Dia harus kembali pada rutinitas nya menjadi seorang mahasiswa. Selama berada di London, Je juga tak banyak berhubungan dengan para wanita. Dia hanya ingin fokus pada study nya.
Masih kurang beberapa tahun lagi untuk Je mengenyam study. Tapi mau tak mau dia tetap harus menjalani karena ini sudah menjadi pilihan hidup nya.
Sementara itu, Camila yang harus melepas kembali Je, merasa sangat bersedih. Berhari - hari Camila susah tertidur hanya karena memikirkan Je.
Bahkan Dirga yang selalu menghibur istri nya itu agar tak lagi bersedih.
"Sayang... Masih belum tidur juga?" tanya Dirga mendapati istri nya yang belum juga memejamkan mata.
"Kenapa lagi? Memikirkan Je?" tebak Dirga
"Iya, aku rindu sama Je."
"Ya Tuhan! sayang baru saja bertemu dengan Je. Sudah bilang rindu."
"Habis nya bagaimana lagi, Pa. Je itu anak kita satu-satu nya. Wajar jika aku merasa kehilangan dan kesepian jika tidak ada Je di rumah."
"Ya sudah, bagaimana kalau kita membuat adik saja untuk Je. Siapa tahu saja dengan adanya adik nya Je, sayang tidak lagi kesepian."
"Apa? Kau ini jangan bercanda, Pa."
"Siapa juga yang bercanda. Aku serius loh sayang."
"Aku sudah tua, mana ada cerita kasih adik untuk Je. Ingat umur, Pa! " Camila membalikkan badan nya memunggungi Dirga.
Terkadang ia merasa kesal juga jika suaminya sudah menggoda dengan pikiran-pikiran mesum nya. Sudah tua tapi masih saja otak mesum nya tidak hilang juga.
***
Siang ini kantor Dirga terdengar berisik hanya karena kedatangan Cinta. Hari ini Ferdy yang baru saja menjemput Cinta ke sekolah terpaksa harus membawa putri nya itu ke kantor. Hana sedang menemani Sofia fitting baju pengantin. Beberapa bulan lagi Sofia akan menikah jadi Hana disibukan dengan urusan seputar rencana pernikahan Sofia.
Dirga tersenyum mendengar celoteh gadis kecil putrinya Ferdy itu. Bahkan Dirga akui, dia rindu sekali dengan celoteh anak - anak yang akan mewarnai rumah besar nya. Dia hanya punya satu orang anak dan sekarang justru Je harus berada di London. Dirga sendiri sebenarnya merasa kesepian dengan tidak ada nya Je di rumah. Tak ada lagi orang yang bisa dia ajak berdebat. Tak ada lagi yang bisa dia ajak nge gym atau berenang. Dan banyak hal lagi yang biasa Dirga dan juga Je lakukan bersama. Dia sangat merindukan momen-momen dimana saat Je kecil dulu.
__ADS_1
"Siang uncle Dirga....!" sapa nyaring Cinta.
Dirga yang memang sedang melamun sedikit tersentak dengan suara melengking cinta.
"Hai Cinta... Baru pulang sekolah?"
Gadis itu mengangguk.
"Cinta boleh masuk tidak?"
Dirga tersenyum. Anak sekecil itu sudah tahu sopan santun. Mau masuk saja dia minta izin dulu. Dirga mengangguk. Dan Cinta yang Sedari tadi berdiri di ambang pintu ruang Dirga sekarang sudah duduk di sofa.
" Uncle Dirga sedang sibuk ya? "
" Lumayan? Kenapa, cinta mau bantuin uncle?"
Cinta terkikik. "Kalau Cinta bisa, pasti sudah Cinta lakukan."
Dirga ikutan tertawa. Anak nya Ferdy ini memang banyak sekali bicara nya. Mirip sekali dengan Ferdy. Ada saja yang menjadi bahan obrolan. Seolah tak pernah kehabisan stock kata-kata.
Tapi terkadang hal hal seperti itu lah yang Dirga nantikan. Karena selain dapat menghibur nya juga mampu mendinginkan otak nya yang panas karena banyak nya pekerjaan.
Dirga meninggalkan pekerjaan nya. Beranjak berdiri dari kursi kebesaran nya. Mendekati Cinta dan memilih untuk duduk di samping gadis kecil kelas dua SD itu.
"Cinta sudah makan belum?" tanya Dirga.
Cinta menggeleng. "Belum."
"Mau temenin uncle Dirga makan siang disini tidak?"
"Ya mau lah uncle. Kalau nemenin makan Cinta jagonya." jawab Gadis itu riang.
"Baiklah tunggu sebentar."
Dirga kembali ke mejanya, menelpon seseorang dan meminta untuk dibelikan makan siang.
" Sudah beres. Kita tinggal tunggu makanan nya datang."
"Uncle!"
"Iya, ada apa cinta?"
"Kak Jaghad sudah kembali ke London ya?"
"Iya."
"Pasti uncle dan aunty kesepian karena tidak ada kak Jaghad. Iya kan?"
"Kok Cinta tau?"
"Ya tau lah uncle. Kalau tidak ada Kak Jaghad, uncle dan aunty hanya berdua. Coba rumah Cinta ada di dekat rumah uncle Dirga, pasti Cinta tidak keberatan menemani uncle dan aunty agar tidak kesepian lagi."
"Ya sudah kalau begitu Cinta pindah saja dan tinggal di rumah uncle. Bagaimana?" tawar Dirga, padahal dia hanya berniat menggoda Cinta.
"Tidak boleh uncle!"
"Kenapa tidak boleh?" tanya Dirga penasaran dengan jawaban gadis kecil itu.
"Nanti saja kalau Cinta sudah dewasa dan sudah jadi istri kak Jaghad, barulah Cinta boleh pindah ke rumah uncle," setelah mengatakan itu Cinta terkikik sendiri.
"Maaf uncle, Cinta bercanda kok.. Hehehe..." lalu Cinta hanya nyengir.
Dirga sampai dibuat ternganga mendapati anak nya Ferdy ini sudah tahu betul tentang arti kata istri.
" Eh Cinta, bisa tahu kata istri darimana? " tanya Dirga menatap Cinta.
Gadis itu hanya terkikik lalu menutup mulut nya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
" Dari sinetron, uncle.... "
Dirga menggelengkan kepalanya.
" Astaga Cinta! Jadi kamu suka lihat sinetron? "
Gadis itu mengangguk." Habisnya mbak-mbak yang di rumah suka nya nonton sinetron. Jadi nya cinta ikut ikutan."
Mbak - mbak yang dimaksud cinta adalah Asisten Rumah Tangga di rumah Ferdy.
"Eum.. By the Way... Memang nya cinta beneran mau jadi istri kak Jaghad?"
Dirga menyadari pertanyaan macam apa yang dia lontarkan untuk Cinta. Dia hanya tertawa dalam hati. Ingin tahu seberapa jauh minat Cinta pada anak nya, siapa lagi jika bukan Jaghad. Tidak ada salah nya kan jika mereka nanti dia jodohkan. Toh jarak usia Jaghad dengan cinta juga hanya sepuluh tahun. Sama halnya seperti dia dan Camila.
"Nanti saja jawabnya kalau Cinta sudah gede ya Uncle."
Kali ini Dirga lagi - lagi harus tertawa mendengar jawaban Cinta. Anak nya Ferdy ini memang benar-benar pintar sekali bicara. Dirga sampai ternganga dibuatnya.
"Bos... Asyik bener ketawa ketawa. Memang dikerjain apa sama cinta?"
"Papa... Siapa juga yang mengerjai Uncle. Enak saja."
"Habisnya itu kenapa Uncle Dirga sampai ketawa begitu."
Cinta dengan gaya orang dewasa mengedikkan bahunya.
"Mana aku tahu. Mungkin saja aku lucu. Jadi nya uncle ketawa mulu. Benarkah begitu uncle Dirga?"
Dan Dirga hanya manggut manggut mengiyakan saja.
Hingga mereka dikejutkan dengan office Boy yang datang membawakan makan siang untuk mereka.
"Bos beli makan siang?" tanya Ferdy.
"Iya."
"Bukan Cinta kan yang minta?" tanya nya lagi
"Papa ini kenapa sentimen sekali dengan ku. Apa apa menyalahkan ku. Padahal ini kemauan Uncle Dirga sendiri yang ingin mentraktirku. Benarkah demikian uncle?"
"Ya kau benar Cinta."
"Cinta, kamu itu nggak di rumah nggak di kantor papa, selalu saja pandai bicara. Pandai menjawab apa yang papa katakan." protes Ferdy.
"Fer.... Sudah.... Sudah. Biarkan saja Cinta berkreasi dengan caranya sendiri."
"Habis nya aku takut saja jika dia mengganggu bos."
" Tidak mengganggu sama sekali. Justru dia sudah menghiburku tadi."
"Pantas saja bos tertawa terus."
"Lagian Fer, dulu si Hana ngidam apa sampai sampai si Cinta itu pintar sekali bicara. Aku saja sampai kewalahan menjawabnya.
" Kalau itu salah Hana sendiri. Kenapa dulu waktu hamil dia benci sekali padaku. Jadi kan sekarang Cinta mirip sekali denganku. "
Memang ada-ada saja si Ferdy ini. Tapi memang benar adanya mitos yang sering Dirga dengar. Jika saat wanita hamil begitu membenci seseorang, maka anak yang dilahirkan akan mirip sekali dengan orang yang dibenci.
" uncle....! " lagi - lagi Cinta berteriak memanggil Dirga.
" Ada apa Cinta?"
" Acara makan siang nya sudah boleh dimulai atau belum?"
" menang nya cinta sudah lapar?"
Gadis kecil itu mengangguk.
__ADS_1
" Baiklah mari kita makan."
Dan mereka bertiga makan siang bersama. Bahkan Dirga masih juga harus tertawa saat mendengar celoteh Cinta yang terdengar lucu di telinga Dirga.